Suamiku Dan Wanitanya

Suamiku Dan Wanitanya
BAB VIII PESAN


__ADS_3

    Malam itu, Ardi tidak bisa menutup matanya. Dia begitu gelisah. Dia memikirkan tentang Winda, dia merasa sangat merindukannya. Di tatapnya HP yang ada dalam genggamannya. Di keluar kamar, kemudian duduk di teras. Dia mendesah dengan keras, menghirup dan mengeluarkan nafasnya dengan berat. Dia ingin sekali menghentikan keinginannya untuk menghubungi Winda. Dia menarik rambut dengan kedua tangannya agar keinginan untuk menghubungi Winda hilang. Tapi tetap saja keinginan itu tidak bisa hilang. Kemudian dia mengetik kalimat


'Apa kabar?' di Hpnya kemudian dia mengirimkannya. Di kontak itu tertulis nama Istri.


.................................................


    Sewaktu menyusui Arjuna, Winda mendengar HPnya berbunyi. Dia mengambil HPnya dan menatap tak percaya apa yang dilihatnya. Pesan itu dari nomor yang tidak ada namanya, akan tetapi dia masih ingat dengan jelas bahwa nomor itu adalah milik Ardi, mantan suaminya.


    Winda melihat jam, dan jam itu menunjukkan pukul 23.11. Kemudian dengan tangan bergetar dia membaca pesan yang dikirim oleh Ardi.


'Apa kabar?'


    Ingin rasanya Winda segera membalas pesan itu, akan tetapi niat itu diurungkannya. Masih ada perasaan terluka di hatinya. Akan tetapi kerinduan yang dirasakannya kepada Ardi juga besar.


Winda memulai mengetik pesan, akan tetapi niat itu diurungkannya. Dia bingung akan membalas atau tidak. Harapan untuk memulai lagi dengan Ardi timbul. Tapi dia juga tidak mau sakit hati untuk yang kedua kalinya.


Winda meletakkan HPnya. Dia mencoba untuk menutup mata dengan Arjuna di sampingnya. Akan tetapi upaya itu gagal, karena Arjuna ikut-ikutan gelisah dengan mengeluarkan tangisannya.


    Pada pagi hari, Winda berusaha menetralkan hatinya supaya Arjuna tidak ikut gelisah. Kemudian dia membalas pesan dari Ardi,


'Aku baik-baik saja' balasnya.


    Kemudian Winda memulai paginya dengan mengasuh Arjuna dan mulai berjualan. Walaupun di dalam hatinya masih mengharapkan balasan dari Ardi, akan tetapi dia berusaha menepisnya sekuat mungkin. Karena Ardi sudah mencintai orang lain dna bukan dirinya.


......................................................


    Setelah mengirimkan pesan ke Winda dia cepat-cepat ingin menarik pesannya. Akan tetapi Winda sudah membuka pesannya. Kenapa jam segini Winda belum tidur pikirnya. Ardi melihat HPnya kembali dan melihat bahwa Winda sedang mengetik yang menandakan Winda akan membalas pesannya. Akan tetapi pesan yang ditunggu-tunggu tidak datang juga. Ardi uring-uringan karena Winda tidak membalas pesannya.


    "Ada apa Mas jam segini kok belum tidur?"  tanya Mina yang terbangun untuk menyusui Bimo dan melihat Ardi tidak ada di sampinya. Setelah selesai menyusui Bimo Mina keluar kamar dan melihat muka Ardi yang marah.

__ADS_1


    "Tidak apa-apa" jawab Ardi ketus.


    Mina kaget mendengar jawaban Ardi,


    "Ada masalah apa Mas?" tanya Mina lagi.


    Ardi sadar bahwa nada suaranya ke Mina ketus, karena dia terbawa marahnya karena Winda tidak membalas pesannya. Kemudian dia mulai melembutkan suaranya.


    "Nggak ada apa-apa, tidur aja dulu. Aku lagi mikirin toko yang lagi sepi" kilahnya.


    Mina percaya kepada Ardi, karena memang akhir-akhir ini tokonya menjadi lebih sepi daripada biasanya. Mina tidak menyangka bahwa Ardi mengirimkan pesan kepada Winda karena berpikir bahwa Ardi terlalu mencintainya karena dia sudah bisa memberikan anak yang sudah lama dinantikan oleh Ardi, yang tidak bisa diberikan oleh Winda. Mina berpikir bahwa siapa yang mau dengan wanita yang tidak bisa memiliki keturunan tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi di kehidupan keluarga mereka dulu.


......................................


    Pagi haripun tiba, Ardi memulai aktifitasnya di toko dan mulai memanggil karyawannya untuk meeting mendadak. Ardi ingin membahas kenapa online shopnya akhir-akhir ini menjadi kurang diminati pembeli.


Tidak lama kemudian, karyawannya sudah ada di ruangan Ardi untuk memulai rapat.


    "Ada yang tahu alasan toko kita 3 bulan ini menjadi semakin sepi? tanyanya.


Semua terdiam tidak ada yang berani menjawab.


    "Ayo jawab. Aku kan bertanya baik-baik dan tidak marah. Aku di sini hanya untuk evaluasi aja, siapa tahu ada yang salah di toko kita. Mungkin bukan orang tetapi mungkin kita salah memilih barang dan lain-lain. Banyak faktor. Aku tidak menyalahkan kalian jadi tolong kalian evaluasi atu paling tidak mencari tahu kenapa toko kita bisa menjadi sepi"


"Kita mulai kehilangan pelanggan Mas" kata Resti yang mengurusi pembukuan keuangan online.


"Maksudnya banyak pelanggan beralih ke toko lain atau barang kita kurang diminati?" tanya Ardi.


"Anu Mas, begini..." kata Resti ragu.

__ADS_1


    Ardi hanya melihat Resti dan menunggu jawaban Resti tanpa berkata apapun.


    Resti memberanikan diri untuk melaporkan apa yang 1 bulan ini dia dengan karyawan yang lain mencari tahu tentang kenapa tokonya menjadi sepi.


    "Begini Mas, kami sudah bertanya-tanya kepada langganan yang sudah akrab dengan kita. Mereka memberitahukan bahwa ada barang-barang kita yang tidak diminati oleh mereka atau mereka menganggap bahwa barang kita ada yang tidak begitu menarik, tapi itu memang dari dulu memang ada kalanya kita menjual barang yang kurang diminati. Tetapi selain itu ada juga yang bilang bahwa ada salah satu toko online di daerah kita menjual dengan harga yang lebih rendah.Dan online shopnya bernama 'Purple Shop'. Toko onlinenya berada di daerah T" Resti terdiam sejenak untuk melihat ekspresi dan mendengar tanggapan Bosnya.


    Ardi terdiam, dan melihat Resti kemudian berkata,


"Coba, aku ingin melihat penampakan online shopnya 'Purple Shop'" katanya.


Resti dengan gesit kemudian mengetik 'Purple Shop' di laptopnya untuk melihat penampakan toko rivalnya.


    "Ini Mas", kata Resti sembari menyerahkan laptopnya kepada Ard.


   Ardi melihat penampakan 'Purple Shop' di laptop dan melihat barang dagangan serta harga-harganya. Dia melihat alamat yang tertera di tokonya. Sambil berpikir dia melihat karyawannya.


    "Kira-kira ada yang tahu nggak ini toko milik siapa? Ini kan daerahnya sekitar 1 jam dari sini. Sudah pernah ada yang mencoba untuk melihat ke sana belum?" katanya.


    Semua karyawan saling memandang satu sama lain sebelum menjawab,


"Belum Mas" kata mereka serempak.


   "Kalau begitu, saya meminta salah satu dari kalian untuk pergi ke sana. Tidak usah kuatir, perginya boleh pada saat jam kerja dan tidak dihitung absen. Jadi kira-kira siapa yang bisa dan mau ke sana?" tanya Ardi kepada karyawannya. Dia hanya ingin melihat toko 'Purple Shop' hanya untuk mengkoreksi, kemudian memperbaiki kesalahannya.


    "Saya saja Mas", kata Resti mengajukan diri.


    " Ya sudah, rapat hari ini kita lanjutkan setelah Resti pergi ke ' Purple Shop' ya. O y Res, untuk pergi ke sana kamu ambil dana dari kas untuk biaya perjalanan dan makan ya. Selain itu kalau bisa kamu berkenalan dengan pemiliknya ya, siapa tahu bisa diajak kerjasama kalau memang harganya cocok". Setelah berkata begitu, para karyawan Ardi segera keluar dari ruangan Ardi dan melanjutkan kerjanya.


    Sedangkan Ardi melihat HPnya yang ternyata ada balasan pesan dari Winda. Ardi menjadi bersemangat kembali, kemudian buru-buru membuka HP untuk melihat pesan dari Winda.

__ADS_1


__ADS_2