
Ardi terdiam mendengar perkataan
Mbok Inem. Kemudian dia pergi ke kamar meninggalkan Mbok Inem. Ardi
bertanya-tanya, siapa pria yang ditemui oleh Mina sewaktu di kota S. Ardi
merasa dikhinati kemudian marah-marah di dalam kamar. Di luar, Mbok Inem
ketakutan karena mendengar hujatan Ardi yang berupa kata-kata kasar. Mbok Inem
yang ketakutan kemudian ke rumah Mitha untuk mencari kakaknya Ardi supaya
menenangkan Ardi,
“Mbak Mitha, Bu Lela ke mana ya?” tanya Mbok
Inem menanyakan keberadaan Bundanya Mitha.
“Belum pulang Mbok, ada apa ya?”
“Itu... itu Mbak, Mas Ardi marah-marah kayak
kesetanan di rumah. Mbok takut Mbak” jawab Mbok Inem.
Mitha ikut ketakutan, dia pernah beberapa
kali melihat Ardi marah. Dan marahnya Ardi memang seperti orang kesetanan, tak
bisa dikontrol.
“Mbok Inem masuk sini aja dulu nungguin Bunda”
kata Mitha.
“Mbok Inem jangan pulang dulu ya, di sini
dulu sama Mitha” kata Mitha lagi.
“Mbak Mitha nggk telepon Bundanya Mbak Mitha
ya?” tanya Mbok Inem.
“Aku takut kalau Bunda lagi sibuk di kantor
Mbok, takut gangguin” jawab Mitha.
“Tapi Mbak, nanti takutnya Mas Ardi tambah
parah... gimana dong Mbak” kata Mbok Inem supaya Mitha mau segera menghubungi
Bundanya supaya Bundanya cepat pulang.
“Aku kirim pesan ke Bunda ya Mbok” kata
Mitha.
“Nggak ditelpon aja Mbak? Biar cepet” kata
Mbok Inem.
“Tapi aku takut ganggu Bunda yang lagi kerja”
jawab Mitha.
“Tapi kalau terjadi apa-apa sama Mas Ardi
gimana dong Mbak?” kata Mbok Inem panik.
Melihat Mbok Inem panik, akhirnya Mitha
menelpon Bundanya.
“Bun, halo Bun” kata Mitha.
“Ya ada apa Mit?” jawab Bundanya di telepon.
“Bunda pulang jam berapa?” tanya Mitha.
“Belum tahu, nunggu semua kerjaan selesai
dulu. Ada apa?”
Mitha yang bingung menjawab pertanyaan
Bundanya memberikan telepon ke mBok Inem supaya Mbok Inem yang menjelaskan apa
yang terjadi ke Bundanya,
“Ini Bun, Mbok Inem yang mau ngomong” kata
Mitha sambil menyerahkan Hp ke Mbok Inem.
Mbok Inem yang disodori Hp oleh Mitha menjadi
__ADS_1
bingung karena harus menjelaskan bagaimana tentang keadaan Ardi. Akhirnya atas
desakan Mitha, Mbok Inem mengambil Hpnya Mitha kemudian berbicara di telepon
dengan Lela, Bundanya Mitha.
“Iya Bu” kata Mbok Inem.
“Mbok Inem mau bicara apa?” kata Lela
bingung.
“Ini Bu..... Ibu kalau bisa segera pulang ya....”
kata Mbok Inem.
“Memangnya kenapa Mbok? Ada apa?” tanya Lela
lagi.
“Itu Bu.... Itu.... Mas Ardi marah-marah
kayak orang kesetanan. Saya takut Bu....” jawab Mbok Inem.
“Marah-marah kenapa? Sama siapa
marah-marahnya? Sama kamu?”
“Bukan Bu.... kayaknya marah sama Mbak Mina”
“Trus Mina bagaimana?”
“Nggak tahu Bu... Mbak Mina sudah pulang ke
rumah orangtuanya”
“Lha kenapa? Kenapa memangnya sampai Mina
pulang ke rumah orangtuanya? Ada apa?”
“Saya juga nggak tahu Bu...”
“Dia langsung pulang pas Ardi marah-marah?”
“Nggak Bu, Mbak Mina sudah pulang dua hari
ini. Kemarin pulang ke rumah orangtuanya”
“Saya nggak tahu Bu.... tapi tadi Mas Ardi kayak
orang bingung. Trus tanya saya kenapa kenapa Mbak Mina pulang... Saya jawab
saya nggak tahu... Tapi....” Mbok Inem terdiam bingung menjelaskannya kepada
Bundanya Mitha.
“Tapi.... tapi kenapa Mbok?” tanya Lela mendesak penjelasan Mbok Inem.
“Tapi pas habis saya jawab pertanyaan Mas
Ardi tadi.... Mbak Mina ngapain aja di kota S.... Mas Ardi langsung masuk kamar
kemudian marah-marah Bu” jawab Mbok Inem.
“Kamu jawab apa sampai Ardi marah-marah?”
tanya Lela lagi.
“Itu Bu..... Itu..... Mbak Mina di Kota S
sepertinya bertemu laki-laki lain di Mall”
“Apa... beneran Mbok?”
“Saya nggak tahu Bu.... saya nggak pernah
diajak Mbak Mina ke Mall waktu di kota S.....”
“Lah... Terus kata siapa Mina pergi ketemu
laki-laki lain di Mall?”
“Itu Bu... Itu.... kata Orangtua Mbak Mina.
Saya nggak sengaja dengar waktu mereka ngobrol di ruang keluarga. Katanya...
katanya ada tetangga yang melihat Mbak Mina bertemu dengan lelaki lain di
Mall.... makanya waktu itu orangtua Mbak Mina menyuruh Mbak Mina segera pulang
ke sini... Tapi... sebenarnya Mbak Mina menolak, tapi karena orangtua Mbak Mina
mendesak Mbak Mina pulang ke sini terus akhirnya Mbak Mina mau pulang ke sini”
__ADS_1
jawab Mbok Inem.
Lela terdiam, dia tidak habis pikir masalah
adiknya datang terus menerus setelah dia mengkhianati Winda.
“Ya sudah Mbok, saya segera pulang. Mbok Inem
bisa nenangin Ardi dulu nggak?” tanya Lela.
“Saya takut Bu... Saya tidak berani.... Ini
saya di rumah Ibu sama Mbak Mitha. Saya menunggu Ibu saja ya...” kata mbok Inem
takut.
“Ya sudah Mbok, Mbok Inem kalau takut pulang
di rumah saya dulu nggak apa-apa. Saya usahakan akan segera pulang ya”
“Iya Bu... saya takut terjadi apa-apa sama Mas
Ardi”
Setelah Lela menutup telepon, dia berpikir
harus segera pulang atau menyelesaikan pekerjaannya dahulu karena pekerjaannya
masih banyak. Tapi akhirnya Lela memutuskan untuk pulang karena Mitha selalu
mengiriminya pesan. Kata Mitha suara Ardi yang teriak-teriak sudah terdengar ke
tetangga sampai para tetangga datang melihat apa yang terjadi dengan Ardi.
.....................................
Para tetangga berada di depan rumah Ardi,
mereka ingin tahu kenapa Ardi teriak-teriak seperti orang kesetanan di
rumahnya. Mereka tidak ada yang berani masuk ke halaman rumah, salah satu
tetangganya kemudian ke rumah Mitha dan meminta Mitha untuk ke rumah Ardi,
“Mbak Mitha, itu Mas Ardi kenapa?” tanya Tedjo
kepada Mitha di rumahnya.
“Itu Pak.... Nggak kenapa-napa” jawab Mitha
menutupi.
“Nggak kenapa-kenapa gimana Mbak. Itu para
tetangga sudah berkumpul di depan rumah Mas Ardi lho Mbak”
Mitha terdiam tidak menjawab, Mitha bingung
harus menjawab apa.
“Ayo Mbak Mitha ke rumah Mas Ardi dulu. Itu
para tetangga sudah berkumpul di depan. Kalau tidak segera ditenangkan nanti
malah banyak yang nonton. Bisa mempermalukan keluarga Mbak Mitha lho” bujuk Pak
Tedjo supaya Mitha mau ke rumah Ardi dan menenangkannya.
Mitha hanya terdiam.
“Kalau Mbak Mitha takut, biar kita-kita aja
para orangtua yang menenangkan Mas Ardi. Mbak Mitha hanya perlu membukakan
pintu aja. Itu Mas Ardi kata-katanya kasar lho Mbak. Sedangkan di lingkungan
ini banyak anak kecil dan orangtua. Tidak pantas kata-kata itu didengarkan oleh
orang lain!” kata Pak Tedjo mendesak Mitha.
Mitha hanya diam saja, bingung dan ketakutan
juga merasa malu tapi dia hanya diam mematung saja. Kemudian Mbok Inem mengajak
Mitha karena Mbok Inem juga merasa takut dipersalahkan kalau dia yang
membukakan pintu untuk para tetangga.
“Ayo Neng” kata Mbok Inem setengah memaksa
Mitha agar mengikutinya untuk membukakan pintu rumah Ardi.
Mitha ikut sambil meneteskan air mata.
__ADS_1