
Setelah kepulangan Resti, Winda termenung. Memikirkan tentang kerjasama dengan Luhur Shop. Entah jadi atau tidak, kerjasama itu bagai makan buah simalakama. Bila kerjasama berlangsung,
mau tidak mau dia harus memikirkan apabila suatu saat bertemu dengan Ardi. Mungkin
rasa cinta Winda ke Ardi masih tersisa walaupun sedikit. Bila kerjasama ini
berlangsung, Winda takut apabila masih berharap untuk balikan dengan Ardi. Akan
tetapi, kalau tidak kerjasama, masih butuh usaha yang keras untuk membuat
online shopnya berkembang. Winda bingung, dalam kebingungannya ini, dia melihat
Arjuna kemudian dia menetapkan hati untuk membuang khayalan dan pikiran tentang
kerjasama itu karena khayalan itu akan membuang waktu, pikiran dan tenaga. Karena
Ardi belum memutuskan tetap mau bekerjasama dengannya atau tidak.
......................................
Ardi yang mendengar kalau Winda baik-baik
saja dan masih sendiri menjadi lega dan timbul harapan untuknya, siapa tahu
bisa menjalin kembali ikatan yang pernah putus diantara mereka.
Ardi lama merenung di toko, sampai Mina
mencarinya.
“Mas, udah malam. Ayo pulang” kata Mina mengajak
Ardi pulang.
Sebenarnya, rumah Ardi Cuma di belakang toko
pas, akan tetapi kalau Ardi tidak pulang dari toko, Mina merasa kesepian karena
tidak ada yang diajak ngobrol. Mina juga tidak dekat dengan keluarga Ardi yang
rumahnya bersebelahan karena Mina merasa keluarga Ardi membencinya dan lebih
memilih Winda walaupun Winda sudah tidak ada di rumah itu lagi. Dan Mina juga
tidak terbiasa ngobrol dengan pembantu, selain Bimo Hp lah yang jadi teman Mina
selama ini kalau Ardi lagi sibuk kerja.
“Iya, bentar ya. Ada kerjaan yang harus
diselesaikan” kilah Ardi menolak ajakan Mina untuk pulang. Ardi tiba-tiba
merasa marah pada dirinya sendiri karena dia sudah melepaskan Winda. Sewaktu
ada Winda, hidupnya terasa enak. Dia melakukan apa yang dia inginkan dan tidak
dibebani pekerjaan karena semua yang mengurus adalah Winda. Tapi sekarang semua
dia yang mengurusnya. Dia merasa capek mengurus toko, dan meladeni keinginan
Mina.
Mina yang mendengar ajakannya untuk pulang
ditolak Ardi menjadi uring-uringan. Kemudian mereka agak berdebat dan berhenti
setelah Mina memutuskan untuk pulang duluan.
...................................
Mina kembali ke rumah, tetapi hatinya merasa
jengkel karena Ardi yang belum mau pulang dan terkesan menghindarinya. Mina
berpikir apa ada yang salah. Tadi siang sebelum ke toko semuanya masih biasa saja,
bahkan Ardi tadi bercanda dengannya sebelum ke toko. Mina dibuat kesal oleh
Ardi yang sikapnya tiba-tiba menjadi aneh.
Mina pergi ke kamar dan melihat Bimo masih
tertidur. Diraihnya Hp nya kemudian dia mulai membuka IG dan searching ‘Jaya’. Di
halaman Ig Jaya, ada gambar lelaki tampan dan memakai jas dan dasi. Jaya adalah
pacar Mina sebelum bertemu dengan Ardi. Waktu itu mereka berjanji untuk segera
menikah, akan tetapi sikap Jaya tiba-tiba berubah dan itu membuat Mina sedih.
__ADS_1
Mina kemudian ingin membuka usaha sendiri untuk menyibukkan diri dan mengikuti
berbagai seminar kewirausahaan. Dan disitulah dia bertemu dengan Ardi. Untuk
melepas kesepiannya, Mina mulai chat dengan Ardi kemudian mengajak bertemu dan
terjadilah hubungan yang terlarang. Mina hamil, dia meminta Jaya untuk
menikahinya karena sebenarnya Ardi hanyalah pelampiasannya untuk membalas sikap
Jaya yang dingin kepadanya. Akan tetapi Jaya menolak menikahi Mina, dan
akhirnya Mina menikah dengan Ardi.
Mina mulai mengenang masa lalunya untuk
mengobati rasa kecewanya dengan sikap Ardi belakangan ini yang mulai berubah.
Ingin rasanya dia mengirim pesan kepada Jaya agar mereka bisa bertemu. Mina
merasakan cintanya kepada Jaya belum hilang sepenuhnya. Ditambah lagi sikap
Ardi yang seringkali membuatnya jengkel. Ingin rasanya dia kembali ke rumah
orangtuanya. Akan tetapi orangtua Mina menentang keras karena sudah terlanjur
malu akan apa yang telah terjadi sebelumnya. Dan gunjingan di lingkungan
sekitar belum hilang tentang Mina yang sudah merebut suami orang.
Mina bingung, akhirnya menangis. Ardi yang
tiba-tiba masuk kamar dan melihat Mina menangis kemudian merasa bersalah. Ardi
meminta maaf kepada Mina,
“Yang, maaf atas sikapku yang tadi ya. Jangan
menangis, nanti Bimo kebangun” kata Ardi berusaha menenangkan Mina.
Bukannya mereda, tangis Mina malah bertambah
sampai terisak-isak. Ardi berusaha membujuk Mina untuk tenang dengan memeluk
Mina.
“Aku salah Yang, maafin aku ya. Aku tadi
Setelah beberapa saat Ardi membujuk dan
menenangkan Mina, tangis Mina mulai
mereda, kemudian mereka mulai tidur bersama dan melanjutkan malam berdua.
......................................
Keesokan harinya Ardi meminta karyawannya
untuk berkumpul di kantornya untuk membahas tentang kerjasama tokonya dengan
Purple Shop. Ardi sudah memutuskan tentang kerjasama tokonya dengan Purple Shop
milik Winda. Ardi berpikir untuk tidak bekerjasama dengan Purple Shop karena
dia kasihan melihat Mina yang tadi malam sampai menangis tersedu-sedu akan
perubahan sikapnya. Ardi berpikir bahwa Mina menangis karena sikapnya yang
buruk. Sikapnya yang buruk itu diakibatkan karena dia memikirkan tentang Winda.
Apalagi bila dia bekerjasama dengan Purple Shop, kemungkinan besar dia akan
tambah merindukan Winda dan ingin bertemu dengannya dan menjalin hubungan lagi.
“Sudah kumpul semua ya” Ardi melihat semua
karyawannya.
“Ya Mas” jawab Resti.
“Begini, saya sudah memikirkan tentang
kerjasama kita dengan Purple Shop. Tidak usah menunggu seminggu karena lebih
cepat diputuskan lebih baik”.
Semua karyawan terdiam dan menunggu Ardi
melanjutkan kata-katanya.
__ADS_1
“Saya sudah memikirkan kalau sebaiknya kita
tidak usah kerjasama dengan Purple Shop. Itu lebih baik untuk kita. Saya akan
berusaha cari tempat kulakan yang lebih murah”
Semua karyawan masih terdiam, mereka masih
berharap bisa kerjasama dengan Winda karena mereka yakin bila mereka kerjasama,
tokonya akan segera ramai kembali. Kalau harus nunggu dapat tempat kulakan yang
murah lagi, lalu sampai kapan keadaan toko menjadi stabil kembali? Pikir mereka
dalam hati.
Ardi yang melihat semua karyawannya terdiam
kemudian melanjutkan,
“Apa ada yang keberatan?”
Para karyawan tidak ada yang berani
menyampaikan pendapatnya, mereka hanya bilang,
“Tidak Mas”
“Ya sudah, rapatnya sampai di sini ya. Kalian
boleh melanjutkan pekerjaan masing-masing”
Setelah semua karyawan pergi, Ardi merenung
lagi. Dia hanya bisa menarik dan menghembuskan nafasnya dengan berat. Dalam
diam dia berpikir keputusan yang diambilnya sudah tepat. Ardi menatap dinding
kantornya dan mengingat Winda lagi. Dia tidak bisa mengendalikan perasaannya
kepada Winda. Ardi merenung, melamun tentang Winda.
Di luar, para karyawan mulai berkasak kusuk. Mereka
sudah mendengar cerita tentang Winda dan Arjuna. Mereka merasa prihatin dengan
Winda.
“Di tempat Mbak Winda ada lowongan kerja
nggak ya?” kata Risa.
“Hush, jangan bicara di sini ah nanti
kedengaran Pak Bos lho” kata Resti takut Ardi mendengar percakapan mereka.
“Habisnya, aku kadang nggak suka sama si
nyonya bos itu. Dia bossy banget. Dikit-dikit nyuruh. Emangnya kita pembantunya
apa. Kan udah ada pembantu di rumah, kenapa dia sering nyuruh-nyuruh kita yang
gak ada hubungannya sama kerjaan kita sih. Mbak Winda aja nggak pernah gitu!”
balas Risa merasa jengkel.
“Emang dia nyuruh apa?” tanya Resti ingin
tahu.
“Kemarin Risa disuruh ikut belanja ke toko
trus disuruh bawa barang belanjaannya si tuan putri” kata Silvi.
“Lha memangnya pembantunya ke mana?” tanya
Resti lagi, karena kemarin dia ada di tempat Winda.
“Mbok Inem kan lagi masak Mbak. Aku juga
nggak suka kalo disuruh jagain Bimo...” kata Silvi kemudian terdiam melihat
Ardi keluar dari kantornya.
Silvi memberi kode kepada yang lain agar
pura-pura melanjutkan pekerjaan mereka.
Ardi yang melihat tingkah aneh karyawannya
__ADS_1
segera berlalu karena dia tidak mau menambah masalah dengan menghardik para
karyawannya.