Suamiku Dan Wanitanya

Suamiku Dan Wanitanya
BAB 34 MAAF DAN RASA BERSALAH


__ADS_3

            Sepulang dari tempat Psikolog,


pikiran Ardi jauh lebih tenang. Dia tidak merasa gelisah karena marah dan emosi


yang bercampur aduk.


            Sesampainya di rumah, Ardi


berbincang dengan Winda sambil bermain dengan Arjuna.


            “Aku akan bawa Arjuna ketemu kamu


Jum’at siang sampai Minggu siang Mas” kata Winda.


            Menurut Psikolog yang menangani


Ardi, penting bagi Arjuna bertemu dengan Ayahnya. Itulah mengapa Winda


mengambil keputusan akan membawa Arjuna bertemu dengan Ardi setiap hari Jum’at


sampai dengan Minggu.


            “Ini semua aku lakukan buat Arjuna,


supaya dia tidak mengalami gangguan Psikologis nantinya. Seperti kata Psikolog


tadi” lanjut Winda.


            Ardi hanya mengangguk, Winda terdiam


kemudian berkata,


            “Tapi... kalau Mas Ardi keberatan


tidak apa-apa. Peran pengganti Ayah bisa dilakukan Kakeknya” kata Winda lagi.


            Ardi melihat Winda kemudian berkata,


            “Aku senang Win dengan keputusan


kamu membawa Arjuna menemuiku setiap Jum’at sampai Minggu. Kalau pun tiap hari


aku bisa ketemu Arjuna aku tambah senang” kata Ardi.


            “Kalau kamu tidak keberatan, aku akan


bawa Arjuna setiap hari Jum’at sampai Minggu. Aku bawa dia ke sini. Nanti malamnya


aku bisa menginap di hotel dekat sini dengan Arjuna” kata Winda.


            “Kenapa tidak tidur di rumah ini


saja? Walau bagaimanapun, rumah ini adalah milik Arjuna. Karena dia


satu-satunya anakku”


            “Maaf Mas... aku belum atau tidak


bisa di rumah ini.... ini mengingatkanku akan luka lama. Maaf aku tidak bisa


kalau disuruh menginap di sini” jawab Winda.


            Ardi terdiam, kemudian dengan berat


hati menjawab,


            “Baiklah kalau itu mau kamu. Aku


akan menuruti semuanya asalkan aku bisa bertemu Arjuna.


            “Terimakasih Mas atas pengertiannya.


Jikalau kamu merindukan Arjuna, silahkan datang ke rumahku tidak apa-apa. Ayah


dan Ibu tidak apa-apa” kata Winda.


            “Terimakasih atas pengertiannya


Win...”


            “Aku berencana memberikan semua aset


termasuk tokoku untuk Arjuna” kata Ardi.


            “Dipikir-pikir dulu Mas. Nanti jika


suatu saat kamu menikah bagaimana? Kalau kamu punya anak lagi bagaimana?


Dipikir dulu sebelum bertindak. Lagipula Arjuna tidak kurang satupun karena aku


sudah bisa mencukupi semua kebutuhan Arjuna” jawab Winda.


            “Hal ini sudah aku pikirkan dari


lama Win. Lagipula, kemungkinan aku untuk menikah lagi saat ini nol persen”


kata Ardi.


            “Dipikir-pikir aja dulu Mas. Kalau


kamu kasih ke Arjuna semua, sedangkan aku adalah Wali Arjuna, kamu tahu kan

__ADS_1


semua aset sebelum Arjuna cukup umur aku yang akan handle?”


            “Aku tahu Win.... aku sudah


pasrah... itu untuk menebus rasa bersalahku ke Arjuna”


            Winda terdiam, tidak tahu harus bicara


apa.


            ...................................


            “Sudah sore Mas, aku akan cari hotel


dekat sini sekalian memandikan Arjuna” kata Winda.


            “Nggak mandi di sini aja?” tanya


Ardi.


            “Maaf Mas...... Aku belum bisa. Aku belum


bisa menghilangkan ingatan rasa sakitku dahulu” jawab Winda.


            Ardi terdiam kemudian mengantarkan


Winda ke depan sambil berpamitan dengan Arjuna.


            “Kalau masih ingin ketemu Arjuna,


nanti kita bisa ketemu di luar buat makan malam. Kamu bisa bermain dengan


Arjuna sampai Arjuna tidur, dan akun akan kembali ke hotel” kata Winda


menawarkan kepada Ardi untuk bisa bercengkerama dengan Arjuna lebih lama.


            ..........................................


            Malam itu, Ardi, Winda dan Arjuna


makan malam bersama sambil bermain dengan Arjuna.


            “Kenapa kamu mau membawa Arjuna


bertemu denganku Win?” tanya Ardi.


            Ardi sudah tidak bisa menyembunyikan


rasa penasarannya tentang alasan Winda mau membantu terapinya sampai membawa


Arjuna bertemu dengannya.


            Mendengar pertanyaan itu Winda


Ardi,


            “Arjuna adalah anakmu Mas. Dia bukan


anak di luar nikah, yang artinya secara agama pun dia tidak boleh putus


hubungan dengan kamu”.


            “Alasan yang lainnya adalah, karena


itu juga demi kebaikan Arjuna. Supaya sosok Ayah masih ada dan dia bisa


mengenalmu. Seperti kata Psikolog tadi, supaya perkembangan Psikologis Arjuna


tidak terganggu” jawab Winda.


            “Terimakasih Win, sudah berbesar


hati membawa Arjuna untukku. Aku rasa, beribu-ribu kata maafku pun tidak bisa


menghapus rasa sakit yang aku timbulkan dulu.... terimakasih atas pengertiannya”


kata Ardi.


            “Mungkin benar katamu Mas.... sampai


sekarang pun aku belum bisa melupakan sakit hatiku. Tapi aku juga tidak boleh


egois, karena Arjuna juga butuh kamu” jawab Winda.


            Mereka terdiam dan Ardi memusatkan


perhatiannya kepada Arjuna. Ardi bermain dengan Arjuna sampai Arjuna tertidur.


            Ardi menyerahkan Arjuna yang


digendongnya kepada Winda. Winda membawa Arjuna ke mobil dan meletakknya di


mobil kemudian berpamitan kepada Ardi.


            “Aku ke pergi ke  hotel dulu ya Mas. Besok kamu bisa bertemu


dengan Arjuna lagi” kata Winda kemudian dia masuk ke mobil.


            Ardi bingung karena ada sesuatu yang


ingin dia tanyakan lagi kepada Winda. Akhirnya Ardi berdiri di samping mobil

__ADS_1


kemudian dia bertanya kepada Winda,


            “Win... ada sesuatu yang mau aku


tanyain sama kamu” kata Ardi terlihat ragu.


            Winda yang melihat Ardi ragu untuk


bertanya menjawab,


            “Tanya aja Mas. Nggak apa-apa. Akan


aku jawab” kata Winda.


            “Begini Win..... apa... apa kamu mau


menikah lagi?” tanya Ardi memberanikan diri.


            Winda tersenyum mendengar pertanyaan


Ardi.


            “Belum tahu Mas. Tapi mungkin untuk


saat ini belum deh. Soalnya aku mau fokus sama Arjuna. Mungkin trauma juga,


karena sakit hatiku belum sembuh” jawab Winda.


            Ardi yang mendengar jawaban Winda


merasa bersalah dan bingung tak tahu harus bagaimana.


            “Memangnya belum ada lelaki yang


udah deketin kamu Win?” tanya Ardi lagi.


            “Sudah ada Mas. Deketinnya langsung


ke Ayah Ibu.Tapi, sepertinya aku belum siap karena aku sibuk dengan Arjuna dan


kerjaanku banyak. Aku nggak mau dipusingkan masalah lelaki dan lain hal. Aku


ingin bahagia dulu Mas” jawab Winda.


            “Maaf ya Win, gara-gara aku kamu


jadi belum mau menikah lagi” jawab Ardi.


            Ardi merasa senang karena Winda


belum menikah lagi atau menjalin hubungan dengan siapapun. Ardi merasa belum siap


jika Winda menikah dengan orang lain.


            Winda tersenyum mendengar permintaan


maaf dari Ardi.


            “Sudah cukup kali Mas minta maafnya”


kata Winda.


            “Kita menjalin silaturahmi yang baik


demi Arjuna” kata Winda.


            “Maafnya disimpan saja dalam hati,


supaya Arjuna tidak mendengar Ayahnya meminta maaf berkali-kali” kata Winda


sambil tersenyum.


            “Aku pamit dulu ya Mas”


            ......................................


            Di rumah Mina, Mina tidak mau makan.


Dia hanya menangis meratapi kesdihannya.


            Orangtua Mina bingung harus berbuat


apa. Segala cara sudah mereka coba untuk membujuk Jaya supaya mau menikah


dengan Mina, tetapi Jaya tetap tidak mau menikahi Mina.


            Pernikahan Jaya batal karena Rara,


tunangannya membatalkan pernikahannya dengan Jaya karena belum bisa menerima


Jaya yang sudah mempunyai anak dengan Mina.


            Merasa sakit hati, Jaya menemui


orangtua Mina dan menyetujui untuk menikah dengan Mina dengan syarat dia akan


mendapatkan modal dari Ayah Mina.


            Mina yang mendengar bahwa Jaya mau


menikah dengannya menjadi bahagia dan mulai menata emosinya dan mau mengasuh Bimo

__ADS_1


lagi.


__ADS_2