Suamiku Dan Wanitanya

Suamiku Dan Wanitanya
BAB XXII


__ADS_3

            Sekitar setengah delapan malam, Bowo


ke rumah Winda dengan harapan bisa pendekatan dengannya. Akan tetapi yang


menyambut kedatangan Bowo adalah Ayah Winda,


            “Selamat malam Pak, Windanya ada?”


tanya Bowo.


“Ada Nak, silahkan masuk” kata Ayah Winda.


“Silahkan duduk, saya panggilkan sebentar ya.


Dia masih di toko, kayaknya banyak yang beli” kata Ayah Winda lagi.


Ayah Winda pergi ke toko untuk memanggil


Winda, di sana dia melihat Winda sedang mengecek barang. Ayah Winda mendekati


Winda,


“Nak, dicari Pak Bowo” kata AyahWinda.


“Tapi Winda sedang sibuk Yah” kilah Winda.


Selain tidak ingin bertemu, dia juga sedang tidak bisa diganggu karena masih


banyak kerjaan menumpuk.


“Temui sebentar ya. Nggak enak kalau nggak


ditemui”


Akhirnya Winda mengalah dan menemui Bowo.


“Ada apa Pak?” tanya Winda.


“Ini... saya Cuma mau main aja” jawab Bowo.


“Maaf Pak, bukannya saya bermaksud tidak


sopan, tapi saya  baru banyak kerjaan di


toko dan belum selesai. Semua karyawan saya juga lembur” kata Winda lagi to the


point.


Bowo kecewa, dia merasa ditolak oleh Winda.


Tapi harga diri dan pikirannya melarang untuk langsung pulang.


Kalau langsung pulang aku tidak akan punya


kesempatan lagi, pikir Bowo. Pokoknya malam ini dia harus bisa dekat dengan


Winda. Setidaknya, ada kemajuan.


“Kalau begitu boleh saya melihat-lihat


tokonya? Dik Winda silahkan kerja, saya tidak akan mengganggu kok” kata Bowo.


Winda tidak bisa menolak karena sungkan.


Winda berpikir kalau Bowo nanti di toko merasa dicuekin mungkin akan berpamitan


pulang.


Winda mengajak Bowo ke toko kemudian


mempersilahkan Bowo duduk dan melihat-lihat. Sedangkan Winda melanjutkan


pekerjaan dengan karyawan yang lain. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan


kurang, Winda memberikan kode kepada Rahma agar Bowo segera pulang.


“Wah, sudah malam ya” kata Rahma.


“Iya ya, sudah malam ternyata. Nggak nyangka


sudah jam segini” kata Winda menimpali.


“Iya Mbak. Ini nanti selesai nggak ya?” kata


Rahma lagi.


“Nanti kalau kemalaman tidur di sini aja Ma.


Yang lain boleh tidur di sini juga kalau takut pulang kemalaman” kata Winda


lagi.


Bowo yang mendengar hal itu sadar bahwa malam


ini dia tidak bisa ngobrol santai dengan Winda apalagi mendekatinya. Kemudian


Bowo memutuskan untuk berpamitan pulang,


“Dik, aku pulang dulu ya. Besok-besok aja

__ADS_1


kalau kamu nggak repot aku ke sini lagi”, kata Bowo.


“Iya Pak, maaf ya. Saya jadi tidak enak hati”


kata Winda basa basi.


Bowo pun pulang setelah berpamitan kepada


kedua orangtua Winda.


Winda merasa senang, kemudian


“Hari ini sudah dulu, dilanjut besok pagi ya.


Kalau ada yang takut pulang bisa tidur di sini” kata Winda.


“Nggak Mbak, kita pamit pulang aja” kata


Rahma.


“Iya, maaf ya. Nanti kalau sudah selesai,


Sabtu toko kita tutup kita pergi ke mall H ya. Orderan Sabtu kita selesaikan


hari Senin” kata Winda.


Semua karyawan senang karena hari Sabtu yang


seharusnya kerja mereka bisa jalan-jalan ke mall untuk jalan-jalan.


Setelah semua karyawan pulang, Winda pergi ke


kamar untuk tidur.


..........................................


Walaupun enggan, Mina pulang ke rumah Ardi


atas desakan orangtuanya, di sana sebisa mungkin dia menghindari Ardi.


Ardi heran dengan hal itu, dia berniat untuk


menanyakan tentang hal itu kepada Mina nanti kalau dia keluar kamar Bimo.


Mina keluar kamar karena mau makan. Dia


ketemu Ardi di ruang makan.


“Mina, aku ingin bicara” kata Ardi.


Mina berjalan melewati Ardi kemudian


mengambil makanan sambil menjawab,


“Kamu marah padaku?” Ardi mulai bertanya.


“Tidak” jawab Mina.


“Tapi sikapmu akhir-akhir ini aneh”


“Nggak juga”


Ardi bingung mau bertanya apa lagi,


“Kamu tidur di kamar Bimo dan menguncinya,


seakan kamu menghindari untuk tidur denganku. Ada apa sebenarnya? Kamu menjadi


aneh setelah pulang ke rumah orangtuamu” kata Ardi berusaha menahan amarahnya.


“Aku ingin bercerai” kata Mina.


Ardi kaget mendengar hal itu, kenapa


tiba-tiba Mina mengajak Ardi bercerai,


“Apa aku melakukan kesalahan?” tanya Ardi.


Ardi berpikir, jangan-jangan Mina tahu kalau Winda datang ke rumahnya beberapa


hari yang lalu.


“Pikir aja sendiri” kilah Mina karena dia


bingung mencari alasan untuk bercerai dengan Ardi. Beberapa hari ini dia


berpikir apa saja kesalahan Ardi yang bisa dia gunakan untuk bercerai. Mina


merasa frustasi karena tidak menemukan kesalahan Ardi.


“Apa karena beberapa hari yang lalu Winda ke


sini?” tanya Ardi lagi.


Bingo..... Winda ke sini..... Mina berpikir


mencari celah untuk bercerai dengan hal itu.


“Iya! Kenapa Winda datang ke sini? Kamu ingin

__ADS_1


balikan dengan Winda ya!” Mina berpura-pura marah.


“Maafkan aku, bukan aku yang menyuruhnya ke


sini. Tapi kakakku karena dia ingin melihat Arjuna”


“Arjuna? Arjuna siapa?”


“Arjuna.... Arjuna itu anakku dengan Winda”


“Apa maksudmu?!”


“Winda.... melahirkan anakku sebulan setelah


Bimo lahir” kata Ardi menunduk.


Mina diam saja, dia senang karena ada alasan


untuk berpisah dengan Ardi. Akan tetapi, dia juga sedih, ada rasa cemburu di


hatinya. Walau bagaimanapun Mina sudah satu tahun ini menikah dengan Ardi.


“Maafkan aku ya Yang” kata Ardi memelas


berusaha menenangkan Mina, dan membujuk Mina supaya dia masih ingin bersamanya.


“Aku akan pulang ke rumah orangtuaku” kata Mina.


“Maafkan aku” kata Ardi .


“Winda ke sini juga Cuma mengunjungi kakakku,


tidak lebih” kata Ardi lagi.


Mina sudah membulatkan tekad untuk pulang ke


rumah orangtuanya hari ini. Dia berpikir mumpung ada kesempatan kali ini. Kalau


dia melewatkan kesempatan kali ini, belum tentu besok dia mendapatkan


kesempatan yang sama.


Walaupun hatinya merasa sedih karena berpisah


dengan Ardi, pikiran untuk bersama dengan Jaya membuatnya tetap tegar dan kuat


untuk meninggalkan Ardi.


Mina mengemasi barang-barangnya dan barang


Bimo.


Ardi berusaha mencegah Mina.


“Kamu mau mengantarku pulang ke rumah


orangtuaku hari ini atau aku akan naik kendaraan umum. Pilih salah satu!


Tekadku sudah bulat!” kata Mina.


Ardi bingung tak tahu harus bagaimana lagi.


Dia membujuk Mina, tapi Mina tetap kukuh padapendiriannya.


“Aku antar saja” kata Ardi akhirnya.


“Baguslah, kamu bisa sekalian bicara dengan


orangtuaku kalau kita akan berpisah” kata Mina.


Ardi berpikir, mungkin Mina hanya marah


sebentar saja. Nanti dia akan tenang sendiri. Apalagi kalau nanti dia pulang ke


rumah, Ardi bisa minta tolong orangtua Mina untuk membujuk Mina pulang


dengannya kembali ke rumah ini.


Setelah beberapa saat dan semua sudah beres,


Ardi mengantarkan Mina dan Bimo ke daerah S.


Mereka sampai di daerah S sudah malam.


Kemudian Mina langsung masuk kamar, sedangkan Ardi berbincang dengan orangtua


Mina di ruang tamu,


“Aku akan membujuk Mina Nak” kata Ayah Mina.


“Iya Pi, tolong ya Pi” kata Ardi


Mina keluar kamar kemudian menyuruh Ardi


untuk pulang ke rumahnya dan tidak menginap di situ,


“Biar Ardi tidur di sini Min, ini sudah malam”


kata Ayah Mina.

__ADS_1


“Nggak Pi, pokoknya Ardi harus pulang!” jawab


Mina.


__ADS_2