Suamiku Dan Wanitanya

Suamiku Dan Wanitanya
Episode 25


__ADS_3

            Sampai di rumah Ardi, Mitha melihat


sudah banyak tetangganya berada di depan gerbang rumah Ardi. Mereka yang


melihat Mitha merasa senang karena akhirnya ada yang mau membukakan pintu rumah


Ardi untuk mereka.


“Mbak Mitha cepat, itu Mas Ardi


marah-marahnya semakin menjadi-jadi” kata Ibu-ibu sudah tidak sabar.


Mbok Inem kemudian membukakan pagar dan


membuka pintu depan sambil tetapi menggandeng Mitha. Para tetangga segera masuk


ke rumah Ardi untuk melihat apa yang terjadi. Mereka masuk ke kamar Ardi


kemudian mulai menenangkan Ardi.


Ardi yang melihat para tetangga masuk tambah


marah karena merasa malu. Para tetangga yang laki-laki segera menjegal Ardi


supaya Ardi mau diam. Kemudian mereka mulai menenangkan Ardi. Para Ibu-ibu


hanya bisa melihat dari ruang tamu dan tidak berani masuk ke kamar.


Mitha dan Mbok Inem juga berada di ruang


tamu, takut melihat Ardi yang marah-marah. Mitha merasa tidak tega Ardi meronta,


dan masih teriak-teriak seperti orang kesurupan dan dipegangi oleh Bapak-Bapak


supaya Ardi tidak membahayakan yang lain.


Para Ibu berkasak kusuk di depan Mitha. Mitha


hanya bisa diam saja karena merasa malu.


“Mbak Mitha, apa sudah telepon Bundamu?”


tanya Bu Tedi.


“Sudah Bu” jawab Mitha lirih.


“Lha kok Bundamu belum datang Mbak?” tanya Bu


Tedi lagi.


“Iya Bu, masih banyak kerjaan di kantor”


jawab Mitha.


Kemudian Bu Tedi berkata dengan Ibu-ibu yang


lain,


“Lha adiknya kaya gitu kok belum mau pulang.


Mentingin kerjaan”


Mitha yang mendengar kata-kata Bu Tedi hanya


terdiam.


Ibu-ibu yang lain mengisyaratkan dan memberi


tanda kepada Bu Tedi agar Bu Tedi diam karena ada Mitha.


“Nggak apa-apa Dik Mitha” kata Bu Harun.


Mitha hanya terdim, tak bisa berkata-kata. Mata


Mitha berkaca-kaca karena ingin menangis. Selain malu, dia juga kasihan kepada


Ardi.


“Mbok, Mas Ardi begitu dari kapan?” tanya Bu Tedi


kepada Mbok Inem.


“Itu Bu.... sudah sekitar satu jam an yang


lalu” jawab Mbok Inem.


“Terus, kenapa Mbok Inem malah pergi ke rumah


Mitha nggak di rumah menenangkan Mas Ardi?” tanya Bu Tedi lagi.


“Itu Bu.... saya takut” kata Mbok Inem sambil


meneteskan air mata.

__ADS_1


Yang lain mentowel-towel Bu Tedi agar tidak


banyak tanya kepada Mitha maupun Mbok Inem karena merasa kasihan kepada mereka.


“Sudah Bu... jangan ditanya-tanya lagi.


Mereka mungkin masih shock” kata Bu Harun kepada Bu Tedi supaya Bu Tedi tidak


banyak tanya dulu karena Mitha dan Mbok Inem masih shock.


Akan tetapi Bu Tedi tidak mau mendengarkan


Ibu-Ibu yang lain karena dia terlalu penasaran atas apa yang telah terjadi.


“Mbok, kenapa Mas Ardi bisa kayak gitu? Mbak


Mina nya Mana?” tanya Bu Tedi lagi.


Ibu-ibu yang lain sebenarnya sungkan karena


Bu Tedi terlalu banyak tanya dan ingin tahu. Akan tetapi, mereka juga penasaran


kenapa Ardi bisa sampai begitu, dan dimana Mina berada di saat suaminya sedang


tantrum seperti itu.


Mbok Inem terdiam dan matanya berkaca-kaca.


Dia berusaha untuk tidak meneteskan air matanya tapi tidak berhasil. Pertanyaan


dari para tetangga sebenarnya mengganggunya. Tapi kalau tidak dijawab, dia


kasihan pada Ardi karena mereka akan menggunjingkan Ardi nantinya.


“Mbak Mina, pulang ke rumah orangtuanya


kemarin Bu” jawab Mbok Inem.


“O itu sebabnya Mas Ardi sampai kaya gitu....”


kata Bu Tedi.


Semua terdiam, memikirkan alasan Mina yang


bagi mereka adalah ‘Sang Pelakor’ pulang ke rumah orangtuanya.


“Udah jadi pelakor, ngrebut suami orang,


Semua yang ada di sana kemudian mulai


menggunjingkan Mina dan Ardi. Mereka menerka-nerka kenapa Mina pulang ke rumah


orangtuanya. Mereka mencari tahu alasan Mina pulang ke rumah orangtuanya dengan


persepsi mereka sendiri. Mbok Inem yang mendengar hal itu hanya bisa diam dan


menangis dalam diam.


“Mungkin Ardi ketemu perempuan lain.


Laki-laki kan kayak gitu. Udah selingkuh sekali jadi nagih ingin selingkuh lagi”


kata Bu Tedjo.


“Ssst... Belum tentu lho Bu” kata Bu Harun.


“Katanya Mina anak orang kaya ya... Mungkin


dia nggak mau hidup susah... Kan usaha Ardi sekarang ini sedang turun” kata Bu


Fera.


“Belum tentu juga, walaupun sedang turun tapi


kan mereka masih berekcukupan” kata Bu Nia.


“Ya... namanya aja manusia. Nggak pernah


merasa cukup” jawab Bu Fera.


Mereka masih terus menggunjingkan Ardi dan


Mina.


Lela pulang dan melihat di rumah Ardi sudah


banyak orang. Kemudian dia buru-buru berlari ke rumah Ardi takut terjadi


sesuatu kepada Ardi.


Melihat Lela datang, Ibu-ibu yang sedang


bergunjing kemudian diam dan menyambut Bu Lela.

__ADS_1


“Mas Ardi sudah agak tenang Bu” kata  Bu Tedi.


Lela hanya terdiam dan kemudian langsung


masuk kamar dan melihat Ardi meronta-ronta dan sedang dipegangi Bapak-bapak


serta ditenangkan para Bapak-bapak.


“Istigfar Mas Ardi” kata Pak Harun.


Lela menangis melihat keadaan adiknya. Kemudian


dia memeluk adiknya.


Ardi yang melihat kakaknya kemudian dipeluk


kakaknya ikutan menangis.


“Sudah Di.... relakan ya... kita bisa


bicarakan baik-baik. Berita itu mungkin tidak benar” kata Lela menenangkan


adiknya.


Ardi sesenggukkan dan tidak menjawab


kakaknya.


Bapak-bapak yang berada di sana, yang melihat


Ardi sudah tenang kemudian pergi ke ruang tamu. Mereka tidak langsung pulang,


takut Ardi tantrum lagi.


“Mbak.... Mina pulang ke rumah orangtuanya”


kata Ardi


Lela hanya mengangguk


“Iya, nggak apa-apa. Nanti dibicarakan


baik-baik” kata Lela.


“Kemarin alasannya dia pergi karena Arjuna


dan Winda. Tapi sebelum itu sikapnya sudah aneh Mbak. Trus tadi kata Mbok Inem


Mina ketemu sama lelaki lain do kota S” kata Ardi.


“Iya... itu belum tentu benar. Kamu tenang


dulu. Nanti hari Minggu pas semua libur kita ke ke rumah Mina. Kita bicarakan


baik-baik ya.... Lihat para tetangga berdatangan karena kamu begini” kata Lela


berusaha menenangkan adiknya.


Ardi merasa malu dengan apa yang baru terjadi


dengannya. Dia seperti tidak punya muka untuk melihat atau bertemu para


tetangganya lagi. Setelah ini dia yakin, para tetangga akan menggunjingkannya.


Setelah Ardi benar-benar sudah tenang, para


tetangga akhirnya berpamitan pulang. Di jalan mereka masih menggunjingkan Ardi


dan Mina.


.................................


Malam itu, semua anggota keluarga berkumpul


di rumah Ardi dan membahas apa yang telah terjadi. Mereka bersepakat hari


Minggu akan ke rumah Mina untuk membicarakan masalah yang terjadi antara Mina


dengan Ardi.


Mereka ngobrol hingga larut malam, mereka


enggan meninggalkan Ardi karena takut Ardi tantrum lagi kalau sendirian. Akan


tetapi mata mereka sudah tidak bisa dipaksa untuk tetap terjaga, kemudian


mereka berpamitan pulang.


“Mbok, kamu jaga Ardi ya. Kalau ada apa-apa


langsung hubungi kita ya” kata Lela menitipkan Ardi ke Mbok Inem.


“Iya Bu” jawab Mbok Inem.

__ADS_1


__ADS_2