
Sampai di rumah Ardi, Mitha melihat
sudah banyak tetangganya berada di depan gerbang rumah Ardi. Mereka yang
melihat Mitha merasa senang karena akhirnya ada yang mau membukakan pintu rumah
Ardi untuk mereka.
“Mbak Mitha cepat, itu Mas Ardi
marah-marahnya semakin menjadi-jadi” kata Ibu-ibu sudah tidak sabar.
Mbok Inem kemudian membukakan pagar dan
membuka pintu depan sambil tetapi menggandeng Mitha. Para tetangga segera masuk
ke rumah Ardi untuk melihat apa yang terjadi. Mereka masuk ke kamar Ardi
kemudian mulai menenangkan Ardi.
Ardi yang melihat para tetangga masuk tambah
marah karena merasa malu. Para tetangga yang laki-laki segera menjegal Ardi
supaya Ardi mau diam. Kemudian mereka mulai menenangkan Ardi. Para Ibu-ibu
hanya bisa melihat dari ruang tamu dan tidak berani masuk ke kamar.
Mitha dan Mbok Inem juga berada di ruang
tamu, takut melihat Ardi yang marah-marah. Mitha merasa tidak tega Ardi meronta,
dan masih teriak-teriak seperti orang kesurupan dan dipegangi oleh Bapak-Bapak
supaya Ardi tidak membahayakan yang lain.
Para Ibu berkasak kusuk di depan Mitha. Mitha
hanya bisa diam saja karena merasa malu.
“Mbak Mitha, apa sudah telepon Bundamu?”
tanya Bu Tedi.
“Sudah Bu” jawab Mitha lirih.
“Lha kok Bundamu belum datang Mbak?” tanya Bu
Tedi lagi.
“Iya Bu, masih banyak kerjaan di kantor”
jawab Mitha.
Kemudian Bu Tedi berkata dengan Ibu-ibu yang
lain,
“Lha adiknya kaya gitu kok belum mau pulang.
Mentingin kerjaan”
Mitha yang mendengar kata-kata Bu Tedi hanya
terdiam.
Ibu-ibu yang lain mengisyaratkan dan memberi
tanda kepada Bu Tedi agar Bu Tedi diam karena ada Mitha.
“Nggak apa-apa Dik Mitha” kata Bu Harun.
Mitha hanya terdim, tak bisa berkata-kata. Mata
Mitha berkaca-kaca karena ingin menangis. Selain malu, dia juga kasihan kepada
Ardi.
“Mbok, Mas Ardi begitu dari kapan?” tanya Bu Tedi
kepada Mbok Inem.
“Itu Bu.... sudah sekitar satu jam an yang
lalu” jawab Mbok Inem.
“Terus, kenapa Mbok Inem malah pergi ke rumah
Mitha nggak di rumah menenangkan Mas Ardi?” tanya Bu Tedi lagi.
“Itu Bu.... saya takut” kata Mbok Inem sambil
meneteskan air mata.
__ADS_1
Yang lain mentowel-towel Bu Tedi agar tidak
banyak tanya kepada Mitha maupun Mbok Inem karena merasa kasihan kepada mereka.
“Sudah Bu... jangan ditanya-tanya lagi.
Mereka mungkin masih shock” kata Bu Harun kepada Bu Tedi supaya Bu Tedi tidak
banyak tanya dulu karena Mitha dan Mbok Inem masih shock.
Akan tetapi Bu Tedi tidak mau mendengarkan
Ibu-Ibu yang lain karena dia terlalu penasaran atas apa yang telah terjadi.
“Mbok, kenapa Mas Ardi bisa kayak gitu? Mbak
Mina nya Mana?” tanya Bu Tedi lagi.
Ibu-ibu yang lain sebenarnya sungkan karena
Bu Tedi terlalu banyak tanya dan ingin tahu. Akan tetapi, mereka juga penasaran
kenapa Ardi bisa sampai begitu, dan dimana Mina berada di saat suaminya sedang
tantrum seperti itu.
Mbok Inem terdiam dan matanya berkaca-kaca.
Dia berusaha untuk tidak meneteskan air matanya tapi tidak berhasil. Pertanyaan
dari para tetangga sebenarnya mengganggunya. Tapi kalau tidak dijawab, dia
kasihan pada Ardi karena mereka akan menggunjingkan Ardi nantinya.
“Mbak Mina, pulang ke rumah orangtuanya
kemarin Bu” jawab Mbok Inem.
“O itu sebabnya Mas Ardi sampai kaya gitu....”
kata Bu Tedi.
Semua terdiam, memikirkan alasan Mina yang
bagi mereka adalah ‘Sang Pelakor’ pulang ke rumah orangtuanya.
“Udah jadi pelakor, ngrebut suami orang,
Semua yang ada di sana kemudian mulai
menggunjingkan Mina dan Ardi. Mereka menerka-nerka kenapa Mina pulang ke rumah
orangtuanya. Mereka mencari tahu alasan Mina pulang ke rumah orangtuanya dengan
persepsi mereka sendiri. Mbok Inem yang mendengar hal itu hanya bisa diam dan
menangis dalam diam.
“Mungkin Ardi ketemu perempuan lain.
Laki-laki kan kayak gitu. Udah selingkuh sekali jadi nagih ingin selingkuh lagi”
kata Bu Tedjo.
“Ssst... Belum tentu lho Bu” kata Bu Harun.
“Katanya Mina anak orang kaya ya... Mungkin
dia nggak mau hidup susah... Kan usaha Ardi sekarang ini sedang turun” kata Bu
Fera.
“Belum tentu juga, walaupun sedang turun tapi
kan mereka masih berekcukupan” kata Bu Nia.
“Ya... namanya aja manusia. Nggak pernah
merasa cukup” jawab Bu Fera.
Mereka masih terus menggunjingkan Ardi dan
Mina.
Lela pulang dan melihat di rumah Ardi sudah
banyak orang. Kemudian dia buru-buru berlari ke rumah Ardi takut terjadi
sesuatu kepada Ardi.
Melihat Lela datang, Ibu-ibu yang sedang
bergunjing kemudian diam dan menyambut Bu Lela.
__ADS_1
“Mas Ardi sudah agak tenang Bu” kata Bu Tedi.
Lela hanya terdiam dan kemudian langsung
masuk kamar dan melihat Ardi meronta-ronta dan sedang dipegangi Bapak-bapak
serta ditenangkan para Bapak-bapak.
“Istigfar Mas Ardi” kata Pak Harun.
Lela menangis melihat keadaan adiknya. Kemudian
dia memeluk adiknya.
Ardi yang melihat kakaknya kemudian dipeluk
kakaknya ikutan menangis.
“Sudah Di.... relakan ya... kita bisa
bicarakan baik-baik. Berita itu mungkin tidak benar” kata Lela menenangkan
adiknya.
Ardi sesenggukkan dan tidak menjawab
kakaknya.
Bapak-bapak yang berada di sana, yang melihat
Ardi sudah tenang kemudian pergi ke ruang tamu. Mereka tidak langsung pulang,
takut Ardi tantrum lagi.
“Mbak.... Mina pulang ke rumah orangtuanya”
kata Ardi
Lela hanya mengangguk
“Iya, nggak apa-apa. Nanti dibicarakan
baik-baik” kata Lela.
“Kemarin alasannya dia pergi karena Arjuna
dan Winda. Tapi sebelum itu sikapnya sudah aneh Mbak. Trus tadi kata Mbok Inem
Mina ketemu sama lelaki lain do kota S” kata Ardi.
“Iya... itu belum tentu benar. Kamu tenang
dulu. Nanti hari Minggu pas semua libur kita ke ke rumah Mina. Kita bicarakan
baik-baik ya.... Lihat para tetangga berdatangan karena kamu begini” kata Lela
berusaha menenangkan adiknya.
Ardi merasa malu dengan apa yang baru terjadi
dengannya. Dia seperti tidak punya muka untuk melihat atau bertemu para
tetangganya lagi. Setelah ini dia yakin, para tetangga akan menggunjingkannya.
Setelah Ardi benar-benar sudah tenang, para
tetangga akhirnya berpamitan pulang. Di jalan mereka masih menggunjingkan Ardi
dan Mina.
.................................
Malam itu, semua anggota keluarga berkumpul
di rumah Ardi dan membahas apa yang telah terjadi. Mereka bersepakat hari
Minggu akan ke rumah Mina untuk membicarakan masalah yang terjadi antara Mina
dengan Ardi.
Mereka ngobrol hingga larut malam, mereka
enggan meninggalkan Ardi karena takut Ardi tantrum lagi kalau sendirian. Akan
tetapi mata mereka sudah tidak bisa dipaksa untuk tetap terjaga, kemudian
mereka berpamitan pulang.
“Mbok, kamu jaga Ardi ya. Kalau ada apa-apa
langsung hubungi kita ya” kata Lela menitipkan Ardi ke Mbok Inem.
“Iya Bu” jawab Mbok Inem.
__ADS_1