Suamiku Dan Wanitanya

Suamiku Dan Wanitanya
BAB XVII RAHASIA


__ADS_3

            Mina merasa kesal karena Ardi tidak


menepati janjinya, mengijinkannya ke rumah orangtuanya sendiri. Sudah 1 bulan


berlalu, Mina belum juga diantar ke rumah orangtuanya seperti janji Ardi.


            “Yang, udah 1 bulan lho sejak kamu


ngijinin aku pulang ke rumah ortuku” kata Mina.


            “Maaf Yang, aku belum bisa nganter,


soalnya masih repot di toko. Kalau hari Minggu badan rasanya capek banget.


Maafin ya”, kata Ardi.


            “Aku kan udah bilang Yang kalau aku


bisa nyetir sendiri!” kata Mina bersungut-sungut.


            “Jangan emosi Yang. Nanti ku pikirin


lagi ya”


            “Pikirin gimana? Aku dah kangen sama


Mama dan Papaku Yang. Udah lama nggak ketemu!” kata Mina marah.


            “Aku nggak tega kamu nyetir


sendirian selama kurang lebih 4 jam an Yang. Rumah orangtuamu kan jauh”


            Pokoknya Minggu ini aku mau ke rumah


orangtuaku! Kalau kamu nggak bisa nganter ya nggak apa-apa! Aku bisa nyetir


sendiri!” kata Mina kemudian meninggalkan Ardi.


            Ardi hanya terdiam tidak bisa


berkata apa-apa lagi. Dia bingung harus bagaimana. Bimo masih bayi, dan kalau


Mina nyetir sendiri ke daerah S rasanya tidak tega, sedangkan di toko sedang


ada masalah.


            Kemudian Ardi ke toko dan menjadi


uring-uringan. Para karyawan Ardi merasa terganggu karena Ardi uring-uringan


tak jelas. Resti, salah satu karyawannya mengambil resiko dengan berbicara


kepada Ardi.


            “Mas, kenapa Mas Ardi uring-uringan?


Ada masalah apa?” tanya Resti kepada Ardi di ruangannya.


            “Nggak ada apa-apa Res” jawab Ardi.


            “Jangan gitu Mas, karyawan yang lain


merasa tidak enak karena Mas Ardi uring-uringan nggak jelas” kata Resti


memberanikan diri.


            Ardi hanya diam, kemudian Resti melanjutkan.


            “Mas, kalau ada masalah dengan Mbak


Mina atau apa aja cerita aja siapa tahu kita bisa bantu. Kalau Mas Ardi kayak


gini di tengah situasi Toko yang lagi kacau begini, karyawan menjadi tidak enak


hati. Mereka mengira Mas Ardi uring-uringan karena masalah Toko. Tapi kalau


memang Mas Ardi uring-uringan masalah toko bicara aja sama kami semua. Kita


semua siap mendengarnya daripada Mas Ardi uring-uringan dan membuat kerja kita


juga nggak nyaman” kata Resti berani.


            Ardi kaget mendengar kata-kata Resti


yang berani. Ardi hanya bisa menghela nafas panjang. Resti yang melihat Ardi


hanya diam saja tanpa memberikan jawaban beranjak dari duduknya dan mau pergi


dari kantor Ardi.


            “Jangan pergi dulu Res” kata Ardi.


            Resti duduk kembali, kemudian

__ADS_1


mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh Ardi,


            “Maaf membuatmu dan karyawan lain


tidak nyaman. Memang keadaan toko sedang tidak kondusif. Pendapatan menurun


drastis, sedangkan pengeluaran pribadiku saat ini melonjak. Aku masih ingin


mempertahankan para karyawan, tapi untuk menggaji saja terkadang rasanya sulit


karena keuntungan yang kita dapat juga menurun drastis. Apalagi salah satu


penyebab turunnya pendapatan kita karena mereka beralih ke Purple Shop milik


Winda. Yah bukan Winda juga sih yang salah. Itu karena aku nggak bisa milih


barang yang laku dijual atau nggak, apalagi barang kita termasuk mahal untuk


sekarang ini. Jadi pembeli beralih ke tempat lain” Ardi bicara dengan nada


sedih.


            “Apa Mas Ardi punya pikiran untuk


mem PHK salah satu karyawan?” tanya Resti.


            “Kalau keadaan begini terus kemungkinan


begitu Res. Itu skenario terburuknya”


            Resti menghela nafas panjang, ingin


rasanya dia keluar kerja dan ikut Winda saja. Tapi dia juga nggak yakin kalau


Winda mau menerimanya karena sungkan dengan Ardi.


            Resti keluar dengan wajah lesu,


teman-temannya menghampirinya dan bertanya kenapa dia jadi murung. Resti


menceritakan semua yang dikatakan Ardi. Para karyawan ikut murung karena mereka


takut di PHK, padahal cari kerja susah.


            “Mbak Resti, misal kita dikeluarkan


Mbak Winda mau nerima kita kerja di sana nggak ya?” tanya Tyas berbisik kepada


            “Nggak tahu juga. Coba nanti aku


tanya Mbak Winda ya” kata Resti.


            Setelah itu teman-teman Resti


meminta Resti untuk segera menghubungi Winda. Karena tidak bisa telepon, maka


Resti mengirim pesan kepada Winda.


            ‘Mbak Win, maaf ganggu. Aku mau


tanya, boleh ya?’ pesan dari Resti. Tak lama kemudian Winda menjawab pesannya.


            ‘Boleh. Ada apa Res?’


            ‘Langsung aja ya Mbak. Mas Ardi


kayaknya mau mem PHK karyawan, tapi tidak tahu siapa karena toko sedang ada


masalah’


            ‘Masalah apa Res?’ tanya Winda.


            Resti menceritakan semua yang


terjadi di Toko. Winda merasa bersalah, kemudian berjanji untuk menghubungi


Ardi bila memang ada karyawannya yang di PHK dan diusahakan untuk kerja


dengannya.


            ........................................................


            Mitha heran Ardi sering ke rumahnya


siang hari dan pulang sore hari. Tapi setiap Ardi ditanya ada masalah apa, Ardi


tidak mau menjawab. Kemudian Mitha memutuskan untuk bicara dengan Bundanya.


            “Bun, Mas Ardi akhir-akhir ini aneh


deh”


            “Aneh kenapa?” tanya Bundanya.

__ADS_1


            “Dia sering ke sini dan pulang sore”


            “Masa sih?”


            “Iya Bun. Aneh kan. Padahal kan dah


ada Bimo kenapa nggak ngasuh Bimo aja kalau ada waktu luang”. Sebenarnya Mitha


ingin menceritakan tentang Arjuna kepada Bundanya pada kesempatan ini. Tapi Mitha


menjadi ragu, karena takut bila ceritanya menimbulkan masalah.


            ...................................


            Keesokan harinya Mina bersikeras


pulang ke rumah orangtuanya dengan menyetir. Dia berjanji kepada Ardi untuk


pulang seminggu kemudian. Ardi melepas kepergian Mina dengan berat hati.


            Karena dia tidak bisa bekerja karena


mencemaskan Mina dan Bimo, maka dia pergi ke rumah Mitha.


            “Ke sini lagi. Apa nggak ada kerjaan


sih Mas” kata Mitha kepada Ardi.


            “Apaan sih Mit”


            “Aku lihat tadi Mbak Mina pergi ya.


Ke mana Mas? Kok bawa koper gede-gede?”


            “Ooh mengunjungi orangtuanya”


            “Nyetir sendirian ya Mas?”


            “Iya. Mas Ardi masih banyak urusan


di toko jadi nggak bisa nganter”


            “Banyak urusan kok main ke sini


terus” kata Mitha


            “Cerewet ah” kata Ardi kemudian


membaringkan tubuhnya dan menonton TV.


            Mitha yang melihat Ardi tiduran,


membuka gambar Arjuna di Hpnya untuk ditunjukkan kepada Ardi.


            “Mas Mas, lihat ini deh. Ini foto


bayi yang waktu itu. Ni, dia udah bisa merangak lho. Ni lihat ada videonya.


Lucu kan?” kata Mitha.


            Ardi  melihat bayi itu, ada rasa familiar di pikirannya tentang bayi itu.


            “Dia itu ya Mit, anak artis gitu ya?”


tanya Ardi ingin tahu.


            “Bukan Mas. Kan udah aku bilang ini


anak Mas Ardi”


            “Apaan sih Mit. Mulai lagi deh.


Kalau dia anakku, trus Ibunya siapa hayo”


            “ Mbak Winda” jawab Mitha.


            Ardi kaget mendengar perkataan


Mitha.


            “Apaan sih Mit. Jangan main-main ah.


Mas Ardi nggak suka. Mas Ardi marah lho!” kata Ardi mulai agak marah. Dia pikir


bercandaan Mitha sudah keterlaluan.


            “Mas Ardi kalau nggak percaya sana


hubungi Mbak Winda tanya sendiri! Kalau nggak percaya juga, sana ke tempat Mbak


Winda buktiin sendiri!” kata Mitha marah kemudian masuk ke kamarnya dan


membanting pintu.

__ADS_1


__ADS_2