
Mina merasa kesal karena Ardi tidak
menepati janjinya, mengijinkannya ke rumah orangtuanya sendiri. Sudah 1 bulan
berlalu, Mina belum juga diantar ke rumah orangtuanya seperti janji Ardi.
“Yang, udah 1 bulan lho sejak kamu
ngijinin aku pulang ke rumah ortuku” kata Mina.
“Maaf Yang, aku belum bisa nganter,
soalnya masih repot di toko. Kalau hari Minggu badan rasanya capek banget.
Maafin ya”, kata Ardi.
“Aku kan udah bilang Yang kalau aku
bisa nyetir sendiri!” kata Mina bersungut-sungut.
“Jangan emosi Yang. Nanti ku pikirin
lagi ya”
“Pikirin gimana? Aku dah kangen sama
Mama dan Papaku Yang. Udah lama nggak ketemu!” kata Mina marah.
“Aku nggak tega kamu nyetir
sendirian selama kurang lebih 4 jam an Yang. Rumah orangtuamu kan jauh”
Pokoknya Minggu ini aku mau ke rumah
orangtuaku! Kalau kamu nggak bisa nganter ya nggak apa-apa! Aku bisa nyetir
sendiri!” kata Mina kemudian meninggalkan Ardi.
Ardi hanya terdiam tidak bisa
berkata apa-apa lagi. Dia bingung harus bagaimana. Bimo masih bayi, dan kalau
Mina nyetir sendiri ke daerah S rasanya tidak tega, sedangkan di toko sedang
ada masalah.
Kemudian Ardi ke toko dan menjadi
uring-uringan. Para karyawan Ardi merasa terganggu karena Ardi uring-uringan
tak jelas. Resti, salah satu karyawannya mengambil resiko dengan berbicara
kepada Ardi.
“Mas, kenapa Mas Ardi uring-uringan?
Ada masalah apa?” tanya Resti kepada Ardi di ruangannya.
“Nggak ada apa-apa Res” jawab Ardi.
“Jangan gitu Mas, karyawan yang lain
merasa tidak enak karena Mas Ardi uring-uringan nggak jelas” kata Resti
memberanikan diri.
Ardi hanya diam, kemudian Resti melanjutkan.
“Mas, kalau ada masalah dengan Mbak
Mina atau apa aja cerita aja siapa tahu kita bisa bantu. Kalau Mas Ardi kayak
gini di tengah situasi Toko yang lagi kacau begini, karyawan menjadi tidak enak
hati. Mereka mengira Mas Ardi uring-uringan karena masalah Toko. Tapi kalau
memang Mas Ardi uring-uringan masalah toko bicara aja sama kami semua. Kita
semua siap mendengarnya daripada Mas Ardi uring-uringan dan membuat kerja kita
juga nggak nyaman” kata Resti berani.
Ardi kaget mendengar kata-kata Resti
yang berani. Ardi hanya bisa menghela nafas panjang. Resti yang melihat Ardi
hanya diam saja tanpa memberikan jawaban beranjak dari duduknya dan mau pergi
dari kantor Ardi.
“Jangan pergi dulu Res” kata Ardi.
Resti duduk kembali, kemudian
__ADS_1
mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh Ardi,
“Maaf membuatmu dan karyawan lain
tidak nyaman. Memang keadaan toko sedang tidak kondusif. Pendapatan menurun
drastis, sedangkan pengeluaran pribadiku saat ini melonjak. Aku masih ingin
mempertahankan para karyawan, tapi untuk menggaji saja terkadang rasanya sulit
karena keuntungan yang kita dapat juga menurun drastis. Apalagi salah satu
penyebab turunnya pendapatan kita karena mereka beralih ke Purple Shop milik
Winda. Yah bukan Winda juga sih yang salah. Itu karena aku nggak bisa milih
barang yang laku dijual atau nggak, apalagi barang kita termasuk mahal untuk
sekarang ini. Jadi pembeli beralih ke tempat lain” Ardi bicara dengan nada
sedih.
“Apa Mas Ardi punya pikiran untuk
mem PHK salah satu karyawan?” tanya Resti.
“Kalau keadaan begini terus kemungkinan
begitu Res. Itu skenario terburuknya”
Resti menghela nafas panjang, ingin
rasanya dia keluar kerja dan ikut Winda saja. Tapi dia juga nggak yakin kalau
Winda mau menerimanya karena sungkan dengan Ardi.
Resti keluar dengan wajah lesu,
teman-temannya menghampirinya dan bertanya kenapa dia jadi murung. Resti
menceritakan semua yang dikatakan Ardi. Para karyawan ikut murung karena mereka
takut di PHK, padahal cari kerja susah.
“Mbak Resti, misal kita dikeluarkan
Mbak Winda mau nerima kita kerja di sana nggak ya?” tanya Tyas berbisik kepada
“Nggak tahu juga. Coba nanti aku
tanya Mbak Winda ya” kata Resti.
Setelah itu teman-teman Resti
meminta Resti untuk segera menghubungi Winda. Karena tidak bisa telepon, maka
Resti mengirim pesan kepada Winda.
‘Mbak Win, maaf ganggu. Aku mau
tanya, boleh ya?’ pesan dari Resti. Tak lama kemudian Winda menjawab pesannya.
‘Boleh. Ada apa Res?’
‘Langsung aja ya Mbak. Mas Ardi
kayaknya mau mem PHK karyawan, tapi tidak tahu siapa karena toko sedang ada
masalah’
‘Masalah apa Res?’ tanya Winda.
Resti menceritakan semua yang
terjadi di Toko. Winda merasa bersalah, kemudian berjanji untuk menghubungi
Ardi bila memang ada karyawannya yang di PHK dan diusahakan untuk kerja
dengannya.
........................................................
Mitha heran Ardi sering ke rumahnya
siang hari dan pulang sore hari. Tapi setiap Ardi ditanya ada masalah apa, Ardi
tidak mau menjawab. Kemudian Mitha memutuskan untuk bicara dengan Bundanya.
“Bun, Mas Ardi akhir-akhir ini aneh
deh”
“Aneh kenapa?” tanya Bundanya.
__ADS_1
“Dia sering ke sini dan pulang sore”
“Masa sih?”
“Iya Bun. Aneh kan. Padahal kan dah
ada Bimo kenapa nggak ngasuh Bimo aja kalau ada waktu luang”. Sebenarnya Mitha
ingin menceritakan tentang Arjuna kepada Bundanya pada kesempatan ini. Tapi Mitha
menjadi ragu, karena takut bila ceritanya menimbulkan masalah.
...................................
Keesokan harinya Mina bersikeras
pulang ke rumah orangtuanya dengan menyetir. Dia berjanji kepada Ardi untuk
pulang seminggu kemudian. Ardi melepas kepergian Mina dengan berat hati.
Karena dia tidak bisa bekerja karena
mencemaskan Mina dan Bimo, maka dia pergi ke rumah Mitha.
“Ke sini lagi. Apa nggak ada kerjaan
sih Mas” kata Mitha kepada Ardi.
“Apaan sih Mit”
“Aku lihat tadi Mbak Mina pergi ya.
Ke mana Mas? Kok bawa koper gede-gede?”
“Ooh mengunjungi orangtuanya”
“Nyetir sendirian ya Mas?”
“Iya. Mas Ardi masih banyak urusan
di toko jadi nggak bisa nganter”
“Banyak urusan kok main ke sini
terus” kata Mitha
“Cerewet ah” kata Ardi kemudian
membaringkan tubuhnya dan menonton TV.
Mitha yang melihat Ardi tiduran,
membuka gambar Arjuna di Hpnya untuk ditunjukkan kepada Ardi.
“Mas Mas, lihat ini deh. Ini foto
bayi yang waktu itu. Ni, dia udah bisa merangak lho. Ni lihat ada videonya.
Lucu kan?” kata Mitha.
Ardi melihat bayi itu, ada rasa familiar di pikirannya tentang bayi itu.
“Dia itu ya Mit, anak artis gitu ya?”
tanya Ardi ingin tahu.
“Bukan Mas. Kan udah aku bilang ini
anak Mas Ardi”
“Apaan sih Mit. Mulai lagi deh.
Kalau dia anakku, trus Ibunya siapa hayo”
“ Mbak Winda” jawab Mitha.
Ardi kaget mendengar perkataan
Mitha.
“Apaan sih Mit. Jangan main-main ah.
Mas Ardi nggak suka. Mas Ardi marah lho!” kata Ardi mulai agak marah. Dia pikir
bercandaan Mitha sudah keterlaluan.
“Mas Ardi kalau nggak percaya sana
hubungi Mbak Winda tanya sendiri! Kalau nggak percaya juga, sana ke tempat Mbak
Winda buktiin sendiri!” kata Mitha marah kemudian masuk ke kamarnya dan
membanting pintu.
__ADS_1