
Satu bulan berlalu.
Angga dan Arisa menjalani hari-hari mereka dengan sangat bahagia. Apalagi sekarang Angga berubah menjadi sosok suami yang sangat-sangat dan romantis. Anda selalu mengantar dan menjemputnya bekerja dan juga tidak jarang Angga memberikan hadiah-hadiah kecil seperti bunga dan coklat saat ia pulang kerja. Entah belajar dari mana suaminya itu hingga bisa menjadi pria yang manis.
Sejak pagi Arisa merasakan kepalanya yang sangat pusing dan juga tubuhnya terasa lemas, tapi Arisa tetap akan pergi ke kantor karena berpikir itu hanya sementara saja. Tapi hingga siang menjelang, kepala Arisa terasa semakin pusing.
" Kamu kenapa, Ris? Kamu sakit ya? Muka kamu pucet banget " tanya Rini khawatir karena Arisa hanya tertunduk di meja kerjanya dan wajahnya pucat.
" Kepala aku cuma pusing dari tadi pagi " jawab Arisa menyandarkan kepalanya di meja kerjanya.
Kepala Arisa terasa semakin berat dan ia tidak bisa duduk dengan tegap lagi.
" Kalau udah pusing dari pagi kenapa maksain buat kerja sih, mending kamu istirahat aja di rumah. Emang suami kamu gak ngelarang kamu kerja lagi sakit gini " ucap Rini pada Arisa.
" Suami aku gak tau karena tadi pagi belum separah ini. Aku juga gak mau bikin dia khawatir " jawab Arisa dengan suara lemas.
Rini pun menggelengkan kepalanya karena sahabatnya itu memang tidak mengatakan apapun yang dirasakannya pada orang lain. Dia lebih suka memendam sendiri sampai benar-benar tidak kuat dengan alasan tidak ingin membuat khawatir.
" Ya udah, mending kamu istirahat. Siapa tau nanti agak mendingan, nanti kalau ada Bu Sita aku bilang kamu kurang enak badan " ucap Rini karena tidak ingin Arisa semakin sakit.
" Hmm " jawab Arisa lalu memejamkan matanya.
Sebenarnya Arisa mencurigai sesuatu dengan keadaannya sekarang ini, tapi ia tidak bisa memastikannya dan akan mengeceknya nanti.
***
Arisa pikir dengan tidur sebentar maka pusingnya akan hilang tetapi semakin lama malah semakin menjadi. Untuk berdiri saja Arisa merasa tidak sanggup dan hampir terjatuh jika tidak ditahan oleh Rini.
" Ya ampun, Ris. Kamu mau kemana sih? Ini kamu lemes banget loh, sebaiknya kamu pulang aja " ucap Rini memegangi tubuh Arisa agar tidak terjatuh.
" Aku mau ke toilet, Rin " jawab Arisa sambil memegangi kepalanya.
__ADS_1
" Lagipula tanggung kalau pulang, sebentar lagi juga jam pulang kantor " lanjut Arisa.
" Kalau gitu aku temani kamu ke toilet. Nanti malah kamu jatuh lagi ke toilet sendiri " ucap Rini tidak ingin membiarkan Arisa pergi ke toilet sendiri.
Arisa pun menganggukan kepalanya karena rasanya ia tidak sanggup berjalan sendiri.
Kemudian Rini pun mengantar Arisa ke toilet dan Rini menunggu di luar selagi Arisa menyelesaikan urusannya di sana.
" Aku ini sebenarnya kenapa? " gumam Arisa melihat wajahnya yang pucat di cermin toilet.
Arisa membasuh wajahnya berharap akan sedikit merasa lebih segar dan pusing kepalanya sedikit berkurang.
Arisa masuk ke dalam toilet karena tadi ia memang ingin buang air kecil.
Setelah selesai Arisa ingin keluar dari toilet dan berpegangan pada dinding. Tapi semakin ia berjalan rasanya kepalanya semakin pusing. Semakin lama penglihatannya semakin gelap dan kepalanya berputar. Pada detik berikutnya Arisa jatuh ke lantai dan tidak sadarkan diri.
Bruk.
" Ris, kamu baik-baik aja kan? " ucap Rini di depan pintu.
Tidak ada jawaban apapun dari dalam membuat Rini tambah khawatir.
" Arisa, buka pintunya " panggil Rini lagi tetapi masih belum mendapatkan jawaban apapun dari dalam toilet.
Rini semakin khawatir dan panik karena pasti terjadi sesuatu dengan Arisa di dalam sana.
" Aku harus minta bantuan orang " gumam Rini panik.
Rini pergi mencari bantuan dan kebetulan ia melihat ada seorang OB yang sedang membersihkan toilet. Rini pun meminta OB itu untuk mendobrak pintu toilet.
" Semoga kamu baik-baik aja, Ris " gumam Rini penuh harap.
__ADS_1
Brak.
OB itu berhasil membuka pintu toilet dengan beberapa kali dobrakan dan Rini dibuat sangat panik saat melihat Arisa tergeletak di sana dan tidak sadarkan diri.
" Arisa " pekik Rini langsung masuk dan menghampiri Arisa.
Rini mengangkat kepala Arisa dan mencoba untuk membuatnya tersadar.
" Ris, bangun. Jangan bikin aku khawatir dong " ucap Rini menepuk-nepuk pipi Arisa pelan.
" Mbak, sebaiknya kita bawa Mbak Arisa ke rumah sakit " ucap OB yang membawa Rini karena melihat Arisa tidak kunjung sadar.
Rini pun menganggukkan kepalanya.
Kemudian Rini dan OB itu segera membawa Arisa ke rumah sakit dengan menggunakan mobil kantor. Kantor sempat heboh saat melihat Arisa tidak sadarkan diri, termasuk Jodi. Jodi ingin ikut mengantarkan Arisa ke rumah sakit tapi Rini melarangnya. Rini takut suami Arisa salah paham jika Jodi ikut mengantar Arisa, karena yang ia tahu suami sahabatnya itu tidak menyukai Jodi.
Bicara tentang suami Arisa yang tidak lain adalah Angga, Rini sudah meminta Leon untuk menghubunginya. Tadi saat ia membawa Arisa dengan seorang OB, berpapasan dengan Leon yang baru kembali meeting di luar.
Sesampainya di rumah sakit, Arisa memanggil para perawat dan mereka memindahkan Arisa ke atas brankar. Arisa terus mengikuti Arisa hingga Arisa di bawa ke dalam sebuah ruangan.
" Semoga Arisa baik-baik saja " gumam Rini khawatir.
Rini dengan harap-harap cemas menunggu di depan ruangan dan Arisa sedang diperiksa. Rini hanya berdoa semoga sahabatnya itu baik-baik saja.
Mohon bantuan vote, like dan komentarnya ya π Terima kasih ππ Tetap dukung saya ya π
Jangan lupa mampir ke karya saya yang lain di akun yang lain π Cari aja di kolom pencarian " Cinta Si Gadis Lumpuh " dan " Pria Kulkasku " ππ
Ada juga karya saya di akun ini " Mengejar Cinta Pertama, Menikahi Ayah Nadia, dan Malam Panas Dengan Kak Aska " π
Tolong follow ig saya juga ya @tyaningrum_05π
__ADS_1