
Angga keluar dari kamar setelah memastikan putrinya tenang dan sudah tidur bersama dengan Arisa. Angga merasa tidak enak terlalu lama di kamar karena di rumahnya masih ada Reno dan Siska serta Rini.
" Maaf, aku terlalu lama di dalam " ucap Angga bergabung dengan mereka di ruang tamu.
" Tidak apa-apa, Angga. Seharusnya kamu temani Arisa dan putri kalian saja " jawab Reno.
" Bagaimana putrimu? Apa sudah tenang? " tanya Mama Mutia pada Angga.
" Sudah, Ma. Sekarang dia sudah tidur bersama ibunya " jawab Angga.
Mama Mutia menganggukkan kepalanya, tetapi matanya menangkap luka di punggung tangan sang putra dengan darah yang masih keluar walaupun tidak sebanyak tadi.
" Astaghfirullahalazim, tangan kamu kenapa? " ucap Mama Mutia panik lalu meraih tangan Angga.
" Ini tidak apa-apa, Ma " jawab Angga agar Mama Mutia tidak khawatir.
Baru saja Mama Mutia akan berbicara, terdengar suara mobil berhenti di depan rumah itu. Itu adalah Dokter Diki yang datang untuk memeriksa keadaan putri Angga dan Arisa.
" Silahkan masuk, Dok " ucap Angga menyambut Dokter Diki.
Dokter Diki pun masuk ke dalam rumah itu mengikuti Angga. Sebelum menemui Arisa dan putrinya, Dokter Diki menyapa semua orang yang ada di ruang tamu.
" Dok, tolong obati tangan putra saya. Darahnya tidak berhenti keluar dari tadi " ucap Mama Mutia karena sangat khawatir jika luka di punggung tangan putranya parah.
" Ma, biar Dokter Diki memeriksa putriku dulu " ucap Angga yang memprioritaskan putrinya dari pada dirinya sendiri.
" Tapi luka kamu juga cukup dalam " jawab Mama Mutia ingin luka Angga segera diobati.
" Bisa saya liat lukanya, Tuan Angga " ucap Dokter Diki pada Angga.
Angga pun akhirnya menunjukkan punggung tangannya yang terluka akibat pisau yang digunakan Jessica untuk melukai putrinya.
" Ini harus segera diobati, Tuan Angga. Apalagi ini cukup dalam dan memerlukan beberapa jahitan " ucap Dokter Diki setelah melihat luka itu.
Setelah itu Mama Mutia segera membawa Angga untuk duduk di sofa agar Dokter Diki lebih mudah mengobati luka Angga.
Dokter Diki membersihkan luka itu terlebih dahulu dan mencoba menghentikan darah yang terus keluar, lalu Dokter Diki mulai menjahitnya dan membutuhkan sekitar empat jahitan. Baru setelah itu Dokter Diki membungkusnya dengan perban dan plaster.
" Sudah selesai kan, Dok? Sekarang periksa putri saya " ucap Angga karena ingin segera memastikan keadaan putrinya.
__ADS_1
" Baik, Tuan Angga " jawab Dokter Diki tersenyum.
Dokter Diki memahami kecemasan Angga pada putrinya itu, apalagi bayi mungil itu baru dilahirkan kemarin.
Kemudian dan Dokter Diki pergi ke kamar Angga dan Arisa. Sedangkan Papa Hari dan Mama Mutia mengantar Reno dan Siska serta Rini yang berpamitan untuk pulang karena sudah hampir petang dan mengucapkan terima kasih kepada mereka yang sudah membantu menemukan cucu mereka.
Tok tok tok.
" Arisa, ini aku datang bersama Dokter Diki " ucap Angga mengetuk pintu kamar itu karena ia tidak sendiri.
" Masuklah, Mas " jawab Arisa dari dalam.
Angga segera membuka pintu itu dan mempersilahkan Dokter Diki untuk masuk ke dalam kamar itu.
Arisa yang sedang duduk di tepi tempat tidur langsung menyingkir agar tidak mengganggu Dokter Diki memeriksa putrinya.
" Silahkan, Dokter " ucap Arisa beranjak ke samping Angga.
" Iya Arisa " jawab Dokter Diki tersenyum.
Dokter Diki segera memeriksa bayi mungil itu yang sedang tidur setelah disusui oleh ibunya. Dokter Diki memeriksa secara keseluruhan dengan alat yang dibawanya, jika nanti ada yang mengkhawatirkan maka Dokter Diki akan menyarankan untuk membawa bayi itu ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
" Keadaan putri kalian baik-baik saja dan tidak ada yang perlu di khawatirkan. Jika tadi dia terus menangis, mungkin itu karena merasa lapar dan jauh dari ibunya " jawab Dokter Diki yang sebelumnya sudah mengetahui apa yang di khawatirkan Angga dan Arisa.
Angga dan Arisa bernapas lega dan bisa lebih tenang sekarang setelah putri mereka diperiksa Dokter Diki dan keadaannya baik-baik saja.
" Alhamdulillah, Ya Allah. Putriku baik-baik saja " ucap Arisa dalam hati sangat bersyukur.
Setelah itu Dokter Diki pun pamit karena ia harus segera pulang dan Angga mengantar Dokter Diki hingga di samping mobilnya.
" Terima kasih banyak, Dokter Diki " ucap Angga sebelum Dokter Diki benar-benar pergi.
" Sama-sama, Tuan Angga " jawab Dokter Diki tersenyum.
" Kalau begitu saya pergi dulu " pamit Dokter Diki.
Angga pun menganggukkan kepalanya.
Dokter Diki masuk ke dalam mobilnya dan melajukannya meninggalkan rumah Angga dan Arisa.
__ADS_1
Kemudian Angga segera kembali masuk ke dalam rumah karena ia juga harus segera membersihkan tubuhnya.
" Angga, bagaimana keadaan putrimu? " tanya Papa Hari yang melihat Angga memasuki rumah.
" Putriku baik-baik saja, Pa " jawab Angga.
Papa Hari dan Mama Mutia sangat lega dan bersyukur mendengar jika cucu mereka baik-baik saja.
" Syukurlah, Mama sangat lega jika baik-baik saja. Mama sangat takut terjadi apa-apa padanya " ucap Mama Mutia sangat bersyukur.
" Iya Ma " jawab Angga menganggukkan kepalanya.
" Aku pergi ke kamar dulu. Aku harus membersihkan tubuhku " ucap Angga pada Papa Hari dan Mama Mutia.
" Iya Sayang " jawab Mama Mutia dan Papa Hari menganggukkan kepalanya mengiyakan.
Angga beranjak pergi menuju kamarnya dan Arisa baru saja mengganti pakaiannya.
" Kamu mau mandi, Mas? " tanya Arisa saat Angga memasuki kamar.
" Iya Sayang " jawab Angga meraih handuk bersih di samping meja rias.
" Biar aku siapkan air untuk kamu mandi " ucap Arisa hendak pergi ke kamar mandi tetapi Angga mencegahnya.
" Tidak usah, Sayang. Kamu jaga putri kita saja " cegah Angga.
Arisa pun menganggukan kepalanya karena jujur saja ia masih cukup trauma meninggalkan sang putri tanpa pengawasan.
Setelah itu Angga segera masuk ke dalam kamar mandi setelah melepaskan seluruh pakaiannya. Ia mengguyur tubuhnya dengan air dingin dari shower dan menghilangkan semua beban dari kepalanya.
" Setelah ini aku harus memperketat penjagaan Arisa dan putriku seperti dulu " gumam Angga yang sudah memutuskan untuk menempatkan anak buahnya untuk menjaga istri dan putrinya.
Angga tidak akan membiarkan siapapun yang ingin mengusik keluarga dan orang-orang yang penting dalam hidupnya.
Mohon bantuan vote, like dan komentarnya ya π Terima kasih ππ Tetap dukung saya ya π
Jangan lupa mampir ke karya saya yang lain di akun yang lain π Cari aja di kolom pencarian " Cinta Si Gadis Lumpuh " dan " Pria Kulkasku " ππ
Ada juga karya saya di akun ini " Mengejar Cinta Pertama, Menikahi Ayah Nadia, dan Malam Panas Dengan Kak Aska " π
__ADS_1
Tolong follow ig saya @tyaningrum_05 dan akun NT saya Gadis Taurus ya π