
Keesokkan harinya, Arisa pergi ke taman dan duduk di sana seorang diri. Ia terus melihat ke gerbang utama yang tidak jauh dari taman dan berharap Angga muncul dari sana. Awalnya ia sudah ingin pergi ke tempat kejadian untuk mencari Angga tapi lagi-lagi semua orang melarangnya dengan alasan ia masih belum pulih. Apalagi ia merasa dirinya sudah baik-baik saja dan ia kuat untuk mencari Angga.
" Sayang " panggil seseorang dari arah belakang.
Arisa langsung menoleh dan di sana sudah ada ibu mertuanya yang membawa nampan berisi makanan dan sepertinya itu untuk dirinya. Arisa sudah mengatakan jika dirinya belum ingin makan dan nanti akan mengambilnya sendiri jika lapar, tapi mungkin semua orang khawatir kepadanya sehingga harus membawakannya makanan. Arisa merasa dirinya menjadi sangat merepotkan orang lain jika seperti ini.
" Iya Ma " jawab Arisa tersenyum.
Mama Mutia tersenyum lalu duduk di samping Arisa.
" Makanlah, Sayang. Kamu kan belum sarapan, biar Mama suapi kamu " ucap Mama Mutia pada Arisa.
" Gak usah Ma, aku gak mau merepotkan Mama. Dengan Mama bawakan aku makanan seperti ini, aku juga merasa sangat merepotkan Mama dan semua orang " jawab Arisa.
" Jangan berpikir seperti itu, Sayang. Kamu adalah istri dari anak Mama yang artinya anak Mama juga " ucap Mama Mutia mengusap lembut kepala Arisa.
Arisa merasa terharu setelah mendengar itu. Ia yang tidak mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya sejak kecil karena kedua orang tuanya telah meninggal sangat bersyukur Tuhan masih memberi mertua yang begitu baik walaupun keberadaan mereka baru ia ketahui kemarin.
" Terima kasih ya, Ma " ucap Arisa pada Mama Mutia.
Mama Mutia pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
" Sekarang kamu makan ya " ucap Mama Mutia menyuapkan makanan ke mulut Arisa.
Arisa pun membuka mulutnya dan menerima suapan Mama Mutia walaupun ia merasa tidak berselera untuk makan karena tidak ingin melihat Mama Mutia kecewa jika ia menolaknya.
Mama Mutia menyuapi Arisa hingga semua makanan di piring itu habis dan meminta Arisa untuk segera meminum obatnya.
" Terima kasih ya, Ma " ucap Arisa setelah Mama Mutia mengambil gelas dari tangannya.
__ADS_1
" Iya Sayang. Kamu bilang terima kasih terus sama Mama " jawab Mama Mutia tersenyum.
" Aku yang dari kecil tidak mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuaku karena mereka sudah meninggal akhirnya bisa merasakan kasih sayang seorang ibu lagi dari Mama " ucap Siska dengan senyum tulus.
Mama Mutia yang baru mengetahui itu pun menggenggam tangan Arisa. " Mulai sekarang kamu tidak akan kekurangan kasih sayang lagi karena Mama ada di sini sebagai orang tua kamu " ucap Mama Mutia pada Arisa.
Arisa tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
" Sekarang katakan sama Mama, apa Angga bersikap baik padamu? Apa dia berlaku kasar padamu? Apa dia masih bersikap lembut dan ceria seperti dia kecil? " tanya Mama Mutia yang sangat merindukan putranya.
Mungkin dengan mendengar bagaimana putranya menjalani hidupnya, rindu di dalam hatinya akan sedikit terobati.
Arisa merasa bahagia sekaligus sedih mendengar pertanyaan itu dan mengingat suaminya.
" Mas Angga bersikap sangat baik sama aku, Ma. Dia seorang suami yang sangat baik walaupun awalnya pernikahan kami bisa terjadi karena terpaksa, bukan karena kami yang saling mencintai. Tapi seiring berjalannya waktu, aku bisa membuat Mas Angga mencintai aku dan aku pun begitu. Mas Angga sama sekali tidak bersikap kasar tapi di bilang lembut juga tidak. Mas Angga yang sekarang itu sedikit kaku dan dingin. Bahkan selama tiga bulan pernikahan kami, dia masih saja berbicara formal sama aku. Tapi Mama tenang aja karena Mas Angga itu adalah suami yang sangat baik " jawab Arisa tersenyum mengingat waktu yang ia lewati bersama Angga selama ini.
" Jadi kalian baru menikah selama tiga bulan? Lalu apa yang membuat kalian menikah? " tanya Mama Mutia yang cukup penasaran.
Ingatan Arisa kembali pada tiga bulan yang lalu saat pertemuan keduanya dengan Angga. Arisa juga menceritakan tentang kejadian awal yang membuat mereka menikah pada Mama Mutia. Ia yang ketakutan dengan lancang memeluk Angga sehingga mereka harus menikah karena ada warga yang melihat mereka.
" Maaf ya Ma, karena kelancangan aku memeluk Mas Angga jadi Mama harus punya menantu seperti aku " ucap Arisa takut jika Mama Mutia tidak menyukainya setelah mendengar cerita yang sebenarnya.
" Sayang, kamu gak perlu minta maaf. Mama sangat bahagia mendapatkan menantu sekaligus putri sebaik kamu. Yang terpenting sekarang kalian saling mencintai dan Mama bersyukur dia juga bisa menjadi suami yang baik untuk kamu. Kita harus terus berdoa agar Angga cepat kembali pada kita walaupun mungkin nanti keadaannya tidak seperti yang kita harapkan. Tapi kita harus tetap kuat " ucap Mama Mutia pada Arisa.
Arisa menganggukkan kepalanya. " Iya Ma " jawab Arisa.
Setelah itu Mama Mutia mengajak Arisa untuk kembali ke dalam rumah karena hari sudah semakin siang dan sinar matahari juga sudah semakin terik.
Arisa pergi ke kamarnya dan duduk di tepi tempat tidur. Arisa meraih ponselnya yang sudah hampir dua hari ini tidak ia buka. Air mata Arisa kembali menetes saat melihat foto pernikahannya dan Angga yang ia jadikan wallpaper ponselnya.
__ADS_1
" Aku mohon cepat kembali, Mas. Aku tidak sanggup berpura-pura kuat di sini menunggu kamu. Hatiku hancur jika benar-benar pergi meninggalkan aku seperti ini " ucap Arisa pelan mengusap foto pernikahan mereka.
Arisa dengan segera menghapus air matanya dan meletakkan ponselnya kembali saat Aditya memasuki kamarnya yang memang tidak tertutup sempurna.
" Hai Sayang. Kamu sama siapa? " ucap Arisa segera berdiri dan menghampiri Aditya yang berpegang pada pintu.
Arisa mengangkat tubuh Aditya ke dalam gendongannya dan tidak lama kemudian Tya menghampiri mereka.
" Ya ampun, ternyata di sini. Kayaknya dia kangen deh sama kamu dan cari kamu sendiri, Ris " ucap Tya saat melihat putranya sudah berada di dalam gendongan Arisa.
Arisa pun tersenyum dan menatap Aditya yang sedang memeluk lehernya, sepertinya memang benar balita itu merindukan dirinya.
" Kalau gitu biar Adit sama aku aja, Kak " ucap Arisa pada Tya.
" Ya sudah titip ya, Ris. Soalnya Kakak mau pompa ASI dulu sebentar " ucap Tya.
" Iya Kak " jawab Arisa.
Arisa pun segera kembali masuk ke dalam kamar dengan membawa Aditya bersamanya.
Sebenarnya Tya sengaja meletakkan putranya berada di dekat kamar Arisa dan sepertinya putranya itu mengerti rencananya dan langsung berjalan ke sana. Mungkin jika putranya itu bersama Arisa, Arisa akan sedikit terhibur dan sedikit melupakan kesedihannya.
Mohon bantuan vote, like dan komentarnya ya π Terima kasih ππ Tetap dukung saya ya π
Jangan lupa mampir ke karya saya yang lain di akun yang lain π Cari aja di kolom pencarian " Cinta Si Gadis Lumpuh " dan " Pria Kulkasku " ππ
Ada juga karya saya di akun ini " Mengejar Cinta Pertama dan Menikahi Ayah Nadia " π
Tolong follow ig saya juga ya @tyaningrum_05π
__ADS_1