Suamiku Seorang Bodyguard

Suamiku Seorang Bodyguard
125. Sebentar Lagi


__ADS_3

Di sepanjang perjalanan, Angga semakin panik dan terus meminta anak buah Teno dan mengantarkan mereka ke rumah sakit untuk lebih cepat. Ia tidak ingin terjadi apa-apa kepada istri dan anaknya, ia juga tidak ingin sampai Arisa melahirkan di dalam mobil.


" Jangan cepat-cepat, aku gak mau sampai kita kecelakaan. Lagipula rasa mulas dan sakitnya sedikit berkurang " ucap Arisa pada Angga.


Rasa mulas dan sakit yang tadi ia rasakan kini mudah mulai berkurang, seperti itu baru kontraksi awal saja dan ia belum mau melahirkan.


" Hah? Sungguh? " tanya Angga memastikan karena tadi terlihat sekali jika Arisa sangat kesakitan.


" Iya Mas, sekarang malah gak sakit lagi " jawab Arisa sudah duduk dengan santai di samping Angga, tidak seperti tadi.


Angga mendesahkan nafasnya dan mengusap keringat di keningnya. Ia sungguh sangat panik melihat sang istri begitu kesakitan seperti itu.


" Kita pulang aja dulu ya, Mas. Sepertinya juga aku belum mau melahirkan " ucap Arisa pada Angga karena ia merasa masih cukup lama ia akan melahirkan anak mereka.


" Tidak, kita akan tetap ke rumah sakit. Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada kalian dan agar kamu bisa segera ditangani jika merasakan sakit lagi " tolak Angga mentah-mentah.


Arisa pun akhirnya hanya bisa pasrah karena Angga tidak akan bisa dibantah ucapannya jika seperti itu.


***


Sesampainya di rumah sakit milik keluarga Wicaksono, Arisa langsung diperiksa oleh Dokter Sinta yang kebetulan sedang tidak ada pasien. Arisa menjelaskan apa yang terjadi dan ia rasakan, ia juga sempat merasakan beberapa kali kontraksi saat di perjalanan tetapi perlahan segera menghilang.


" Masih pembukaan lima dan Nona Arisa masih membutuhkan beberapa waktu lagi untuk bisa melahirkan. Sebaiknya Nona Arisa berjalan-jalan di sekitar rumah sakit untuk mempercepat pembukaan " ucap Dokter Sinta setelah memeriksa Arisa.


" Baik, Dok " jawab Arisa.


Setelah itu, Arisa berjalan-jalan di sekitar rumah sakit dengan ditemani oleh Angga yang dengan setiap terus menggenggam tangannya.


" Mas, ini kontraksi lagi " ucap Arisa memegang perutnya.


" Kita duduk dulu ya " ucap Angga yang sudah bisa sedikit tenang walaupun perasaannya masih saja khawatir.


Angga menuntun Arisa untuk duduk di kursi tunggu yang paling dekat dengan mereka. Arisa mengatur napasnya dan perlahan-lahan rasa sakit itu pun menghilang.

__ADS_1


" Bagaimana? Apa masih sakit? " tanya Angga pada Arisa.


" Enggak, Mas. Ini sudah hilang " jawab Arisa tersenyum.


" Jika kamu tidak kuat, lebih baik lakukan operasi caesar saja " ucap Angga yang tidak tega melihat Arisa terus merasakan sakit.


Arisa pun langsung menggelengkan kepalanya. " Aku mau tetap melahirkan secara normal, Mas. Lagian Dokter Sinta juga bilang gak papa, tinggal sebentar lagi anak kita akan lahir " jawab Arisa.


Arisa memang sangat ingin melahirkan secara normal, ia juga ingin menikmati gelombang cinta yang dikirimkan oleh buah hati mereka seperti saat ini.


Terlihat Papa Hari dan Mama Mutia berlari menghampiri Angga dan Arisa dengan wajah yang sangat panik. Mereka langsung pulang setelah mendengar jika Arisa akan melahirkan dan mengambil perlengkapan bayi yang memang sudah disiapkan, karena Angga pasti tidak akan sempat mengambilnya.


" Assalamualaikum " ucap Papa Hari dan Mama Mutia saat sudah berada di dekat Angga dan Arisa.


" Walaikumsalam " jawab Angga dan Arisa.


" Kamu belum melahirkan, Sayang? " tanya Mama Mutia karena melihat Arisa dengan perut yang masih besar.


Mama Mutia mengusap dadanya karena ia mengira jika menantunya sudah melahirkan. Ia bahkan merasakan panik yang luar biasa selama di perjalanan.


" Lalu kenapa kalian di sini? " tanya Papa Hari karena bukankah seharusnya mereka berada di ruang perawatan.


" Dokter Sinta menyarankan Arisa untuk berjalan-jalan sebentar agar mempercepat pembukaan " jawab Angga.


Papa Hari pun menganggukkan kepalanya mengerti.


Setelah itu Angga segera mengajak Arisa kembali ke ruang perawatan istrinya itu karena Arisa sudah merasakan kontraksi yang semakin sering dan ia sudah tidak kuat untuk berjalan lagi.


" Sayang, minumlah air gula merah ini supaya kamu lebih punya tenaga saat proses melahirkan nanti " ucap Mama Mutia memberikan air gula merah yang sudah ia siapkan dari rumah.


Arisa segera meminumnya dengan dibantu oleh Mama Mutia dan menghabiskan satu gelas air gula itu.


" Mas, sakit " desis Arisa saat gelombang cinta dari buah hati mereka kembali muncul.

__ADS_1


" Tahan, Sayang. Kamu pasti kuat " ucap Angga sembari mengusap lembut pinggang Arisa.


Angga sebisa mungkin memberikan kekuatan dan semangat untuk sang istri yang akan melahirkan darah dagingnya.


Kontraksi yang dirasakan oleh Arisa semakin lama semakin sering. Mulai dari sepuluh menit sekali, lima menit sekali dan sekarang rasa sakit itu semakin menjadi dan tidak kunjung hilang.


" Mas, ini semakin sakit. Sepertinya anak kita sudah ingin lahir ke dunia " ucap Arisa mencengkram kuat tangan Angga untuk melampiaskan rasa sakitnya.


Bertepatan dengan itu, Dokter Sinta memasuki ruang perawatan Arisa dengan beberapa perawat untuk memeriksa keadaan Arisa.


" Dok, sepertinya istrinya saya akan segera melahirkan " ucap Angga saat Dokter Sinta menghampiri mereka.


" Biar saya periksa dulu ya, Tuan " ucap Dokter Sinta memakai sarung tangannya.


Dokter Sinta meminta Arisa untuk berbaring dan mulai memeriksanya. Ternyata pembukaan jalan lahir Arisa sudah sempurna dan Arisa siap untuk melahirkan.


" Pembukaannya sudah sempurna dan Nona Arisa sudah bisa melahirkan sekarang " ucap Dokter Sinta setelah memeriksa Arisa.


Dokter Sinta meminta perawatan untuk mempersiapkan peralatan untuk membantu persalinan Arisa dan segera membawa Arisa ke ruang persalinan.


" Mas, ini sakit sekali " ucap Arisa karena ia tidak pernah merasakan rasa sakit sehebat ini.


" Tahan sedikit lagi dan berjuanglah untuk buah hati kita. Sebentar lagi buah hati kita akan lahir, Sayang " ucap Angga pada Arisa.


Para perawat membawa Arisa ke ruang persalinan dan Angga mengikuti mereka. Angga ingin selalu ada dan mendampingi Arisa untuk melahirkan anak mereka. Sedangkan Papa Hari dan Mama Mutia menunggu di depan ruang persalinan dengan harap-harap cemas.


Mohon bantuan vote, like dan komentarnya ya 😊 Terima kasih πŸ˜ŠπŸ™ Tetap dukung saya ya 😘


Jangan lupa mampir ke karya saya yang lain di akun yang lain 😊 Cari aja di kolom pencarian " Cinta Si Gadis Lumpuh " dan " Pria Kulkasku " πŸ˜ŠπŸ™


Ada juga karya saya di akun ini " Mengejar Cinta Pertama, Menikahi Ayah Nadia, dan Malam Panas Dengan Kak Aska " 😘


Tolong follow ig saya juga ya @tyaningrum_05😘

__ADS_1


__ADS_2