
Hari sudah berganti dengan hari baru, Arisa duduk di teras rumah sembari menunggu sang suami yang belum juga pulang kerja. Biasanya Angga sudah pulang di jam-jam seperti itu tetapi hingga detik ini calon ayah itu masih belum juga sampai rumah. Arisa tentu saja sangat khawatir apalagi langit sangat gelap dan akan turun hujan. Terlihat kilatan cahaya petir mulai bermunculan di langit lengkap dengan suaranya yang membuat Arisa takut.
Meskipun tidak setakut dulu tetap saja trauma dalam diri Arisa masih ada jika itu berkaitan dengan hujan kencang dan petir. Pernah kehilangan Angga dalam waktu yang cukup lama membuat rasa khawatir yang Arisa rasakan semakin besar.
" Mas Angga kemana sih? Kenapa belum sampai rumah juga? " ucap Arisa begitu cemas.
Arisa sudah mencoba menghubungi nomor suaminya itu tapi tidak ada jawaban walau tersambung.
" Sayang, lebih baik kamu masuk sekarang karena anginnya semakin kencang dan gak baik buat kamu. Suami kamu dan Papa pasti sebentar lagi pulang " ucap Mama Mutia mencoba membujuk Arisa untuk masuk ke dalam rumah.
Mama Mutia sudah beberapa kali mengajak menantunya itu untuk masuk ke dalam rumah tetapi Arisa terus menolak karena ia ingin menunggu Angga pulang.
" Nanti, Ma. Arisa mau nunggu Mas Angga pulang " tolak Arisa lagi.
Mama Mutia hanya bisa menghela napasnya panjang dan memilih untuk menemani Arisa saja. Ia tahu bagaimana perasaan Arisa, apalagi ia sedang hamil muda sehingga perasaan khawatirnya semakin besar.
Rintik-rintik air hujan mulai berjatuhan membasahi bumi, tetapi Angga belum juga sampai di rumah sehingga ia semakin khawatir.
" Ma, udah mulai hujan tapi Mas Angga belum juga pulang. Aku takut Mas Angga kenapa-napa " ucap Arisa dengan air mata yang juga mulai jatuh ke pipi.
" Tenanglah, Sayang. Angga akan baik-baik aja dan sebentar lagi pasti pulang " ucap Mama Mutia menenangkan Arisa.
Tetapi Arisa tidak bisa tenang sedikit pun. Pikiran-pikiran buruk mulai memenuhi otaknya dan ketakutan suaminya tidak baik-baik saja semakin besar.
" Ya Allah, tolong selalu lindungi suami hamba. Hamba mohon, Ya Allah " doa Arisa di dalam hati.
Beberapa saat berlalu, sebuah mobil berhenti di depan rumah itu dan itu adalah mobil yang dibawa oleh Angga. Arisa langsung berdiri dari duduknya dan perasaan khawatir di hatinya perlahan hilang.
Terlihat Angga dan Papa Hari keluar dari mobil dan menghampiri mereka.
" Assalamualaikum " ucap Angga dan Papa Hari.
" Walaikumsalam " jawab Arisa dan Mama Mutia.
Arisa langsung memeluk Angga saat sang suami sudah berada di dekatnya. Ia sudah tidak bisa menahannya lagi dan menangis di dalam pelukan Angga.
" Sayang, ada apa dengan kamu? " tanya Angga khawatir karena Arisa tiba-tiba memeluknya dan menangis.
__ADS_1
Arisa tidak menjawab dan terus saja menangis.
" Istri kamu dari tadi sangat khawatir karena kamu yang tidak kunjung sampai rumah. Dia terus menunggu di teras dengan perasaan cemas " ucap Mama Mutia memberitahu Angga.
Angga pun menjadi merasa bersalah, tetapi ia pulang terlambat bukan karena sengaja. Saat di perjalanan pulang tadi, mobil milik Papa Hari mogok dan ia harus berputar balik dan menjemput Papa Hari.
" Maafkan aku, Sayang. Maafkan aku karena pulang terlambat dan tidak memberikan kamar terlebih dahulu " ucap Angga mengusap lembut punggung Arisa.
" Kami pulang terlambat karena Angga harus menjemput Papa terlebih dahulu karena mobil Papa mogok " tambah Papa Hari menjelaskan alasan mereka pulang terlambat.
Arisa pun mulai menghentikan tangisnya setelah mendengar alasan dari Angga dan Papa Hari.
" Jangan menangis lagi, aku sudah berada di sini sekarang " ucap Angga pada istrinya itu.
Arisa menganggukkan kepalanya lalu melepaskan pelukannya.
" Tapi kamu baik-baik aja kan, Mas? Aku takut kamu kenapa-napa? " tanya Arisa memastikan keadaan Angga.
" Aku baik-baik saja, Sayang. Kamu tidak perlu khawatir karena aku pasti akan baik-baik saja demi kamu dan calon anak kita " jawab Angga tersenyum.
Angga mengusap sisa-sisa air mata di wajah sang istri.
Setelah itu mereka semua pun langsung masuk ke dalam rumah. Mama Mutia juga tidak lupa mengunci pintu utama. Tapi saat sedang berjalan masuk, Arisa tiba-tiba menghentikan langkahnya karena ia merasa kram di bagian perutnya.
" Akh " pekik Arisa kesakitan.
Angga serta Papa Hari dan Mama Mutia pun langsung panik setelah mendengar pekikan dari Arisa.
" Sayang, kamu kenapa? " tanya Angga panik.
" Perut aku kram, Mas " jawab Arisa sembari memegangi perutnya.
Angga panik bukan main mendengar itu dan ia sangat takut terjadi apa-apa kepada istri dan calon anaknya.
" Kita pergi ke rumah sakit sekarang " ucap Angga sangat panik.
" Gak perlu, Mas " tolak Arisa.
__ADS_1
" Ini kram perut biasa dan wajar terjadi karena aku hamil muda " lanjut Arisa karena pernah mengalami hal itu di kehamilan sebelumnya jika terlalu lelah dan sedang banyak pikiran.
" Tapi Sayang... " ucapan Angga dipotong oleh Arisa.
" Aku baik-baik aja, Mas. Ini karena aku terlalu khawatir tadi " potong Arisa menyakinkan jika dirinya baik-baik saja.
" Angga, lebih baik kamu bawa istrimu ke kamar. Arisa butuh istirahat dan jika dalam waktu satu jam perut Arisa masih kram, kita bisa membawanya ke rumah sakit " ucap Mama Mutia pada Angga.
" Iya Ma " jawab Angga.
Angga akhirnya mengalah dan segera mengangkat tubuh istrinya untuk membawanya ke kamar mereka.
Sesampainya di kamar, Angga merebahkan tubuh Arisa di atas tempat tidur dengan sangat hati-hati.
" Kamu yakin tidak ingin pergi ke rumah sakit? " tanya Angga masih sangat khawatir.
" Yakin, Mas. Ini juga kramnya sudah mulai berkurang " jawab Arisa tersenyum.
" Tolong usap-usap perut aku ya, Mas. Pasti kramnya akan cepat hilang kalau diusap papanya " pinta Arisa pada Angga.
Angga meletakkan tangannya di atas perut Arisa dan mulai mengusapnya lembut.
" Kamu tiduran juga, aku mau dipeluk " pinta Arisa manja.
Angga pun langsung merebahkan tubuhnya di samping Arisa dan memeluknya dengan tangan yang terus mengusap lembut perut sang istri.
" Anak Papa, baik-baik di sana. Jangan buat Mamamu merasakan sakit " ucap Angga pada buah hatinya yang mungkin masih sekecil biji kacang hijau.
Arisa tersenyum mendengar itu dan rasa kram yang tadi ia rasakan kini perlahan menghilang karena usapan lembut sang suami.
Kemudian Arisa memeluk Angga dengan erat dan menyusupkan wajahnya di dada bidang Angga. Entah mengapa sejak hamil Arisa sangat menyukai aroma tubuh suaminya yang penuh keringat setelah bekerja seharian, seperti saat ini.
Mohon bantuan vote, like dan komentarnya ya π Terima kasih ππ Tetap dukung saya ya π
Jangan lupa mampir ke karya saya yang lain di akun yang lain π Cari aja di kolom pencarian " Cinta Si Gadis Lumpuh " dan " Pria Kulkasku " ππ
Ada juga karya saya di akun ini " Mengejar Cinta Pertama, Menikahi Ayah Nadia, dan Malam Panas Dengan Kak Aska " π
__ADS_1
Tolong follow ig saya juga ya @tyaningrum_05π