Suamiku Seorang Bodyguard

Suamiku Seorang Bodyguard
77. Menutup Hati


__ADS_3

Arisa baru sampai rumah bertepatan dengan azan magrib yang berkumandang. Arisa segera memasuki rumah dan mengucapkan salam.


" Assalamualaikum " ucap Arisa setelah menutup pintu utama kembali.


" Walaikumsalam " jawab Mama Mutia yang berjalan menghampiri Arisa.


Arisa pun langsung mencium tangan ibu mertuanya itu.


" Maaf ya Ma, Arisa pulang telat. Tadi sedikit macet di jalan " ucap Arisa setelah mencium tangan Mama Mutia.


Arisa tidak berbohong atau hanya memberikan alasan tetapi memang saat perjalanan dari tempat kejadian tadi, Arisa sempat terjebak macet karena memang bertepatan dengan jam pulang kantor.


" Iya Sayang, yang penting kamu sudah pulang dengan selamat " jawab Mama Mutia.


Arisa pun menganggukan kepalanya.


" Arisa mandi dulu ya, Ma " ucap Arisa pada Mama Mutia.


" Iya Sayang " jawab Mama Mutia.


Setelah itu Arisa pun langsung masuk ke kamarnya. Arisa meletakkan tas miliknya di atas meja rias lalu melepaskan sepatunya dan meletakkannya ke tempatnya. Arisa segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya dengan cepat.


***


Setelah langit berubah menjadi gelap dan matahari telah digantikan bulan, Arisa keluar dari kamarnya setelah melaksanakan sholat magrib dan isya. Ia ingin membantu Mama Mutia menyiapkan makan malam dan juga makan malam bersama. Tetapi saat Arisa sampai di meja makan ternyata semuanya sudah siap. Arisa pun menjadi merasa tidak enak karena tidak bisa membantu apapun.


" Maaf ya, Ma. Arisa gak bisa bantuin Mama apapun sekarang, jadi Mama harus repot sendiri ngurus rumah " ucap Arisa pada Mama Mutia.


Mama Mutia tersenyum. " Gak papa, Sayang. Mama tau kamu lagi sibuk di kantor dan Mama gak merasa repot harus menyiapkan semua ini dan mengurus rumah. Mama senang karena bisa melakukan ini buat suami dan putri Mama ini " jawab Mama Mutia mengusap lembut lengan Arisa.

__ADS_1


Sekali lagi Arisa merasa beruntung memiliki ibu mertua seperti Mama Mutia. Ia mendapatkan semua kasih sayang yang tidak bisa ia rasakan dari ibu kandungnya dan semua itu karena Mama Mutia.


Tak lama kemudian Papa Hari pun datang dan bergabung di meja makan. Mereka pun makan malam bersama dengan tenang. Hanya terdengar suara piring serta sendok dan garpu yang saling beradu.


Setelah selesai makan malam bersama, Arisa membantu Mama Mutia untuk membereskan meja makan dan mencuci piring. Mama Mutia sudah melarangnya tetapi Arisa tetap saja memaksa.


" Kamu gak perlu bantuin Mama, Sayang. Mama tau kamu pasti capek banget setelah seharian kerja di kantor " ucap Mama Mutia sembari mengelap meja makan.


" Arisa gak capek kok, Ma. Lebih capek Mama yang harus ke butik terus juga ngurus rumah " jawab Arisa yang sedang mencuci piring.


Mereka pun melanjutkan pekerjaan masing-masing dan setelah selesai baru Mama Mutia menyusul Papa Hari yang berada di ruang keluarga untuk menonton siaran sepak bola. Sedangkan Arisa memilih pergi ke kamarnya karena tubuhnya sangat lelah setelah bekerja seharian ini.


Arisa merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan meluruskan otot-ototnya yang terasa kaku.


" Kayaknya aku harus pijet deh " ucap Arisa sembari memijat pundaknya dengan tangannya.


Arisa memang sering memanggil tukang pijat langganannya ketika ia merasa tubuhnya pegal-pegal seperti ini. Tetapi ini sudah malam sehingga Arisa mungkin akan memanggilnya besok saja ketika ia bisa pulang cepat.


***


Keesokkan harinya, Arisa sudah sampai di kantor dan segera turun dari mobilnya. Di saat yang bersamaan, seorang rekan kerja Arisa juga baru turun dari mobilnya.


" Selamat pagi, Arisa " sapa rekan kerja Arisa yang bernama Jodi.


" Pagi, Jodi " balas Arisa tersenyum.


Arisa sudah mengenal Jodi sejak setahun terakhir karena memang mereka berada di divisi yang sama dan juga diterima kerja di perusahaan itu di saat yang sama.


" Jam makan siang ada waktu gak? Kalau kita berdua makan siang di luar gimana? " tanya Jodi pada Arisa.

__ADS_1


" Maaf ya, Jodi. Tapi aku mau makan siang sama Rini nanti " tolak Arisa yang merasa tidak nyaman jika harus pergi berdua dengan Jodi.


Arisa bisa merasakan jika Jodi menyukai dirinya dan Rini pun mengatakan seperti itu. Itulah yang membuat Arisa tidak nyaman pergi dengan Jodi, lagipula ia takut akan timbul fitnah nantinya.


" Aku duluan ya " pamit Arisa pada Jodi dan Jodi pun menganggukkan kepalanya.


Setelah mendapatkan jawaban dari Jodi, Arisa pun langsung pergi meninggalkan Jodi dan memasuki gedung perusahaan. Arisa memasuki ruangan kerjanya dan di sana sudah cukup banyak karyawan lain yang datang, termasuk Rini.


Arisa meletakkan tas miliknya di atas meja lalu duduk di tempat duduknya. Arisa bisa bersantai sebentar karena jam kerja kantor belum dimulai.


" Ris, tu Jodi kenapa lesu banget? " bisik Rini yang meja kerjanya berada di sebelah Arisa.


Arisa pun langsung menoleh ke arah Jodi yang baru memasuki ruangan kerja itu dengan wajah lesu. Kemungkinan besar itu karena penolakannya tadi, ia juga tidak bisa mengiyakan setiap ajakan Jodi karena itu sama saja seperti ia memberikan harapan palsu karena ia tidak menyukai Jodi.


Arisa menghela napasnya. " Kayaknya gara-gara aku tolak ajakan makan siangnya tadi " jawab Arisa.


Rini pun menganggukkan kepalanya mengerti. Ia mengetahui tentang Jodi yang menyukai Arisa sejak mereka sama-sama bekerja di tempat yang sama.


" Ris, apa kamu gak sebaiknya buka hati kamu buat Jodi? Jangan kamu tutup terus hati kamu itu, kamu juga harus buka jalan buat kebahagiaan kamu. Kasian juga Jodi, aku liat dia beneran suka sama kamu " ucap Rini pada Arisa.


Rini hanya ingin Arisa membuka hatinya yang terus ia tutup selama ini. Lagipula jika Arisa bersama Jodi, Arisa akan bahagia karena ia yakin Jodi itu sangat mencintai Arisa.


" Sudah berapa kali aku bilang, Rin. Aku gak suka sama Jodi dan cuma anggap dia cuma teman dan rekan kerja. Lagipula hati aku sudah tertutup buat orang lain " jawab Arisa yang tetap sama sejak awal jika ditanya seperti itu.


Arisa tidak akan pernah membuka hatinya untuk pria manapun selain Angga. Selama ini ia terus menutup hatinya walaupun tidak sedikit pria yang ingin mendekatinya. Bahkan Papa Hari dan Mama Mutia juga mengizinkan jika Arisa ingin bersama pria lain, tetapi Arisa menolaknya. Arisa sampai saat ini masih yakin jika suaminya masih hidup dan ia harus menjaga kesetiaan sebagai istri dari Angga.


Mohon bantuan vote, like dan komentarnya ya 😊 Terima kasih πŸ˜ŠπŸ™ Tetap dukung saya ya 😘


Jangan lupa mampir ke karya saya yang lain di akun yang lain 😊 Cari aja di kolom pencarian " Cinta Si Gadis Lumpuh " dan " Pria Kulkasku " πŸ˜ŠπŸ™

__ADS_1


Ada juga karya saya di akun ini " Mengejar Cinta Pertama dan Menikahi Ayah Nadia " 😘


Tolong follow ig saya juga ya @tyaningrum_05😘


__ADS_2