
"apa yang sedang kau lakukan?"Ucap Lintang tiba-tiba menahan pergelangan tangan Zoya yang hendak melambaikan tangan nya di hadapan Lintang yang sedang tertidur.
"K,kau pura-pura?"Tanya Zoya kaget.
"Beraninya kau mengangu ku, apa pekerjaan mu sudah selesai?"Tanya Lintang menatap dalam Zoya.
"Hm, aku hanya memastikan, tidak ada niat untuk menyentuh mu sama sekali, pekerjaan ku sudah selesai, sekarang ijinkan aku keluar dari kamar ini."Ucap Zoya lagi.
"Alasan mu sama sekali tidak masuk akal, apa kau tertarik kepada ku? Ya aku tau itu, aku memang tampan dan semua wanita juga pasti akan mengakui ketampanan ku ini."Tutur Lintang mulai kembali dengan rasa percaya diri nya yang terlalu tinggi.
"Astaga tuhan."Leguh Zoya saat menyadari penyakit sombong suaminya telah muncul kembali.
"Kau tidak boleh menyentuh ku, tampa seijin ku, kau mengerti?"Tutur Lintang yang saat itu masih memegang pergelangan tangan Zoya.
"Lalu ini apa? Siapa yang sekarang menyentuh ku terlebih dahulu?"Ucap Zoya menujuk tangan Lintang yang ada di pergelangan tangan nya.
Seketika Lintang melepaskan genggaman nya tersebut dan kembali membenarkan posisi duduk nya.
"Sekarang keluar lah."Ucap Lintang singkat seolah tidak punya rasa bersalah.
"Huh, dia saja menyentuh duluan, tidak tau malu."Gumama Zoya yang kemudian berjalan meningal kan kamar Lintang.
"Wanita ini."Geram Lintang menatap punggung Zoya yang semakin lama semakin jauh dan menghilang di balik pintu kamar.
Zoya yang kelelahan pun berjalan masuk ke dalam kamar nya, kini ada perasaan lega di hati nya, karena dia sudah tidak terlalu cangung menghadapi Lintang yang arogan dan begitu kekanak-kanakan.
"Apa itu evek manja nya kepada sang paman ya? Jadi dia selalu percaya diri, mengatakan dirinya tampan, berwibawa dan lain-lain, benar-benar seperti anak usia sepuluh tahun yang baru pintar main gaya-gayaan dengan teman SD nya saja."Gerutu Zoya sambil merebahkan tubuh nya di atas ranjang.
Karena terlalu lelah, Zoya pun akhirnya tertidur pulas, dia bahkan belum sempat membersihkan tubuh nya.
__ADS_1
Malam pukul 07:20
"Di mana Zoya? Apa dia tidak keluar kamar sejak tadi sore?"Tanya Lintang kepada Laura.
"Saya tidak tau tuan muda, mungkin nona muda Zoya ketiduran."Ucap Laura kebingungan.
"Baik lah, pergi ke kamar nya dan bangun kan dia, bilang kepada nya jika aku menunggu nya di ruang makan mansion."Ucap Lintang kepada Laura.
"Tapi, tuan, mengapa tidak tuan sendiri yang membangun kan nya?"Tanya Laura yang sebenarnya ingin Lintang dan Zoya bisa lebih saling dekat satu sama lain.
"Mengapa kau malah memerintah aku, sekarang sejak ada Zoya semua orang di sini sudah berani melawan ku ya? Benar-benar menyebalkan."Kesal Lintang mengeleg kepala nya dan berjalan pergi ke ruang makan.
"Haduh, aku kan niat nya untuk mendekatkan mereka berdua, seperti apa yang di sarankan oleh tuan besar Lenan, mengapa malah aku yang salah."Batin Laura mengaruk-garuk kepala nya yang tidak gatal.
Meskipun dalam keadaan bingung, Zoya pun berjalan menaiki tangga menuju kamar Zoya.
"Nona muda ini juga kenapa tidak ada suara sama sekali?"Batin Laura sambil mengintip pintu kamar Zoya.
"Astaga Laura!"Kaget Zoya yang kemudian membantu Laura untuk berdiri.
"Hiksss, patah lah sudah hidung ku nona muda!"Jerit Laura dengan tulang hidung yang kini sudah memerah.
"Kau ini benar-benar ceroboh, mengapa kau tidak mengetuk pintu terlebih dahulu? Aku baru saja selesai mandi dan ingin keluar dari kamar, maaf kan aku, ayo kemari lah masuk ke kamar dan duduk biar aku obati."Ucap Zoya terlihat cemas dengan keadaan pelayan nya.
Sementara Laura hanya merengek sambil memegang batang hidungnya."Hikss, aku di perintahkan tuan muda untuk datang membangun kan nona, untuk makan malam, tapi malah apes seperti ini."
Laura terlihat sangat menyedihkan dengan tulang hidung yang merah itu, sedikit mengenal Laura, dia ini adalah pelayan muda yang sengaja di tugaskan oleh Paman Lenan untuk menjaga Zoya, karena paman Lenan tau Zoya tentu membutuhkan seorang teman dan menurut paman Lenan Laura adalah seorang yang cukup tepat.
"Aku duduk di bawah saja ya nona."Ucap Laura hendak duduk di bawah lantai kamar Zoya.
__ADS_1
"Duduk di bawah? Mengapa? Apakah kau kotor? Ada-ada saja, cepat duduk di ranjang."Ucap Zoya yang saat ini mengotak-atik kopor nya mencari sesuatu.
"Ini nona muda, hatinya terbuat dari apa ya? Baru kali ini aku melihat seorang istri dari seorang tuan muda begitu baik dan memiliki hati yang cukup lembut dan tidak sombong seperti tuan muda Lintang."Batin Laura yang kemudian dengan gemetar duduk di sisi ranjang Zoya paling ujung.
Dua menit kemudian, Zoya menghampiri Laura sambil memegang sebuah salep.
"Mau mengoleskan sendiri, atau aku yang mengoleskan nya? Ini adalah kesalahan ku, biar aku saja."Jawab Zoya bertanya kepada Laura tapi dia sendiri lah yang menjawab nya.
"Tidak nona, biar aku saja, tindakan mu ini terlalu perduli kepada ku, aku ini hanya seorang pelayan Baisa."Jawab Laura merasa tidak enak hati.
"Pekerjaan beda, tapi derajat ya sama saja Laura, kau bukan lah pelayan ku, kau sahabat ku."Turur Zoya yang mampu membuat hati Laura semakin tersentuh dan membuat dirinya bertekad akan selalu melindungi Zoya sampai kapan pun.
"Baik lah kalau begitu nona, maaf kan aku, sudah membuat mu repot."Ucap Laura yang kemudian memejamkan mata nya.
Zoya pun mulai mengoles kan obat tersebut ke batang hidungnya Laura yang memar.
"Tenang lah, obat ini sangat bagus aku sering memakai nya."Ucap Zoya sambil terus mengoleskan salep itu.
"Nona muda Zoya, tangan mu cukup lembut, terima kasih banyak, tapi mengapa kau bisa memiliki salep Bagus ini? Apa kau sering terluka?"Tanya Laura curiga.
"Ah, tidak, terkadang aku hanya menyimpan ini untuk kepentingan saja, saat kaki ku keseleo atau memar karena sepatu yang ku gunakan."Jawab Zoya seketika berubah menjadi sedikit gugup.
Sebenarnya salep itu adalah salep untuk mengobati luka memar yang di derita oleh Zoya jika mendapat prilaku tidak baik dari ibu tiri atau adik tiri nya yang dulu selalu menindas nya.
"Sudah selesai, sekarang kau boleh istirahat."Ucap Zoya kepada Laura.
"Terima kasih banyak nona, oh iya, tuan muda menunggu anda di meja makan."Ucap Laura lagi.
"Ya, aku akan segera ke sana."Jawab Zoya sambil tersenyum.
__ADS_1
Sementara itu, tampa sepengetahuan Zoya dan Laura, sedari tadi Lintang sudah mengamati mereka berdua dari selah-selah pintu yang tidak tertutup rapat.
Bersambung ....