Sunset Cinta

Sunset Cinta
Bab. 14. Berbagi


__ADS_3

Terkadang apa yang terlihat oleh mata tidak bisa mewakili sebuah Fakta, Karena mata hanya bisa melihat yang ada didepannya bukan melihat keseluruhan faktanya.


Sejak sering mendapat pujian dari tetangga barunya, Ayu semakin yakin akan bisa memiliki Dirga seutuhnya tanpa perlu berbagai dengan Dara.


Ayu semakin memprovokasi para tetangganya itu, jika suatu saat melihat Dirga sedang bersama dengan wanita lain dan juga membawa seorang anak, wanita itu adalah wanita yang sangat terobsesi dengan Dirga suaminya.


Sehingga Ayu meminta tolong agar mereka bisa menjaga Dirga untuk dirinya, karena di kota ini Ayu hanya memiliki Dirga, sementara keluarga besarnya tinggal di Desa.


Dengan begitu, Ayu berharap agar para tetangganya tidak akan membiarkan Dirga bersama Dara.


Sebuah pemikiran yang sangat licik. Namun begitulah manusia, terkadang ia lebih kejam dari seekor binatang. Tidak mengherankan akalnya untuk kebaikan namun menggunakannya untuk menyakiti sesamanya.


Hari -hari yang dilalui oleh Ayu sangat menyenangkan. Selain ia menjadi nyonya Dirga di lingkungan tempat tinggalnya. Semua keinginannya selalu dipenuhi oleh Dirga.


Tugasnya hanya mengurus Dirga tanpa perlu memikirkan hal lainnya. Sementara Dirga yang sudah mulai terjerat bujuk rayu Ayu, kini semakin jarang pulang ke rumah Dara.


Hari demi hari berlalu hingga tanpa terasa Dirga dan juga Ayu telah menjalani hubungan sebagai sepasang suami istri tanpa ikatan yang sah. Dan sejauh ini Dirga masih menyembunyikan hubungannya dengan Ayu.


Dengan berbagai alasan, Dirga selalu saja bisa membagi waktunya untuk Dara dan juga Ayu. Namun sebagai seorang istri tentu saja Dara mempunyai rasa curiga terhadap perubahan Dirga.


Namun demi Bara putranya, ia hanya bisa menerima semuanya dengan ikhlas. Seperti saat ini ketika Dirga telah berjanji akan merayakan ulang tahun Putranya yang ke satu.


Dirga tidak datang karena alasan dinas, sehingga Dara merayakan acara ulang tahun putranya di sebuah panti asuhan agar acara tersebut lebih bermakna.


"Sayang, meskipun hari ini papa tidak bisa ikut merayakan acara ulang tahun mu yang pertama, mama harap Bara tetap bahagia. Karena Bara ditemani oleh banyak teman-teman yang mendoakan Bara dengan Ikhlas."


"Bara anakku, bukanya mama tidak ingin merayakan acara ulang tahun mu seperti teman-teman yang lain."


"Tetapi mama ingin Bara menjadi seseorang yang perduli dengan lingkungan terutama bagi mereka yang kurang mampu. Berbagi dengan yang membutuhkan itu jauh lebih bermakna dari pada kita merayakan acara ulang tahun dengan pesta yang meriah di hotel berbintang." ucap Dara sambil tersenyum menatap wajah sang putra.

__ADS_1


Bara memandang wajah sang mama, ia mendengarkan seakan ia sudah bisa memahami apa yang diucapkan oleh sang mama.


Bara tersenyum kemudian ia masuk kedalam pelukan sang mama. Sebuah tempat yang ternyaman bagi seorang anak adalah dalam pelukan orang tuanya.


Dara tersenyum, dan memeluk Bara dengan erat, ia sangat bahagia karena telah memiliki putra seperti Bara.


"Mas Dirga, sebenarnya ada apa ? mengapa akhir-akhir ini kau menjadi berubah ? tidak seperti dulu lagi."


"Pakah kepergian mu benar-benar kerena tugas atau ada hal lain yang sengaja kau sembunyikan dari kami."batin Dara.


Setelah acara selesai, Dara mengajak Bara dan juga Aldi ke taman kota, dimana di tempat itu, Dara memulai kehidupannya dari nol.


Ia ingin sedikit berbagi kepada teman-teman yang masih bertahan dengan kehidupan jalanan yang sangat keras.


"Sayang disinilah awalnya kita bertemu dengan kak Aldi. Saat itu kita juga sama seperti mereka yang tidak mempunyai apa-apa dan kelaparan."


"Bahkan mama sempat mengorek-ngorek tempat sampah demi mendapatkan sesuap nasi dan waktu itu mama berebut dengan kak Aldi." ucap Dara sambil mengingat masa lalu.


Kini kehidupan mereka jauh lebih baik, dan Dirga juga telah memberikan status yang sah untuk dirinya dan juga anaknya.


Namun, akhir-akhir ini, Dirga mulai berubah. Ia jarang pulang karena alasan pekerjaan. Bahkan acara ulang tahun anaknya saja ia tidak bisa datang.


"Kak Dara, apa yang sedang kak Dara pikirkan ?." tanya Aldi sambil menyentuh pundak Dara.


"Aldi, kakak hanya teringat saat kita masih tinggal di kolong jembatan itu." jawab Dara.


"Bukankah kakak sering mengatakan kepada Aldi bahwa yang lalu biarlah berlalu. Kita jadikan semua sebagai pelajaran." jawab Aldi dengan menundukkan kepalanya.


"Lalu apa yang membuatmu menangis sekarang ?." tanya Dara.

__ADS_1


"Aldi hanya teringat ibu, beliau harus pergi meninggalkan dunia ini. Seharusnya jika ayah Aldi bertanggung jawab atas kami. Maka ibu pasti akan tetap bersama dengan Aldi."


"Dulu ibubtelah memaafkan ayah, tetapi ayah malah menikah lagi dengan wanita lainnya. Seolah-olah kata maaf yang keluar dari mulut ayah, hanya hiasan di bibir saja."


"Hingga hari itu, kami di usir dari dari rumah dan kami terpaksa harus tinggal di kolong jembatan itu." jelas Aldi.


Aldi melihat ke arah kolong jembatan yang pernah menjadi saksi bisu perjuangan sang ibu untuk bisa bertahan hidup dan menghidupi dirinya.


Tanpa terasa air matanya menetes, mengenang setiap kenangan indah bersama sang ibu.


"Aldi, jangan menangis. Bukankah sekarang ada kak Dara dan juga Adik Bara. Jadi Aldi jangan pernah merasa sendiri lagi. Kita akan selalu bersama dalam suka dan duka."


"Jika Aldi sedih kasihan ibu yang di atas sana, pasti ia juga ikut bersedih. Lebih baik kita doakan agar beliau bahagia di atas sana." ucap Dara.


"Kak terimakasih karena kakak mau menerima Aldi, sementara ayah Aldi lebih memilih wanita lain dari pada Aldi." ucap Aldi.


"Aldi, jangan berkata seperti itu lagi. Kita adalah keluarga. Jadi jangan pernah berfikir yang bukan-bukan. Biarlah ayah Aldi memilih jalannya."


"Lebih baik Aldi menatapasa depan, karena perjalanan Aldi masih panjang. Kita boleh melihat kebelakang untuk pelajaran agar kita tidak salah dalam melangkah." jelas Dara.


"Kak bolehkah Aldi mengunjungi ibu ?." tanya Aldi.


"Tentu saja boleh, mari kita mengunjungi ibu. Agar ibu tau bahwa putranya sekarang sudah besar dan bisa bersekolah lagi." ucap Dara.


Kemudian mereka masuk kedalam mobil menuju ke pemakaman umum di mana ibu Aldi dimakan.


Setelah sampai Aldi langsung menangis di atas pusa sang ibu, ia menumpahkan semua kerinduannya kepada sang ibu.


Sementara Dara kembali teringat dengan Dirga. Apakah Dirga berubah karena wanita lain ? Apakah Dirga tidak jauh berbeda dengan ayah Aldi ? yang tega menelantarkan anak dan istrinya demi wanita lainnya ?.

__ADS_1


Dara menatap pusara yang ada di depannya. Jasad yang berada di dalam sana adalah sebuah bukti kesetiaan seorang wanita yang di khianati.


__ADS_2