
Setelah beberapa hari bersama akhirnya Dirga melamar Dara untuk menjadi istrinya, ia membawa Dara menemui orang tua Dara yaitu tuan Jonathan.
Dengan pasrah Dirga menerima semua amarah taun Jonathan. Namun saat melihat melihat Dara tuan Jonathan luluh, Putrinya yang selama ini ia cari kini muncul di hadapannya.
"Dara ! kemarilah nak, ayah sangat merindukanmu." ucap tuan Jonathan.
Dara menghambur dalam pelukan sang ayah. Rasa rindu dan perasaan bersalah bercampur menjadi satu.
"Maafkan Dara ayah, Dara telah membuat ayah kecewa." ucap Dara dalam pelukan sang Ayah.
"Tidak nak, seharusnya ayah yang harus meminta maaf, karena ayah telah gagal menjaga putri ayah."
"Sejak kejadian itu ayah dan ibumu mencari keberadaan mu kemana-mana, namun kami tidak bisa menemukan mu di manapun kami mencari." jelas sang ayah.
"Maafkan Dara ayah, saat itu Dara tidak tau lagi harus berbuat apa dan harus kemana, Dara sangat putus asa, bahkan Dara sempat berniat untuk mengakhiri hidup."
"Tetapi ada seseorang yang menyelamatkan Dara. Dan saat itu Dara tinggal di kolong jembatan bersama seorang anak yang berprofesi sebagai pemulung." jelas Dara.
Kemudian Dara menceritakan seluruh kisah yang ia alami. Suka dan Duka perjalanan hidupnya sejak ia di usir dari desa tempat ia mengabdikan diri sebagai seorang guru.
"Ayah dimana ibu ? Dara ingin meminta maaf karena Dara telah mengecewakan ayah dan ibu." tanya Dara.
"Dara karena kami tidak bisa menemukan mu beberapa bulan, membuat ibumu sakit yang tak kunjung sembuh hingga ia pergi meninggalkan kita untuk selamanya." jawab sang ayah.
"Tidak ! ini tidak mungkin ! ibu tidak mungkin meninggalkan Dara. Ibu tidak mungkin meninggalkan Dara." ucap Dara sambil menangis pilu.
"Kau harus sabar Dara, semuanya telah menjadi suratan takdir, kita harus bisa menerimanya dengan ikhlas." ucap tuan Jonathan mencoba menenangkan Dara.
"Ibu maafkan Dara, maafkan Dara." ucap Dara dan perlahan tubuhnya jatuh.
"Dirga cepat bawa Dara ke rumah sakit !." teriak tuan Jonathan kepada Dirga.
__ADS_1
Dengan cepat Dirga membawa Dara ke rumah sakit bersama tuan Jonathan. Setelah sampai di rumah sakit Dara segera mendapatkan perawatan.
Namun karena kondisi Dara tiba-tiba drop, sehingga pihak rumah sakit menyarankan agar Dara segera melakukan operasi sesar demi keselamatan bayi yang ada didalam kandungnya.
Setelah mendapatkan persetujuan dari tuan Jonathan dan juga Dirga, akhirnya Dara dibawa keruang operasi.
Sementara Dirga dan juga tuan Jonathan menunggu di depan ruang operasi dengan perasaan yang tak karuan.
Mereka seolah sedang menghadapi antara hidup dan mati, sebuah keadaan yang membuat keduanya merasa sangat takut dan juga cemas.
Waktu berlalu menit demi menit hingga berganti jam, namun keduanya tetap setia menunggu kehadiran malaikat kecil di keluarga mereka.
Setelah lama menunggu akhirnya, Dara dan juga bayinya bisa diselamatkan dan kini mereka telah ditempatkan di ruang perawatan.
Dirga dan juga tuan Jonathan, merasa sangat bahagia. Namun karena Dirga harus kembali menjalankan tugasnya maka ia terpaksa meninggalkan Dara dan juga bayinya setelah tugasnya sebagai seorang ayah selesai ia lakukan. Sementara tuan Jonathan masih setia mendampingi sang putri dan juga cucunya.
"Ayah bagaimana kabar nenek ?" tanya Dara.
"Tapi Dara tidak ingin kembali ke sana ayah, terlalu banyak kenangan pahit yang menimpa Dara."
"Ayah tolong bantu Dara untuk membayar hutang di sekolah tempat Dara mengabdi dulu. Dara sudah menyiapkan uang itu." ucap Dara.
"Nak, setiap kebenaran pasti akan muncul juga kepermukaan. Serapat apapun mereka menutupinya pasti akan terungkap juga semua kebenaran itu."
"Empat bulan setelah kepergian mu, Ayu terbukti sebagai dalang dalam kejahatan itu. Hak itu terkuak, karena ia melakukan hal yang sama kepada seorang rekan kerja yang lainnya."
"Setelah hal itu terbukti Ayu harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di balik jeruji besi." jawab tuan Jonathan.
"Syukurlah jika semuanya telah terungkap." jawab Dara.
"Lalu bagaimana dengan rencana mu selanjutnya ? apakah kau akan memaafkan Dirga ?." tanya tuan Jonathan.
__ADS_1
"Itulah yang sedang Dara pikiran ayah. Namun saat melihat anak ini Dara harus bisa memberikan yang terbaik untuk masa depannya."
"Dara harus bisa mengesampingkan perasaan Dara demi kebaikannya. Jadi Dara memutuskan untuk memaafkan kak Dirga agar anak Dara mempunyai status yang jelas Dimata hukum dan masyarakat."
"Dara tidak ingin kelak ia akan disebut sebagai anak haram kerena tidak mempunyai seorang ayah." jawab Dara.
"Kalau begitu keputusan mu, ayah selalu mendukungmu. Ayah berharap Dirga benar-benar berubah dan tidak akan pernah menyakitimu dan juga cucu ayah ini." jawab tuan Jonathan.
"Terimakasih ayah, Dara sangat bahagia karena ayah selalu mendukung Dara dalam berbagai kondisi." jawab Dara dengan mata yang berkaca-kaca.
Sejak kecil sang ayah selalu mendukung apa yang di inginkan oleh Dara sepanjang itu demi kebaikan Dara.
Bahkan sang ayah tetap mendukung keinginan Dara untuk mengabdi di sebuah Desa untuk menjadi seorang Guru. Padahal Jika Dara mau tetap bersama sang ayah pasti kehidupan dan masa depannya akan jauh lebih baik dibandingkan menjadi seorang Guru.
"Dara sebaiknya saat ini kau harus beristirahat, agar kondisi mu semakin baik dan kita bisa segera pulang ke rumah."
"Dan kita bisa segera menyusun acara pernikahan kalian berdua. Sekarang ayah akan menghubungi nenek agar beliau bisa segera datang ke sini untuk membantu merawat cucu ayah yang tampan ini." ucap tuan Jonathan.
"Baiklah ayah, Dara sangat berterima kasih kepada ayah untuk semuanya." jawab Dara.
Kemudian tuan Jonathan berlalu meninggalkan Dara bersama sang buah hati. Setelah sampai di luar beliau langsung menghubungi sang ibu.
Beliau mengabarkan bahwa ia telah bertemu dengan Dara dan saat ini Dara telah melahirkan bayi laki-laki melalui operasi sesar. Dan kondisinya baik-baik saja saat ini.
Beliau juga meminta sang ibu agar datang untuk membantu Dara untuk merawat sang buah hati, karena istrinya tidak bisa melakukan peran itu.
Sementara Dara berusaha untuk memejamkan matanya, namun seberapa kuat ia berusaha namun Dara tidak bisa memejamkan matanya.
Masih ada sebuah keraguan di dalam hatinya untuk menerima Dirga kembali. Namun ia juga tidak tega melihat anaknya yang masih merah itu disebut sebagai anak haram kerena tidak mempunyai seorang ayah.
Dan ia juga merasa sangat terpukul karena harus kehilangan sang ibu, bahkan penyebab kepergian ibunya adalah dirinya yang tidak mau mencoba untuk menghubungi orang tuanya.
__ADS_1
Hingga kerinduan yang terpendam dan rasa khawatirnya yang berlebihan membuat kesehatannya memburuk hingga beliau harus pergi meninggalkan dunia ini untuk selamanya.