Sunset Cinta

Sunset Cinta
Bab. 17. Rayuan gombal


__ADS_3

Dirga segera masuk ke dalam kamar, ia segera berkemas dan membawa pakaian yang ia bawa dari rumah Dara. Ia berniat akan segera pulang sebelum Aldi bercerita tentang dirinya di rumah ini.


Meskipun Ayu tidak mengijinkan Dirga untuk pulang ke Rumah, namun Dirga tetap bersikukuh akan pulang. Ia harus segera menebus kesalahannya karena melupakan ulang tahun Bara.


"Mas Dirga, saat ini kau bisa saja dengan sesuka hati mu memilih untuk tinggal dan tidur dengan siapa. Tetapi sebentar lagi akan tumbuh benih cinta kita di dalam rahim ku."


"Dan jika saat itu tiba, maka kau akan berada di sisiku untuk selamanya. Dan kau hanya akan menjadi milik ku seutuhnya. Bahkan Dara dan juga Bara tidak akan mampu membawamu pergi dari sisiku." batin Ayu sambil melepaskan Dirga untuk kembali ke rumah Dara.


Sebelum pulang, Dirga pergi kesebuah toko bunga, ia ingin membeli sebuah bunga untuk meminta maaf kepada Dara. Ia juga ingin membeli sebuah hadiah untuk Bara.


Dirga ingin menebus kesalahannya atau lebih tepatnya menutupi kesalahannya. Ia ingin berbuat seolah-olah Dara dan juga Bara adalah orang yang paling spesial dalam hidup Dirga.


Setelah semua siap Dirga segera bergegas menuju rumahnya. Dimana saat itu Dara masih bermain bersama dengan Bara dan juga Aldi.


"Halo sayang, maafkan papa karena baru datang untuk menemui mu. Sebenarnya papa sangat ingin menemani mu di saat hari spesial mu, tetapi apalah daya papa harus bertugas sayang." ucap Dirga sambil menggendong Bara.


Ayu hanya tersenyum tanpa berkata apa-apa lagi. Sebenarnya ia ingin marah karena Dirga melupakan ulang tahun putranya. Bahkan hanya untuk melakukan video call saja Dirga tidak mampu. Tetapi Dara tidak ingin berdebat di depan anak-anak.


Sementara Aldi menatap Dirga dengan penuh tanda tanya.


"Bukankah itu pakaian yang digunakan oleh ka Dirga di rumah itu tadi siang ? tetapi untuk apa kak Dirga berada di sana ? Dan bukankah kak Dirga pergi Dinas ?." tanya Aldi dalam hati.


"Sayang, maafkanlah mas. Mas terlalu sibuk hingga mengabaikan kalian. Sebagai tanda maaf mas terimalah ini." ucap Dirga sambil menyerahkan seikat bunga mawar merah sambil bersujud di hadapan Dara.


"Iya mas, Dara sudah memaafkan mas. Dan terimakasih untuk bunganya." jawab Dara sambil menerima bunga dari Dirga.


Kemudian Dirga bangkit dan memeluk tubuh Dara dengan erat, Sejujurnya Dirga sangat merindukan Dara. Namun ia tak mampu untuk menolak Ayu.


"Mengapa mas Dirga memakai parfum perempuan, dan aku sangat familiar dengan parfum ini. Tapi parfum siapa dan dimana ?'

__ADS_1


"Apakah selama ini mas Dirga selingkuh ? atau ada sesuatu yang lain ? ah aku tidak boleh berburuk sangka apalagi sampai menuduh sebelum ada buktinya." batin Dara dalam pelukan Dirga.


"Mas sudah makan belum ?." tanya Dara.


"Belum sayang, tadi mas langsung membeli hadiah untuk Bara sampai mas lupa untuk makan." jawab Dirga.


"Kalau begitu biar Dara siapkan makanannya mas." ucap Dara.


"Iya sayang." jawab Dirga.


"Iya tapi kok masih dipeluk terus ?." tanya Dara.


"Karena sebenarnya mas tak mampu jauh dari mu. Mas sangat merindukanmu sayang. Sehingga mas tak rela jika harus melepaskan mu." ucap Bara.


Tentu saja hal itu membuat Dara merasa di awan. Wajahnya merah seperti kepiting rebus. Ia malu sekaligus bahagia dengan ucapan Dirga.


"Mas ada anak-anak." ucap Dara.


"Mas akan melepaskan jika mas mendapatkan sebuah kecupan mesra dari istri mas yang cantik ini." ucap Dirga.


"Mas tidak perlu berjanji, mas pasti mendambakan itu semua, karena itu adalah hak mas dari Dara." ucap Dara sambil mencium bibir Dirga.


Dengan cepat Dirga membalas dan memperdalam ciuman istrinya itu. Namun dengan lembut Dara menolak dan segera mengakhiri itu.


Ia tidak ingin Aldi melihat apa yang dilakukan oleh orang dewasa. Karena Dara tidak ingin Aldi menjadi dewasa sebelum waktunya.


"Sayang." ucap Dirga sangat tidak rela untuk mengakhirinya.


"Mas ada Aldi. Kita bukanlah pemeran video porno yang bisa di tonton olehnya secara gratis. Itu tidak baik bagi perkembangan Aldi."

__ADS_1


"Kita bisa melakukan hal itu bahkan lebih dari itu, di tempat yang seharusnya bukan bukan disini." ucap Dara.


"Kalau begitu cepat selesaikan semua. Dan jangan lupa cepat tidurkan Bara. Karena junior mu sudah bangun. Ia sudah ingin beristirahat dan masuk kedalam sarangnya yang istimewa itu." ucap Dirga yang sudah tak kuasa menahan keinginannya terhadap Dara. Istrinya yang sah dan yang lebih berhak atas dirinya.


Perlahan Dirga melepaskan pelukannya meskipun ia sangat tidak rela. Dara segera berlalu untuk menyiapkan makan malam mereka.


"Aldi bagaimana sekolahnya ?." tanya Dirga sambil bergabung ikut bermain bersama Bara dan juga Aldi.


"Lancar dan baik-baik saja kak." jawab Dirga dengan sopan.


"Bagus! kau harus menunjukkan yang terbaik untuk kak Dara. Karena beliau pasti ingin agar kau menjadi siswa yang berprestasi."


"Dulu kak Dara adalah seorang Guru. Dan ia sangat dikagumi dan di sayangi oleh dewan guru terutama murid-muridnya yang laki-laki."


"Setiap hari kakak harus merasa cemburu pada mereka. Sampai kakak harus pergi ke kota ini untuk bekerja."


"Sekarang kakak sangat bersyukur karena kak Dara adalah milik kakak yang sah. Tidak akan ada yang memisahkan kami." ucap Dirga sambil tersenyum.


Pikirannya melayang jauh ke belakang. Ia teringat saat Dara masih menjadi seorang Guru di sebuah SMA. Banyak sekali siswa laki-laki yang selalu saja merayu Dara.


Dengan berbagai macam cara, mereka selalu berusaha agar bisa mendapatkan hati Dara. Ya saat itu Dara adalah seorang gadis cantik dengan segudang prestasi yang rela mengabdi di sebuah sekolah SMA yang ada di desanya.


Terlintas pula bagaimana Dirga, meraih dan mengambil mahkota Dara ditepi pantai dibawah cahaya sunset yang sangat indah. Seindah kisah cinta yang mereka rajut.


Dirga tersenyum-senyum sendiri saat membayangkan hal itu. Dara adalah gadis satu-satunya yang memberikan kesuciannya untuk Dirga.


Meskipun ia banyak tidur dengan wanita lain. Namun hanya Dara yang paling ia sayangi dan satu-satunya wanita yang akan ia jadikan teman hidup hingga tua nanti.


Tetapi jika ia berfikir seperti itu, mengapa ia mampu berselingkuh di belakang Dara ? apakah itu hanya sebuah pikiran yang terlintas di saat pikiran Dirga masih lurus ? atau itu hanya sebuah pemikiran bukan sebuah komitmen yang lahir dari lubuk hati Dirga yang terdalam ?

__ADS_1


Untuk dapat mengetahui kebenarannya, simak terus cerita cinta Dara dan juga Dirga sampai selesai.


__ADS_2