Sunset Cinta

Sunset Cinta
Bab. 33. Akhir persahabatan


__ADS_3

Dirga duduk termenung di atas sebuah jembatan. Ia menatap wajahnya di atas air yang mengalir.


Terlihat wajahnya yang tampan kini berubah lebih kusam dan terlihat sangat tidak terawat.


"Dara ternyata kau telah merubah segalanya, dulu aku mengira bahwa ketampanan ku ini adalah kelebihan ku dan dapat memikat semua perempuan."


"Ternyata ketampanan ini adalah milikmu, ia ikut pergi bersama dengan mu. Dara dimanakah kau sebenarnya kini ?." ucap Dirga dengan meneteskan air mata.


Ia termenung, membayangkan kebersamaannya bersama dengan Dara. Sejak pertama kali mereka bertemu hingga terakhir kalinya ia melihat Dara yang berurai air mata karena rasa kecewa.


"Dara maafkan aku, sungguh aku tidak bermaksud menyakiti hati dan perasaan mu." ucap Dirga.


Ia kembali meneteskan air matanya. Sekarang ia baru sadar bahwa kehilangan orang yang paling ia cintai rasa sakitnya melebihi saat ia terluka saat dalam tugasnya.


"Dara !!!!." Dirga berteriak sekuat tenaga.


Hal itu membuat para pengguna jalan melihat kearahnya. Saat itu kebetulan Ayu yang sedang mencarinya mendengar teriakkan dari Dirga.


Dengan penuh harapan Ayu mencari sumber suara dan menemukan Dirga tengah berdiri di atas sebuah jembatan dengan sangat putus asa.


Ayu segera berlari dan menarik tubuh Dirga. Ia tidak ingin jika Dirga mengakhiri hidupnya hanya karena Dara.


"Dirga ! apa yang akan kau lakukan ? sadarlah Dirga !." ucap Ayu sambil menarik tubuh Dirga agar jauh dari sisi jembatan.


Dirga tertunduk di atas jalan, ia masih belum menyadari bahwa Ayu berada di dekatnya. Ia hanya teringat Dara dan juga Bara.


"Dirga ! mari kita pulang. Malu di lihat banyak orang." ucap Ayu.


Namun Dirga sama sekali tak bergerak dari posisinya. Ayu berusaha mengangkat tubuh Dirga tapi sayangnya ia tidak mampu melakukannya.


"Dirga aku mohon, mari kita pulang. Demi bayi yang ada di dalam rahimku. Ayo kita pulang Dirga." ucap Ayu sambil memohon.


"Bayi ?." tanya Dirga seperti orang linglung.

__ADS_1


"Iya Dirga ini anak kita berdua, buah cinta kita Dirga." jawab Ayu lagi.


Dirga menatap Ayu dengan tatapan yang rumit, keningnya berkerut. Dirga membuang muka tak ingin melihat Ayu.


Ia bangkit dan berjalan meninggalkan Ayu tanpa sepatah katapun. Ia tidak ingin melihat Ayu juga tak ingin bersama dengan Ayu.


Sementara Ayu tertegun melihat sikap Dirga. Ia tak pernah menyangka bahwa Dirga akan memperlakukan ia seperti orang asing.


Padahal ia berharap setelah kejadian waktu itu Dirga akan menjadi miliknya seutuhnya. Tanpa harus berbagi dengan Dara.


Lama Ayu tertegun menatap kepergian Dirga. Setelah ia sadar akan tujuannya, ia berlari mengejar Dirga yang berjalan.


"Dirga tunggu !." teriak Ayu.


Namun Dirga terus saja melangkah tanpa menoleh ke arah Ayu. Dalam pikiran Dirga hanya ada Dara.


Dengan susah payah, Ayu mengikuti Dirga dari belakang. Meskipun Dirga tidak menghiraukannya ia tetap mengikuti Dirga hingga sampai ke tempat tinggal Dirga yang baru.


Setelah sampai Dirga langsung masuk tanpa memperdulikan Ayu yang sudah sangat kelelahan. Dirga benar-benar tak memperdulikannya.


Setelah lama tak ada tanda-tanda Dirga akan keluar, Ayu mencoba untuk duduk di sebuah kursi kayu yang terletak di sampingnya. Namun karena tak kuat menahan lelah dan lapar, tubuh Ayu akhirnya terjatuh kelantai.


Bersamaan dengan itu, Dirga keluar hendak meninggalkan rumah tersebut. Saat melihat kondisi Ayu, Dirga akhirnya tidak tega. Ia mengangkat tubuh Ayu dan segera membawanya ke sebuah klinik terdekat.


Setelah memastikan Ayu mendapatkan perawatan, Dirga memberikan sejumlah uang untuk biaya perawatan Ayu dan juga berpesan agar memberikan sisanya kepada Ayu.


Dirga hanya berkata bahwa ia menemukan wanita itu pingsan di dekat jalan menuju ke rumahnya.


Setelah itu Dirga pergi meninggalkan Ayu, tanpa menunggu hasil pemeriksaannya. Ia tidak perduli apakah Ayu akan baik-baik saja atau sebaliknya.


Dirga segera kembali untuk berkemas dan ia menerima tugas untuk pergi ke luar kota. Meninggalkan kota yang penuh kenangan baik pahit maupun manisnya kehidupannya.


Sementara Ayu, harus kehilangan janinnya, Janin yang ada di dalam rahimnya tak bisa diselamatkan karena kondisi Ayu yang kurang asupan nutrisi yang dibutuhkan oleh ibu hamil.

__ADS_1


Sejak Dirga pergi meninggalkan dirinya. Ia sama sekali tidak mempunyai cukup uang untuk makan.


Sehingga ia harus menahan lapar dan haus dan harus mencari keberadaan Dirga. Menyusuri jalan dengan menahan haus dan lapar.


Kini ia masih terbaring dalam keadaan pingsan. Seorang diri tanpa ditemani oleh siapapun.


Saat ia membuka kedua matanya, hanya terlihat sebuah ruangan yang serba putih. Sunyi dan sepi, seperti hati Ayu saat ini.


"Dimana aku ? bukankah aku berada di depan rumah Dirga ? mengapa sekarang aku berada di sini ?."


"Apa yang terjadi dan siapa yang membawa aku ke sini ?." monolog Ayu.


Perlahan Ayu mencoba untuk bangkit, namun tubuhnya terasa lemah dan perutnya terasa sangat sakit. Keringat dingin mengucur di sekujur tubuhnya.


"Apa yang terjadi dengan diriku ?." ucap Ayu dengan putus asa.


"Ibu, jangan terlalu memaksakan diri, kondisi ibu belum stabil paska keguguran yang anda alami." ucap seorang Perawat.


"Apa ? keguguran ?. Tidak mungkin ini terjadi !." ucap Ayu sambil menangis pilu.


"Ibu yang sabar ya, untung saja ada seseorang yang segera mengantar ibu ke sini, sehingga nyawa ibu bisa diselamatkan. Jika terlambat kami tidak bisa menjamin keselamatan nyawa ibu." jelas perawat tersebut.


"Tidak, aku tidak mau kehilangan anakku ! Tidak !." ucap Ayu sambil menangis histeris.


"Ibu yang sabar, dan ini ada sesuatu untuk ibu. Semoga dengan ini ibu tidak terlantar lagi dan bisa melanjutkan hidup dengan lebih baik lagi." ucap Perawat tersebut kemudian berlalu meninggalkan Ayu yang masih menangis, Meratapi kepergian buah hatinya yang belum sempat terlahir.


Namun sepilu apapun tangisa Ayu, tidak bisa merubah semuanya. Ia tetap kehilangan bayi yang ada di dalam rahimnya. Buah cinta terlarang antara dirinya dan Juga Dirga. Suami dari sahabat karibnya sendiri.


Kini semuanya telah terjadi dan tidak mungkin untuk mereka hindari. dengan segenggam luka, mereka bertiga kini harus hidup masing-masing.


Dirga, Dara dan Ayu yang dulu pernah bersahabat dan berhubungan baik, kini seperti orang asing yang tidak saling mengenal.


Sendiri dengan segudang permasalahannya masing. Mengikuti jalan hidup yang sudah tertulis untuk mereka jalani.

__ADS_1


Karena sepahit apapun jalan hidup mereka, mereka tidak bisa untuk menolaknya atau menghindarinya. Hanya bisa menjalaninya dengan terus berdoa dan berusaha agar menjadi lebih baik lagi.


__ADS_2