
Cinta yang dimiliki oleh Ayu telah mengalahkan logikanya bahkan kata hatinya pun ia abaikan begitu saja.
Ayu membuang perasaan bersalah terhadap Dara, sahabatnya yang telah ia khianati berkali-kali. Bukan hanya dalam hubungan asmara saja dalam hal ekonomi juga Ayu tega menipu Dara.
Ayu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia terus menatap Aldi. Dengan lembut ia membelai kepala Aldi. Ia ingin menguatkan Aldi meskipun hanya dengan membelai kepalanya.
"Kau yang sabar ya, doakan saja semoga ayahmu dalam keadaan baik-baik saja. Dan berdoalah yang terbaik untuk ibu dan juga adikmu." ucap Ayu.
"Menurut kakak apakah wanita yang merebut suami orang lain itu baik ? dan apakah wanita yang tega memisahkan seorang anak dari ayahnya itu baik ?."
"Dan mengapa ada yang tega merampas kebahagiaan orang lain ? bukankah kebahagiaan itu ada tanpa harus merebut kebagian orang lain ?." tanya Aldi.
"Kelak saat kau telah dewasa kau akan mengetahui semua jawaban dari pertanyaan mu itu."
"Sekarang yang terbaik adalah kau harus berfikir sebagai anak seusia mu. Kau harus rajin belajar agar bisa memberikan kebahagiaan bagi kedua orang tuamu, terutama ibumu."
"Dan kau harus ingat bahwa kau adalah panutan untuk adikmu selain ayahmu. Jadi kau harus menjadi yang terbaik untuk orang-orang yang kau sayangi." ucap Ayu.
"Mengapa harus menunggu sampai aku dewasa untuk mengetahui semua jawaban dari pertanyaan ku ?." tanya Aldi lagi.
"Karena kau belum bisa memahami dunia dan masalah orang dewasa. Jadi jika dijelaskan sekalipun kau belum tentu dapat memahaminya."
"Baiklah kak, aku mengerti." jawab Aldi.
Ia tidak mungkin memaksa Ayu untuk menjawab pertanyaannya. Dan belum tentu juga Ayu mengetahui siapa Dirga dan apa statusnya yang sebenarnya.
"Sekarang apakah kau sudah bisa mengingat kembali alamat rumahmu ?." tanya Ayu.
Aldi hanya mengangguk, setelah itu ia berpamitan kepada Ayu hendak pulang. Ia tidak ingin Dara dan juga adiknya merasa khawatir.
Ayu tak mampu berkata-kata lagi, ia sangat mengerti mengapa Aldi terlihat sangat sedih. Ayu juga mengetahui jika perselingkuhan akan berakibat fatal bagi anak-anak yang mereka lahir dari pelaku perselingkuhan.
__ADS_1
Namun lagi-lagi pikiran semacam itu ia tampik dan buang jauh-jauh. Ia telah membulatkan tekadnya untuk memiliki Dirga, apapun resikonya.
Dia datang jauh-jauh dari desa ke kota ini memang bertujuan untuk mendapatkan Dirga. Bahkan ia telah membuang semua rasa malunya demi mendapatkan Dirga.
Ayu menatap kepergian Aldi. Setelah kembali menata hatinya, ia membuang jauh-jauh perasaan bersalahnya terhadap Dara dan juga anaknya.
"Dara bukannya aku tidak mempunyai perasaan, tetapi rasa cinta ini untuk Dirga jauh lebih besar dari rasa bersalahku kepada anakmu dan juga dirimu."
"Kau beruntung karena telah mengandung anak Dirga. Kalau saja kau belum mengandung pasti tidak akan ada yang menghalangi aku untuk mendapatkan Dirga."
"Dara sekali lagi aku minta maaf. Tetapi aku tidak akan pernah mundur sebelum aku mendapatkan Dirga." monolog Ayu.
Sementara Aldi berjalan dengan langkah yang gontai. Ia tidak tau harus berkata jujur kepada Dara atau menyimpannya dalam-dalam perselingkuhan yang Dirga lakukan.
Tanpa terasa Aldi berjalan cukup jauh dan ia sampai di depan perusahaan milik Dara. Aldi terlalu lelah hingga ia jatuh pingsan di depan kantor scurity.
Dengan sigap Scurity yang melihat ada seorang anak yang tergeletak di pinggir jalan, langsung menghubungi ambulance dan membawanya ke rumah sakit terdekat.
Mendengar hal itu, Dara segera bergegas menuju rumah sakit tempat Aldi dirawat. Dara terpaku saat melihat keadaan Aldi.
"Dokter apa yang terjadi dengan adik saya ?." tanya Dara setelah Dokter selesai memeriksa kondisi Aldi.
"Adik anda tidak apa-apa, ia hanya kelelahan saja. Setelah menghabiskan cairan infus ini dia bisa pulang. Anda jangan terlalu khawatir." jawab Dokter.
Setelah Dokter tersebut pergi, Dara mendekati Aldi yang masih terpejam. Ia menatap wajah Aldi dengan seksama, terlihat gurat kesedihan di wajah Aldi.
"Kak Data." ucap Aldi saat ia membuka matanya.
"Aldi apa yang terjadi ? bagaimana bisa kau ditemukan di tengah jalan dalam keadaan pingsan ?." tanya Dara dengan khawatir.
"Maafkan Aldi kak Dara. Aldi hanya tersesat saja, ketika Aldi berjalan tanpa Aldi sadari Aldi sudah berada di depan perumahan kakak."
__ADS_1
"Tapi sayangnya, belum sempat Aldi sampai, Aldi sudah tak ingat lagi apa yang terjadi selanjutnya." jawab Aldi.
Aldi menatap wajah Dara, wanita yang telah menolongnya dan ia anggap sebagai ibu, ternyata telah dikhianati oleh suami yang paling ia sayangi.
Ia berfikir bahwa Dara berhak mengetahui semua kebenaran ini, tetapi bagaimana jadinya jika Dara mengetahui kebenaran itu ?.
Aldi tak mampu untuk membayangkan, keluarga yang awalnya begitu bahagia, akan berakhir seperti keluarganya sendiri. Hingga sang ibu harus menghembuskan nafas terakhirnya tanpa sang ayah.
"Tidak ! Tidak ini tidak boleh terjadi !." ucap Aldi tiba-tiba.
"Aldi apa sebenarnya yang terjadi ? apa yang tidak boleh terjadi ?." tanya Dara dengan bingung.
"Tidak kak, Aldi hanya teringat kondisi Tio saja. Ia harus selamat dan sehat." jawab Aldi asal.
"Aldi, semuanya pasti akan baik-baik saja, kita doakan yang terbaik untuk Tio. Hari Minggu nanti kita akan menjenguk Tio dan kita bantu Tio semampu kita."
"Jadi kakak minta Aldi jangan terlalu berfikir keras, Aldi harus ingat dengan kesehatan Aldi juga. Bagaimana jika Aldi sakit ? tentu Aldi tidak akan bisa membantu Tio, malah Aldi yang butuh bantuan orang lain." jelas Dara dengan sabar.
"Iya kak, maafkan Aldi." jawab Aldi sambil memeluk tubuh Dara.
Aldi menangis pilu, ia tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Namun ia juga tidak bisa untuk mengatakannya dengan jujur.
"Aldi jangan bersedih, kita pasti akan membantu Tio." ucap Dara sambil menepuk-nepuk punggung Aldi, Dara mencoba untuk menenangkan Aldi.
"Maafkan Aldi kak, Aldi terpaksa berbohong. Karena Aldi tidak ingin kakak bersedih karena mengetahui kebenaran tentang kak Dirga yang mempunyai istri lagi." batin Aldi.
"Ya sudah, jangan menangis lagi. Setelah kau merasa lebih baik, kita bisa segera pulang. Dan kita bisa beristirahat di rumah dengan lebih baik."
"Esok kita bahas lagi masalah Tio. Apa yang bisa kita bantu. Semoga penyakit yang di derita oleh Tio masih bisa diobati sehingga ia bisa sembuh dan bisa bermain bersama kamu lagi." ucap Dara dengan lembut.
"Iya kak, lebih baik kita segera pulang." jawab Aldi sambil tersenyum meskipun terpaksa.
__ADS_1
Dara segera berlalu untuk mengurus semua administrasi kepulangan Aldi. Setelah selesai mereka segera pulang.