
Setelah berada di dalam kamar, Ayu menatap wajah Dirga yang mulai terlelap. Dengan lembut Ayu mulai membangunkan Dirga, ia ingin sekali lagi menanam benih cinta Dirga di dalam rahimnya.
Ia ingin segera mempunyai tali yang akan mampu mengikat Dirga, dan yang tidak akan bisa terpisahkan lagi.
"Ayu, mengapa kau tidak tidur ?." tanya Dirga yang terbangun karena sentuhan Ayu.
"Mas aku menginginkan mu, melihat mu terlelap keinginan itu semakin tak terkendali." ucap Ayu sambil membuka kain yang menutupi tubuh Dirga.
"Apakah kau tidak lelah ?." tanya Dirga sambil tersenyum menatap Ayu.
"Kau adalah candu ku, meskipun lelah tetapi aku selalu ingin dan ingin menikmatinya." jawab Ayu sambil memainkan milik Dirga.
"Kau harus bertanggung jawab karena telah membangunkannya Ayu." ucap Dirga sambil memejamkan matanya.
Menikmati permainan Ayu untuk yang kesekian kalinya. Ayu lebih agresif lagi, kali ini ia yang memimpin permainan.
Keduanya mulai kembali terbuai dengan gerakan-gerakan yang mereka ciptakan. Demi bisa menanamkan benih cinta Dirga. Ayu seperti singa yang kelaparan.
Ia begitu buas sampai-sampai Dirga hampir kewalahan menghadapi permainan Ayu. Ayu sungguh gila. Ia sudah membulatkan tekadnya untuk segera mendapatkan benih itu dan akan ia gunakan untuk mengikat Dirga.
Setelah pelepasan mereka berdua sama-sama tak mampu lagi untuk bergerak, keduanya kembali terlelap karena kelelahan hingga matahari bersinar terang.
"Selamat pagi Ayu." ucap Dirga.
"Selamat siang mas Dirga." jawab Ayu.
"Mengapa kau mengatakan siang ?." tanya Dirga.
"Ini memang sudah siang mas, lihat jam dinding itu." jawab Ayu yangasih enggan untuk bangkit dari peraduannya.
"Apa ? aku sudah terlambat untuk masuk kerja." ucap Dirga yang spontan bangun saat melihat jam dinding.
"Sekali-kali tidak masuk kerja juga tidak Maslah mas, nanti aku akan menghubungi rekan mas, dan menyampaikan bahwa mas sedang tidak enak badan." ucap Ayu.
__ADS_1
"Mengapa kau tidak membangunkan aku Ayu." ucap Dirga sambil bergegas menuju kamar mandi.
Ayu hanya tersenyum mendengar ucapan Dirga. Ia masih tetap pada posisinya. Tubuhnya terasa remuk dan ia masih merasa sangat lelah.
"Aku sengaja melakukan hal ini mas, jika hal ini bisa membuat mu selalu bersam ku. Maka aku akan membuatmu bangun kesiangan setiap hari."
"Agar setiap saat kau selalu berada di samping ku. Kita pasti akan segera mempunyai momongan mas." ucap Ayu dengan penuh keyakinan.
Setelah itu, Ayu segera bangkit dan ia pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan sekaligus makan siang keduanya.
Dirga tidak bisa berangkat, karena ia sudah sangat terlambat sekali, sehingga ia memutuskan untuk ijin saja. Menghabiskan waktu bersama dengan Ayu.
Sementara Aldi saat ini sedang menuju ke rumah temannya yang sedang sakit. Ia dan beberapa temannya yang di dampingi oleh seorang Guru menuju salah satu rumah yang tak jauh dari rumah Dirga.
Aldi dan yang lainnya segera dipersilahkan untuk segera masuk ke dalam rumah. Mereka sangat sedih saat melihat kondisi kesehatan temannya.
Mereka adalah keluarga yang sederhana, jadi hanya bisa mengandalkan obat-obatan herbal untuk mengobati sakit kanker yang diderita oleh anaknya.
Hal itu membuat Aldi kembali teringat dengan sang ibu. Seandainya waktu itu ia sudah memiliki uang yang banyak, pasti sang ibu bisa diselamatkan.
"Bu, nanti jika Aldi sudah sampai di rumah, Aldi akan menceritakan kondisi Tio, agar kak Dara bisa membantu biaya pengobatan Tio." ucap Aldi dengan tulus.
"Terimakasih nak Aldi, tetapi ibu harap nak Aldi tidak memaksakan ya. Ibu hanya bisa berharap yang terbaik untuk kita semua."jawab ibu Tio.
"Ibu tenang saja, ka Dara adalah orang yang sangat baik. Bahkan ia menyanyangi Aldi seperti anak kandung sendiri." jawab Aldi.
"Memangnya apa hubungan nak Aldi dengan kak Dara ?." tanya ibu Tio.
"Aldi dan kak Dara hanyalah orang asing yang kebetulan dipertemukan. Sejak saat itu kak Dara adalah keluarga Aldi satu-satunya karena Aldi sudah tidak mempunyai orang tua." jawab Aldi.
"Kalau begitu pasti kak Dara orang yang baik." jawab teman-teman Aldi secara bersamaan.
"Kak Dara bukqn hanya baik, ia seperti malaikat bagi Aldi." ucap Aldi dengan tulus.
__ADS_1
Teman-temannya dan juga yang lainnya dapat merasakan betapa berharganya Dara Dimata Aldi. Mereka berharap agar Dara bisa membantu biaya pengobatan Tio.
Setelah beberapa saat akhirnya Aldi dan juga temannya segera berpamitan. Mereka berpamitan satu persatu kepada Tio dan juga ibunya.
Disaat Aldi hendak melanggar ia sepintas melihat seseorang yang sangat mirip dengan Dirga.
"Bukankah itu kak Dirga ?." tanya Aldi pada diri sendiri.
"Apakah nak Aldi kenal dengan nak Dirga ?." tanya ibu Tio.
"Iya Bu, tetapi kak Dirga yang saya kenal, tidak mungkin jam segini masih berada di rumah. Mungkin hanya kebetulan dan juga sangat mirip dengan kak Dirga." jawab Aldi.
Setelah itu ia segera berlari mengikuti teman-temannya yang lain. Dan ketika ia berada di depan rumah orang yang mirip dengan Dirga Aldi berhenti dan melihatnya kembali.
Namun ia tidak melihat siapapun. Aldi kembali melangkah kembali mengikuti teman-temannya yang lain.
"Syukurlah Aldi tidak melihat ku dengan jelas. Kalau tidak pasti rahasia aku dan juga Ayu akan segera terbongkar." ucap Dirga yang langsung bersembunyi di balik pintu saat melihat Aldi dari kejauhan.
Setelah yakin bahwa Aldinsudah pergi bersama dengan teman-temannya, maka Dirga bisa bernafas dengan lega.
"Tetapi untuk apa Aldi berada di sini ? aku harus segera mencari tau untuk apa Aldi berada di sini. Apakah ia sudah mengetahui keberadaan ku. Atau hanya sekedar kebetulan lewat di daerah ini." ucap Dirga.
Kemudian Dirga mencari Ayu dan meminta Ayu untuk mencari informasi untuk apa anak-anak sekolah SD itu berada di sekitar sini.
"Memangnya kenapa mas ?." tanya Ayu.
"Mas hanya penasaran saja. Kok banyak sekali anak SD berada di sini." jawab Dirga asal.
"Ya mungkin mereka datang untuk menjenguk Tio, karena yang Ayu dengar Tio anak tetangga kita itu sedang sakit parah." jelas Ayu.
"Oh begitu. Ya sudah kalau begitu, mas kira ada apa kok tumben banyak sekali anak-anak SD disekitar sini." ucap Dirga sambil berlalu meninggalkan Ayu dan ia duduk di ruang tamu.
"Syukurlah, artinya Aldi belum mengetahui keberadaan ku disini. Untuk itu aku harus segera kembali ke rumah Dara sebelum semuanya terlambat."
__ADS_1
"Pasti anak itu akan datang sewaktu-waktu ke daerah ini. Meskipun hanya sekedar bermain." ucap Dirga di dalam hati.