
Aldi dan tuan Jonathan sepakat bahwa mereka akan melindungi Dara agar tidak bertemu dengan Dirga sampai Dara benar-benar bisa melepaskan Dirga.
Tanpa sepengetahuan mereka sebenarnya Dara sendiri telah melihat kedatangan Dirga di kota ini.
Hanya saja Dara enggan mengatakannya karena Dara telah berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan melepaskan Dirga.
Mengikhlaskan semua tentang Dirga, menyerahkan semuanya kepada sang penulis skenario kehidupan ini.
Saat ini, Dara membuka galeri di laptopnya. Ia ingin menghapus semua foto yang mereka abadikan dalam bentuk foto maupun video.
"Dirga Pratama, sebuah nama yang mengajarkan aku sebuah cinta, mengajarkan tentang pengkhianatan dan mengajarkan tentang bagaimana mengikhlaskan cinta itu sendiri."
"Meskipun aku menghapus semua foto dan video ini, tapi apakah aku bisa menghapusnya dari ingatan ku ?."
"Dirga maafkan semua kesalahanku. Tapi aku tidak ingin bersamamu kembali. Bukan karena aku tak mencintaimu lagi, namun aku harus mengikhlaskan cinta yang kau miliki untuk orang lain." ucap Dara sambil menatap layar monitornya.
Semua kenangan bersama Dirga kembali melintas dalam ingatannya. Sebuah kenangan yang tak mungkin bisa ia lupakan dan tak mungkin ia hapus dari dalam ingatannya.
Tak terasa air matanya menetes, namun secepatnya ia hapus. Meskipun jauh di lubuk hatinya ia masih belum bisa mengikhlaskan Dirga namun ia berusaha untuk melakukannya.
Untuk mengurangi ingatan tentang Dirga, Dara melakukan banyak aktivitas agar sedikit teralihkan dari kenangan tentang Dirga.
Ia berencana untuk kembali bekerja di perusahaan yang telah ia dirikan dari nol. Ia tidak ingin hanya karena Dirga ia akan kehilangan semuanya.
Cukup ia kehilangan Dirga saja, ia tidak ingin kehilangan kesuksesan dan juga masa depan Bara. Dara meraih ponselnya dan segera menghubungi sekretaris pribadinya untuk mencarikan sebuah apartemen untuk ia menginap saat ia hendak tinggal di sana.
"Ani tolong kau Carikan sebuah apartemen untuk ku." ucap Dara saat panggilannya tersambung.
"Baik Bu, akan segera saya lakukan." jawab Ani.
Setelah itu Dara menyampaikan keinginannya untuk kembali beraktivitas di kantornya lagi seperti biasanya.
Ani sangat senang ketika mendengarnya. Ani kemudian menceritakan semua yang ia tau tentang Dirga, namun Dara tidak meresponnya.
"Maaf Bu jika saya telah lancang mencampuri urusan ibu, hanya saja saya takut ibu akan kembali sakit saat bertemu dengan tuan Dirga." ucap Ani.
"Tidak masalah jika memang harus bertemu dengan dia, saya telah mengikhlaskan dia untuk orang yang memang ia cintai."
__ADS_1
"Dan jangan pernah kau bahas Dirga lagi. lebih baik kita fokus dengan pekerjaan kita, karena saya berencana membuka cabang baru untuk melebarkan sayap kita." jawab Dara.
"Baik, saya sangat salut dengan anda. Anda benar-benar luar biasa." jawab Ani.
Kemudian Ani segera mengakhiri panggilan tersebut, setelah ia menyampaikan kepada Dara bahwa ia akan segera mengecek apartemen yang Dara pesan.
Dara kembali memejamkan matanya setelah tak mendengar lagi suara Ani. Hatinya masih tetap tidak nyaman saat ia mendengar tentang Dirga.
Setelah lama ia kemudian menghembuskan nafasnya. Mencoba melepaskan ketidak nyamanan yang ia rasakan.
Setelah mengatasi hati dan perasaannya, Dara mencari sang ayah. Ia ingin menyampaikan keinginannya untuk kembali ke kota yang sebenarnya ingin ia lupakan.
Bahkan ia berencana untuk tidak pernah lagi kembali ke kota tersebut. Namun ia sadar bahwa ia tidak akan mungkin bisa menghindari Dirga selamanya.
Dan hal yang harus ia lakukan adalah menghadapi segala bukan lari menghindari semuanya.
"Ayah, Aldi sedang apa ? sepertinya serius sekali." ucap Dara sambil bergabung dengan mereka.
"Tidak kami hanya bersantai saja." jawab keduanya dengan kompak.
"Ayah, Aldi besok Dara berencana untuk kembali ke perusahaan. Sudah lama Dara tidak mengunjunginya." ucap Dara.
"Apakah kau yakin ?." tanya tuan Jonathan.
"Iya ayah, Dara sudah memikirkan semuanya." jawab Dara dengan sangat yakin.
"Jika itu sudah menjadi keputusan mu, kami selalu mendukung dan mendoakan yang terbaik untuk dirimu." jawab tuan Jonathan.
"Terimakasih ayah, ayah adalah ayah terbaik di dunia ini." ucap Dara dengan suara yang serak.
Ia sangat terharu mendengar ucapan dari sang ayah. Meskipun hanya sebuah ucapan tapi hal itu membuat Dara bahagia.
Kak Dara ..., " ucap Aldi terhenti.
Ia tak mampu mengatakan yang sebenarnya. Ia hanya takut jika Dara akan menderita lagi di kota itu.
"Aldi katakanlah apa yang ingin kau katakan." ucap Dara.
__ADS_1
"Tidak kak, Aldi akan selalu mendukung apapun yang telah kakak putuskan." jawab Aldi.
"Terimakasih Aldi, selama kakak bekerja tolong bantu jaga Bara. Agar ia tidak merasa kesepian karena kakak harus kembali bekerja." ucap Dara.
"Iya kak, kak Dara tenang saja. Aldi pasti menjaga Bara seperti Aldi menjaga diri Aldi sendiri." jawab Aldi dengan tersenyum.
Ia merasa sedikit lega, dengan kepergian Dara dari kota ini maka kesempatan Dara bertemu lagi dengan Dirga sangat kecil.
Karena Aldi yakin pasti Dirga datang ke kota ini untuk mencari keberadaan Dara. Atau ia memang benar mendapatkan tugas.
Tapi satu hal yang pasti, mereka tidak berada di kota yang sama. Hal itu membuat Aldi sedikit lega.
"Baiklah jika kalian semua setuju, maka aku akan berkemas agar besok bisa langsung berangkat." ucap Dara.
Aldi dan tuan Jonathan menganggukkan kepala sebagai jawabannya. Setelah itu Dara segera berdiri dan meninggalkan mereka berdua untuk segera bersiap-siap.
Dara langsung memanggil bik Yanti agar membantu ia berkemas, Ia juga menitipkan Bara kepada bik Yanti.
Setelah selesai, Dara menemani Bara bermain sebelum Dara pergi untuk beberapa hari. Ia ingin menghabiskan waktu lebih banyak untuk putranya itu.
"Sayang, mama harus kembali bekerja. Demi masa depan kita nanti, saat ini Bara hanya punya mama."
"Dan sebagai orang tua tunggal mama harus bekerja lebih keras lagi agar masa depanmu lebih baik meskipun kita hanya berdua." ucap Dara.
Meskipun Bara tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Dara. Namun Bara menatap Dara dengan seksama. Seolah-olah ia paham apa yang dikatakan oleh Dara.
Setelah itu Bara tersenyum manisnya, seperti orang dewasa Bara bangkit kemudian ia memeluk Dara dengan erat.
Seolah ia mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Dan ia juga mendukung setiap keputusan yang diambil oleh Dara.
"Terimakasih sayang." ucap Dara sambil mengangkat tubuh mungil itu kedalam pelukannya.
Meskipun berat Dara harus bisa meninggalkan Bara untuk sementara. Ia tidak ingin terus terpuruk karena kehilangan Dirga.
Ia harus bisa melanjutkan kehidupan ini meskipun tanpa Dirga. Ia harus bisa mengatasi semuanya dan melupakan Dirga untuk selamanya.
Dan menyongsong hidup yang lebih baik dan lebih bermakna.
__ADS_1