
Saat hati terluka, tak ada yang bisa menggambarkan bagaimana keadaan seseorang saat itu. Hanya air mata sebagai pertanda bahwa luka itu bisa mengungkapkan keadaan sebenarnya.
Dengan derai air mata, Dara masuk kedalam kamar mandi dan segera membersihkan diri. Ia menenggelamkan tubuhnya kedalam bathtub.
Hatinya hancur berkeping-keping. Untuk kedua kalinya Dirga menggoreskan luka di tempat yang sama. Dara hanya bisa menangis untuk menumpahkan rasa sakit di hatinya.
Setelah lama berendam Dara akhirnya bangkit dan ia segera mengenakan pakaiannya dan ia pergi meninggalkan Dirga yang masih terlelap setelah permainan panas mereka.
Dara menuju kamar Bara, ia ingin menghabiskan waktunya hanya bersama Bara. Buah cintanya bersama Dirga.
Dara mengendong Bara yang masih tertidur, ia mendekapnya dengan erat. Tak ada kata yang terucap dari mulut Dara. Hanya air matanya yang tak bisa berhenti mengalir.
Setelah puas menumpahkan perasaannya, Dara tidur bersama dengan Bara. Ia terlelap dalam dukanya bersama sang putra yang tak mengerti apa-apa.
Sebelum pagi menjelang Dara terbangun, ia segera mengangkat tubuh Bara kemudian ia keluar dan menuju kamar bik Yanti.
"Bik maaf saya menganggu sebentar. Saya hanya ingin menitipkan rumah ini dan juga Aldi. Tolong jaga Aldi dan juga rumah ini, sementara saya dan Bara akan berangkat ke luar kota untuk masalah pekerjaan." ucap Dara.
"Non apa sebenarnya yang terjadi ? mengapa wajah non Dara terlihat begitu sembab ?." tanya Bik Yanti.
"Tidak apa-apa bi, saya hanya kurang enak badan saja." jawab Dara.
"Non jika ada sesuatu, non Dara bisa menceritakannya kepada saya non, meskipun saya tidak bisa membantu tetapi setidaknya beban yang ada di dalam dada non Dara bisa sedikit berkurang."
"Non saya juga seorang perempuan, jadi saya tau bahwa saat ini non pasti dalam keadaan yang kurang baik, dan wajah non Dara sembab seperti itu karena terlalu lama menangis." ucap bik Yanti.
"Bik saya harus segera pergi, tolong jaga Aldi dan rumah ini untuk saya, ini ada sedikit uang untuk keperluan selama saya pergi." ucap Dara sambil berlalu meninggalkan bik Yanti yang diam menatap kepergian Dara dan juga Bara.
Setelah berada di luar rumah Dara menghela nafasnya panjang dan ia segera masuk kedalam mobilnya.
"Sayang, maafkan mama. Saat ini mama hanya ingin menenangkan diri kita akan pergi kerumah kakek." ucap Dara sambil mengusap wajah mungil Bara yang masih tetap terlelap.
__ADS_1
Setelah itu ia melajukan mobilnya perlahan dan meninggalkan rumah dan juga sakit di hatinya. Ia mencoba untuk menemukan dirinya.
Namun ditengah perjalanan, Dara berubah pikiran, ia kemudian pergi menuju keluar kota. Pergi membawa sang putra ketempat yang tak akan ada yang mengenalinya.
"Nak, kota sebaiknya pergi ke tempat yang lain saja. Jika kita pergi ke tempat kakek, mama takut kakek akan merasa terbebani karena memikirkan nasib kita berdua."
"Kita akan menjalani kehidupan ini, tanpa harus membebani orang lain. Dulu kita mampu melewati semuanya berdua tanpa kehadiran ayah."
"Sekarang ini, kita juga pasti akan bisa melewatinya juga sayang. Kau jangan bersedih ya mama pasti akan melakukan yang terbaik untuk kita berdua." ucap Dara.
Kemudian Dara melajukan mobilnya mengikuti jalan yang ada di depannya. Ia menyusuri jalan tanpa arah dan tujuan yang jelas.
Satu hal yang pasti, ia hanya ingin pergi meninggalkan semua rasa sakit yang tak mampu ia tahan dan tidak mungkin ia ceritakan kepada siapapun.
Sementara Dirga tiba-tiba saja terbangun karena hatinya terasa begitu sakit. Ia tidak tau apa yang menyebabkan hatinya terasa perih dan sakit seperti ditusuk-tusuk dengan duri yang sangat tajam.
Dirga terbangun dan ia mencengkram dadanya dengan sangat kuat. Setelah mampu menahan rasa sakitnya, Dirga mencari keberadaan sang istri.
Ia bangkit dan mencari Dara ke kamar mandi namun tak menemukannya, hanya ruangan yang kosong dan dingin. Kemudian Dirga mencari Dara di balkon namun tak jua ia temui.
Ia kemudian berlari masuk kedalam kamar putranya, namun alangkah terkejutnya Dirga, saat melihat kamar putranya kosong.
Ia segera berlari turun kebawah menuju kamar Aldi. Lagi-lagi ia juga terkejut saat melihat kamar Aldi juga kosong.
"Dara ! Dara kamu dimana ?"
"Aldi ! Aldi ! dimana kamu ?."
Dirga berteriak-teriak seperti orang gila. Ia segera keluar dari mencari Dara dan juga Aldi namun lagi-lagi ia tak mampu berkata apa-apa lagi, mobil Dara yang biasanya terparkir rapi kini sudah tak berada di tempatnya.
Data !!
__ADS_1
Dirga berteriak seperti orang gila, ia menangis sambil bersimpuh di halaman rumahnya.
Ia tak menyangka bahwa wanita yang selama ini ia sayangi dan selalu ia harapkan untuk menjadi teman hidup selama hidupnya kini telah pergi entah kemana. Meningkatkan dirinya tanpa sepatah kata pun.
"Kak Dirga ! apa yang terjadi ?." tanya Aldi sambil duduk di hadapan Dirga.
"Aldi ! Aldi katakan dimana kak Dara dan juga Bara ? katakan Aldi." tanya Dirga sambil mencengkram Aldi dengan kuat.
"Tuan, non Dara sudah berangkat bekerja. Mungkin non Dara tidak tega membangunkan tuan sehingga non Dara tidak sempat berpamitan kepada tuan." ucap bik Yanti sambil melihat kondisi Dirga.
"Benarkah ? benarkah apa yang bik Yanti ucapkan ?." tanya Dirga.
"Iya tuan tadi non Dara berpamitan kepada saya sebelum berangkat." jawab bik Yanti.
"Syukurlah jika demikian, saya kira Dara pergi meninggalkan saya bik." ucap Dirga.
Setelah mendengar penjelasan bik Yanti, Dirga segera masuk kedalam rumah dan ia segera membersihkan diri dan bersiap-siap untuk pergi bekerja.
Sementara Aldi hanya menatap wajah bik Yanti dengan bingung. Ia tidak mengerti mengapa Dara tidak pernah mengatakan apapun sebelum ia pergi sepagi ini.
"Biasannya kak Dara selalu bilang jika esoknya ada pekerjaan yang sangat mendesak." ucap Aldi sambil masuk ke dalam rumah.
"Mungkin telah terjadi sesuatu antara non Dara dan juga tuan Dirga. Sampai tuan seperti orang gila saat bangun dan tidak menemukan istrinya."
"Non Dara semoga non Dara selamat sampai tujuan dan semoga den Bara tidak rewel dan membuat non Dara kesusahan."
"Bibi berharap non Dara bisa segera kembali. Jika ada masalah seharusnya tuan yang pergi dari rumah ini bukannya non Dara dan juga den Bara." ucap bik Yanti.
Setelah itu bik Yanti ikut masuk ke dalam rumah. Segera melakukan aktivitas seperti biasanya, menyiapkan sarapan dan membersihkan rumah.
SMA halnya dengan Aldi dan juga Dirga, mereka beraktivitas seperti biasanya. Mereka belum menyadari bahwa Bara juga tidak berada di dalam rumah itu juga.
__ADS_1