Sunset Cinta

Sunset Cinta
Bab. 8. Janji Dirga


__ADS_3

Sejak Dara tinggal bersama Aldi ia sejenak melupakan masalah yang menimpanya, ia tengah sibuk membangun sebuah usaha kerajinan dari barang-barang bekas.


Berkat keuletan dan juga kegigihannya, sekarang Dara telah mampu membeli rumah dan mempunyai beberapa anak buah, sedangkan Aldi sudah melanjutkan lagi pendidikannya.


Saat ini Dara tengah menunggu kelahiran anaknya, kondisinya sangat sehat sehingga ia tidak merasa terganggu meskipun sedang hamil besar dalam menjalani pekerjaannya.


Namun hal itu bukan berarti penderitaannya telah berakhir. Tanpa sengaja ia bertemu lagi dengan Dirga, lelaki yang telah menghancurkan hidupnya selama ini.


"Dara ! tunggu!." teriak Dirga saat melihat Dara yang sedang memberikan materi dalam sebuah acara yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah dalam pengembangan UMKM.


"Kak Dirga. Sedang apa dia ada disini ? lebih baik aku menghindar saja." batin Dara.


"Dara tunggu !." ucap Dirga sambil meraih tangan Dara.


"Maaf kak Dara sibuk, jadi jangan halangi langkah Dara." ucap Dara mencoba menghindari Dirga.


"Dara kakak akan melepaskan mu setelah kau katakan siapa ayah dari bayi yang kau kandung ini." jawab Dirga dengan penuh harap.


Ia sangat yakin, bahwa anak itu adalah darah dagingnya. Karena hanya Dirga yang dengan rayuan gombalnya mampu untuk merenggut mahkota Dara.


"Untuk apa kakak ingin mengetahuinya, lebih baik kakak urus Ayu dan jangan lagi menghiraukan Dara lagi." jawab Dara sambil berlalu meninggalkan Dirga.


"Dara tunggu, aku bisa menjelaskan semuanya. Dara tunggu." ucap Dirga dengan mengejar Dara.


Setelah berusaha untuk menyakinkan Dara, akhirnya Dara menyerah dan mengikuti Dirga. Saat ini mereka sedang menikmati makan siang disebuah restoran .


"Dara katakan kepada kakak bahwa anak yang ada didalam kandungan mu itu adalah anak kakak." ucap Dirga dengan penuh harap.


"Iya, kakak adalah ayah biologis anak ini. Tapi kakak bukanlah ayahnya." jawab Dara sambil bergetar menahan sakit yang selama ini ia tanggung sendiri.

__ADS_1


"Apa maksudnya Dara ? apakah sekarang kau sudah menikah ? katakan siapa lelaki yang telah menikahi dirimu ?." tanya Dirga sambil menggenggam erat tangan Dara.


"Lebih baik kita lupakan masa lalu yang pernah terjadi di antara kita. Lalu bagaimana kabar Ayu ?." tanya Dara.


"Dara kakak bisa menjelaskan semuanya, kakak tidak berniat untuk mengkhianati mu, saat itu kakak hanya dijebak oleh Ayu."


"Setelah warga mengusirmu dari Desa itu, gantain warga yang memaksa kakak untuk nikah Ayu. Namun karena Ayu terbukti telah hamil dua bulan maka kakak bisa terlepas dari tuduhan itu."


"Sejak saat itu kakak tidak pernah lagi bertemu dan berhubungan dengan Ayu. Kakak terus mencari keberadaan mu Dara."


"Karena kakak diberitahu bahwa saat itu kau tengah hamil dan kakak yakin bahwa bayi yang ada didalam kandungan mu itu pasti anak kakak."


"Jika dilihat dari kejadian di tepi pantai itu, kakak yakin saat ini adalah bulan dimana bayi itu akan lahir."


"Dara demi anak kita kakak mohon, maafkan kesalahan kakak. Demi masa depan anak kita ijinkan kakak menebus semua kesalahan yang telah kakak lakukan selama ini."


"Data ijinkan kakak menjadi orang pertama yang melihat dan mengumandangkan azan untuk anak kita." ucap Dirga dengan bersungguh-sungguh.


"Dara kakak mohon, maafkanlah kesalahn kakak, Jika dengan memukul atau apapun itu bisa membuat mu memaafkan kakak. Kakak bersedia melakukan apapun itu asal mendapatkan maaf mu."


"Tapi kakak mohon jangan hukum kakak dengan menjauh dari kakak. Kakak sangat mencintai mu Dara kakak tidak sanggup lagi jika harus berpisah dengan mu lagi." ucap Dirga sambil berlutut di hadapan Dara.


"Kak bangunlah ! jangan melakukan hal ini lagi, Dara sudah memaafkan kakak." jawab Dara yang sudah termakan rayuan gombal Dirga.


"Benarkah ! terimakasih sayang." ucap Dirga sambil memeluk Dara dengan erat.


"Sayang, kau dengar mama telah memaafkan papa, jadi mulai sekarang papa akan selalu ada buat kalian berdua." ucap Dirga sambil mengusap perut Dara dan berkali-kali mencium perut yang sesekali bergerak akibat gerakan dari bayi yang berada di dalam.


"Sayang, lihatlah anak kita sangat menyukai aku, dia pasti sudah tidak sabar lagi untuk bermain dengan papanya." ucap Dirga dengan penuh semangat.

__ADS_1


Terukir sebuah kebahagiaan diwajah Dirga. Ini adalah pertama kalinya ia merasakan kebahagiaan yang luar biasa hanya karena gerakan kecil dari perut Dara.


Dara berharap kebahagiaan ini bukanlah kebahagiaan yang semu, ia berharap ini adalah awal kebahagiaan yang abadi untuk selamanya.


Setelah selesai makan siang, Dirga mengajak Dara untuk melakukan pemeriksaan kehamilannya, ia ingin sekali melihat bagaimana perkembangan sang buah hati.


Karena desakan dari Dirga, akhirnya Dara bersedia melakukan pemeriksaan itu, dan hasilnya sangat memuaskan.


Bayi laki-laki yang dalam rahim Dara tumbuh dengan sehat, dan ia sudah berada di posisinya yang siap untuk lahir sebagai bukti cinta antara Dara dan juga Dirga.


"Sayang lihatlah anak kita ! dia sudah siap untuk segera bermain dengan kita." ucap Dirga dengan penuh semangat menatap layar monitor yang menampilkan gambar anaknya.


"Selamat untuk tuan dan nyonya, bayi anda sehat dan sangat aktif. Ia berjenis kelamin laki-laki." ucap Dokter kandungan yang sedang memeriksa kehamilan Dara.


Setelah selesai pemeriksaan Dirga mengantarkan Dara kembali ke rumahnya. Dara juga mengenalkan Dirga kepada Aldi dan juga beberapa karyawan Dara.


"Aldi ini adalah kak Dirga. Dan kak Dirga inilah Aldi seorang bocah yang menolong Dara disaat Dara kehilangan arah." ucap Dara dengan tersenyum.


"Halo Aldi, terimakasih karena telah menolong anak dan istri kakak. Sebagai hadiahnya kakak akan mendaftarkan Aldi menjadi seorang TNI setelah Aldi lulus sekolah nanti." jawab Dirga.


"Ye asik Aldi akan menjadi seorang tentara." jawab Aldi dengan tersenyum bahagia.


Setelah itu Dara juga mengenalkan beberapa karyawan Dara yang selama ini ikut membesarkan usaha Dara.


Malam itu Dirga menginap di rumah Dara, ia tidak ingin kehilangan kesempatan untuk mendapatkan hati Dara lagi.


Dan yang terpenting saat ini adalah dia ingin menjadi orang pertama yang melihat anaknya lahir kedua ini.


Ada perasaan bahagia dan ada juga perasaan bersalah di hati Dirga. Seandainya saat itu ia tidak tergiur dengan godaan wanita-wanita cantik yang mengelilinginya pasti saat ini Dara telah menjadi istrinya yang sah.

__ADS_1


Dan yang pasti Dara tidak akan pernah menderita seperti yang Dara alami selama ini. Kini ia berjanji akan menebus semua kesalahan yang telah ia lakukan terhadap Dara dan juga anaknya.


__ADS_2