
Setelah kondisi tubuhnya lebih baik, Ayu meninggalkan klinik dimana ia dirawat. Dengan uang yang diberikan oleh orang yang belum dikenalnya ia menuju ke rumah Dirga yang baru.
Namun pemilik rumah tersebut mengatakan bahwa Dirga tidak lagi tinggal di rumah itu lagi. Karena Dirga mendapatkan tugas di luar kota.
Dengan kecewa Ayu pulang menuju rumah yang ia tempati bersama dengan Dirga. Ia tidak tau harus mencari Dirga kemana lagi.
Saat ini ia ingin memulihkan tubuhnya terlebih dahulu. Dan akan memikirkan apa yang akan ia lakukan setelah itu.
Ayu membeli nasi bungkus untuk mengganjal perutnya. Ia harus berhemat karena ia tidak akan menerima uang dari Dirga lagi.
Setelah selesai makan Ayu membaringkan tubuhnya. Ia ingin beristirahat ia benar-benar lelah. Ia ingin melupakan semuanya untuk sementara waktu.
Ia harus segera pulih agar bisa melanjutkan mengejar impiannya selama ini. Perlahan Ayu terlelap melewati malam yang gelap tanpa seseorang yang menemaninya.
Keesokan paginya, Ayu merasa jauh lebih baik. Setelah sarapan dan meminum obat, ia keluar rumah, berencana mendatangi rumah Dara.
Ia hanya ingin memastikan bahwa Dirga tidak bersama dengan Dara lagi. Karena yang ia lihat Dirga begitu kehilangan Dara hingga seperti orang gila.
Dengan menggunakan taksi Ayu akhirnya sampai di depan rumah mewah milik Dara. Namun ia tertegun saat melihat bahwa di dalam rumah mewah tersebut banyak sekali orang yang sedang mengaji.
"Apa yang terjadi ? " batin Ayu.
Sambil melihat ke kanan dan ke kiri akhirnya Ayu mendekati seseorang yang kebetulan lewat di depannya.
"Maaf Bu, ada aapa ya ? Mengapa banyak sekali orang yang datang ke rumah ini ?." tanya Ayu.
"Itu mb, anak pemilik rumah mewah itu meninggal dunia tadi pagi." jawab ibu-ibu itu kemudian berlalu meninggalkan Ayu.
"Anak ? Meninggal ?." tanya Ayu lirih.
Kemudian Ayu tersenyum, membayangkan Dara yang sedang menangisi kepergian anaknya.
"Ayu Ayu sungguh beruntungnya diri mu. Disaat kau kehilangan bayi dalam kandungan mu Dara juga kehilangan anaknya."
"Dan kita sama-sama tidak bisa memiliki kesempatan untuk bersama dengan Dirga. Karena benih cinta Dirga telah pergi meninggalkan kita."
__ADS_1
Hahahaha !
Ayu bermonolog kemudian tertawa dengan sangat kuat dan penuh kemenangan. Kesedihan yang ia rasakan juga dirasakan oleh Dara.
Ia merasa tidak sia-sia ia datang kemari untuk melihat keadaan Dirga dan juga Dara. Ia juga sangat senang karena tidak melihat Dirga ataupun teman-temannya.
Tidak ada ucapan belasungkawa dari tempat Dirga bekerja. Padahal Dirga adalah orang yang mempunyai jabatan tinggi.
Hanya ada satu ucapan bela sungkawa yang baru saja datang lewat sebuah papan bunga dari salah satu perusahaan ternama di kota tersebut.
Namun, tawa Ayu tiba-tiba terhenti saat membaca pengirim bunga papan tersebut adalah Dara.
"Bagaimana mungkin ? Bagaimana mungkin pengirim bunga papan tersebut adalah Dara ?." tanya Ayu.
Dengan cepat Ayu berjalan mengikuti orang-orang yang masuk kedalam rumah mewah tersebut.
Ia ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa orang yang sedang berduka itu adalah Dara. Dan anak yang meninggal dunia tersebut adalah Bara.
Setelah berhasil masuk kedalam, Ayu mendekati wanita yang sedang menangis di samping jenazah seorang anak kecil.
"Semoga ia diterima di sisi-Nya. Dan semoga kau diberi kesabaran." ucap Ayu dengan penuh simpati.
Ayu tersenyum meskipun ia sangat terkejut. Ternyata wanita yang sedang berduka itu bukanlah Dara.
"Dia bukan Dara, lalu dimana Dara sekarang ? Apakah ia dan Dirga sengaja meninggalkan aku ?." batin Ayu sambil mengerutkan keningnya.
Setelah berbasa-basi sebentar ia kemudian pergi meninggalkan rumah tersebut. Namun ia bertanya kepada warga sekitar dimana Dara, pemilik rumah mewah itu sebenarnya.
Namun ia tidak mendapatkan jawaban atas pertanyaannya. Semua orang yang ia tanya tidak tau dimana dan kapan Dara pergi meninggalkan rumah mewah tersebut.
Ayu kemudian melanjutkan perjalanannya untuk mencari Dirga. Ia nekad mengunjungi tempat dimana Dirga bekerja.
Namun lagi-lagi ia harus menelan kekecewaan. Seorang teman Dirga mengatakan bahwa Dirga ditugaskan di luar kota, untuk misi tertentu.
Dan mereka tidak tau kapan Dirga bisa menyelesaikan misi tersebut dan bisa kembali bersama dengan mereka lagi.
__ADS_1
Setelah mendapat penjelasan itu, Ayu kembali ke rumah. Seperti seseorang yang kehilangan harapan. Ayu duduk termenung tanpa melakukan apapun.
Ia benar-benar putus asa, karena tidak bisa menemukan Dirga. Ia hanya melamun menghabiskan waktunya.
Ia lupa akan kondisi tubuhnya yang belum pulih sepenuhnya. Ia benar-benar kehilangan semangat untuk menjalani kehidupan yang masih panjang menunggunya.
Sementara ditempat lain, Dara tengah berusaha untuk lebih ikhlas dalam menjalani kehidupan tanpa Dirga disisinya.
Dengan dukungan dan motivasi dari keluarganya yang begitu tulus, membuat Dara bertahan sampai saat ini.
Disaat ia sedang mengerjakan pekerjaan kantornya, Aldi datang menemui Dara. Dengan sangat ragu Aldi ingin mengatakan sesuatu.
Namun melihat Dara yang sedang sibuk dan fokus dengan pekerjaannya, Aldi mengurungkan niatnya untuk menyampaikan informasi yang baru saja ia dapatkan.
Aldi meninggalkan Dara dan menemui tuan Jonathan yang sedang duduk bersantai sambil menikmati secangkir kopi di teras samping.
"Kakek, apakah Aldi boleh mengatakan sesuatu ?." tanya Aldi dengan sedikit ragu.
"Katakanlah Aldi, jangan kau ragu dan menyimpan sesuatu yang seharusnya tidak kau simpan sendiri." jawab tuan Jonathan sambil tersenyum menatap Aldi.
"Kakek, hari ini tanpa sengaja Aldi bertemu dengan kak Dirga." ucap Aldi.
"Lalu apakah Dirga mengenali mu ?." tanya tuan Jonathan.
"Tidak kek, kebetulan Aldi melihatnya dari jarak yang agak jauh. Sehingga Aldi segera menghindar agar kak Dirga tidak melihat Aldi." jawab Aldi.
"Baguslah, jangan sampai Dirga menemukan keberadaan kita. Meskipun pada akhirnya Dirga dapat menemukan kita." ucap tuan Jonathan.
"Maksud kakek ?." tanya Aldi.
"Aldi, sepandai-pandainya tupai melompat pasti ia akan jatuh juga. Begitu juga dengan kita, suatu saat pasti kita akan bertemu lagi dengan Dirga."
"Tetapi pada saat itu tiba, kakek harap kak Dara telah benar-benar bisa melepaskan kak Dirga. Agar kak Dara tidak tersakiti lagi." jelas tuan Jonathan dengan sedih.
Ia masih tak percaya, bahwa Dara anak kesayangannya yang begitu baik harus tersakiti oleh lelaki yang ia cintai dan juga sahabatnya sendiri.
__ADS_1
Aldi menganggukkan kepalanya, ia juga tidak ingin bertemu dengan Dirga. Ia tidak akan pernah memaafkan Dirga.
Karena Dirga, Dara terluka untuk kedua kalinya. Apalagi Bara harus menjadi korban atas perbuatan Dirga. Bahkan disaat ia belum bisa berbicara dengan lancar.