Sunset Cinta

Sunset Cinta
Bab. 26. Kondisi Aldi


__ADS_3

Tuan Jonathan tertegun mendengar penjelasan bik Yanti. Pembantu rumah tangga yang sudah mengasuh Dara sejak ia masih bayi.


Beliau tidak menyangka bahwa rumah tangga putrinya tidak seperti yang ia pikirkan. Semuanya yang terlihat begitu harmonis dan bahagia hanya semu belaka.


"Apakah Dirga mengkhianati Dara lagi ? jika benar demikian maka Dirga yang seharusnya pergi dari rumah itu karena rumah itu dibangun oleh Dara sebelum mereka bertemu untuk yang kedua kalinya." ucap tuan Jonathan.


"Tetapi semua itu belum ada buktinya tuan, dan kita tidak tau apa sebenarnya penyebab non Dara pergi meninggalkan rumah."


"Bisa saja apa yang dikatakan oleh tuan Dirga benar adanya, kalau kepergiannya karena tugas yang tidak dapat ditinggalkan." ucap bik Yanti.


"Aku akan mencari tau kebenarannya setelah Aldi sadar atau setidaknya ia sudah bisa melewati masa kritisnya." jawab tuan Jonathan.


Tak lama setelah tuan Jonathan diam. Para Suster dan juga Dokter yang menangani Aldi segera berlari masuk ke dalam ruang ICU dimana Aldi di rawat.


"Suster apa yang terjadi ? mengapa Dokter dan perawat masuk dengan terburu-buru ke dalam ruangan Aldi ?." tanya bik Yanti dengan panik.


"Kondisi pasien sangat kritis, kami akan mengusahakan yang terbaik untuk pasien. Tolong Bantu dengan doa." jawab Perawat itu dan langsung ikut masuk kedalam ruang ICU.


Bik Yanti dan juga tuan Jonathan saling pandang. Setelah itu tubuh mereka langsung lemas dan keduanya duduk di bangku dengan menahan air mata.


"Aldi, bertahanlah nak. Jangan kau menyerah sebelum kau temui kak Dara. Kasihanilah bik Yanti nak, apa yang bisa bik Yanti katakan kepada non Dara dan juga den Bara saat mereka kembali nanti."


"Aldi, bertahanlah nak ! kami semua sangat menyayangi mu seperti anak kami sendiri." ucap bik Yanti dengan penuh harap.


"Bik saat ini hanya doa yang bisa kita panjatkan, semoga Aldi bisa segera bangun dan ia dapat bersama kita lagi." ucap tuan Jonathan.


Setelah itu, tuan Jonathan pergi meninggalkan bik Yanti. Yang masih terisak-isak. Sedangkan beliau pergi untuk mendoakan Aldi.


Bik Yanti menunggu dengan perasaan was-was, ia takut jika Aldi tidak dapat diselamatkan karena ia enggan untuk bangun.

__ADS_1


"Non Dara, semoga non Dara segera kembali. Karena hanya non Dara yang bisa membangunkan Aldi."


"Non cinta seorang anak terhadap orang yang ia sayangi tidak seperti cinta orang dewasa non. Non Dara cepat kembali ya non." ucap bik Yanti dengan harapan Dara mampu mendengarnya.


Cukup lama tindakan yang dilakukan oleh tim medis untuk menyelamatkan Bara. Bik Yanti berjalan mondar-mandir sambil sesekali menghapus air matanya.


"Keluarga Aldi ." ucap Seorang Dokter yang baru saja keluar dari ruang ICU.


"Iya Dokter saya keluarga Aldi. Bagaimana kondisi nak Aldi Dokter ?." tanya bik Yanti.


"Kami sudah melakukan yang terbaik untuk pasien, namun kondisi pasien semakin lemah. Jika sampai besok pagi belum ada perubahan, maka kami tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Kami serahkan semuanya kepada keluarga pasien." jelas sang Dokter.


"Dokter apa maksud Dokter?." tanya bik Yanti dengan serius.


"Bisa dikatakan jika sampai besok pagi pasien belum juga bangun. Maka dapat dikatakan bahwa pasien mengalami koma dan kami tidak tau hal itu sampai kapan."


"Dalam diri pasien sangat enggan untuk bangun. Sehingga alat apapun yang kami gunakan untuk menolong pasien seolah tak berfungsi."


"Pasien bisa mendengar semua yang kita ucapkan. Jadi dia akan mengerti apa yang kita katakan meskipun ia tidak merespon." jelas sang Dokter.


"Baiklah Dokter saya mengerti." jawab Bik Yanti dengan suara bergetar.


"Baiklah saya permisi, dan anda boleh masuk kedalam tetapi jangan membuat kegaduhan. Hanya satu orang saja yang diperkenankan untuk masuk." jelas sang Dokter kemudian berlalu meninggalkan bik Yanti.


Dengan langkah yang lemah, bik Yanti masuk ke dalam ruangan ICU tempat Aldi dirawat. Terlihat Aldi terbaring lemah dengan banyak sekali kabel yang menempel di sekujur tubuhnya.


Bik Yanti segera memakai pakaian yang disediakan oleh pihak rumah sakit. Air matanya tak mampu ia bendung.


"Aldi, bangun nak jangan buat bik Yanti takut dan sedih begini. Nanti jika non Dara datang apa yang bisa bik Yanti katakan ?."

__ADS_1


"Aldi jika ada sesuatu janganlah kau pendam sendiri, ceritakan kepada kami nak, bukankah kami adalah keluarga mu sendiri. Jadi jangan menyimpannya sendiri." ucap bik Yanti dengan air mata yang terus saja menetes.


Namun Aldi masih tetap dalam posisinya. Ia sama sekali tidak merespon apa yang dikatakan oleh buku Yanti.


Bik Yanti menggenggam erat tangan Aldi sambil terus mengajaknya berbicara. Tepat tengah malam, bik Yanti berpamitan kepada Aldi.


"Nak, bik Yanti keluar dahulu ya, nanti bik Yanti kesini lagi untuk menemani mu. Bik Yanti harap kau segera bangun dan kita bisa segera pulang ke rumah." ucap Bik Yanti.


Setelah itu ia menatap wajah pucat Aldi, dan beliau segera keluar untuk mencari tuan Jonathan.


Namun saat beliau keluar, terlihat tuan Jonathan sedang tertidur sambil duduk, karena tidak tega bik Yanti mengurungkan niatnya untuk berbicara dengan tuan Jonathan.


Karena malam semakin larut, bik Yanti kembali masuk kedalam ruangan Aldi setelah ia mengisi perutnya. Ia memaksakan diri untuk tetap menjaga Aldi meskipun sebenarnya ia tidak tahan dengan udara dingin di ruangan itu.


Tepat jam 4 pagi, ponsel bik Yanti berdering, beliau terlalu lelah sehingga tidak menyadari ada seseorang yang menghubunginya.


Beruntung tuan Jonathan mendengar ada suara dering ponsel. Perlahan beliau masuk dan segera mengangkat panggilan tersebut.


"Halo bik ini Dara, bagaimana keadaan Aldi ?." tanya Dara dengan sangat khawatir.


"Cepatlah datang di rumah sakit kasih ibu, Aldi masih berada di dalam ruang ICU." jawab tuan Jonathan dengan singkat.


Dara membeku mendengar jawaban dari ponselnya. Dengan cepat ia melajukan mobilnya menuju rumah sakit kasih ibu.


Setelah sampai dengan cepat ia menuju ke ruang ICU dengan mengendong Bara dalam dalam pelukannya.


Tepat saat Dara sampai lagi-lagi para petugas medis berlarian masuk kedalam ruang ICU. Tanpa mengatakan apapun mereka segera meminta bik Yanti untuk bangun dan segera keluar karena mereka harus segera menolong Aldi. Pintu ruang itu segera di tutup untuk melakukan tindakan terhadap Aldi.


"Non Dara ! Aldi ... ." ucap bik Yanti sambil bersimpuh di lantai.

__ADS_1


Tak ada kata lagi yang terucap, dari mulut bik Yanti. Hanya air mata yang terus saja mengalir bagaikan anak sungai yang sangat deras.


__ADS_2