Sunset Cinta

Sunset Cinta
Bab. 7. Mengejar Mimpi


__ADS_3

Dara tersenyum sambil membelai rambut anak kecil itu, ia teringat bahwa ia sudah berniat untuk mengakhiri hidupnya hanya karena dikhianati oleh pacar dan juga sahabatnya.


Tapi anak dihadapannya saat ini, tetap mempunyai asa untuk melanjutkan hidup meskipun ia tidak memiliki apa yang dimiliki oleh anak-anak seusianya.


Bahkan untuk makan saja ia harus mengorek-ngorek dari tempat sampah. Sedangkan dirinya, mempunyai banyak kelebihan yang bisa ia gunakan untuk menghasilkan banyak uang.


"Baiklah bolehkah kakak ikut tinggal bersama dengan mu ?." tanya Airin dengan penuh harap.


"Tentu saja boleh, tapi apakah kakak tidak keberatan tinggal di rumah seperti itu ? saya lihat kakak bukanlah orang yang tinggal di sekitar sini seperti kami." ucap anak itu.


"Kakak bukanlah orang sini, kakak baru sampai di tempat ini dan kakak tidak mempunyai tempat tinggal, jika boleh ikut tinggal bersamamu kakak sangat berterimakasih sekali." ucap Dara.


Kemudian anak tersebut tersenyum dan mengajak Dara untuk kembali ke rumah yang lebih layak disebut kolong jembatan.


Setelah berada di dalam, Dara melihat hanya ada sebuah kasur yang sudah tidak layak pakai dan beberapa barang di dalam rumah itu.


"Kau tinggal bersama dengan siapa di tempat ini ?." tanya Dara karena ia melihat ada peralatan dapur sederhana.


"Dulu aku tinggal di sini bersama dengan ayah ibu, setelah ayah menikah lagi kami di usir dari rumah dan tidak mempunyai tempat tinggal."


"Ibu menyulap kolong jembatan ini menjadi rumah kami. Tapi sayangnya beberapa hari yang lalu ibu telah meninggalkan aku seorang diri." ucap anak itu sambil menundukkan kepalanya.


"Kalau boleh tau bagaimana kau bertahan untuk hidup dan mencari makan, dan apa yang menyebabkan ibumu meninggalkan kau seorang diri ?." tanya Airin.


"Ibu meninggal karena sakit, kami tidak mempunyai uang untuk berobat atau sekedar membeli obat di warung. Saat kami sedang mencari rongsokan ibu jatuh dan pingsan sejak saat itu ibu pergi untuk selamanya." jawab anak itu sambil meneteskan air mata.


Dara terenyuh mendengar penjelasan anak itu, yang tetap tegar menjalani takdir meskipun sangat pahit dan menyakitkan.


Ia kemudian memeluk anak itu dengan lembut, ia melihat sendiri bukti dari sebuah pengkhianatan cinta, dimana anak selalu menjadi korbannya.

__ADS_1


Sama seperti anak yang ada di dalam rahimnya, namun ia tidak ingin nasib anaknya akan sama seperti anak kecil dalam pelukannya.


"Sekarang kau jangan sedih lagi, kita akan bersama-sama untuk berjuang menghadapi tantangan hidup ini.


Sekarang kau tidak sendiri lagi, ada kakak dan juga calon adik yang akan menemani perjalan hidup yang masih panjang lagi.


"Baik kak, terimakasih karena kakak mau menerima aku dalam hidup kakak." ucap anak itu dalam tangisnya.


"Seharusnya kakak yang berterima kasih karena kakak diijinkan untuk tinggal di sini. Ngomong-ngomong siapa namamu ?". tanya Dara.


"Aku Aldi." jawab anak itu dengan mengulurkan tangannya.


"Dara, panggil aku Dara." jawab Dara.


Setelah perkenalan singkat itu, akhirnya Dara mempunyai sebuah tempat tinggal dan juga keluarga baru.


Keesokan harinya, Dara dan juga Aldi mencari rongsokan di tempat-tempat sampah atau dijalan. Setelah mendapatkan banyak rongsokan mereka segera menjualnya dan uangnya bisa ia gunakan untuk membeli makanan.


Karena sebanyak rongsokan yang ia dapatkan dengan susah payah hanya dihargai dengan uang yang tak seberapa.


"Aldi bisakah kau membelikan kakak jarum beserta benang ?." tanya Dara setelah mereka selesai makan.


"Baik kak." jawab Aldi.


Setelah beberapa saat, akhirnya Aldi kembali dengan membawa pesanan Dara. Ia melihat Dara sedang membersihkan beberapa bungkus kopi kemasan.


"Kak untuk apa sampah plastik ini ?." tanya Aldi.


"Kakak akan membuat sebuah tas dari bahan ini, agar bisa kita jual dengan harga yang mahal." jawab Dara sambil memilah dan memilih dari bungkus kopi dihadapannya.

__ADS_1


Kemudian Aldi segera membantu Dara, membersihkan dan mengumpulkan bungkus kopi itu sesuai mereknya.


Setelah itu Dara mulai menganyam bungkus kopi itu menjadi sebuah tas yang sangat cantik. Kemudian ia melapisi tas tersebut menggunakan kain dan menjahitnya dan setelah itu ia membuatkan resleting agar tas tersebut sempurna.


Hampir seharian waktu yang dibutuhkan oleh Dara untuk membuat tas tersebut. Setelah selesai ia merebahkan tubuhnya. Karena perutnya terasa tidak nyaman sekali.


"Wah tas buatan kakak bagus sekali sangat cantik seperti kak Dara yang cantik." ucap Aldi dengan tulus.


"Aldi, besok kita bisa menjualnya dan jika cukup kita gunakan uang itu untuk menyewa sebuah rumah yang lebih layak."


"Kau makanlah makanan yang masih ada, agar besok kita mempunyai banyak tenaga untuk melanjutkan perjalanan hidup kita." ucap Dara memberi sebuah semangat untuk Aldi.


Dengan tersenyum Aldi menikmati makanannya, setelah selesai ia berpamitan kepada Dara untuk main sebentar bersama dengan teman-teman yang lain.


Setelah keluar Aldi menuju warung penjual kopi ditepi jalan, ia bertanya kepada sang penjual apakah bungkus kopi yang ada di tempat sampah itu boleh ia minta.


Akhirnya Aldi dapat mengumpulkan banyak sekali bungkus kopi tersebut. Dan ia juga membawa beberapa barang rongsokan yang lainnya untuk dijual esok hari.


Setelah menjelang malam Aldi pulang dengan banyak sekali bawaannya. Dara yang melihat hal itu tersenyum dan segera membantu Aldi menyimpan barang-barang yang Aldi bawa.


"Kak apakah selain bungkus kopi masih ada barang yang bisa kita ubah menjadi barang yang lebih berguna ?." tanya Aldi dengan semangat.


"Tentu banyak sekali barang-barang yang bisa kita daur ulang menjadi barang yang mempunyai nilai jual yang lebih tinggi."


"Karena kita belum mempunyai tempat tinggal dan juga belum mempunyai modal, sementara kita buat yang bisa kita buat dahulu baru setelah itu kita bisa membuat yang lainnya." jawab Dara.


Aldi mendengarkan setiap penjelasan dari Dara. Ia bersyukur bisa bertemu dengan Dara. Banyak ilmu yang ia dapatkan. Bahkan ilmu tersebut ia dapatkan tanpa harus kursus atau sekolah terlebih dahulu.


Setelah malam tiba, mereka berdua menjemput mimpi yang akan mereka wujudkan dalam sebuah kenyataan.

__ADS_1


Karena seseorang bisa bermimpi. Dan orang yang sukses adalah orang yang segera bangun untuk mewujudkan mimpi-mimpinya itu menjadi sebuah kenyataan. Mengubah mimpi menjadi sebuah kenyataan dan sebuah kesuksesan yang sebenarnya.


Begitulah kehidupan ini, banyak hal yang terjadi dalam setiap takdir kehidupan seseorang. Tapi yang harus kita ingat adalah, TAKDIR ITU ADALAH MILIK SANG PENCIPTA, TETAPI DOA DAN USAHA ADALAH MILIK KITA UNTUK MENDAPATKAN SEBUAH TAKDIR YANG LEBIH BAIK.


__ADS_2