Sunset Cinta

Sunset Cinta
Bab. 18. Kelihaian Ayu


__ADS_3

Dara yang mendapatkan rayuan gombal dari Dirga, membuat ia lupa kecurigaannya. Ia melupakannya dan larut dalam kebahagiaan semu yang Dirga berikan.


Seperti tidak pernah terjadi sebuah masalah, keduanya menghabiskan malam penuh cinta. Dan menyambut pagi dengan senyum kebahagiaan.


Hari ini mereka kembali beraktivitas setelah menghabiskan malam bersama. Dirga mengantarkan Dara dan juga Aldi setelah mereka sarapan.


"Kak ada teman Aldi yang menderita penyakit kanker, sementara keluarga mereka sangat tidak mampu. Jadi teman Aldi itu hanya bisa pasrah menahan sakit kepala yang ia derita."


"Menurut Kaka apakah tabungan Aldi sudah cukup untuk biaya pengobatan teman Aldi itu ?." tanya Aldi saat mereka dalam perjalanan.


"Aldi, biaya pengobatan penyakit kanker itu tidak sedikit dan membutuhkan waktu yang lama. Berbeda dengan biaya untuk sakit flu." jawab Dirga.


Dirga teringat bahwa kemarin ia sempat melihat Aldi mengunjungi temannya yang tinggal tak jauh dari rumahnya yang di tempati oleh Ayu.


Ia berfikir bagaimana mencegah agar Dara ataupun Aldi tidak mengunjungi tempat itu lagi, meskipun Dara akan membantu mereka.


Dirga yakin jika Dara pasti akan membantu teman Aldi tersebut. Karena Dirga tau bagaimana sifat Dara.


"Lalu apa yang bisa Aldi lakukan kak ?." tanya Aldi dengan polosnya.


"Kita bantu semampu kita, dengan Doa, dengan memberikan semangat dan dengan bantuan Dana yang kita mampu." jawan Dirga.


"Kak Dirga benar Aldi, jika kita mau membantu seseorang ya kita bantu semampu kita." ucap Dara.


"Iya kak, Aldi mengerti." jawab Aldi.


"Tumben Kaka Dara tidak mengatakan apa-apa hanya mendukung ucapan kak Dirga. Apa memang kak Dara tidak mampu untuk membantu Tio ?." batin Aldi.


"Tumben Dara tidak merespon, apakah pemikiran ku salah atau memang Dara sudah percaya dengan ucapanku sepenuhnya ?. Jika demikian akan jauh lebih baik lagi. Aku bisa mengunjungi Ayu kapanpun aku mau."


"Tetapi walaupun demikian aku tidak boleh lengah dan harus berhati-hati. Karena masih ada kemungkinan jika Aldi akan mengunjungi temannya itu." batin Dirga.

__ADS_1


"Mas hari ini aku pulangnya telat, karena ada pekerjaan yang harus aku selesaikan hari ini juga. Jadi minta tolong jaga Bara sebelum aku pulang ya mas." ucap Dara.


"Iya sayang, kau jangan khawatir. Ada aku dan juga Aldi yang akan menjaga Bara. Kau selesaikan pekerjaan mu itu dan segera pulang dan bergabung bersama kami." jawab Dirga.


"Iya kak, Aldi pasti jagain adik Bara. Nanti sepulang sekolah Aldi langsung pulang untuk menjaga adik Bara." ucap Aldi.


"Terimakasih untuk mas Dirga dan juga Aldi. Dengan demikian aku bisa bekerja dengan tenang." ucap Dara.


Kemudian mereka melanjutkan perjalanan dengan suasana sunyi. Mereka diam dengan pemikiran mereka masing-masing. Hingga Aldi dan juga Dara telah sampai ke tujuan mereka masing-masing.


Dirga memutar mobilnya dan melakukannya menuju ke tempat kerja. Mereka menjalani peran mereka seperti biasanya.


Sementara Ayu, ia masih berkutat dengan pekerjaan rumahnya. Hingga siang ia belum juga selesai mengerjakan semuanya.


"Ah rasanya capek sekali. Biasanya naku semangat karena mas Dirga akan pulang ke sini. Tetapi hari ini aku tidak punya semangat sama sekali."


"Coba saja aku punya pekerjaan yang tetap, aku pasti tidak akan bosan seperti ini. Atau apakah aku harus kembali mencari pekerjaan ?"


"Tetapi apakah mas Dirga mengijinkan jika aku ingin bekerja ? karena ia hanya ingin aku fokus mengurus dirinya saja. Dan semua kebutuhan ku telah ia cukupi."


Setelah itu ia duduk kembali sambil menyalakan TV, namun tetap saja ia merasa jenuh. Kemudian ia bangkit dan mengambil ponselnya. Ia ingin menghubungi Dirga dan menyampaikan keinginannya itu.


Namun Dirga tak juga bisa ia hubungi. Panggilannya tersambung hanya saja Dirga tak mau mengangkatnya.


"Mas Dirga dimana sih dan masih ngapain kok telpon saja gak sempat angkat." ucap Ayu sambil cemberut.


"Mas Dirga ada disini. Dari pada cuma telpon bagaimana jika sampaikan kepada orangnya langsung ?." ucap Dirga yang tiba-tiba muncul di belakang Ayu.


"Mas Dirga!." ucap Ayu.


Ia langsung masuk ke dalam pelukan Dirga. Aroma tubuh Dirga membuat Ayu merasa damai sehingga ia lupa akan semuanya.

__ADS_1


"Kok mas Dirga ada di sini ? memangnya mas tidak masuk kerja ?." tanya Ayu.


"Mas masih kerja, tetapi karena ada yang tertinggal di sini jadi mas datang untuk mengambilnya." jawab Dirga apa adanya.


"Ada yang ketinggalan atau mas kangen Ayu ?." tanya Ayu dengan ekspresi menggoda.


"Semuanya benar. Ada yang tertinggal dan mas juga mau makan yang spesial dari mu." jawab Dirga dengan langsung mengangkat tubuh Ayu masuk ke kamarnya.


"Mas mau makan ? apakah mas tidak mendapatkannya dari Dara ?." tanya Ayu sambil mengimbangi gerakan Dirga.


"Jika bisa makan semuanya mengapa tidak ?." jawab Dirga.


"Mas Dirga sangat luar biasa, dua wanita sekaligus tetapi mas masih kuat dan tak kenal lelah." jawab Ayu.


"Mas aku ingin mencari pekerjaan biar aku bisa mengisi waktu luang di saat mas sedang bekerja atau sedang bersama dengan Dara." ucap Ayu disela-sela permainan mereka.


"Bekerja ? apakah semua yang aku berikan tidak cukup ?." tanya Dirga.


"Cukup mas, hanya saja aku juga ingin mempunyai aktivitas lain agar aku tidak jenuh. Jika ada mas Dirga kegiatan dikasur seperti ini sangat menyenangkan."


"Tetapi jika mas tidak ada, aku hanya bisa manyun di atas kasur dan itu sangat membosankan mas." jawab Ayu apa adanya.


"Tapi aku tidak mengijinkan mu untuk bekerja. Kau harus tetap di rumah. Jika aku pulang sewaktu-waktu dan aku menginginkan mu kau selalu bada dan selalu siap." jawab Dirga.


"Mas Dirga egois sekali. Aku cuma ingin bekerja bukan untuk yang lainnya." jawab Ayu.


Dirga langsung menghentikan aksinya. Ia menatap Ayu kemudian ia bangkit dan tak berniat menyelesaikannya.


"Mas tanggung, memangnya mas g sakit jika gantung begini ?." ucap Ayu sambil meraih tangan Dirga yang hendak berlalu.


"Kau menghilangkan selera makanku dengan ucapan-ucapan mu itu. Bagaimana aku bisa fokus jika kau masih saja banyak bicara." jawab Dirga asal.

__ADS_1


Namun bukan Ayu namanya jika, ia tidak bisa menaklukkan Dirga. Dengan cepat ia memimpin permainan lagi. Ia menikmati milik Dirga seperti sedang menikmati sebuah permen.


Kelihaian dan keahliannya dalam hal itu, membuat Dirga tak mampu untuk menolaknya. Ia kembali terbuai dan mengikuti permainan panas mereka yang hampir saja gagal karena Dirga malas mendengar permintaan Ayu yang membuatnya kurang senang.


__ADS_2