Sunset Cinta

Sunset Cinta
Bab. 6. Meninggalkan Desa


__ADS_3

Belum sempat Dara menata hatinya, bendahara sekolah datang untuk meminta Dara segera mengembalikan uang yang ia pinjam. Hal itu beliau lakukan karena uang tersebut akan digunakan untuk biaya ujian para murid.


Tanpa bisa menolak atau mengatakan yang sebenarnya, Dara di paksa menjual barang berharga miliknya dan juga menyerahkan uang tabungannya yang selam ini ia simpan demi masa depan.


Dengan terpaksa Dara memberikan semuanya bahkan sampai HP miliknya pun sampai terjual.


Seakan penderitaan Dara belum berakhir, warga datang mengusir Dara dari Desa tersebut karena ia terbukti hamil di luar Nikah.


"Usir Dara dari Desa ini pak Lurah, ia tidak pantas menjadi salah satu warga di sini apalagi sebagai seorang Guru."


"Dasar Gadis ******, dengan pandai ia menyembunyikan lelaki di malam itu, tai ia tidak akan bisa menyembunyikan bayi di dalam rahimnya."


"Bagaimana bisa seorang Guru hamil di luar nikah, sungguh sangat memalukan dan ia telah mencoreng nama baik sekolah yang selama ini kita banggakan."


"Dara gadis cantik yang hamil di luar nikah dan parahnya lagi kini ia terlilit hutang ratusan juta bahkan sampai miliaran rupiah. Makanya kalau kalau mau ditiduri lelaki ya seharusnya dapat bayaran, eh ini malah bayar. Dasar gadis bodoh."


"Usir Dara sekarang juga !"


Teriakan para warga, sambil melempari Dara dengan benda-benda yang ada di tangan mereka.


Dara hanya bisa pasrah dengan apa yang sudah menimpanya. Air matanya tak berhenti mengalir. Rasa sakit akibat luka dan lebam akibat di lempari oleh warga tak ia hiraukan lagi.


Ia berjalan tak tentu arah, dengan langkah yang terseok-seok. Ia berjalan meninggalkan Desa yang selam ini ia jadikan tempat untuk mengabdi.


Sementara Andi dan juga sang nenek tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka ditahan oleh para warga agar tidak memberikan pertolongan apapun untuk Dara.


Hanya Doa yang bisa mereka panjatkan agar Dara mendapatkan sebuah pertolongan dan bertemu dengan orang yang baik.


Begitulah hukum masyarakat yang terkadang lebih kejam dari hukum yang berlaku di sebuah Negara. Mereka menghakimi dan menghukum seseorang tanpa mencari bukti kebenaran yang terjadi.


Sementara Dara yang terus berjalan meninggalkan Desanya, kini telah berada di pinggiran kota. Dengan langkah yang terseok-seok ia terus melangkah meskipun tak tau harus kemana.


Karena ia sudah tidak bisa lagi berjalan, akhirnya Dara jatuh ketanah karena lelah dan sakit di sekujur tubuhnya. Ayu sengaja datang untuk menemuinya. Dengan angkuh Ayu menatap wajah Dara yang penuh luka dan sangat menyedihkan.

__ADS_1


"Dara segera katakan dimana berkas-berkas hutang mu kepada Sekolah, aku harus segera mengambilnya dan menyelesaikan semuanya." tanya Ayu dengan menyilangkan tangannya.


"Sudah aku buah bersama persahabatan kita." jawab Dara dengan suara yang berat.


"Persahabatan ? sejak kapan kita menjalin persahabatan ?. Aku tidak pernah menganggap mu sebagai seorang sahabat."


"Sekarang katakan dimana kau menyimpan berkas-berkas itu !." ucap Ayu sambil mencengkram wajah Dara dengan kuat.


"Bukankah sudah aku katakan, aku sudah membuangnya." jawab Dara sambil menahan rasa sakit karena cengkraman Ayu.


"Dasar bodoh !." ucap Ayu sambil mendorong wajah Dara dengan sangat kuat.


Dara yang memang kondisinya sedang terluka, tidak bisa menahan kekuatan Ayu, ia terjatuh ke jalanan dengan kepala yang membentur tanah.


Belum puas melampiaskan amarahnya, Ayu kembali menendang perut Dara dengan bengisnya, namun dengan sekuat tenaga Dara melindungi anaknya.


Meskipun ia tidak menghendaki anak tersebut, tetapi ia tau anak tersebut tidak bersalah apa-apa.


Hingga para satpol PP datang merazia para gelandangan. Dara yang sudah tak kuat lagi akhirnya pingsan saat dihampiri oleh salah satu satpol PP.


Dengan kasar petugas mengangkat tubuh Dara yang lemas seperti tak bertulang tersebut. Setelah sampai di kota tubuh Dara dibawa ke sebuah klinik untuk mendapatkan perawatan.


Meskipun ia terbukti bukan sebagai seorang gelandangan, Dara tetap harus mengikuti semua prosedur yang ada.


Setelah itu Dara dibebaskan. Namun meskipun ia sudah bebas ia tak tau harus pergi kemana lagi.


Dalam keadaan putus asa, ia berfikir bahwa jika ia meninggal itu akan lebih baik. Dengan langkah yang lunglai Dara mencoba mengkhahiri hidupnya.


Namun tindakannya itu dihalangi oleh beberapa orang yang kebetulan melintas di jalan raya.


"Jika kau ingin mati jangan libatkan orang lain. Dengan kau mengakhiri hidup mu dijalan raya seperti ini orang lain akan mendapatkan hukuman karena kematian mu." ucap salah seorang warga yang menahan tubuh Dara yang hendak menabrakkan dirinya pada sebuah mobil yang lewat.


"Kematian bukanlah akhir dari segalanya, kau coba lihatlah anak-anak gelandang yang tidak mempunyai apa-apa sekalipun masih memilih untuk bertahan hidup. Mengapa kau malah memilih untuk mengakhiri hidup."

__ADS_1


"Yakinlah bahwa setiap masalah itu pasti ada jalan keluarnya. Sekarang pergilah dan renungkan semua kejadian yang kau alami agar kedepannya kau bisa lebih kuat lagi."


Berilah kata-kata para warga yang mencoba menyelamatkan Dara dari percobaan bunuh diri. Dara akhirnya berjalan menyusuri jalan yang ada didepannya hingga ia berhenti di sebuah taman kota.


Dara duduk disebuah taman kota seorang diri sambil merenungi masalah yang menimpa dirinya.


Ia pun merasa lapar karena sudah beberapa hari ia tak mendapatkan makanan yang layak, kini perutnya berbunyi sebagai bentuk peringatan bahwa tubuhnya perlu mendapatkan asupan.


Dara memandangi sekitar taman, berharap menemukan sesuatu yang bisa ia makan sekedar mengganjal perutnya.


Akhirnya pandangannya tertuju pada sebuah tempat sampah. Ia berharap ada sisa makanan yang bisa ia dapatkan.


Dengan terpaksa Dara mengorek tempat sampah itu dan akhirnya ia mendapatkan apa yang ia cari, namun lagi-lagi nasib belum berpihak kepadanya.


Makanan yang susah payah ia dapatkan, direbut seseorang yang juga bernasib sama seperti dirinya. KELAPARAN.


Tapi Dara hanya bisa mengalah karena yang merebut makanannya adalah seorang anak yang mungkin jika bersekolah masih duduk di bangku SD.


"Apakah kakak juga lapar ?." tanya anak itu dengan ragu-ragu.


"Makalah jika kau memang masih lapar." jawab Dara dengan tersenyum.


Anak itu langsung memakan makanan yang ada ditangannya sambil sesekali melirik ke arah Dara.


"Kakak tinggal dimana ?." tanya anak itu.


"Entahlah kakak belum mempunyai tempat tinggal." jawab Dara dengan jujur.


"Jika kakak tidak keberatan, kakak boleh tinggal bersama kami." ucap anak itu menawarkan jasa.


"Memangnya dimana kau tinggal ?" tanya Data.


"Disana." jawab anak itu sambil menunjukkan sebuah jembatan yang ditutupi oleh beberapa kardus sehingga menyerupai rumah-rumah anak-anak yang sedang bermain.

__ADS_1


__ADS_2