Surga Yang Dikejar

Surga Yang Dikejar
Sahabat


__ADS_3

Suara gesekan dahan pohon akibat angin yang bertiup pada pagi hari membuat setiap mahasiswa menggigil karena kedinginan. Tidak terlalu dingin seperti di daerah Salatiga, daerah kelahirannya. Membuat Zulfa bersyukur.


Zulfa meniup tangannya supaya menyalurkan kehangatan, naik motor pagi-pagi membuat badannya menggigil.


"Selamat pagi Fa!!" teriak seorang wanita dari belakang tubuh Zulfa.


"Desi, apa-apaan kamu membuat aku kaget. Gimana kalau nanti terjadi hal buruk sama aku"


"Halah santai aja, kamu kan ada aku yang selalu siap menolongmu"


Zulfa menghembuskan nafasnya kasar, wanita yang berada didepannya sekarang ini adalah sahabat Zulfa dari awal masuk kuliah. Mempunyai rambut yang lurus kemerah-merahan kemudian mata yang sipit, kulit putih seperti susu, dan hidung yang mancung.


Bibirnya yang merah membuat setiap pria terpesona, dan dikedua pipinya diberi makeup tipis untuk menambah sensasi cantik. Desi adalah wanita keturunan China Indonesia.


"Bang aku pesen bakso sama teh hangat" teriak Desi memesan makanan.


"Kamu pagi-pagi udah dikantin aja dirumah belum sarapan?"


Zulfa menggeleng tanda tidak, pagi ini memang Zulfa sudah berada di kantin kampus. Tadi pagi saat waktu Zulfa ingin sarapan, bundanya bilang jika bahan makanan sudah habis jadi Zulfa harus sarapan diluar.


"Kamu udah revisi?" tanya Desi kemudian mengambil kerupuk di toples.


"Udah aku tadi malam lembur sampai jam 1 pagi", ucap Zulfa kemudian meminum teh hangat yang tadi dia pesan. "Kalau kamu?"


Desi hanya nyengir kuda, kemudian menggeleng tanpa dosa.


"Kamu santai banget ya Des".


"Gini Fa kukasih tahu, hidup itu jangan dibawa pusing atau terlalu tegang nikmati aja... Santai kaya dipantai"


"Kalau terlalu santai nanti jadi bahaya" sindir Zulfa.


Desi hanya memajukan bibirnya pertanda kalau dia sedang ngambek. Putri Zulfa Az-Zahra yang biasanya dipanggil Zulfa adalah teman pertama bagi Desi. Bukan teman tetapi seorang sahabat, untuk pertama kalinya dirinya memiliki sahabat setulus Zulfa.


Dibandingkan dengan para temannya dulu yang hanya berteman karena uang saja tetapi Zulfa berbanding terbalik, dia tipe wanita yang menyukai kesederhanaan.


Desi bersandar tangan kemudian menatap Zulfa secara lekat, ternyata sahabatnya ini memiliki paras yang ayu. Kulitnya putih walaupun tidak seputih Desi matanya bulat seperti orang Indonesia lainnya dengan celak yang menghiasi dibawahnya, alisnya tipis dan bibir Zulfa yang mungil tanpa ada lipstik yang menempel di bibirnya.


"Cantik" guman Desi terkagum.


"Apanya yang cantik?"


"Ini baksonya... makasih ya bang" ucap Desi berterima kasih kepada abang bakso kemudian mendapat anggukan darinya.


Suara bisikan terdengar diantara mereka, Desi yang mendengar para wanita yang berada dikantin membisikkan seorang pria membuang nafas kesal.


"Dua pangeran kampus udah datang"


Zulfa hanya terkekeh menatap Desi yang sebal, para wanita disini sedang membisikan Hendra dan Dani pria yang terkenal tampan, ramah, cerdas dan soleh dikaum para dosen, wanita, dan penjual disini. Tolong garis bawahi kata soleh berlaku hanya untuk Hendra sedangkan Dani jauh dari kata itu.


"Assalamu'alaikum" salam Hendra kemudian duduk disamping Desi dengan jarak beberapa senti hanya untuk memisahkan mereka kemudian diikuti oleh Dani.


"Wa'alaikumusalam" ucap Zulfa membalas salam dari Hendra kemudian mengeser kursi yang dia duduki sedikit menjauh dari Dani.


"Baru sarapan?", tanya Hendra mengangkat tangan mengisyaratkan bahwa dirinya memesan makanan.

__ADS_1


"Kamu mau pesen apa Dan"


"Aku soto ayam"


"Oke"


"Kalian baru mau pesan makanan padahal kelas akan segera mulai" ucap Desi sambil mengelap mulutnya.


"Lapar Des, gue ngak bisa konsen belajar kalau ngak makan dulu" bela Dani yang sekarang sedang main game online di hpnya.


"Terserah lah, aku sama Zulfa mau ke kelas".


"Tunggu kita ngapa sih kaya susah amat", tambah Hendra.


Zulfa menarik bibirnya untuk tersenyum, mendengar suara pria yang dia kagumi sejak bersekolah di Madrasah Aliyah membuat semangat Zulfa membara dipagi hari.


Zulfa mencintai pria yang sedang duduk didepannya, melanjutkan kebiasaan Hendra bertengkar dengan Desi hanya masalah sepele. Zulfa tahu kedua sahabatnya itu hanya bergurau, mereka pura-pura bertengkar agar suasana tidak terlalu canggung.


Mereka berempat bersahabat, awalnya Zulfa yang mengenal Dani kemudian Desi dan Hendra yang merupakan sahabat karib Dani sejak kecil dan entah mengapa mereka bisa dekat sampai sekarang.


Saat Zulfa berkenalan dengan Hendra membuat jantung Zulfa tidak berhenti berdetak dengan kencang, dia harus sebisa mungkin menyembunyikan rasa sukanya.


Mencintai pria itu dalam diam, dan hanya bercerita kepada Tuhan-Nya lewat sepertiga malam. Apalagi mereka sekarang bersahabat membuat cinta Zulfa mustahil untuk diungkapkan.


Zulfa tersadar dari lamunannya saat tepukan Desi yang mendarat dipundaknya. "Fa ayo sebentar lagi kelas kita di mulai"


Aku mengangguk kemudian berdiri dan mengambil tasku " Aku duluan ya Ndra, Dan"


"Iya hati-hati"


"Wa'alaikumusalam" jawab mereka bersamaan.


Dani membuang nafasnya kesal, "Bener kan kataku setelah mengenal lo kalau dia pamit pasti nama lo yang didepan padahal gue temennya dari dulu".


"Jangan fikiran negatif terus Dan"


"Hah, kayaknya dia ngak suka deh sama gue" sambung Dani kemudian melanjutkan memakan sotonya.


°°°


Zulfa memasuki rumahnya dengan rasa yang lelah, dia kembali kerumah setelah mampir di rumah Desi dan bermain. Dia melempar tas ke sofa kemudian duduk disamping ayahnya.


"Ayah udah pulang dari kantor?, sejak kapan".


"Sejak tadi jam 4" ucap Faqih mencium kening anaknya.


"Zulfa kangen... ayah tugas diluar kota terus sampai lupa sama Zulfa".


"Siapa yang bilang kalau ayah lupa sama kamu?, ayah ngak bakalan lupa sama kamu Fa. Kamu kan anak tersayang ayah sama bunda".


Zulfa hanya mengangguk kemudian memeluk manja ayahnya. Zulfa seperti memiliki dua sifat yang berbeda, sifat yang manja di depan keluarganya dan sifat yang mandiri didepan orang lain.


"Abi kenapa milih jadi polisi?" tanya Zulfa yang masih memeluk ayahnya dengan manja.


"Kenapa ya?" ucap Faqih dengan gaya seperti orang yang sedang berfikir.

__ADS_1


"Ayah dulu memang suka polisi dari kecil dan semakin ayah beranjak dewasa ayah berfikir ingin menegakkan hukum. Ayah jengkel lihat masyakarat yang selalu melanggar hukum".


"Terus gimana ayah ketemu sama bunda?"


Faqih kemudian memeluk anaknya dan mengusap kepala Zulfa yang masih tertutup hijab " Ayah dulu ketemu bundamu saat mau tugas ke papua, bundamu sedang meluk kakaknya saat itu. Dan entah mengapa ayah merasa detak jantung ayah berpacu dengan cepat".


"Berarti ayah cinta pada pandangan pertama dong".


"Mungkin iya, dulu ayah sempat mengira kalau bundamu itu memeluk suaminya. Dan ayah sempat berfikir menunggu bundamu janda" tawa Faqih yang mulai pecah "Setelah ayah selidiki ternyata dia adalah kakaknya bundamu, dan dia satu tugas sama ayah jadi kenalan dan ayah minta pamanmu buat deketin ayah sama bunda".


Zulfa meringis mendengarkan cerita dari ayahnya ini, antara kagum dan tidak percaya kemudian mengalihkan perhatiannya kepada sosok wanita yang hampir berumur sama dengan ayahnya.


"Fa makan dulu, bunda buatin nasi goreng sosis".


"Iya bunda, nanti Zulfa makan setelah dengerin cerita ayah".


"Cerita apa?" tanya Aulia kepo.


Zulfa hanya tersenyum manis kearah bundanya kemudian memberikan isyarat buat Faqih untuk melanjutkan kisah cinta mereka.


"Terus ayah deketin bunda walaupun beberapa kali ditolak ayah enggak menyerah, dan akhirnya bunda mu luluh pada  pesona dan ketampanan ayah mu ini kemudian kita menikah".


"Wah diusia berapa kalian menikah?" tanya Zulfa antusias.


"Kalau ayah diusia 30 sedangkan bunda mu 26 tahun".


"Kalian kok romantis banget, Zulfa jadi iri".


Aulia kemudian memberikan nasi goreng itu kepada suaminya lalu putrinya Zulfa. Faqih lalu memakan nasi goreng itu setelah berdoa, Faqih mengakui jika masakan istrinya yang paling terbaik.


"Zulfa nanti kamu pengen punya suami polisi?" tanya Aulia kemudian memakan nasinya. Zulfa menelan nasinya kemudian menatap bundanya.


"Zulfa tidak tahu"


"Kok tidak tahu, kalau kamu mau nanti ayahmu kenalin sama anak temennya".


Faqih yang mendengar itu menggeleng " Zulfa tidak bakal aku nikahkan sama polisi, aku tidak yakin dengan sifatnya yang terlalu manja. Aku tidak yakin dia akan sanggup ditinggal suaminya".


"Faqih kamu bicara apa, jangan remehkan anak kamu" sanggah Aulia tidak suka.


"Hah!, Kamu bakalan ayah jodohkan sama seorang ustadz supaya ayah tenang, jika anak ayah diserahkan dengan orang yang dapat mendidik anak ayah tentang agama".


Zulfa hanya terdiam menghabiskan makanannya, memakan sosis goreng itu sampai habis kemudian meminum air putihnya. Jujur Zulfa tidak suka jika kedua orang tuanya membahas tentang perjodohan.


"Ayah, bunda... Zulfa sudah selesai makan. Zulfa pamit ke kamar mau mandi" ucapnya meninggalkan kedua orang tuanya yang berada di ruang tamu.


"Zulfa sayang" panggil Aulia lembut dan tidak ada jawaban. "Lihat itu Qih anak kamu ngambek".


"Biarkan saja, dia akan mengerti. Kamu terlalu memanjakan dia".


"Tidak kamu aja yang terlalu keras seperti kakakku".


"Tapi aku lebih tampan dari kakakmu"


"Kamu terlalu percaya diri mas" ucap Aulia kemudian mereka tertawa.

__ADS_1


__ADS_2