
Suara teriakan anak kecil membuat Zulfa menghentikan mengangkat barang yang berada di dalam mobilnya. Senyum Zulfa mengembang saat mereka berlari dan saling kejar satu sama lain. Yusuf memperhatikan Zulfa kemudian mengangkat kardus yang berisi pakaian untuk dipindahkan kedalam rumah.
"Kamu sesenang itu melihat anak-anak?".
Zulfa mengamati kearah sumber suara "Iya, aku suka melihat mereka tertawa. Seperti tidak ada beban hidup".
"Apakah kamu mau punya satu?".
"Bisakah?".
"Iya, nanti malam kalau kamu mau aku bisa ajarin".
Zulfa terdiam, dia tidak tahu maksud dari suaminya. Zulfa kemudian mengikuti Yusuf memasuki rumah baru mereka. Rumah yang sederhana dan memiliki desain moderen.
"Fa, kamu buat sarapan dulu. Biar ini aku taruh didalam kamar" ucap Yusuf kemudian naik keatas.
"Mau buat apa hari ini?, sup kemungkinan enak".
Zulfa kemudian berkutik dengan alat-alat dapur. Satu persatu dia memotong dengan hati-hati menyiapkan semua bumbu yang sesuai dengan apa yang diajarkan oleh bundanya. Saat semua telah selesai, Zulfa lupa membuat bawang goreng kesukaannya. Dia kemudian mengupas kulit bawang merah dengan hati-hati.
"Zulfa" panggil Yusuf.
"Aww" ringis Zulfa saat jarinya tidak sengaja tergores oleh pisau.
Yusuf yang kaget melihat tangan istrinya berdarah kemudian memegang erat tangan Zulfa lalu membilasnya di kran dapur. Yusuf juga meniup jari Zulfa beberapa kali berharap rasa sakit itu hilang. Pipi Zulfa memerah sempurna saat Yusuf mencium jarinya beberapa kali.
"Sakit nggak?".
"Udah enggak kok mas".
"Serius?" tanya Yusuf dan mendapatkan anggukan dari Zulfa.
Zulfa kemudian menyelesaikan kegiatan memasaknya dengan dibantu oleh suaminya terkadang Yusuf juga menjahili Zulfa untuk menghilangkan kecanggungan diantara mereka.
Semua makanan telah disiapkan di meja makan, suasana sepi tanpa obrolan membuat ruang makan itu terlihat sunyi dan mencengkam. Yusuf menatap istrinya kemudian meletakkan gelas yang tadi ia minum.
"Fa" panggil Yusuf lembut.
"Iya mas, ada apa. Mas mau tambah lagi atau mau Zulfa ambilkan minum?".
__ADS_1
"Tidak, hari ini kita ke danau yuk".
"Danau?".
"Iya sambil lihat-lihat daerah sini, sekalian aku nunjukin desaku Fa".
Zulfa mengangguk menyetujui permintaan suaminya kemudian dia pamit untuk membersihkan meja makan dan mencuci piring yang tadi mereka gunakan. Setelah kepergian Zulfa, Yusuf bersorak pelan karena dia tidak menyangka bahwa istrinya itu menerima ajakannya.
°°°
Setelah solat asar berjamaah, Yusuf dan Zulfa bergegas untuk pergi ke danau. Mereka memang sepakat untuk pergi ke danau saat sore hari, mungkin karena sinar matahari tidak terlalu panas. Sepanjang jalan banyak warga yang menyapa mereka, Yusuf dan Zulfa membalas dengan senyum ramah.
Tidak hanya itu, para anak-anak yang menggembala sapi mulai pulang untuk mengistirahatkan sapi yang mereka gembalakan. Zulfa tersenyum ramah saat para wanita yang mengendong rumput berjalan pulang tanpa alas kaki sedangkan alas kaki disisipkan diantara tumpukan rumput yang mereka bawa.
Jalan yang belum di aspal menambah kesan desa ini semakin asri. Terkadang Zulfa hampir jatuh karena menginjak batu.
"Sini, pegang tanganku agar kamu nggak jatuh" ucap Yusuf kemudian Zulfa merangkul suaminya sampai di danau.
Rasa kagum memenuhi diri Zulfa, dia tidak berhenti mengucapkan syukur untuk Allah yang menciptakan alam seindah ini. Yusuf kemudian mengajak Zulfa berkeliling melihat sekitar danau dan akhirnya berhenti di ayunan dengan tali rotan yang kuat dan sekelilingnya ditempeli tumbuhan rambat.
"Duduk sini Fa" ucap Yusuf sambil menepuk tempat disampingnya.
"Aku sudah menantikan hari ini akan datang, duduk berdua dengan perempuan yang aku cintai" ucap Yusuf lalu memandang Zulfa sekilas.
"Menghabiskan waktu sampai matahari terbenam, aku dulu pernah berfikir pasti asik mengajak anak-anak bermain disini".
"Kamu tahu Fa? kamu wanita pertama yang aku ajak kesini".
"Masa sih mas?" tanya Zulfa penasaran.
Yusuf yang mendapat respon dari istrinya menatap Zulfa kemudian tertawa, ada kebahagiaan di hatinya saat istrinya itu merespon perkataannya "Kamu nggak percaya?".
Geleng Zulfa "Emm.. wajah mas Yusuf meragukan, mungkin aku percaya mas Yusuf nggak bakal pacaran tetapi saat ta'aruf masa mas nggak membawa satu pun cewek kesini?".
Cubitan gemas di hidung Zulfa diberikan oleh Yusuf "Kamu yang pertama dan terakhir bagiku".
Zulfa menjulurkan lidahnya tidak percaya dan mendapat cubitan di pipinya. Mereka berdua mengabiskan waktu dengan bercerita dan pulang sebelum matahari terbenam.
"Fa, naik ke punggung ku".
__ADS_1
"Ha? tidak usah mas, lagian rumah mas kan deket, pasti sebentar lagi sampai".
"Kamu kecapekan Fa, sini aku gendong".
Zulfa hanya mengangguk kalah, dia kemudian naik ke punggung suaminya. "Mas Yusuf kuatkan?".
"Kamu meragukan seberapa kuatnya diriku?".
"Tidak" geleng Zulfa cepat "Maafkan aku merepotkan mas Yusuf".
"Tidak masalah Fa, kamu istriku".
Zulfa semakin mengeratkan pegangannya, entah mengapa dirinya merasa nyaman. Awalnya dia menolak dengan pernikahan ini tetapi dengan seiringnya waktu Zulfa sanggup menerima keadaan.
Matahari mulai terbenam, Yusuf dan Zulfa tidak jarang mendapat godaan dari orang yang lewat atau sekedar berjalan bersama setelah pulang dari ladang.
"Aduh, pengantin baru kelihatan mesranya".
"Hehe, iya bu. Maaf ya bu istri saya manja banget dia kecapekan sedikit minta di gendong" ucap Yusuf tidak sepenuhnya berbohong sedangkan ibu itu hanya tertawa dan memakluminya. Setelah ibu itu pamitan, Zulfa mencubit dada Yusuf dan korban itu hanya meringis menahan sakit yang tidak seberapa.
"Mas Yusuf apaan sih, Zulfa malu lah".
"Kenapa harus malu, lagian benar kan" kata Yusuf "Nanti malam kita pergi ke kota yuk".
"Buat apa mas?".
"Jajan".
"Ayo, nanti beli sate ya sama martabak".
Yusuf membenarkan posisi gendongannya "Nanti kalau kamu tambah gendut gimana?, sekarang aja udah berat banget".
"Mas..!!" teriak Zulfa tidak suka.
"Aduh kupingku sakit, kamu kalau teriak kencang banget sih"
"Lagian mas Yusuf nyebelin" ucap Zulfa kemudian menenggelamkan wajahnya di pundak Yusuf. Yusuf yang menyadari itu tersenyum, jantungnya berdetak kencang perasaan bahagia memenuhi hatinya. Merasakan Zulfa sedekat ini membuat dia tidak lagi resah akan hidupnya.
"Terkadang orang-orang berfikir, jika setelah menikah akan menjadi miskin karena beban yang bertambah. Tetapi setelah kamu datang, aku tidak lagi takut miskin Fa, karena Allah memberikan kekayaan berupa dirimu" batin Yusuf menyusuri jalan berbatu dengan rasa syukur. Setiap langkah, setiap kenangan, setiap waktu bersama Zulfa dia akan selalu ingat.
__ADS_1