Surga Yang Dikejar

Surga Yang Dikejar
Akhir Cerita


__ADS_3

"Fa maafkan aku" ucap Yusuf sedangkan Zulfa memberikan tatapan dingin seperti dulu, saat dimana dia menghianati kepercayaannya.


"Duduk mas, aku mau bicara"


Dengan langkah ragu Yusuf menghampiri sofa yang berada didepan Zulfa, dia menunggu istrinya untuk berbicara.


Zulfa memajukan kertas itu mendekat kearah suaminya "Aku minta cerai".


Deg!


Jantung Yusuf terasa berhenti, dia kaget mendengar permintaan dari istrinya itu "Tarik kata-kata mu Fa" ucap Yusuf yang mendapat gelengan dari Zulfa.


"Kubilang tarik kata-kata mu!"


"Untuk apa mas, aku capek.. aku capek terus menerus kamu sakiti. Aku percaya sama kamu tetapi kamu malah menghianati kepercayaan yang sudah aku beri"


"Kamu kekanakan Fa, ini cuma masalah sepele"


"Masalah sepele kamu bilang?" tawa Zulfa yang seolah-olah dia buat "Meninggalkan istrimu yang sedang hamil saat hujan deras diluar sana kamu bilang ini masalah sepele, alhamdulillah Allah masih memberikan keselamatan terhadapku bagaimana jika tidak? apa mas nggak berfikir seberapa khawatirnya aku terhadap anakku?" ucap Zulfa yang tidak kuat menahan tangisannya.


"Fa aku sudah bilang, aku minta maaf" ucap Yusuf lalu mendekat kearah Zulfa seangkatan Zulfa dia berusaha melepaskan genggaman suaminya.


"Hiks.. hiks.. mas lepaskan aku" pintanya.


Yusuf tidak menggubris perkataan istrinya malahan dia semakin mempererat pelukannya. Tangisan dan tingkah Zulfa yang meronta tidak membuat Yusuf melepaskan istirnya.


"Mas lepaskan" pukul Zulfa.


"Tidak akan, aku sangat mencintaimu Fa. Sampai kapanpun aku tidak akan melepaskan kamu" janji Yusuf.


Zulfa yang mendengar itu merasa muak, dengan tangisannya dia kembali memukul suaminya. Tekadnya mantap, dia akan berpisah dengan Yusuf.


Zulfa berfikir bahwa Salsa adalah prioritasnya sekarang dan dia tidak akan lagi merasa bingung istri mana yang didahulukan"Mas lepaskan, kamu akan bahagia sama kak Salsa".


"Tidak!, cuma kamu Fa yang buat aku bahagia"


"Mas.. rumah tangga kamu akan sempurna saat kepergianku, kamu nggak akan bingung lagi mana istri kamu yang harus kamu prioritas kan terlebih dahulu, kamu akan punya istri satu yaitu kak Salsa".


"Aku.. aku akan mengalah demi kebaikan" ucap Zulfa menangis.


"Kubilang tidak ya tidak".


"Kamu nggak akan aku ceraikan begitupun dengan Salsa, aku sudah berjanji didepan Allah dan orang tua kita dan aku akan membawa janji itu sampai mati".


Zulfa meremas baju Yusuf hatinya mulai luluh kembali atas semua kata-kata yang dia ucapkan, bagaikan madu yang manis dan dia tidak bisa menolak setiap rasa yang terdapat di madu itu adalah perasaan Zulfa sekarang. Kepalanya pusing dia terlalu banyak pikiran begitupun dengan perutnya yang sekarang merasa sakit.


"Mas.. aaaaaa! perutku sakit" rintih Zulfa.


"Kamu kenapa Fa?"

__ADS_1


"Perutku sakit mas, kayaknya aku mau melahirkan".


"Tapi usia kandungan mu masih 8,5 bulan".


"Aku enggak tahu mas, yang penting sekarang bawa aku kerumah sakit ini sakit sekali".


Yusuf lalu membopong istrinya menuju rumah sakit, dia mengendarai mobil dengan kecepatan penuh. Sesampainya di rumah sakit Yusuf berteriak meminta tolong dan dua suster membawa Zulfa ke ruangan untuk melahirkan.


Yusuf memegang kuat tangan istirnya, menciumi beberapa kali lalu menyemangati Zulfa untuk mendorong keluar sang buah hati. Keringat dan peluh yang dikeluarkan Zulfa membuat Yusuf cemas apalagi suara rintihan kesakitan, ingin rasanya Yusuf mengantikan posisi Zulfa kalau bisa, memindahkan rasa sakit itu kedalam dirinya.


"Semangat sayang demi buah hati kita" cium Yusuf dikening Zulfa.


Beberapa dorongan membuat bayi itu keluar dan tangisan memenuhi ruangan bercat putih itu. Yusuf meneteskan air matanya dia terharu lalu mencium istrinya "Terima kasih Fa"


"Pak selamat ya bayi anda laki-laki" ucap dokter itu memberikan sang bayi yang terlihat mungil.


"Alhamdulillah nak kamu sehat, kuat seperti ibumu" ucap Yusuf dengan air mata yang mengalir dia kemudian mendekatkan bibirnya ke telinga anaknya lalu mengazani dengan suara lembut yang membuat hati Zulfa tersentuh dan ikut menangis melihat ayah dan anaknya.


"Terima kasih Ya Rabb" ucapnya syukur.


°°°


Satu hari setelah Zulfa melahirkan kabar duka menghampiri dirinya, Salsa yang terbaring tidak sadarkan diri saat proses melahirkan anaknya sekarang telah meninggalkan dia dan suaminya.


Anak yang berada di perut Salsa terpaksa harus di operasi untuk menyelamatkannya. Keluarga Yusuf dan Zulfa yang mendengar kabar ini kaget bukan main, perasaan sedih, tangisan dan rasa belum ikhlas bercampur jadi satu.


Zulfa menatap jam dinding rumah sakit dengan perasaan sedih, hari ini adalah pemakaman kak Salsa dan dirinya hanya berada disini karena perintah sang dokter.


"Yang sabar ya Fa, ini cobaan"


"Hiks.. kak Salsa mas".


Yusuf memeluk istrinya, menenangkan Zulfa yang menangis karena kepergian Salsa. Dirasa telah tenang, Yusuf mengambil surat yang berada di kantongnya.


"Apa ini mas?"


"Baca aja".


Zulfa mengangguk dia lalu membuka sebuah surat yang diatasnya tertulis nama Salsa.


*Surat dariku untuk Mas Yusuf dan Zulfa.


Maafkan aku, maafkan aku yang telah hadir dalam kebahagiaan kalian berdua. Maafkan aku dengan berani merusak cinta yang telah kalian bina, maafkan aku yang membuat kalian selalu bertengkar.


Aku hanya wanita yang ingin mendapatkan laki-laki yang kucintai, perasaan egois menyelimuti diriku saat melihat kalian saling mencintai, di lubuk hatiku aku juga ingin mendapatkan apa yang aku mau termasuk itu mas Yusuf.


Aku berusaha mati-matian membuat dia jatuh cinta denganku, dengan air mata, kebaikan, keceriaan atau dengan cara jahat aku akan tetap lakukan demi mendapatkan mas Yusuf seorang untukku. Tetapi semakin aku berusaha semakin aku tahu bahwa Yusuf hanya mencintai Zulfa seorang.


Bagaimana dia menolak diriku, bagaimana dia memperlakukanku, dan bagaimana dia menatapku itu semua berbeda saat Yusuf memperlakukan Zulfa. Aku sadar kalian saling mencintai dan itu membuatku iri sampai kehamilan ku datang.

__ADS_1


Aku ditetapkan hamil oleh dokter tetapi dengan resiko yang sangat besar, awal aku mendengar kehamilanku aku sangat bahagia tetapi dibalik itu terdapat resiko yang besar yaitu sebuah kematian.


Aku sempat terpukul tetapi aku langsung tersadar bahwa ini adalah karma yang aku dapat karena menghancurkan keluarga kalian. Dokter bilang aku tidak bisa mengandung karena rahimku yang lemah dan jika aku memaksakan aku akan mati.


Aku sempat berfikir akan mengugurkan kandungan ini, tetapi melihat tawa mas Yusuf aku mempertahankan anak ini walaupun nyawaku sebagai taruhannya.


Jubair Raihan Izzan, berikan nama itu kepada anakku dan bilang ibunya sangat mencintainya dan semoga saja kalian selalu bahagia*.


Zulfa yang membaca surat itu menangis, dia mencium surat itu lalu memeluknya. Zulfa tidak tahu jika Salsa mempunyai kelainan seperti ini dan dia tidak bercerita kepada keluarganya. Dirinya merasa bersalah karena terus menerus berpikiran yang tidak-tidak tentang Salsa, dirinya merasa bersalah "Maafkan aku kak, maafkan aku semoga kamu tenang disana" doanya tulus.


°°°


6 Tahun Kemudian..!


"Irfan, Raihan jangan lari-lari nanti kalian jatuh..!" teriak Yusuf.


"Mas jangan marah-marah nanti cepat tua"


"Lihat anak kamu, mirip banget kelakuannya sama kamu dulu. Hobi banget lari-lari".


"Haha mereka masih kecil mas wajar" maklum Zulfa sambil mengeluarkan makanan dari keranjang.


Mereka sekarang sedang menghabiskan waktu bersama di danau, sekedar mengingat kenangan yang pernah mereka buat saat awal pernikahan.


"Abi.. abi lihat ini, Irfan buat kapal-kapalan"


"Wao bagus banget pinter deh Irfan buat kapal dari kertas, siapa yang ngajarin sih" puji Yusuf.


"Laihan juga buat kapal abi"


"Wah bagus, sama seperti abang kamu. Ternyata anak abi sama umi pinter ya, sini peluk abi".


"Nggak mau, Irfan mau peluk umi" ucap Irfan polos lalu memeluk Zulfa sedangkan Raihan juga ingin memeluk uminya tetapi di cegah oleh Yusuf. Zulfa yang melihat kedua anaknya berebut dirinya tertawa senang lalu dia mengusap rambut Irfan lembut.


"Irfan nanti besar mau jadi apa?"


"Pelaut!"


"Kenapa" tanya Yusuf.


"Supaya bisa jalan-jalan keliling dunia".


Yusuf dan Zulfa hanya mengangguk lalu bertanya kepada Raihan "Kalo Raihan mau jadi apa?"


"Kalo Laihan ikut abang Ilfan".


"Loh kenapa?" tanya Zulfa.


"Supaya bisa main telus sama bang Ilfan" jawab Raihan polos.

__ADS_1


Yusuf dan Zulfa yang gemas hanya tertawa mendengar setiap jawaban yang diberikan oleh kedua anaknya. Mereka berdua bersyukur diberi kebahagiaan kepada keluarganya, walaupun perbedaan terlihat jelas antara kedua putranya tetapi Yusuf dan Zulfa menerima mereka apa adanya karena mereka tahu ini adalah rezeki dari sang pencipta.


__ADS_2