
Zulfa menggelar tiga sajadah, hujan terlalu deras untuk pagi ini. Lantai yang dingin berpadu dengan suasana hujan di pagi membuat semua orang engan meninggalkan kasur. Mukenah abu-abu telah melekat di tubuhnya menutupi setiap aurat yang telah diperintahkan Allah untuk menutupinya.
Dia duduk lalu memandang sebelah sajadahnya, membuang nafas berat menatap lurus kearah luar. "Aku nggak menduga akan ada makmum selain aku mas" gumannya dengan tertawa.
Zulfa menengok saat pintu terbuka dan memunculkan 2 orang disana. Dia lalu menatap lurus kembali ke luar jendela, rasa cemburu dia tutup rapat-rapat, Zulfa sadar dirinya harus menerima kenyataan walaupun itu sangat menyakitkan. Allah telah menjanjikan surga bagi istri yang rela di madu oleh suaminya.
"Sekarang bukan diriku satu-satunya yang berada di belakangmu. Mas kau memulai solatmu tanpa memberikan senyuman seperti biasa kepadaku, kau datang ke sini bukan aku yang berada dibelakang mu, tetapi wanita itu. Apakah kau mulai tertarik padanya, apakah aku harus mundur dan mengikhlaskan dirimu?" pikirnya bertanya kepada diri sendiri. Zulfa menatap punggung suaminya lalu membaca niat untuk solat subuh.
Doa telah selesai di bacakan oleh pemilik bulu mata yang tebal itu, ucapan aamiin terdengar dari belakangnya dia kemudian membalik tubuhnya mengalami Salsa kemudian Zulfa.
Zulfa tersenyum lembut, dia kemudian meminta izin untuk turun membuat makan untuk mereka sarapan. Suara langkah kaki yang menuruni tangga tidak membuat dia beranjak dari kegiatannya, Zulfa tetap saja fokus.
"Kamu terlalu sibuk sampai nggak sadar jika suamimu ada disini" ucapnya memeluk perut Yusuf posesif.
"Kenapa diam?" tanya Yusuf yang tidak mendapatkan jawaban dari istrinya.
"Aku harus jawab apa?"
"Jangan dingin, aku nggak suka kamu kaya gini".
Belum sempat Zulfa ingin menjawab, Salsa telah datang ke dapur dan membuat Yusuf berhenti memeluknya. Zulfa menghentikan memotong bayam saat Salsa berbicara dengan memeluk suaminya.
Walaupun Zulfa membelakangi mereka dia bisa merasakan bahwa Salsa sedang memeluknya suaminya. Gerakan memotong bayam Zulfa lanjutkan saat percakapan Salsa yang terdengar lucu keluar dari mulutnya.
Yusuf berusaha melepaskan pelukan Salsa pada perutnya tetapi sia-sia, Salsa terlalu memberontak dan ingin memeluk suaminya.
"Mas, kamu kan mau kerja, sekarang mandi dulu kemudian nanti sarapan".
"Eh iya, aku lupa. Tolong siapakan pakaian ku Fa".
"Baik aku akan siapakan, kamu mau pakai baj.."
"Enggak usah mas, biar aku aja yang niyapin kamu baju kerjamu biar kak Zulfa lanjutin masak".
Yusuf terdiam dia kemudian mengangguk pasrah, mereka berdua kemudian naik keatas sedangkan Zulfa melanjutkan memotong bayamnya. Semua berjalan lancar saat air matanya jatuh membasahi bayam itu, Zulfa tidak berhenti dia terus saja memasak dan memasak mengabaikan perasaanya yang terasa sakit.
"Ayolah Fa jangan menangis, nggak apa-apa kan kebiasaanmu digantikan sama Salsa, jangan serakah" katanya menyemangati.
__ADS_1
"Hanya membantu bersiap Fa, ikhlas kamu harus ikhl.. as hiks, hiks, hiks. Sakit.. ayah bunda Zulfa ingin pulang" ucap Zulfa mengusap pipinya lalu memegang dadanya yang terasa sesak.
Dia kemudian mengambil makanan itu, memindahkan dari wajan ke piring lalu ditaruh di meja makan. Zulfa cepat-cepat berlari kearah kamar mandi lantai satu untuk membasuh wajahnya mengunakan sabun muka agar terlihat lebih segar dia tidak mau terlihat menyedihkan didepan keluarganya.
"Zulfa kamu dimana, ayo sarapan" teriak Yusuf.
"Iya mas, sebentar.."
Dengan langkah cepat dia menuju ruang makan lalu mengambilkan makanan untuk suaminya. Tetapi langkah itu terhenti saat Salsa juga berkeinginan mengambilkan makanan untuk Yusuf. Yusuf terdiam melihat kedua istirnya yang memberikan piringnya dia kemudian menolak semua piring dari kedua istirnya dan mengambil sendiri makanannya.
Zulfa kaku dia kemudian berdehem lalu duduk mengambil makanan untuk dirinya sendiri. Sarapan pagi itu terasa dingin tidak ada yang memulai obrolan sampai Yusuf meninggalkan mereka berdua untuk bekerja.
Salsa tersenyum ramah padanya, dia kemudian pergi meninggalkan pintu entah kemana tujuannya. Suara hp Zulfa berbunyi membuat sang pemilik melihat kearahnya, satu pesan terpampang jelas disana memberitahu bahwa sang ayah sedang sakit.
Zulfa kaget dia kemudian berlari menghampiri Salsa, mengetuk pintu itu keras. "Kak Salsa keluarlah"
"Ada apa Fa kok teriak-teriak?"
"Ayahku sakit"
"Terus?"
Salsa mengangguk membuat Zulfa tersenyum "Aku akan mengabari mas Yusuf".
"Buat apa Fa, lo sekarang pulang kerumah lo dan rawat ayah lo sampai sembuh kalau urusan mas Yusuf biar gue yang tangani".
"Terima kasih" ucapnya tulus. Lalu Zulfa beranjak pergi meninggalkan Salsa tetapi langkahnya terhenti saat Salsa memanggil dirinya.
"Fa gue boleh tanya nggak?".
"Tanya apa kak?".
"Lo izinkan gue berhubungan dengan Yusuf layaknya suami istri?"
Zulfa kaku dia bingung, pikirannya dan hatinya belum ikhlas. Tetapi apa salahnya jika dirinya jujur kalau dia belum siap "Maaf kak.."
"Hah" helaan nafas panjang terdengar dari Salsa, "Ya gue maklumin deh".
__ADS_1
"Terima kasih" ucap Zulfa yang membuat muak Salsa.
Salsa melihat kepergian Zulfa dia tersenyum "Emang siapa lo yang larang gue buat berhubungan dengan suami gue sendiri, gue juga berhak Fa" kata Salsa lalu menutup pintu rumahnya.
°°°
"Assalamu'alaikum"
"Jangan lari" peringat Yusuf kepada Salsa saat melihat istirnya itu berlari menyambut kedatangannya.
"Mas Yusuf udah pulang, kan baru jam 8"
"Kamu pengen ya jika suami pulang larut malam?"
Salsa terkekeh lalu memeluk suaminya berjalan menuju kamar mereka. Yusuf melihat keliling untuk mencari sosok yang dia rindukan lalu menatap wanita yang memeluk pinggangnya posesif "Zulfa kemana?".
"Dia kerumah orang tuanya"
"Tanpa izin dariku?"
"Aku mencegahnya karena takut menganggu mas Yusuf sedang bekerja".
"Aku nggak merasa terganggu, tetapi aku tidak menyukai dia yang keluar tanpa seizin dariku".
"Mas, jangan marah nanti cepat tua. Maafkan aku".
"Kenapa kamu harus minta maaf?" tanya Yusuf bingung "Kamu kan nggak salah, Zulfa seharusnya yang meminta maaf".
Salsa tersenyum lalu mengangguk dia membantu suaminya melepas bajunya. "Mas.. aku minta hak ku sebagai istri" kata Salsa tiba-tiba yang membuat Yusuf kaget.
"Maaf aku tidak bisa".
"Kenapa?, apa karena Zulfa" tanya Salsa dan mendapatkan anggukan.
"Mas.. Zulfa sebelum pergi aku bertanya kepadanya dan dia mengizinkan kita berdua. Tapi jika mas Yusuf tidak mau aku akan pergi dari sini, lagian aku juga mengormati keputusan kamu juga".
Yusuf yang melihat raut wajah kecewa istirnya memegang lengannya mencegah Salsa keluar dari kamar. "Jika Zulfa sudah mengizinkan aku akan melakukannya" kata Yusuf lalu menarik Salsa menuju kamar mandi.
__ADS_1
Maafkan aku Fa, aku berhak untuk mendapatkan ini batin Salsa.
Malam ini adalah malam bahagia untuk mereka berdua, terhanyut dalam cinta masing-masing, terpesona akan satu sama lain dan melupakan sebuah janji yang dibuatnya untuk mengikat benang yang selama ini terjalin. Entah apa yang terjadi besok, hal baik atau penyesalan yang akan menghampiri kisah mereka hanya Allah yang tahu. Sebagai hambanya mereka hanya mengikuti setiap takdir yang dituliskan.