Surga Yang Dikejar

Surga Yang Dikejar
Dia Kembali


__ADS_3

Jam tangan menunjukan sembilan pagi, pagi ini angin berhembus sepoi-sepoi membuat setiap orang merasakan kesejukan kota Jakarta. Setengah berlari gadis itu melewati lorong-lorong membuat orang yang berjalan atau duduk memperhatikan gadis itu sesaat.


Dengan langkah panik dia memasuki kelas, dosen dan mahasiswa dengan reflek memandangi gadis itu sedangkan yang di pandang hanya diam lalu meminta maaf jika dia terlambat hari ini. Dosen memaafkannya lalu menyuruhnya untuk duduk.


"Ciee pengantin baru" bisik salah satu temannya.


"Fa gimana saran gue, sukses nggak?".


"Dia keker banget Fa, gue jadi kaget saat datang ke pernikahan lo".


"Dan ternyata dia ganteng banget sumpah, gue mau kalau di halalin sama dia" tambah salah satu teman perempuannya.


"Yang belakang jangan berisik!!" teriak dosen itu dan membuat teman kuliah Zulfa berdecih lalu kembali mendengarkan materi yang sedang dibahas.


Zulfa hanya tersenyum melihat kelakuan para temannya, sebenarnya dirinya tidak bersemangat kuliah hari ini karena suaminya sedang sakit. Pikirannya terbagi menjadi dua antara kuliah dan rumah. "Mas semoga cepat sembuh, Aamiin".


"Aamiin" ucap sekelas serentak yang membuat Zulfa kaget begitupun dengan dosen yang sedang mengajar.


"Kenapa kalian semua tiba-tiba bilang aamin?" bisik Zulfa takut jika suaranya terdengar oleh dosen.


"Kan teman sekelas tahu kalau lo doa selalu yang baik-baik, jadi kita ngikut mengamini walaupun tak tahu doa lo apa hehe".


Zulfa hanya diam dengan perasaan bingung lalu dia kembali fokus memperhatikan materi yang diberikan oleh dosennya.


°°°


Semua mahasiswa keluar dengan raut wajah lelah begitupula dengan Zulfa. Mereka mengajak Zulfa untuk membeli minum sebelum pulang dan Zulfa menyetujuinya. Setelah membeli minuman mereka bergegas untuk pulang sebelum hujan mengguyur bumi.


"Kayaknya sebentar lagi mau hujan nih, cepet pulang yuk".


"Dari tadi kita kan mau pulang, kamu lagi halu ya?".


"Maaf lah, gue kan habis terima materi yang berat jadi kurang fokus hehe..heiii Dani", ucap temen Zulfa kaget dan membuat semua berhenti.


"Ada apa Dan?" tanya Zulfa karena melihat Dani menghalangi jalan mereka.


"Gue mau bicara sama lo".

__ADS_1


"Bicara sekarang aja" balas Zulfa tidak suka.


Dani menggelengkan kepala "Berdua Fa!" tekan Dani dan membuat teman Zulfa paham kemudian pamit.


Zulfa tidak suka karena Dani mengusir temannya secara halus. Tanpa persetujuan Dani menyeret Zulfa ke tempat yang tidak banyak orang dan membuat orang yang diseret marah kepadannya.


"Lepasin Dan" ucap Zulfa memohon.


"Tolang Dan, tanganku sakit".


"Lepasin Dan, aku sudah punya suami!" teriak Zulfa saat Dani tidak kunjung melepaskan gengaman tangannya. Semua orang melihat mereka berdua kemudian Dani melepaskan tangan Zulfa.


"Puas lo!!"


"Puas lo.. puas udah buat gue berharap sama lo dan elo dengan gampangnya nikah sama orang lain".


Zulfa kaget bukan main, dia tidak pernah memberi harapan kepada Dani sedikitpun. "Dan aku tidak pernah memberi harapan kepada kamu".


"Fa" ucap Dani yang mendekati Zulfa.


"Gue suka sama lo, gue cinta banget sama lo, gue rela pergi dari Londen demi lo Fa tapi apa balesan yang gue dapet?" Dani menjeda kalimatnya, "Fa tinggalin suami lo dan pergi sama gue, gue jamin semua kebutuhan lo. Lo butuh hp?, pengen jalan-jalan keluar negeri gue bisa kabulin asalkan lo nikah sama gue. Gue bakal terima jika lo enggak perawan lagi".


"Iya gue gila karena elo Fa!!".


"Udah Dan, aku mau pulang. Aku capek dengar omong kosong mu".


"Ini bukan omong kosong Fa, gue serius" ucap Dani memegang tangan Zulfa supaya tidak pergi dari sini.


"Dan lepasin, kubilang lepasin".


"Apa kamu tidak dengar jika istriku bilang lepas?!" ucap Yusuf memegang tangan Dani agar pria itu melepaskan tangan istrinya. Dani yang melihat Yusuf dengan reflek melepaskan tangan Zulfa.


Mereka berdua kaget atas kedatangan Yusuf "Jangan ganggu Istriku" tambah Yusuf.


Dani yang mendengar itu tertawa, dia tidak menyangka akan bertemu dengan suami Zulfa secepat ini. Yusuf yang ingin membawa pergi Zulfa terhenti karena ucapan Dani. Dani mendekati Yusuf dengan rasa sombongnya "Tinggalkan istri lo dan gue akan berikan semua apa yang lo inginkan".


"Dengar ya, istriku bukan barang yang dengan mudahnya ditukar atau dibeli dan jika sudah bosan dibuang. Dia lebih berharga dari apa yang kamu lihat".

__ADS_1


Dani yang mendengar itu marah "Dengarkan kata gue baik-baik, jika lo sampai buat Zulfa nangis gue nggak akan segan-segan membawa dia kabur dengan cara apapun, cara halus maupun kasar dengar itu baik-baik brengsek!!".


"Coba saja kalau bisa" tantang Yusuf kemudian pergi meninggalkan Dani yang berteriak marah. Yusuf membukakan pintu mobil untuk istrinya kemudian pergi meninggalkan tempat itu.


"Mas", panggil Zulfa pelan. Tangan Zulfa memegang tangan suaminya yang sedang menyetir. "Mas Yusuf marah ya sama Zulfa?".


Tidak ada jawaban dari suaminya, "Mas" panggil Zulfa lagi.


"Aku lagi nyetir Fa, tolong jangan ganggu aku".


Setelah perkataan Yusuf tidak ada lagi suara yang keluar dari Zulfa maupun Yusuf. Mobil begitu sunyi tanpa obrolan hanya suara radio yang membuat suasana tidak begitu mencekam. Mobil telah sampai di halaman rumah mereka, Yusuf memprakirakan mobilnya ke dalam garasi kemudian masuk kedalam rumah.


Zulfa yang melihat suaminya bersikap dingin terhadapnya merasa sedih, dia tahu bahwa suaminya itu marah kepadanya. Dengan ragu Zulfa melangkahkan kakinya menuju kamarnya dan suaminya. Terlihat disana Yusuf sedang berbaring dengan satu tangannya menutupi wajahnya.


Zulfa menaruh tasnya kemudian menghampiri suaminya yang tertidur. Dia duduk disamping suaminya memijat kaki Yusuf pelan berharap dia merasa baikan apalagi dia habis sembuh dari sakitnya. "Mas marah ya sama Zulfa?".


Satu detik..


Dua detik..


Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut suaminya. Zulfa semakin merasa bersalah. "Mas jika memang kamu marah sama aku bilang saja, jangan diamin aku kaya gini".


"Fa, aku capek. Aku mau tidur".


"Mas Yusuf tidak mau makan dulu?".


"Enggak Fa aku sudah kenyang. Kamu makan sendiri aja".


"Baiklah mas, Zulfa makan dulu. Kalau mas Yusuf butuh sesuatu panggil aku ya mas, aku ada dibawah" kata Zulfa kemudian turun dari kasur.


"Fa" panggil Yusuf saat Zulfa berada di ambang pintu. Zulfa yang mendengar itu menoleh dengan senang.


"Iya mas".


"Nanti setengah tiga tolong bangunkan aku".


"Oh.. iya mas" ucapnya kemudian menutup pintu.

__ADS_1


Zulfa berjalan lemas menuruni anak tangga, dia menahan air mata yang akan jatuh membasahi pipinya. Zulfa dengan langkah berat mengambil makanan lalu menuju ruang tamu untuk melihat acara yang dia sukai. Setelah membaca doa dia memakan yang dia ambil tadi.


Satu suapan dua suapan tak sadar jika air matanya telah terjatuh, Zulfa menangis dalam diam. Menaruh makanan itu di meja depannya kemudian menyembunyikan wajahnya di bantal supaya suaminya itu tidak mendengar jika dirinya sedang menangis.


__ADS_2