Surga Yang Dikejar

Surga Yang Dikejar
Kehamilan


__ADS_3

8,5 bulan setelah kehamilan Zulfa banyak cerita dan masalah yang telah wanita itu lewati. Sifat yang berubah ubah membuat emosi Yusuf diuji, tangisan serta keluhan yang dialami Zulfa membuat sang suami iba. Apalagi dengan kehamilan Salsa yang berjarak satu bulan dengan Zulfa menambah beban pikiran Yusuf tetapi pria itu dengan sabar menghadapi setiap istrinya.


Kehamilan Zulfa yang berusia 8,5 bulan dan sudah diketahui jenis kelamin bayi itu adalah laki-laki. Sedangkan kehamilan Salsa berusia 7 bulan, dan entah keberuntungan apa yang menghampiri Yusuf dia juga diberikan oleh Allah anak laki-laki lagi.


Perubahan sifat terjadi oleh Salsa membuat Yusuf dan Zulfa bingung dibuatnya, pasalnya Salsa hari demi hari saat kehamilannya terus saja mengalah dan tidak jarang mengurung dirinya dikamar.


Sudah beberapa kali mereka membujuk Salsa untuk bercerita tetapi wanita itu bungkam, Yusuf hanya sabar menghadapi istri satunya itu dia berfikir jika perubahan sikap saat masa hamil sudah biasa.


Hari ini Yusuf mengajak kedua istirnya untuk makan di sebuah cafe yang terkenal akan kuenya. Dengan sabar Yusuf membantu istrinya turun dari mobil, tatapan orang-orang mengarah kearah mereka semua. Tatapan bertanya-tanya yang terlihat di setiap wajah orang itu.


Bagaimana tidak, pasti banyak orang yang berfikir jika laki-laki itu mempunyai 2 istri apalagi dengan mereka yang sedang hamil besar, "Ah sudah biasa dia kaya sih" bisikan yang terdengar seperti memaklumi atau mengejek diabaikan oleh Yusuf.


Yusuf menyuruh Zulfa dan Salsa untuk masuk terlebih dahulu ke cafe sedangkan dia memprakirakan mobilnya.


Zulfa mengangguk lalu mengandeng tangan Salsa yang tidak mendapat tolakan darinya "Kamu mau pesan apa?" tanya Zulfa.


"Red Velvet".


"Minumnya?"


"Sama kaya kamu"


"Oke, aku pesen dulu kamu cari tempat duduk"


Anggukan Salsa membuat Zulfa pergi ke kasir untuk memesan makanan, lalu dia mencari tempat duduk dimana Salsa berada disana.


"Mas Yusuf aku pesen yang biasanya"


"Oke makasih, kamu yang terbaik".


Beberapa menit kemudian pesanan yang Zulfa pesan telah diantar oleh pelayan yang mengenakan hijab hitam yang cocok berpadu dengan seragamnya. Makanan itu ditaruh diatas meja dengan ramah lalu ucapan terima kasih diberikan oleh ketiga orang itu.


"Fa kamu dari dulu kesini pesan greentea apakah kamu nggak bosan, sekali-kali pesan yang beda lah".


"Mas kesukaan orang itu beda-beda, jika dia bahagia dengan kesukaannya kenapa harus melarangnya" imbuh Salsa.


"Yups aku setuju denganmu kakak".


"Kalian bersekongkol ya"


"Iya" jawab mereka bersama.

__ADS_1


Yusuf tersenyum melihat kedua istirnya yang akur dia lalu meminum cappucino hangatnya "Kalian udah punya nama buat anakku?"


"Emm belum"


"Kalau aku sudah" jawab Salsa yang masih memakan Red Velvet nya. Yusuf dan Zulfa memandang wajah Salsa dengan kaget.


"Aku ingin tahu namanya" ucap Yusuf.


"Sederhana tetapi aku suka".


"Kak beritahu aku namanya"


"Jubair Raihan Izzan"


"Aku suka" tambah Yusuf.


"Iya bagus banget namanya, aku belum kepikiran apa nama anakku nanti".


"Bagaimana dengan Danish?" saran Salsa.


"Ya lumayan, nanti aku pikirkan".


Salsa menghentikan tawanya saat melihat keseberang cafe, disana terdapat banyak cemilan yang dia sukai. "Mas aku mau itu" tunjuk Salsa yang membuat Yusuf dan Zulfa membalikkan tubuhnya untuk melihat.


"Kamu mau cemilan itu?"


"Iya" angguk Salsa mantap.


"Baiklah nanti kita beli".


"Enggak mau, aku maunya sekarang!"


"Tapi nanti Zulfa sendiri disini"


"Ajak Zulfa sekalian, mas aku pengen banget".


"Mas kalian berdua aja, aku titip. Lagian aku nggak bisa jalan lama-lama".


"Yaudah Fa, aku tinggal dulu ya sama Salsa" pamit Yusuf meninggalkan Zulfa sendiri. Zulfa tersenyum lalu mengambil catatan yang berada di tasnya menulis nama-nama untuk calon anaknya.


Yusuf mengandeng tangan istrinya untuk menyebrang meninggalkan cafe itu lalu menuju kearah toko yang menjual beberapa makanan. Wajah senang Salsa terlihat disana dia lalu berlari menuju cemilan yang sengaja di pamerkan.

__ADS_1


"Mas kamu mau yang mana?"


"Aku terserah kamu aja" ucap Yusuf mengusap kepala Salsa yang tertutup hijab.


"Oke"


"Kamu kayaknya suka banget ya kalau udah berkaitan dengan cemilan"


"Hihi iya mas" ucap Salsa yang sudah memeluk beberapa cemilan di tangannya. Salsa segera menghampiri kasir tetapi saat dia sedang mengantri perutnya tiba-tiba merasakan sakit. Semua orang panik terutama Yusuf dia lalu mengendong Salsa membawanya kerumah sakit terdekat.


°°°


Jam dinding cafe menunjukkan pukul sepuluh malam dan Zulfa masih saja menunggu disini sesuai perintah suaminya. Katanya dia akan segera kembali tetapi apa yang terjadi, mereka berdua belum kembali.


Dia sebenarnya ingin pulang tetapi Zulfa tidak memiliki uang satupun untuk membayar taksi. Pelayan yang menghampiri dirinya berbicara ramah bahwa dia akan menutup cafe ini. Mau tak mau Zulfa keluar cafe lalu menuju parkiran mencari mobil suaminya.


Wajah Zulfa kembali cemas, mobil suaminya sudah tidak ada, dia seperti wanita bodoh yang menunggu sesuatu yang tidak pasti.


Gerimis sedikit demi sedikit turun membasahi kota, Zulfa berjalan dipinggir jalan berharap ada taksi yang lewat. Pakaiannya basah, tubuhnya kedinginan suaminya itu entah hal apa sampai melupakan dirinya.


"Mas apa yang sedang terjadi?" tanyanya.


Hujan semakin deras tetapi tidak membuat langkah Zulfa terhenti, hpnya mati sehingga tidak ada yang dapat dia hubungi. Dia menghentikan taksi yang lewat lalu memasuki mobil itu.


Taksi itu mengantarkan Zulfa kealamat yang sudah dia katakan. Sesampainya didepan rumah, Zulfa menyuruh supir itu menunggu dirinya sebentar untuk mengambil uang.


"Terima kasih pak"ucapnya lalu taksi itu meninggalkan rumahnya.


Rumah tampak sepi saat dia masuk, tidak ada satupun orang disini. Dia lalu menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Saat kehamilannya Zulfa berjanji pada dirinya bahwa sesakit apapun dia tidak akan menangis demi anaknya.


Zulfa menatap datar kearah kertas yang dia pegang lalu menuju ke bawah untuk menunggu suaminya pulang. Jam menunjukkan 11 malam dan Zulfa masih setia menyambut kedatangan suaminya.


Yusuf yang mendapat pesan dari Zulfa kaget dia melupakan istrinya itu, Yusuf segera pulang kerumah meninggalkan Salsa yang masih berbaring tidak sadarkan diri.


Hujan yang tidak henti-hentinya mengguyur kota Jakarta membuat Yusuf cemas, bagaimana mungkin dia meninggalkan istrinya sendirian di sana. Pukulan keras terdengar memenuhi mobil, Yusuf menyalurkan hawa kesalnya dengan memukul setir mobil itu.


"Bodoh kamu Suf" umpatnya.


Sesampainya dirumah Yusuf berlari mencari dimana istirnya berada dan berhenti diruang tamu.


"Fa maafkan aku" ucap Yusuf sedangkan Zulfa memberikan tatapan dingin seperti dulu, saat dimana dia menghianati kepercayaannya.

__ADS_1


__ADS_2