
Perjalanan sepi tanpa ada obrolan diantara mereka, Zulfa hanya diam menatap mobil, motor yang melewati mereka sedangkan Dani fokus mengendarai motornya.
Dani memang menunggu Zulfa dari siang, dia tidak percaya jika Zulfa sudah pulang duluan. Apalagi dia masih mentraktir Zulfa minum es coklat, Zulfa adalah tipe perempuan yang tidak mudah membatalkan ucapannya.
"Sudah sampai" kata Dani yang berhenti didepan rumah Zulfa.
Zulfa turun kemudian mengembalikan helemnya "Terima kasih, lain kali turunkan aku di gang rumahku aja. Aku bisa jalan dari sana".
Dani menahan tangan Zulfa sebelum dia masuk kedalam rumahnya "Lo kenapa?, coba cerita".
"Tidak ada apa-apa, aku cuma lelah". Zulfa tersenyum paksa "Hati-hati pulangnya, kayaknya bakal hujan habis ini jangan ngebut".
Dani hanya diam melihat gadis yang dia sukai terpuruk, senakal-nakalnya dirinya dia tidak akan tega melukai orang yang dia cintai. Dani memukul motornya kesal lalu mengenakan helem secara kasar akibat rasa marah yang menyelimuti dirinya.
Malam ini turun hujan di daerah ibukota. Membuat orang menepi akibat derasnya hujan malam ini. Dani menerobos hujan dengan sangat berani, meluapkan emosi yang dia pendam. Sedangkan Zulfa dia mengunci kamar dan mengamati hujan dari jendelanya.
Tangisan Zulfa tertutup akibat suara hujan yang turun itu membuat dirinya sedikit lega. Pakaian yang dia pakai tadi pagi belum sempat diganti, Zulfa hanya bergulat dengan kesedihan sampai suara azan magrib membuat dia beranjak dari jendelanya.
°°°
Zulfa tersenyum ramah pada mahasiswa yang menyapanya. Pagi ini udara lumayan dingin tidak seperti hari kemarin mungkin efek pergantian musim.
Entah mengapa pagi ini banyak mahasiswa yang berlarian ke belakang kampus, apakah ada bazar atau pertunjukan?, Zulfa yang ingin tahu segera berlari disana. Disana banyak orang yang mengerubungi sampai membuat lingkaran, rasa panik Zulfa semakin menjadi-jadi saat geng Dani berkumpul disana.
"Masa Dani berulah lagi?" tanya Zulfa kepada dirinya. Zulfa menerobos untuk memastikan siapa yang berkelahi didepan.
"Misi, misi".
"Ish apaan sih, jangan dorong-dorong" cibir perempuan berambut pendek dengan makeup tebal diwajahnya.
"Maaf, aku hanya ingin lihat".
Mata Zulfa membulat dengan sempurna ternyata yang berkelahi adalah Hendra dan Dani. Dani menghajar habis-habisan Hendra sampai tidak berdaya.
"Dani hentikan!" teriak Zulfa menghampiri Dani, Dani semakin menghajar Hendra sedangkan Hendra dia tidak dapat membalas setiap pukulan yang diberikan oleh Dani. Zulfa melihat Desi sudah menangis melihat kedua sahabatnya bertengkar, dia tidak bisa memisahkan mereka berdua dan tidak ada yang berani memisahkan Dani jika sedang bertarung.
Zulfa coba menarik Dani supaya berhenti tetapi itu hal yang sia-sia. "Dani kumohon berhenti".
Buk! Buk! Pukulan bertubi-tubi jatuh diwajah Hendra.
"DANI KUMOHON BERHENTI!" teriakan Zulfa yang keras membuat Dani menghentikan pukulannya. Zulfa menarik Dani agar menjauh dari Hendra dan Hendra ditolong berdiri oleh Desi.
"Kamu kenapa sih?, Kamu kenapa mukulin sahabat kamu sendiri!" teriak Zulfa dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.
__ADS_1
"Kalian lihat apa? BUBAR!" bentakan dari Dani membuat semua mahasiswa bubar dari sini termasuk para geng yang dipimpin oleh Dani.
Dani memandang Hendra dengan perasaan muak dan puas telah memukuli wajah Hendra sampai babak belur, wajah Dani juga babak belur seperti Hendra tetapi tidak separah yang Hendra alami.
"Lo Ndra, cuma cowok brengsek yang bisanya nyakitin hati cewek!. Lo kemarin buat cewek yang gue sukai nangis dan ini balasan dari gue".
"Maksud kamu apa Dan?" tanya Desi tidak paham arah pembicaraan "Siapa cewek yang disakitin sama Hendra?".
"Peduli lo apa ha!, kemarin kalian pulang dengan perasaan tenang. Senyum-senyum kaya orang nggak punya dosa sedangkan Zulfa? dia nangis akibat ulah sahabat lo!".
"Dan... udah hentikan" pinta Zulfa pelan.
"Gue nggak bakal hentikan ini Fa, gue tahu selama ini lo suka sama Hendra... gue tahu Hendra suka sama Desi... dan gue tahu Desi suka sama gue.
Apa lo tahu Fa, sebenarnya gue suka sama lo!".
"Dan gue juga tahu, lo itu rapuh gampang nangis. Gue udah kenal lo sejak Madrasah Aliyah dan lo nggak pernah suka sama gue, kenapa Fa?".
"Dan, kita bersihkan luka kamu dulu".
"CUKUP!, lo jangan ngelak lagi. Gue udah lelah sama persahabatan munafik ini, gue keluar!!".
Dani dengan amarah meninggalkan ketiga sahabatnya, rasa muak sudah memenuhi hati Dani. Zulfa menghela nafas membuang semua rasa sedih supaya dirinya tidak menangis lagi.
"Pergi, jangan dekati kami lagi. Gara-gara kamu persahabatan kita jadi bubar. Memang jika kita menjalin sebuah persahabatan diantara laki-laki dan perempuan kita seharusnya tidak mendekati apa itu namanya sebuah perasaan".
"Fa aku baru tahu sekarang, aku cerita orang yang kusuka kepada kamu tetapi ternyata orang yang kusuka itu menyukaimu sungguh lucu" tawa Desi yang terdengar seolah dibuat-buat.
"AKU BENCI KAMU FA!" ucap Desi kemudian meninggalkan Zulfa sendiri. Hendra hanya menatap Zulfa "Maafkan aku" ucapnya kemudian pergi dengan di bantu berjalan oleh Desi.
Zulfa menangis, air matanya keluar lagi dan lagi. Dirinya hanya menyimpan sebuah rasa kepada sahabatnya dan itu membuat persahabatan mereka hancur. Apakah semua ini salah dirinya?.
Apakah dirinya yang menjadi penyebab keretakan ini?. Zulfa berjongkok lalu menenggelamkan wajahnya didalam hijabnya supaya tidak ada orang yang melihat dirinya menangis.
Zulfa kemudian berdiri lalu mengejar Dani yang keluar dari kampus. "Kalian lihat Dani?" tanya Zulfa kepada teman Dani.
"Dia pulang kerumahnya".
"Kamu bisa anterin aku kerumah Dani" pinta Zulfa kemudian pria itu mengangguk.
Zulfa berdiri didepan gerbang rumah besar bergaya Eropa itu. Lalu memanggil seseorang supaya membukakan gerbang rumah Dani. Pria yang mengantarkan Zulfa tadi pamit setelah sampai di rumah Dani dan Zulfa hanya dapat berterima kasih kepadanya.
Terlihat disana satpam dengan usia 30 tahun keatas menghampiri Zulfa "Ada apa ya nak?".
__ADS_1
"Saya ingin ketemu sama Dani, bisa?".
"Oh, tunggu sebentar ya saya bilang dulu sama den Dani".
Zulfa hanya mengangguk lalu memperhatikan satpam itu berlari kerumah yang besar bak istana. Zulfa memainkan tasnya sambil menunggu satpam itu keluar.
Satpam itu keluar bersama dengan Dani yang membuat wajah Zulfa tersenyum bahagia. "Lo kenapa kerumah gue?".
"Kamu tidak suruh aku masuk?".
Dani mengangguk kemudian mengajak Zulfa masuk ke dalam rumahnya. Zulfa tersenyum saat salah satu pembantu rumah Dani menawarkan minum.
"Luka kamu udah diobati?" tanya Zulfa membuka obrolan.
"Belum".
"Kenapa?".
"Males aja, lagian sudah biasa dapet luka kaya gini akibat tawuran".
"Dani...!!" geram Zulfa, mana kotak obat kamu biar aku yang obati.
Dani menunjuk kotak obat yang berada di sofa yang membuat Zulfa berjalan untuk mengambilnya. Zulfa duduk disebelah Dani lalu mengobati luka Dani satu persatu mulai dari dahi, sekitar mata, pipi dan mulut.
Terkadang Zulfa terpekik karena rintihan sakit Dani, dia sedikit ngilu jika mendengar orang kesakitan.
"Lo nggak obatin Hendra?".
"Dia udah ada Desi".
"Lo marah sama gue?" tanya Dani dan Zulfa hanya menggeleng.
"Aduh sakit!".
"Makanya jangan berantem, udah beberapa kali aku bilangin jika kamu nggak mau sakit kaya gini jangan berantem" omel Zulfa yang mendapat kekehan dari Dani.
"Gue suka kalau lo marah kaya gini sama gue, kelihatan imut".
"Masih sempat-sempatnya gombalin?".
"Kalau sama lo gue betah sampai besok".
"Ish..." Zulfa hanya tersenyum dibalik kerudungnya. Zulfa mengobati luka Dani sambil menunduk karena dia tidak mau Dani melihat dia sedang menahan tangisannya.
__ADS_1