
Suara lantunan ayat suci Alquran memecah hening malam ini. Langkah detik jam dinding terasa melambat saat dua insan manusia sedang memuja keagungan Tuhan lewat surah yang dia turunkan.
Siapa yang tidak merasa iri jika melihat keromantisan dua insan yang berbeda jenis ini. Yusuf dengan sabar membenarkan setiap ayat yang Zulfa salah ucapkan, tak jarang Yusuf memukul tangan Zulfa pelan dengan tuding ngaji yang dia pegang.
Zulfa tidak marah tetapi dia sebal di perlakukan seperti anak kecil. Yusuf yang melihat wajah cemberut Zulfa menghentikan bacaan istrinya.
"Tutup Fa, kamu udah enggak ikhlas".
"Enggak mas, Zulfa ikhlas kok".
Yusuf tersenyum kemudian menutup Alquran lalu menaruhnya ditempat semula. Zulfa sedari tadi diam memperhatikan suaminya melakukan apa yang dia mau.
"Zulfa masih ingin mengaji".
"Udah, besok lagi" ucap Yusuf sambil mengelus pucuk kepala Zulfa yang tertutup mukena.
Zulfa hanya mengangguk, lalu duduk bersandar di samping suaminya. Yusuf yang melihat itu mencubit pipi Zulfa gemas.
"Imut banget istriku".
"Hehe" tawa Zulfa kemudian terlintas pikiran jahil di otaknya.
Zulfa kemudian mendekat kearah suaminya dengan nada sedih yang dibuat-buat. Dia lalu memeluk perut Yusuf sampai membuat Yusuf kaget. Zulfa menahan senyumnya akibat melihat wajah terkejut suaminya yang lucu.
"Mas laper pengen jajan, katanya mau beli sate sama martabak".
"Kan kamu bisa masak, kenapa harus jajan di luar coba".
"Mas, pengen sate sama martabak" mohon Zulfa dengan wajah memelas.
Yusuf yang melihat wajah istrinya hanya terdiam gemas "Terus aku dapet apa jika ngajak kamu keluar buat beli martabak sama sate?".
Zulfa berfikir "Dapet ini" cium Zulfa dipipi kiri suaminya.
Yusuf yang mendapat hadiah kecupan dari Zulfa tidak bisa menyembunyikan rasa sukanya, dia sangat bahagia mendapat perlakuan manis dari istrinya.
“Baiklah kita akan pergi malam ini, sekarang kamu bersiap-siap sana".
__ADS_1
Zulfa dengan bersemangat melepas mukena yang dia kenakan lalu berlari mengambil jaket sedangkan Yusuf menuju garasi untuk memanaskan motornya. Zulfa menghampiri suaminya dengan membawa jaket lalu mengunci rumah setelah mendapat perintah.
"Ayo mas, aku sudah siap".
“Ini pakai helem dulu" perintah Yusuf dan mendapat anggukan dari istrinya. Yusuf yang melihat istrinya seperti kucing yang penurut merasa gemas dan ingin menciumnya.
"Pakai helem yang benar" kata Yusuf sambil membenarkan helem Zulfa. Jantung Zulfa seakan mau meledak, bagaimana tidak meledak jika sedekat ini dengan laki-laki padahal tadi saat dia memeluk Yusuf saja tidak setegang ini.
Yusuf yang melihat wajah istrinya memerah merasa bingung, "Kenapa diam?, ayo naik" ucap Yusuf. Seketika Zulfa tersadar dari lamunannya kemudian naik kemotor yang dikendarai oleh Yusuf.
"Peluk Fa".
"Hah? peluk apa?!" batin Zulfa panik.
“Peluk perutku Fa, nanti kalau kamu jatuh gimana".
"Tapi mas?".
"Kenapa?, kok ragu padahal kamu tadi semangat banget meluk aku kok sekarang kamu ragu sih", goda Yusuf.
Zulfa merasa malam ini sangat dingin, jaket yang dia kenakan seakan tidak bisa menghalau dinginnya kota Jakarta. Yusuf yang merasa istrinya kedinginan memasukan tangan Zulfa kedalam kantong jaketnya, menggenggam tangan Zulfa berharap sedikit menghilangkan rasa dingin yang dialami oleh istrinya.
Senyuman hangat terukir di wajah putihnya, dia memandang punggung tegap Yusuf lalu menenggelamkan wajahnya di punggung suaminya. Perjodohan tidak terlalu buruk buatnya dan pacaran setelah menikah begitu menyenangkan. Rasa penantian panjang yang dilakukan terbayar sudah, tetapi senyum Zulfa seketika pudar saat wajah Hendra terlintas dipikirannya.
Lampu merah menghentikan para pengendara begitupun dengan Yusuf, para pengamen malam dengan semangatnya menyanyikan lagu yang mereka bawakan diiringi dengan gitar kecil dan sekantong plastik untuk menaruh uang. Yusuf memberikan uang receh untuk anak kecil berkulit coklat itu dengan tatapan kasihan. Seharusnya diumurnya sekecil itu dia berada di rumah duduk hangat sambil mengerjakan pekerjaan rumah bersama keluarganya.
"Fa lihat kesamping deh".
Zulfa kemudian melihat kesamping dan dia mendapati pasangan suami istri dengan umur sekitar 50 tahun sedang bersenda gurau sambil menunggu lampu merah berganti warna.
"Romantis kan".
"Iya" jawab Zulfa dengan anggukan.
"Kita besok akan begitu".
"Aamiin" jawab Zulfa mengamini, lalu wanita itu melihat Zulfa kemudian tersenyum. Belum sempat Zulfa membalas senyum wanita itu lampu merah telah berganti hijau. Suara klakson dari belakang membuat Yusuf menjalankan motornya. Zulfa menatap sedih motor kedua pasangan suami istri itu yang berjalan berbeda arah dengannya, dia kemudian menatap jalanan kembali dan menunggu dalam diam.
__ADS_1
Sesampainya dipasar pinggiran kota, Yusuf memarkirkan motornya di pinggir jalan dengan bantuan tukang parkir. Suasana begitu ramai walaupun malam hari, lalu lalang orang membuat dinginnya kota berubah menjadi hangat saat tawa mereka bersama keluarga. Yusuf yang memperhatikan Zulfa kemudian mengandeng tangan istrinya untuk berjalan.
"Kenapa kagum, baru kali ini keluar malam?".
“Ih endak, aku keingat kenangan dulu saat pergi keluar bareng ayah sama bunda".
“Kamu rindu mereka?”.
“Iya” jawab Zulfa singkat.
“Rindu enggak apa-apa,yang terpenting sekarang kamu punya suami. Mari buat kenangan bersama" ucap Yusuf dengan senyum hangat kepada Zulfa.
Zulfa yang mendengar Yusuf mengatakan itu memandangi wajah suaminya yang kembali fokus kejalan berusaha untuk menyebrang.
Zulfa menggenggam tangan suaminya erat, jika dia memang laki-laki terbaik yang diberikan olehmu Ya Rabb, panjangkan umurnya dan berilah kebahagian untuknya. Dan aku akan selalu mendukung semua keputusannya, aku mencintainya karena mu Rabbi, bismillah batin Zulfa.
Setelah menyebrang jalan, Yusuf mencari tempat duduk kemudian pergi memesan sate. Dengan bermodalkan tikar para pedagang kaki lima dapat menarik para pejalan kaki untuk mampir. Bagaimana tidak, suasana kota malam Jakarta ditambah dengan permainan musik yang menghibur para pembeli menambah kesan hangat. Zulfa memandangi sekitarnya, keluarga, anak kecil, para remaja, dan orang-orang yang habis pulang kerja duduk tertawa lepas menghilangkan penat yang mereka rasakan sehari penuh tanpa ada yang bermain dengan handphone.
"Kamu sedang lihat apa?" tanya Yusuf dengan membawa dua piring sate dengan teh hangat.
"Keluarga".
Yusuf mengamati keluarga yang di tatap oleh istrinya, "Kita nanti akan seperti itu, duduk berdua dengan dua anak kecil yang sedang memeluk ibunya sedangkan aku memesankan kalian makanan. Lalu setelah aku memesan makanan, aku mencium tanganmu lalu bercerita kepada anak kita tentang kita muda dulu".
"Pintar sekali kamu mengarang cerita".
"Itu bukan sebuah karangan, itu kenyataan dan kamu wanita yang akan membantuku untuk mewujudkannya".
Pipi Zulfa bersemu merah, dia tersipu malu karena ucapan oleh suaminya. Ternyata ini yang dinamakan ucapan manis para lelaki yang sangat berbahaya. "Berikan piringnya, aku mau makan satenya mas".
"Tidak ada kata makasih?".
"Makasih mas".
"Sama-sama sayang".
"Ihh", kata Zulfa dengan pipi merona.
__ADS_1