Surga Yang Dikejar

Surga Yang Dikejar
Ruang Tamu


__ADS_3

Bunyi alaram membangunkan Zulfa dari tidurnya, selimut yang menutupi tubuhnya dia singkirkan kesamping tanpa mempedulikan selimut itu jatuh kelantai. Zulfa mendudukkan tubuhnya, mengambil oksigen untuk memenuhi otaknya lalu perlahan membuka kedua matanya.


Zulfa mengamati sekeliling, ini masih kamarnya tidak ada yang berbeda dari sebelumnya. Jam kecilnya menunjukkan pukul empat pagi waktunya solat subuh. Langkah kaki yang pelan dengan baju berantakan adalah ciri khas Zulfa ketika bangun pagi.


Anehnya lampu kamar mandi yang berada di kamarnya telah menyala membuat gadis itu heran, apalagi dengan dua sikat gigi yang berada di pinggir wastafelnya.


"Sejak kapan aku punya dua sikat gigi?" tanyanya pada diri sendiri kemudian mengangkat bahu acuh.


Zulfa bergegas mengambil mukenah yang berada di lemarinya dan anehnya lagi dia menemukan beberapa baju pria "Kenapa baju ayah disini?".


Solat subuh dua reka'at dia kerjakan kemudian dilanjutkan dengan membaca Alquran. Zulfa berpikir sejenak hari ini ada yang aneh di kamarnya, dia menerka-nerka apa yang sebenarnya sedang terjadi.


"Astagfirullah, aku sudah menikah" kagetnya lalu dengan cepat merapikan sajadah dan menaruh kembali di almari. Dengan gerakan cepat Zulfa memakai hijab lalu turun ke bawah.


"Bunda!.. bunda!" panggil Zulfa dari atas sana.


Aulia yang kaget akibat Zulfa berteriak dari atas segera menghampiri anaknya "Ada apa Fa, tenang dulu".


"Ayah, bunda.. mas Yusuf, mas Yusuf".


Semua orang yang berada di dapur menatap Zulfa, lebih tepatnya menatap Zulfa dengan menahan tawanya. Zulfa yang kaget karena semua orang berkumpul di meja makan menatap dirinya. Zulfa malu, benar-benar malu dia berteriak kebingungan karena seorang pria apalagi pria yang membuat dia khawatir tidak memandang dirinya sama sekali.


"Maafkan saya, pagi-pagi sudah membuat keributan" kata Zulfa kemudian menghampiri bunda dan uminya yang sedang menyiapkan makanan untuk sarapan. Zulfa memukul jidatnya, dia benar-benar malu, kenapa dia bisa seceroboh ini.


"Haduh Fa, kamu ini kenapa tiba-tiba turun kebawah teriak-teriak?" tanya bunda sambil menuangkan teh kedalam cangkir.


"Haha, ndak papa lah Aulia namanya juga pengantin baru mungkin nak Zulfa kaget ditinggal Yusuf sebentar".


"Ohh... begitu Fa?" tanya Aulia dan mendapat gelengan dari Zulfa.


"Dia malu" tambah Fara lalu Aulia tertawa. Zulfa sebal kedua ibunya itu kompak sekali kalau mengejek dirinya. Zulfa mengambil nampan yang berisi buah dan membawanya di meja makan.


Saat dirinya ingin duduk, semua tempat duduk telah terisi padahal dia ingin sekali duduk di samping ayahnya.

__ADS_1


"Nak Zulfa kenapa berdiri saja, sini duduk di sebelah Yusuf".


Zulfa mengangguk dan berjalan ragu. Dia dengan ragu menarik kursi kemudian duduk disebelah pria yang kini berstatus sebagai suaminya. Cangung itulah yang dirasakan Zulfa saat ini, pria disebelahnya malah sibuk memainkan handphone.


"Yusuf tinggalkan dulu hpmu sekarang makan".


Yusuf memandang abinya lalu menghela nafas "Baik bi".


"Jangan galak-galak dengan menantuku Li, mungkin dia sibuk dengan pekerjaannya".


Ali menghela nafas lelah "Dia menantumu Qih, sekali dia mikirin kerja pasti bakal lupa segalanya. Jadi anakmu harus sabar sama anakku yang satu ini".


"Bener banget, kalau disuruh makan susah banget. Kalau nggak leptop ya hp, astagfirullah".


"Tugasmu sekarang jaga Yusuf Fa, perhatikan dia. Dan nak Yusuf yang sabar juga Zulfa itu anaknya manja dan cengeng jadi kebanyakan ngalah ya" kata Aulia.


"Bunda" senggol Zulfa kepada uminya yang menceritakan aibnya. Sebenarnya bukan aib sih tetapi dirinya malu jika orang lain mengetahui kalau dia manja dan seorang gadis cengeng.


"Iya bunda, saya akan sabar hadapi Zulfa" kata Yusuf dengan penuh keyakinan.


Sarapan kali ini adalah sarapan pertama bagi Zulfa dalam status sudah menikah. Keluarganya dan keluarga Yusuf sangat akrab terlihat hangat dan bahagia. Apalagi Zulfa sekarang mendapat bunda baru yang sangat menyayanginya, sungguh dia bersyukur walaupun belum mencintai Yusuf.


Pagi ini, Ali dan Fara akan pamit pulang kerumah mereka sedangkan Yusuf dan Zulfa akan pindah kerumahnya besok hari karena permintaan dari bunda dan ayah Zulfa.


"Ayo masuk" ajak Yusuf kepada Zulfa lalu meninggalkan gadis itu berdiri di teras. Zulfa mengikuti Yusuf dari belakang seperti anak ayam yang mengikuti induknya. Mengikuti kemana saja Yusuf akan pergi, saat dia didapur, di kamar, dan di ruang tamu.


"Kenapa berdiri, sini duduk" ucap Yusuf menepuk sofa disebelahnya.


"Iya".


Sepi hanya suara tv yang terdengar diruang tamu, ayah Zulfa pergi kerja sedangkan bundanya pergi ke pasar bersama teman-teman arisannya.


Ayo Fa cari topik untuk mengobrol, pikir Zulfa sambil mengigit kuku jempol tangannya. Saat Zulfa ingin membuka suara, Yusuf yang bertanya duluan tentangnya dan membuat Zulfa gelagapan.

__ADS_1


"Kamu nggak kuliah?".


"Enggak, libur satu minggu" jawabnya jujur.


"Kalau mas Yusuf kenapa nggak kerja?"


Yusuf mengusap rambut Zulfa gemas "Aku sedang mengambil masa libur".


"Oh" kata Zulfa paham "Mas kerja apa?".


"Kamu nggak tahu aku kerja apa?".


Geleng Zulfa polos, "Aku dakwah sama buka restoran".


"Masyaallah, Zulfa baru tahu".


"Berarti mas Yusuf ustad?" tanya Zulfa dan mendapat anggukan dari Yusuf.


"Kamu ini lo, nikah sama orang nggak tahu asal usulnya. Kalau misal kamu nikah sama pengangguran gimana coba".


Zulfa menggeleng "Aku nggak bakal nikah sama pengganguran, karena apa? karena ayah bakal menikahkan anaknya dengan cowok terbaik pilihannya".


Yusuf mencubit hidung Zulfa gemas "Pinter banget jawabnya".


"Mas.." panggil Zulfa mendekat kearah suaminya.


"Iya?".


"Maafin Zulfa, belum bisa nyerahin milik Zulfa ke mas Yusuf. Zulfa takut, Zulfa belum siap maafin Zulfa mas. Mas Yusuf boleh kok hukum Zulfa".


"Kamu ini ngomong apa sih Fa, aku hormati keputusan mu. Aku akan sabar nunggu kamu siap, sekarang diam dan nonton tv. Habis ini acara kesukaan ku mau tayang".


Zulfa tertawa akibat perkataan Yusuf seperti anak-anak, Yusuf yang melihat tawa Zulfa tersenyum dia mendekatkan tubuh istirnya supaya bisa dirangkul. Tanpa sadar Yusuf dan Zulfa tertidur pulas, Zulfa yang bersandar di pundak Yusuf sambil memeluk perut suaminya sedangkan Yusuf dia bersandar di kepala istrinya.

__ADS_1


Aulia yang pulang dikejutkan dengan kejadian langka seperti ini, dia sempat-sempatnya mengabadikan momen ini lalu mengirim ke suaminya dan keluarga Yusuf. Aulia kemudian mengambil selimut untuk menutupi kedua anaknya itu dan meninggalkan ruang tamu dengan keadaan tenang.


__ADS_2