Surga Yang Dikejar

Surga Yang Dikejar
Anak


__ADS_3

Dengan perlahan Zulfa membuka kedua matanya, dia lalu menggerakkan tubuhnya pelan-pelan. Rintihan sakit terdengar dari bibirnya yang pucat, Aulia yang melihat putrinya sadar memanggil dokter dan membuat orang-orang mendekat kearah ranjang Zulfa.


Disana terdapat kedua orang tua Zulfa, ketiga sahabatnya, suaminya dan wanita yang kemarin Zulfa temui. Zulfa membuang muka kearah wanita itu lalu menatap ayahnya. Dokter datang dan membuat semua orang menjauh dari arah kasur.


Setelah pemeriksaan, Zulfa dibantu untuk duduk lalu dokter berpamitan untuk meninggalkan ruangan itu setelah memberi saran kepada Faqih ayah Zulfa.


"Alhamdulillah sayang, kamu sudah siuman" cium Aulia dikening putrinya.


"Tidur lo kurang lama"


"Ish.. apaan sih Dan, aku senang kamu sudah sadar" tambah Desi.


"Hai Zulfa" sapa Hendra.


Zulfa tersenyum dengan wajah pucatnya setelah mendengar sapaan dari sahabatnya lalu dia menatap kearah suaminya yang masih saja diam. Zulfa memandang Yusuf tanpa senyuman lalu wanita itu, Zulfa kemudian menatap kembali ketiga sahabatnya.


"Ayah bunda aku boleh bicara bertiga dengan kalian?" pinta Zulfa lalu mendapat anggukan dari semuanya. Mereka semua keluar ruangan itu sedangkan Yusuf masih diam disamping Zulfa.


"Mas Yusuf" panggil Zulfa pelan.


"Ahh.. maaf aku akan keluar"


"Enggak usah mas, Zulfa juga punya kabar gembira buat mas Yusuf".


"Kabar gembira apa Fa?"


Zulfa tersenyum lalu memandang kedua orang tuanya "Ayah sama bunda belum beri tahu mas Yusuf kan?"


Deg!


Jantung Faqih dan Aulia berdetak kencang akibat kaget, mereka belum siap menerima kenyataan bahwa putrinya telah kehilangan anak yang dia kandung. Faqih menggeleng dan diikuti Aulia.


"Syukurlah.. mas Yusuf, Zulfa mau kasih tahu sesuatu tetapi sebelum itu Zulfa minta maaf ya atas sikap Zulfa tempo hari"


Yusuf mengangguk lalu mengusap hijab istrinya "Iya"


"Mas.. sebenarnya Zulfa hamil anaknya mas Yusuf sudah 1 minggu" ucapnya dengan bahagia sampai menunjukkan giginya yang rapi.


Yusuf terdiam dia menghentikan elusan pada hijab istirnya. Zulfa yang melihat ekspresi wajah suaminya yang datar menaikan alisnya curiga.


"Kok wajah mas Yusuf biasa aja sih?"


"Fa.." panggil Faqih dan membuat Zulfa menatap ayahnya "Kamu keguguran sayang, anak kamu meninggal saat kamu kecelakaan kemarin".


Zulfa terdiam setelah mendengar apa yang diucapkan ayahnya, sikap diam Zulfa membuat semua orang yang berada disini menjadi takut. "Hahaha.. ayah bohong kan, bilang sama Zulfa jika ayah cuma bercanda".

__ADS_1


"Ayah, jangan bohong sama Zulfa. Ini nggak lucu sama sekali".


"Bunda.. ayah bohong kan, nggak mungkin kan Zulfa keguguran?"


"Mas Yusuf orang tua Zulfa bohong kan?!, nggak mungkin kita kehilangannya anak kita. Mas Yusuf bilang sesuatu jangan diam saja"


Tangis Zulfa semakin pecah saat semua orang hanya membisu "Kalian semua pembohong, kalian semua pembohong, nggak mungkin aku keguguran, anakku mas.. anakku.."


Yusuf yang melihat Zulfa menangis segera memeluk istrinya, mendekapnya dengan kuat menyalurkan rasa sakit yang dialami oleh Zulfa kepada dirinya. Yusuf juga merasakan sakit kehilangan anaknya tetapi dia harus tegar untuk istrinya.


"Sayang ini sudah takdir, kamu harus ikhlas".


"Anakku pergi meninggalkan ibunya"


"Iya aku tahu, dia sudah tenang disana".


"Dia masih kecil, dia masih kecil mas.. aku ibu yang jahat, aku ibu yang jahat" racau Zulfa sambil memukul dadanya.


Beberapa menit setelah Faqih memangil dokter, dia kemudian datang membawa suntik yang sudah berisi obat. Dokter lalu menyuntik obat bius ke alat infus Zulfa dan membuat Zulfa tidak sadarkan diri.


Yusuf memandang wajah istrinya kemudian mencium keningnya. "Maafkan aku sayang, maafkan aku telah menjadi suami buruk untukmu dan anak kita" ucapnya lalu meninggalkan ruangan itu.


°°°


Dia tidak bisa berbuat apa-apa, apalagi tiga lawan satu pastilah dirinya yang kalah. Tentang kehilangan anaknya Zulfa sekarang berusaha untuk ikhlas apalagi ada keluarga yang selalu menghibur dan menyemangati dirinya.


Begitupun dengan suaminya Yusuf, dia sekarang sedang bermanja dengan memainkan kedua tangannya. Suaminya itu duduk di ranjang bersama dirinya, Zulfa sempat ingin bertanya kepada Yusuf dimana wanita itu tetapi niat itu dia urungkan karena takut membuat hatinya kembali sakit.


Selain itu tawaran yang diberikan oleh Dani membuat dia sedikit terkejut, pasalnya kemarin Dani ingin membawa dia pergi ke London dan meminta dirinya bercerai dari suaminya.


Zulfa menolak dengan halus bahwa dia mencintai suaminya Yusuf, Zulfa melihat raut wajah kecewa Dani. Dia berterima kasih banyak selama ini telah menjaganya dan Zulfa berdoa kepada Allah supaya sahabatnya itu mendapatkan wanita yang lebih baik darinya.


"Temenmu si Dani itu pulang hari ini kan" tanya Yusuf dengan suara seperti anak kecil.


"Iya, malam ini dia akan pulang ke London".


"Syukurlah kalau gitu, dia nggak akan menganggu kamu lagi".


"Hihi.. mas Yusuf cemburu?"


"Siapa yang cemburu, anak kurang ajar kaya dia harus belajar sopan santun sama orang yang lebih tua darinya".


"Maaf ya, Dani memang sifatnya masih kaya anak kecil" katanya lalu memegang bekas pukulan yang diberikan oleh Dani.


"Apakah masih sakit?"

__ADS_1


Yusuf memajukan bibirnya lalu mengangguk, dia kemudian menunjuk bagian-bagian yang dipukul oleh Dani.


"Sudah di obati?"


"Belum"


"Kenapa?"


"Nunggu kamu yang obatin".


"Huh.. manja" kata Zulfa menampar pipi Yusuf pelan.


Yusuf terkekeh lalu mendekatkan tubuhnya kearah Zulfa, "Sayang obati dulu lukaku, kamu nggak lihat sampai membekas kaya gini".


"Iya ambil P3k dulu sana, nanti aku obatin".


Yusuf menggeleng kemudian menyentuh luka yang berada diwajahnya mengunakan tangan "Cium".


"Apa, cium?"


Angguk Yusuf mantap, Zulfa membuang nafas kesal. Sejak kapan ciuman dapat mengobati luka akibat pukulan, pikiran tak percaya. Tangan Zulfa menyentuh wajah suaminya dengan ragu lalu dia mencium area yang memar itu dengan perlahan takut membuat Yusuf kesakitan.


Dia mencium mata sebelah kanan Yusuf dengan perlahan lalu hidungnya dan terakhir di sudut bibir Yusuf yang sampai sekarang masih terlihat merah.


Ehem!


Suara deheman membuat Zulfa tanpa sengaja mendorong Yusuf sampai terjatuh dari ranjang "Hah.. mas Yusuf nggak apa-apa?"


Yusuf menatap Zulfa dengan tatapan membunuh sedangkan yang ditatap hanya cengengesan tidak tahu dosa.


"Kalian ini kalau mau manja-manjaan ingat tempat dan kondisi" ucap Faqih lalu duduk di sofa rumah sakit.


"Biarkan saja mereka yah, kaya nggak tahu muda aja".


"Bunda kok belaian mereka sih".


"Mereka kan anak-anak bunda"


"Tapi kan aku suami bunda".


Yusuf dan Zulfa mengabaikan pertengkaran kecil yang sedang dilakukan kedua orang tuanya, sedangkan mereka berdua tidur di ranjang rumah sakit sambil menonton televisi.


Zulfa sudah memutuskan akan mempertahankan rumah tangganya walaupun dengan dia dimadu. Dia ikhlas sekarang tentang fakta suaminya menikah lagi dan kehilangan anaknya. Walaupun sakit tetapi Zulfa yakin bahwa Allah memberikan ujian kepada hambanya karena sayang bukan karena Allah benci kepada hambanya.


Dan Zulfa berharap dia akan kuat menerima semua penjelasan suaminya itu besok, penjelasan tentang istri keduanya.

__ADS_1


__ADS_2