
Setelah percakapan itu mereka kembali melakukan kegiatan masing-masing, melupakan sejenak masalah yang ada. Permintaan maaf diberikan oleh Zulfa membuat Yusuf bahagia dan sekarang mereka sedang menyiapkan makan siang bersama dan kalian tahu seberapa manja Yusuf itu tidak cukup membuat sikap dingin Zulfa hilang tetapi Yusuf tidak menyerah karena dia mencintai istrinya itu.
"Berhenti menatapku seperti itu, kumohon"
"Apa kamu tidak bosan Fa seharian membaca buku?. Dan apa-apaan ini jarak antara kita, kamu membaca di pojok sofa sedangkan aku juga berada di pojok, aku ingin mendekat kearah mu Fa" kata Yusuf.
Zulfa menatap sekilas suaminya lalu kembali menatap buku yang menceritakan kisah seorang pelaut, Yusuf yang geram atas tingkah istrinya hanya diam dia harus bersabar untuk berdamai lagi dengan Zulfa.
"Fa joging yuk, sore-sore gini enak banget kalau buat joging".
"Kalau mas mau joging pergi sendiri aja, aku dirumah baca buku".
"Sudah cukup" teriak Yusuf lalu membopong tubuh istrinya itu, membawanya keatas untuk bersiap lari sore.
"Aku akan memaksamu, kalau perlu aku juga bisa menggantikan baju untukmu".
"Kamu gila mas".
"Iya aku gila karena kamu Fa".
°°°
Sore ini taman begitu ramai, banyak anak-anak yang bermain kejar-kejaran ada pula yang sedang menghabiskan waktu bersama dengan sahabat atau pasangan. Tidak sedikit juga orang-orang melakukan kegiatan sama seperti Yusuf dan Zulfa.
Zulfa mengatur nafasnya, dia mengambil sebanyak mungkin udara yang bisa dia ambil. Suaminya itu memang benar-benar kurang waras, dirinya harus mengikuti langkah besar Yusuf supaya tidak ketinggalan.
Emosinya semakin bertambah saat semua wanita sekilas memandang kearah suaminya, tubuh yang tegap dan gagah, otot yang sedikit berisi serta wajahnya yang rupawan, siapa sih yang dapat menolak pesona seorang Yusuf apalagi dia dulu mantan preman sekolah.
"Dasar caper" gumannya.
"Fa larinya dipercepat sedikit nanti kamu ketinggalan lo".
"Mas aku capek, duduk sebentar"
"Ok" jawab Yusuf dengan senyum lalu dia mencari tempat duduk.
"Apa-apaan itu wajah bahagianya".
Zulfa lalu menghampiri suaminya, menerima air putih yang dia bawa dari rumah menghilangkan dahaganya kemudian berucap syukur.
"Kita baikan?" tanya Yusuf ragu.
Zulfa terdiam lalu mengangguk "Yah diriku tidak ada pilihan lain" ucapnya memandang Yusuf dengan senyuman.
"Aku bahagia banget Fa pengen cepet-cepet pulang lalu meluk kamu 10 jam".
"Lebay mas"
__ADS_1
"Pulang yuk" ajak Yusuf.
"Kamu habis baikan sama aku sekarang mau ajak pulang, niat kamu udah jelas banget mas kalau gini".
"Aku mau cepet-cepet pulang supaya bisa meluk kamu".
"Nggak mau aku laper mau tahu bulat beliin yang banyak sebelum pulang".
"Kamu kok tiba-tiba manja kaya gini sih, maksa di beliin tahu bulat"
"Mas Yusuf nggak mau, yaudah aku beli sendiri".
"Eh eh jangan marah dong.. iya aku belikan".
°°°
Yusuf berjalan dengan mengandeng tangan istirnya yang sedang asik memakan tahu bulat. Melewati setiap rumah untuk pulang terkadang mereka berhenti sebentar untuk menyapa atau mengobrol dengan tetangga.
Yusuf sempat kebingungan dengan istrinya yang berubah ubah sikapnya, terkadang pemarah, terkadang manja tetapi hal itu tidak membuat cintanya luntur.
"Mas berhenti"
"Ada apa Fa?" tanya Yusuf yang berhenti dihalaman rumah mereka.
"Tanaman Zulfa layu"
Zulfa memberikan tahu bulatnya kepada Yusuf lalu berlari untuk menyirami tanaman kesayangannya. Yusuf menghela nafas kemudian memakan tahu bulat sambil melihat istrinya menyirami tanaman yang layu.
"Mas kenapa diam saja bantuin aku"
Dengan tenang Yusuf mendekati tubuh mungil itu lalu memeluknya dari belakang. "Enggak mau, aku maunya kaya gini".
"Mas jangan kaya gini nanti dilihatin sama tetangga sebelah".
"Biarin, biar mereka tahu kalau aku sayang kamu".
"Terserah".
"Fa" panggil Yusuf "Kamu kok tambah genduttan ya?"
"Mas kalau sekali lagi kamu bilang aku gendut aku siram pakai air nih".
Yusuf terkekeh dia malah semakin mempererat pelukannya terkadang memiringkan kepala supaya bisa melihat wajah polos istrinya lalu menciumnya dan mendapatkan omelan darinya.
"Fa mandi bareng yuk"
"Mas.."
__ADS_1
"Kumohon.. menolak ajakan suami itu tidak baik lo"
"Iya mas, maafkan Zulfa".
Pelukan Yusuf meregang saat Zulfa ingin mematikan keran air, Yusuf masih diam ditempat melihat istirnya itu lalu menariknya masuk kerumah untuk membersihkan diri.
Setelah saling membersihkan diri, Yusuf dan Zulfa menuju ke dapur untuk mengisi perut mereka yang keroncongan sejak tadi.
Membuat telur dadar dan mie instan sore ini dengan hujan yang mengguyur semakin menambah kenikmatan tersendiri. Saat Zulfa memotong bayam untuk ditambahkan ke dalam mie perutnya tiba-tiba merasa mual yang membuatnya berlari kearah wastafel.
Dia memuntahkan isi perutnya tetapi tidak ada yang keluar, tangannya mencari pegangan menahan tubuhnya. Yusuf yang melihat Zulfa lalu menghampiri istrinya membantu menahan tubuhnya yang akan jatuh.
"Kamu kenapa Fa?"
"Mas tolong beli alat untuk tes kehamilan"
Yusuf membulatkan matanya "Kamu hamil Fa?" akunya senang.
"Aku enggak tahu, kamu sekarang beli sana. Aku tunggu disini"
"Eh iya" ucap Yusuf lalu keluar rumah. Zulfa mengistirahatkan tubuhnya di sofa setelah mematikan kompornya. Sebenarnya dia merasa kasihan menyuruh suaminya untuk pergi ke apotek saat hujan-hujan begini tetapi dirinya terlalu kepo tentang kehamilan ini benar atau tidak.
Yusuf kembali kerumah dengan membawa pesanan Zulfa, dia menunggu istrinya itu dengan harap-harap cemas. Zulfa keluar dengan raut bahagia dia kemudian memeluk suaminya "Mas aku positif hamil" ucapnya senang.
Raut bahagia terpancar dari wajah Yusuf dia tidak berhentinya mengucapkan terima kasih lalu memeluk istrinya.
Zulfa memukul dada suaminya yang memutar tubuh mereka sehingga membuat kepalanya pusing. "Hentikan mas, kamu membuatku pusing"
"Aku bahagia Fa, terima kasih"
Zulfa mengusap pipi suaminya "Ini sudah kewajiban ku mas"
"Aku akan mengabari keluarga tentang kehamilan kamu"
"Aku ikut kamu aja, tetapi sebelum itu kita makan dulu ya aku lapar".
"Makan mie?, tidak saat kehamilan kamu. Bayi kita harus makan-makanan yang sehat dan bergizi bukan makanan yang mengandung banyak micin"
Zulfa memukul dada suaminya menyalurkan rasa tidak sukanya lalu memajukan bibirnya cemberut. Yusuf yang melihat wajah istrinya menahan ketawa yang akan keluar, istrinya itu terlihat sangat imut sekali membuat dirinya gemas.
"Baiklah ini yang terakhir, tapi setelah ini kamu nggak boleh makan mie lagi ya"
"Baik bos!"
Zulfa lalu berlari kearah dapur untuk menyiapkan makanan untuk mereka santap sore ini, Yusuf yang melihat Zulfa berlari mengeluarkan suara yang hampir berteriak tetapi tidak di tanggapi oleh Yusuf.
Sebenarnya Yusuf merasa kuatir dengan kehamilan Zulfa tetapi dia percaya istrinya itu dapat menjaga anaknya dengan sangat baik. Dan semoga anaknya kelak menjadi sosok yang berguna bagi keluarganya.
__ADS_1