Surga Yang Dikejar

Surga Yang Dikejar
Pertemuan Yang Menyebalkan


__ADS_3

"Assalamu'alaikum" salam Zulfa saat memasuki rumahnya. Zulfa melangkahkan kakinya menuju keruang tamu kemudian kearah dapur, tampak sepi tidak ada satu orang pun dirumah.


"Kayaknya masih sore? apakah semua orang pada keluar".


"Hah..." Zulfa menghela nafas lelah, hari ini fisik dan batinnya sedang diuji. Mungkin akhir-akhir ini pipinya selalu bersemu merah seperti kepiting rebus.


Kamar mandi adalah tujuan Zulfa sekarang, dia ingin mendingginkan kepalanya dan membuang rasa lelah yang menempel sejak pagi. Setelah menyelesaikan kegiatan mandinya Zulfa keluar dari kamarnya dengan handuk yang melilit di rambutnya.


Zulfa memakai baju tidur warna pink dengan motif bunga disekitarnya, dirinya menuju meja makan untuk mengisi perutnya yang kosong. Alhasil hanya ada roti dengan selai kacang.


"Alhamdulillah" syukurnya kemudian memakan roti itu dengan lahap.


Pandangan Zulfa mengarah kepintu ruang tamu, roti yang berada di mulutnya seketika jatuh ke meja. Zulfa mendorong kursinya kasar kemudian berlari kearah kamarnya. Suara bantingan pintu membuat pria yang menatap Zulfa tadi kaget.


"Ada apa nak Yusuf?" tanya Faqih dari arah belakang.


"Emm... cuma kaget aja pak".


"Ohh, kukira apaan. Yuk makan dulu sebelum pulang" ajak Faqih kemudian duduk dimeja makan.


Faqih yang melihat bekas roti yang tergigit setengah mengarah pandangannya kekamar putri kecilnya. "Zulfa?!" pangilnya yang tidak mendapat jawaban.


"Zulfa?!"


"Iya ayah" jawab Zulfa kemudian. Zulfa segera bergegas keluar kamarnya. Sekarang Zulfa mengenakan kerudung panjang yang menutupi sampai perutnya. Zulfa mengamati pria itu sekilas kemudian menatap ayahnya.


"Buatin makanan untuk nak Yusuf"


"Adanya nasi goreng? ayah mau"


"Laa kok tanyanya sama ayah, seharusnya kamu tanya sama tamu ayah ini"


Zulfa menatap kesal kearah pria yang duduk disebelah ayahnya, dia adalah pria pertama yang melihat Zulfa tanpa mengenakan kerudung walaupun tadi rambutnya sudah tertutup oleh handuk tetapi lehernya? leher merupakan aurat juga dan Zulfa tadi memperlihatkan auratnya secara tidak sengaja.


Ayolah aku tidak tahu jika ada pria dirumah, maafkan aku Ya Raab. Zulfa menyesal batinnya dalam hati.


"Kamu mau makan nasi goreng?" tanyanya masih sopan karena terlihat dari wajahnya jika pria didepan itu lebih tua darinya.

__ADS_1


"Makasih... tetapi aku tidak lapar, jangan repot-repot"


"Nak Yusuf siapa yang merasa repot? tamu adalah raja dan saya menghormati tamu jadi nak Yusuf jangan sungkan-sungkan"


Yusuf hanya mengangguk kemudian Zulfa menuju ke dapur untuk memasak nasi goreng. Faqih mengamati Yusuf yang menaruh roti itu kepiring "Nak Yusuf gimana pendapat tentang anak saya?".


Yusuf terkekeh pelan "Dia wanita pembanting pintu yang keras".


Faqih menatap bingung kearah Yusuf "Maksud nak Yusuf apa ya?".


"Hehe, lupakan saja pak. Anak bapak manis menurut saya, sesuai dengan usianya. Saya jadi merasa tua jika berada disampingnya" ucapnya pelan.


Zulfa menggoreng nasi sambil mendengarkan pembicaraan dua pria yang berbeda umur itu. Dia hanya mendengar pria itu menyindir dirinya karena membanting pintu kamarnya setelah itu dirinya tidak mendengar apa yang mereka bicarakan.


"Zulfa sudah masaknya?".


Zulfa tersentak karena panggilan dari ayahnya, dia segera menyajikan nasi goreng ke dalam piring "Iya ayah ini sudah selesai".


Zulfa menaruh piring ke meja makan kemudian meninggalkan dua manusia yang asik dengan percakapan mereka, ayah dan pria asing itu. Yusuf memperhatikan kepergian Zulfa kemudian membuka pembicaraan sebelum memakan nasi goreng yang dimasakkan oleh gadis itu.


"Pak... apakah putri bapak akan setuju dengan pernikahan ini?, dari yang saya lihat putri bapak kayaknya tidak menyukai saya".


Yusuf hanya diam lalu menarik piring untuk mendekat kepada dirinya. "Saya memang setuju menikahi putri bapak, tetapi jika Zulfa tidak suka jangan dipaksakan".


"Saya tahu perasaan mu, jangan merasa tidak enakan begitu. Insyaallah Zulfa akan menerima kamu dengan ikhlas, tolong buat anak saya cinta kepada kamu dan tolong bimbing dia dengan ilmu agama".


"Insyaallah saya akan lakukan sebisa saya" anggukan Yusuf membuat Faqih menghentikan obrolannya lalu menyantap masakan putrinya.


Zulfa duduk dibelakang pintunya yang sudah terkunci dari dalam, dia sengaja berada disana untuk mendengarkan obrolan ayahnya. Prasangka Zulfa ternyata benar pria tadi adalah orang yang akan dijodohkan dengan dirinya.


Air mata Zulfa mengalir membasahi pipinya yang putih, celak yang dia pakai luntur terkena air mata. Zulfa menangis sambil menutupi mulutnya berharap orang lain tidak mendengarkan tangisannya.


Zulfa berlari kearah kasur kemudian menutup wajahnya mengunakan bantal, marah, kecewa, sedih menjadi satu. Zulfa sangat mencintai ayahnya sangat dia rela melakukan apapun yang diperintahkan ayahnya.


Tapi entah mengapa untuk hal ini Zulfa merasa lemah, dia tidak sekuat yang dibayangkan "Ayah wanita mana yang mau dijodohkan dengan pria asing. Wanita mana yang mau mengobarkan cintanya demi kebahagiaan keluarganya?".


"Ayah aku mencintai pria lain, putrimu mencintai pria lain. Hanya dia yang membuat putrimu ini tersenyum malu"

__ADS_1


"Ayah..." Zulfa terus saja menangis sambil bicara asal dirinya lelah dengan perjodohan yang selalu ayahnya bicarakan. Zulfa hanya wanita muda yang ingin menikmati masa kuliahan.


Dia tidak ingin memikirkan pernikahan atau rencana berkeluarga. Zulfa hanya ingin melihat orang tuanya bahagia dan kebahagiaan ayahnya terdapat di perjodohan ini.


"Ya Allah... jika memang ini takdir yang engkau tulis, tolong buat hamba ikhlas menjalani semua takdir yang engkau berikan" ucap Zulfa kemudian terlelap karena rasa lelah akibat menangis.


°°°


Aulia mengetuk pintu kamar putrinya beberapa kali, ini sudah pukul 9 malam dan dia tidak keluar dari kamarnya sejak isak.


"Mas gimana ini?, putri kita tidak mau keluar".


"Masa sih bun?".


"Kok malah balik tanya, bunda jadi tidak tenang ini".


"Mungkin dia ketiduran", Faqih coba mengetuk pintu kamar putrinya dan alhasil tidak ada jawaban. "Udahlah bun pasti Zulfa kecapekan lagian tadi saat nak Yusuf kesini dia yang masakin nasi goreng"


Aulia hanya mengangguk kemudian menuju kamar, Faqih menatap pintu kamar Zulfa "Apakah ini karena nak Yusuf datang kesini akibatnya Zulfa jadi merajuk?" tanyanya dalam hati.


"Mas ayo tidur" panggil Aulia dari pintu kamar.


"Iya aku datang".


Malam ini Zulfa terus membaca Alquran, panggilan dari orang tua Zulfa sebenarnya terdengar sampai ketelinganya. Zulfa aslinya dengar dia juga menjawab tetapi pelan.


Zulfa tidak mau keluar dengan mata sembab akibat menangis, Zulfa tertidur sampai magrib kemudian bergegas mengerjakan solat lalu berzikir menunggu azan isak berkumandang. Suara bacaan Alquran hanya terdengar pelan, Zulfa tidak bertenaga untuk mengeraskan suaranya.


Zulfa menghentikan bacaan Alquran karena notifikasi hp yang berbunyi. Dua pesan chat masuk di hpnya, terlihat disana dari Desi dan Dani. Zulfa menghapus air matanya kasar kemudian membuka pesan itu.



Wajah Zulfa kembali cemberut padahal tadi dia sangat ceria karena pesan dari sahabatnya. "Masa aku cemburu sih?" tanyanya kemudian dia membuka pesan dari Dani, Zulfa menghela nafas kesal karena pesan dari anak yang menyebalkan ini.



__ADS_1


Zulfa membuang hpnya kesal, sebagian tubuhnya dia baringkan di tepi kasur. Hari ini dia terlalu lelah untuk meneladani sahabatnya itu. Desi yang terlihat menyukai Dani sedangkan Dani? dia kayaknya tidak tertarik dengan Desi.


Memang sih tidak ada persahabatan diantara laki-laki dan perempuan, pasti salah satunya ada yang menyimpan rasa, begitupula dengan Zulfa. Zulfa mencintai Hendra sedangkan Hendra? Zulfa tidak tahu dia menyukai siapa. Sifatnya yang tertutup dengan wanita membuat Zulfa lelah, dirinya ingin menyampaikan perasaan ini tetapi takut jika persahabatan diantara mereka hancur karena sebuah rasa.


__ADS_2