Surga Yang Dikejar

Surga Yang Dikejar
Dani


__ADS_3

"Ish..." Zulfa hanya tersenyum dibalik kerudungnya. Zulfa mengobati luka Dani sambil menunduk karena dia tidak mau Dani melihat dirinya sedang menahan tangisannya.


"Mereka benci sama lo?" tanya Dani tiba-tiba.


"Eh, kamu mau makan sesuatu aku buatin ya".


"Fa jangan mengalihkan pembicaraan, sekarang lo tatap gue". Dani tersenyum akibat Zulfa menuruti perkataannya "Maaf gara-gara emosi gue, lo jadi korban. Desi dan Hendra suatu hari nanti mereka bakal maafin lo. Percaya sama gue".


Zulfa tersenyum kemudian menghapus air matanya, "Maaf... aku terlalu cengeng dan sering banget nangis".


"Nggak masalah lo malahan tambah imut".


"Maaf... aku tidak bisa membalas perasaan kamu, karena cinta itu tidak bisa dipaksakan sekali lagi aku minta maaf jika aku tidak bisa membalas perasaanmu Dan".


"Hehe.." Dani mengelus kerudung Zulfa penuh dengan kasih sayang "Jangan dipikirkan suatu saat nanti kamu juga suka sama aku".


"Ngarep banget" canda Zulfa yang membuat Dani juga ikut tertawa. Zulfa tahu hanya Dani yang membuat dirinya selalu tersenyum saat dia sedang sedih tetapi Allah tidak mentakdirkan dirinya mencintai Dani.


Dani menatap wajah Zulfa, tangan gadis itu menekan luka akibat pukulan dari Hendra, Dani terus saja menatap Zulfa membuat gadis itu salah tingkah.


"Fa", panggil Dani dengan suara sedih. "Gue besok ke London".


"Bu..at apa?".


"Gue disuruh pindah sama bokap. Katanya disana lebih maju, dan gue harus sekolah yang tinggi biar gue bisa pantas menjadi penerus perusahaan bokap gue".


"Ba.. gus, menurut aku itu bagus. Kuliah di luar negeri pasti seru lagian disana pasti pendidikannya lebih maju".


"Dan jangan lupa kabari aku, setelah sampai di London kalau dapat temen baru jangan lupa kabari sahabatmu ini. Nanti ceritain gimana makanan disana, hiks.. hiks.. terus jangan lu..pa foto-foto kirim ke.. aku.. hiks".


"Kamu ja.. hat, kamu jahat ninggalin aku Dan!".


Dani dari tadi hanya mendengar Zulfa berbicara ngawur, dia tahu kalau Zulfa sangat berat melepaskan sahabatnya apalagi persahabatan mereka sedang dilanda kehancuran. Dani mengelus punggung Zulfa agar berhenti menangis.


Melihat orang yang dicintai menangis membuat hatinya sakit. "Sudahlah Fa, nanti aku kabari gimana london itu".


"Jangan nangis lagi, berjanjilah kepadaku. Jangan nangis karena laki-laki. Jika aku tahu kamu nangis karena laki-laki dia sudah kupastikan akan babak belur".


"Janji" ucap Dani menatap Zulfa.

__ADS_1


"Janji", anggukan Zulfa yang mendapat elusan Dani di pucuk kepalanya.


°°°


Matahari sudah berganti dengan bulan, malam ini hawa dingin membuat tubuh menggigil. Zulfa memandang keluar jendela melihat orang-orang menari karena gembira.


Di depan rumahnya ada perayaan desa, satu desa sepakat untuk mebuat acara dangdutan dan alhasil Zulfa hanya menikmati dari dalam rumah. Suara bahagia orang-orang membuat Zulfa ikut tersenyum.


Senyumnya manis tanpa beban tetapi hanya beberapa menit saja saat pikirannya kembali terfokus kepada Dani, sahabatnya itu akan pergi besok ke London. Zulfa menghabiskan satu hari dirumah Dani sebelum sahabatnya itu pergi.


Zulfa hanya menganggap Dani sekedar sahabat tidak lebih. Sedangkan Hendra Zulfa menganggap sosok laki-laki yang baik, Zulfa tersenyum kecut mengingat tingkah konyol pria itu.


Dulu Hendra adalah pria ramah dan ceria, dia selalu bersikap lemah lembut dengan siapa saja memiliki sifat sopan santun yang membuat dirinya jatuh cinta karena sikapnya.


Hendra dia juga termasuk pria yang dewasa, terkadang Zulfa pulang sore sekedar melihat Hendra membaca Alquran di mushola sambil menunggu adiknya sedang mengikuti kegiatan sekolah.


Sebenarnya Zulfa menyukai Hendra karena akhlak dan sifatnya, Zulfa tersenyum mengingat masalalu yang sekilas teringat olehnya. Hendra dulu dan sekarang berbeda, dia dulu sangat suka tersenyum kepadanya apalagi membuat lelucon yang mengakibatkan Zulfa tidak berhenti tertawa.


Tetapi saat Hendra masuk masa kuliah dia mulai berubah, tidak lagi pernah tersenyum dihadapannya. Dulu Hendra suka sekali membuat lelucon kepada Zulfa tetapi sekarang dirinya hanya bisa memperhatikan Hendra memberikan lelucon itu kepada Desi.


"Sakit.. kenapa sesakit ini".


Zulfa mengeratkan pelukannya kepada boneka beruangnya yang berukuran hampir sama dengan tubuhnya.


Tanpa dia sadar air matanya jatuh, "Maafkan aku yang lancang mencintaimu" ucap Zulfa kembali menatap keramaian didepan rumahnya.


°°°


Zulfa memainkan tas kecilnya cemas, hawa dingin sangat terasa di bandara yang terletak di daerah Jakarta. Zulfa menunggu Dani dari jam 4 pagi tadi, dan sosok yang dia tunggu akhirnya berada dihadapannya.


Dani menatap nanar wajah Zulfa, wajah yang akan dia rindukan. Rasa yang tidak rela untuk meninggalkan kembali muncul, sebenarnya Dani lebih suka Zulfa tidak datang di bandara supaya dia tidak melupakan tujuannya pergi ke London.


"Kembali, jangan lupa kembali" ucap Zulfa dengan suara sedih.


Dani menatap dengan senyum terpaksa "Iya, kamu harus tunggu aku saat kembali ya".


"Iya, kabari aku".


Senyum Dani terukir diwajah tampannya, "Fa aku boleh meminta sesuatu tidak?".

__ADS_1


"Apa Dan?".


"Yang pertama jangan nangis", kata Dani yang mendapat anggukan dari Zulfa "Dan yang kedua, aku boleh memelukmu?".


Zulfa terdiam mendengar hal itu, dia berfikir dengan keras. Mata mereka saling menatap beberapa detik kemudian Zulfa tertunduk dan mengangguk, Dani yang mendengar itu tersenyum puas. Tanpa aba-aba Dani memeluk tubuh mungil Zulfa.


"Makasih, makasih Fa. Aku janji akan kembali".


"Aku berharap seperti itu".


Dani tersenyum kemudian semakin memperkuat pelukannya "Aku mencintaimu".


Reflek Zulfa mendorong tubuh Dani agar menjauh dari tubuhnya, mereka sudah kelewatan batas. Tidak seharusnya dirinya mengiyakan permintaan Dani.


"Pergilah, nanti kamu ketinggalan pesawat".


"Ternyata kamu belum juga membuka hatimu kepadaku, aku pergi dulu" pamit Dani setelah mengelus pucuk kerudung Zulfa.


Zulfa hanya tersenyum dan terus memperhatikan punggung Dani yang menjauh. Melihat dia masuk kedalam pesawat kemudian menunggu pesawat itu pergi dari bandara.


Tatapan sayu terlihat dimatanya, menahan rasa ingin menangis sedari tadi adalah hal paling berat yang Zulfa rasakan. Kehilangan ketiga sahabatnya, Desi sekarang pulang ke kampungnya, Dani yang pergi ke London dan Hendra masih sekampus tetapi dia menjauhiku.


"Pulang sekarang?" tanya suara yang berada disamping Zulfa. Zulfa yang mendengar itu kaget kemudian membalikkan tubuhnya menatap sosok suara tadi.


"Kamu".


Yusuf hanya tersenyum melihat wajah kaget Zulfa yang sekarang dipenuhi air mata. Mata mereka saling menatap, Yusuf menatap keluar jendela bandara untuk menghindari zina.


"Aku disuruh ayahmu untuk menjemput kamu, kamu mau pulang sekarang atau nanti?".


"Aku mau coklat panas".


"Ha?".


Zulfa menatap Yusuf yang masih menatap keluar jendela "Ayo beli coklat panas".


Senyum tulus Yusuf terukir diwajahnya, calon istrinya ternyata sangat menggemaskan. Tadi dia menangis kemudian berhenti dan meminta coklat panas.


"Habis itu pulang ya".

__ADS_1


"Iya" jawab Zulfa singkat, Zulfa mengikuti pria itu dari belakang. Sempat terlintas dipikirannya apakah ada cafe yang buka sepagi ini, dan fikiranya pun segera Zulfa hilangkan dan kembali menatap keluar jendela bandara.


"Kembalilah Dan, insyaallah jika kamu melamarku aku akan menerimanya. Dengan seizin Allah".


__ADS_2