
Yusuf mengamati istrinya yang lahap memakan sate sampai-sampai Zulfa tidak sadar ada sisa sate dibibirnya. Yusuf yang melihat itu membersihkan dengan tangannya lalu memakan sambal sate itu.
"Ih mas kok dimakan sih, enggak jijik?".
“Kenapa harus jijik, kamu kan istriku lihat sekitarmu mereka pada iri sama kita".
“Pede banget sih kamu”.
“Kalau aku enggak pede, mana mungkin diriku berani untuk melamar mu dan kita duduk berdua disini".
“Ih bucin banget sih".
"Dengar ya Fa, sejak kata bucin menyerang kata romantis itu tidak berlaku lagi. Dan kamu tahu bagaimana keromantisan Rasulallah dengan istrinya Aisyah?. Dibandingkan kita, enggak ada apa-apanya Fa" kata Yusuf sambil menyodorkan teh hangat yang dia pesan.
Zulfa yang melihat Yusuf menyodorkan teh dengan reflek menerima gelas itu kemudian meminumnya. Setelah Zulfa meminum gelas itu Yusuf meminum teh itu di bekas bibir istrinya. Pipi Zulfa memerah apalagi dengan tatapan Yusuf dengan senyum yang menggoda.
Apakah dia mau menggoda diriku, masyaallah ganteng banget kalau gini. Hentikan jantung, jangan terlalu berdebar-debar bagaimana kalau dia mendengarnya, batin Zulfa.
"Pipimu merah" tawa Yusuf sambil menaruh gelasnya.
“Mas berhenti menggoda diriku".
"Haha kenapa harus berhenti, kamu imut banget lo kalau pipimu lagi memerah”.
“Zulfa malu".
“Enggak perlu malu Fa”, kata Yusuf mengelus pucuk kepala istrinya. "Udah habiskan? ayo pulang nanti mampir beli martabak juga".
“Enggak usah mas, kita pulang saja lagian aku udah kenyang”.
“Baiklah kalau itu maumu".
Yusuf kemudian membayar pesanan yang dia makan lalu menggandeng tangan istrinya untuk menyebrang jalan. Mereka menjalankan motornya setelah membayar tukang parkir. Belum 10 menit mereka pergi dari pasar, hujan dengan bangganya menguyur kota Jakarta membuat para pengendara menepi untuk berteduh atau menggenakan jas hujan.
“Fa, kita neduh dulu yuk".
“Enggak mas, Zulfa pengen hujan-hujan".
“Nanti kamu sakit”, kata Yusuf setengah berteriak karena takut Zulfa tidak mendengar suaranya akibat derasnya guyuran hujan.
“Mas, Zulfa pengen nikmati hujan malam ini tapi kalau mas Yusuf pengen neduh enggak masalah sih”.
__ADS_1
“Hah”, hela nafas Yusuf. Dia kemudian tertawa lalu menggenggam erat tangan istrinya lalu menciumnya berharap istrinya atau dirinya tidak akan sakit besok harinya.
Mereka berdua menembus derasnya hujan tanpa menggenakan jas hujan. Terkadang Yusuf bercerita sambil menghilangkan dinginnya malam ini dan Zulfa membalas dengan tawa yang bahagia. Dia sangat senang malam hari ini, bisa jalan-jalan lalu menikmati hujan yang diturunkan oleh Allah.
Zulfa berfikir sambil melihat ke langit, menyemangati malaikat mikail yang membagikan rezeki. Dibalik kaca sepion yang terkena air hujan, Yusuf melihat istrinya yang tersenyum bahagia dan membuat rasa khawatir itu hilang.
“Jika kamu bahagia aku pun juga bahagia”, guman Yusuf menutup kaca helemnya lalu menjalankan motornya.
°°°
Rumah begitu sepi dan gelap, dengan basah kuyup Yusuf memasuki rumahnya. Zulfa yang kedinginan berlari kearah kamar mandi.
“Jangan lari-lari nanti kamu..”
Gubrak!!
“Jatuh”, kata Yusuf menambahkan.
“Udah jatuh mas".
“Gitu sih di bilangin keras kepala". Tanpa persetujuan dari istrinya, Yusuf menggendong Zulfa kemudian membawanya ke kamar mandi.
“Hah?!” kaget Zulfa.
“Kalau kamu nggak mau, aku enggak maksain”.
Raut wajah Zulfa terlihat bingung, dia berfikir dengan keras apalagi dia melihat raut suaminya yang kecewa, hatinya merasa tak tega. "Mas Zulfa mau kok".
“Seriusan?!” kaget Yusuf.
Padahal dia yang minta dan dia juga yang kaget, batin Zulfa.
Yusuf dan Zulfa kemudian masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan badan mereka. Didalam sana mereka bercanda, dan saling berebut air. Bukan hanya kebahagian tetapi pahala suami istri juga mereka dapatkan.
15 menit kemudian mereka keluar dengan tawa masing-masing, raut wajah bahagia Yusuf dan wajah malu Zulfa menjadi satu membuat para bidadari iri dengan pasangan halal ini. Belum sampai itu saja keromantisan mereka, mereka juga saling membantu mengenakan pakaian masing-masing. Setelah Yusuf dan Zulfa selesai menggenakan baju. Yusuf mengajak Zulfa untuk tidur.
Yusuf menepuk tempat tidur disebelahnya lalu disusul Zulfa yang ikut tidur tanpa menggenakan hijab. "Kamu cantik Fa, aku ingin setiap hari lihat kamu kaya gini".
"Kalau gitu lihat aku mas, insyaallah didepan mas Yusuf aku enggak pakai hijab".
Yusuf memainkan rambut Zulfa lalu mengelus pipi Zulfa pelan. Mereka saling menatap lama, mata Yusuf perlahan menutup. Dia menarik Zulfa kedalam pelukannya lalu mencium kening istrinya lembut. Zulfa yang merasakan tubuh hangat suaminya dengan cepat menatap wajah suaminya yang terlelap.
__ADS_1
"Mas, tubuh mas Yusuf hangat. Mas Yusuf sakit?" tanya Zulfa khawatir.
"Heem".
Hanya gumanan yang diberikan oleh Yusuf membuat Zulfa diam dan semakin erat memeluk suaminya berharap besok pagi dia sembuh. Dia tahu malam ini suaminya hanya membutuhkan istirahat, bacaan doa sebelum tidur Zulfa panjatkan kemudian ikut terlelap menyusul mimpi sang suami.
°°°
Suara azan subuh membangunkan Yusuf dalam tidurnya. Rasa pusing menyerang kepalanya tubuhnya hangat, berjalan saja terasa berat bagi Yusuf saat ini. Zulfa dengan mukenah yang sudah dia kenakan berjalan menghampiri suaminya.
"Mas biar Zulfa bantuin".
"Iya, tolong ya".
Zulfa kemudian membantu Yusuf berdiri lalu membantu suaminya menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Mereka berdua melaksanakan solat subuh berjamaah, Yusuf membaca surat dengan suara pelan tetapi terdengar merdu. Sunyi dan khusyuk membuat hati yang melihat ingin meneteskan air mata. Setelah mengakhiri bacaan doanya Yusuf bersandar di tembok untuk menopang tubuhnya agar tidak terjatuh dia benar sangat lemas.
Zulfa mendekati suaminya lalu menyandarkan kepala Yusuf di pangkuannya. "Mas nanti Zulfa masakin bubur ya?".
"Iya" kata Yusuf sambil memeluk istrinya.
Tapi tunggu Zulfa beli bahannya dulu, kemungkinan nunggu sayur pagi lewat.
“Enggak usah itu terlalu lama, nanti pesan online aja. Lagian aku ingin kamu tetep ada disini nemenin aku sampai sembuh".
“Tapi.."
“Tapi kenapa?”.
“Enggak apa-apa, nanti Zulfa izin enggak berangkat kuliah dulu nemenin mas Yusuf sampai sembuh".
“Kamu ada mata kuliah hari ini?" tanya Yusuf masih memeluk perut istrinya posesif.
"Iya".
"Jangan bolos aku nggak masalah jika kamu berangkat kuliah hari ini. Kamu kan mahasiswi akhir jadi tolong sering-seringlah berangkat".
Zulfa menghentikan elusan pada rambut suaminya, dia teringat pesan bundanya bahwa perintah suaminya harus dituruti apapun itu.
"Baik mas" jawab Zulfa.
Yusuf hanya diam, dia sangat lelah. Tubuhnya terasa tidak memiliki energi, sebenarnya dia ingin sekali jika istrinya menemani dirinya yang sedang sakit tetapi Yusuf sadar dia harus menghilangkan keegoisannya, istrinya itu juga memiliki kehidupan sendiri, pikir Yusuf.
__ADS_1