
Faqih beranjak dari duduknya setelah melihat dokter keluar dari ruangan bercat putih itu. Mereka berdua lalu menghampiri dokter yang terlihat masih muda.
"Apakah kalian keluarga pasien?" tanya dokter itu dan mendapat anggukan dari Faqih.
"Selamat bapak, putri anda hamil"
"Hamil" ucap Faqih tak percaya lalu memeluk istrinya sedangkan Aulia tidak berhenti mengucapkan syukur kepada Allah.
"Tetapi kandungan putri bapak sangat lemah, dia mengalami banyak pikiran saya harap dia tidak terlalu terbebani dengan beberapa masalah".
"Iya dok, kami paham".
"Selain itu dia juga demam nanti beberapa hari akan sembuh, kalau gitu saya pamit dulu. Permisi" ucap dokter itu pergi meninggalkan Faqih dan Aulia.
Setelah kepergian dokter, mereka masuk kedalam ruangan bercat putih. Alangkah senangnya saat Zulfa telah membuka matanya. Zulfa melihat keseluruh ruangan lalu menatap infus yang menancap ditangannya.
"Aku berada di rumah sakit" gumamnya lalu menatap kedua orang tuanya.
"Ayah bunda, Zulfa kangen" katanya pelan lalu memeluk bundanya.
"Kamu mau makan apa Fa, ayah belikan"
Zulfa tersenyum "Jarang banget ayah bersikap manis kepada Zulfa, ada apa ini" goda Zulfa dengan suara lemah.
Faqih mengelus pucuk kepala putrinya yang tertutup hijab, "Ayah sama bunda bahagia banget, sebab putri ayah hamil cucu ayah".
Tangan Zulfa berada di mulut menutupi rasa terkejutnya, dia menangis bahagia lalu memeluk kembali ayah dan bundanya. "Aku akan jadi ibu" ucap Zulfa bahagia.
"Aku akan jadi ibu".
Seketika raut wajah Zulfa berubah murung membuat Faqih dan Aulia menaikkan alisnya bingung.
"Ada apa sayang, kenapa kamu jadi murung kaya gini?"
"Ayah bunda, tolong rahasiakan kehamilan Zulfa ya, tolong jangan beritahu mas Yusuf".
"Kenapa Fa, kamu sedang ada masalah ya. Atau kalian sedang berantem?".
Zulfa menggeleng lalu tersenyum "Tidak ada masalah kok, ayah sama bunda tenang saja, aku merahasiakan kehamilan ini supaya menjadi hadiah saat wisuda nanti".
__ADS_1
Aulia duduk di ranjang samping putrinya, lalu memeluk Zulfa sayang "Bunda ikut kemauan mu aja Fa, yang penting kamu dan cucu bunda sehat".
"Makasih bunda" balas Zulfa memeluk bundanya.
"Yaa.. terus ayah cuma lihat kalian berpelukan gitu".
Zulfa terkekeh lalu menarik ayahnya, mereka saling berpelukan. Zulfa bahagia sekali tetapi di satu sisi Zulfa merasa berdosa saat membohongi kedua orang tuanya apa yang sebenarnya sedang terjadi.
"Emm.. Zulfa boleh tidak menginap dirumah ayah sama bunda sampai acara wisuda".
"Boleh, kamu putri bunda. Masa bunda melarang putri bunda sendiri tinggal di rumah orang tuanya".
Zulfa tersenyum "Terima kasih" ucapnya tulus.
°°°
1 minggu kemudian setelah kejadian minggu lalu dan kabar bahagia yang datang menghampiri keluarga Faqih tentang kehamilan putrinya. Hari ini adalah hari wisuda Zulfa yang telah dia nanti-nantikan.
Hari ini langit begitu cerah begitupun dengan suasana hati orang-orang yang akan mengakhiri masa kuliahnya dan mengucapkan selamat tinggal pada skripsi. Jika kalian bertanya tentang hubungan Yusuf dan Zulfa, jawabannya adalah baik-baik saja karena setiap hari mereka bertukar pesan melalui handphone.
Zulfa menyapa teman dan sahabatnya Hendra mereka saling mengucapkan selamat lalu masuk kedalam gedung untuk memulai acara wisuda. 7 jam mereka melaksanakan acara wisuda dan diakhiri dengan foto bersama keluarga masing-masing.
Zulfa tersenyum bahagia saat kedua orang tuanya datang mereka membawakan buket bunga ukuran sedang yang membuat Zulfa terkekeh dari jauh.
Aulia menepuk tangan Faqih untuk menghentikan tingkah suaminya seperti anak muda itu. "Selamat Zulfa sayang, bunda bangga kepada mu".
Zulfa tersenyum lalu mengucapkan terima kasih detik berikutnya dia mencari seseorang dan hal itu membuat Faqih ingin bertanya. "Kamu mencari siapa Fa?"
"Mas Yusuf tidak datang?" tanyanya dengan nada kecewa.
Raut kedua orang tuanya berubah membuat Zulfa menaikan alisnya bingung. "Ayah, mas Yusuf tidak datang ya?".
"Apa mas Yusuf sibuk, tapi kemarin dia bisa kok datang ke acara wisuda Zulfa?".
Faqih mengusap pipi Zulfa "Sayang maafkan ayah"
"Haha.. ayah kenapa sih kok tiba-tiba minta maaf".
"Bunda lihat ini sikap ayah aneh banget" ucapnya kepada Aulia, sedangkan Aulia juga menatap Zulfa dengan wajah sedih.
__ADS_1
"Bunda kenapa sih, kok tiba-tiba sedih begitu. Kalian berdua kenapa sih, jangan-jangan terjadi apa-apa ya sama mas Yusuf?"
"Fa, mulai hari ini jangan bahas Yusuf lagi ya"
"Memangnya kenapa yah?"
"Ayah akan mengajukan surat perceraian kamu dengan Yusuf".
Mata Zulfa membulat tidak percaya, dia kemudian dijelaskan oleh ayah dan bundanya apa yang sedang terjadi. Zulfa meninggalkan kedua orang tuanya lalu mencari taksi, tujuannya saat ini adalah rumah tinggalnya dengan Yusuf.
Kabar tentang pernikahan yang dilakukan Yusuf secara diam-diam dia tepis jauh-jauh, Zulfa percaya kepada suaminya, Zulfa percaya kepada Yusuf tentang janjinya dulu.
"Mas Yusuf semoga apa yang dikatakan orang tuaku itu bohong" ucapnya dengan menahan isakan.
Zulfa keluar dari taksi setelah membayar, dia lalu berlari menuju rumahnya dan hasilnya nihil tidak ada satu orangpun disana. Rumah itu sepi. Zulfa memenangkan dirinya lalu berfikir, dia lalu berlari menuju kerumah orang tua Yusuf.
Rasa nyeri di bagian kakinya dia abaikan, Zulfa terus berlari dengan air mata yang jatuh membasahi pipinya. Dia menepis kembali pemikiran itu, dia berharap jika semua itu bohong.
"Aduh.." rintih Zulfa saat dirinya terjatuh, dia mengusap air matanya dengan kasar. Perutnya nyeri tetapi dia abaikan, suara gemuruh dari langit pertanda akan turun hujan tidak membuat Zulfa menghentikan larinya sampai hujan turun membasahi kota Jakarta dia tetap saja berlari.
Zulfa tersenyum bahagia setelah sampai dirumah mertuanya, dia memegang buket itu dengan kuat lalu masuk kedalam rumah. Senyum Zulfa mengembang saat melihat suaminya sedang duduk bersama abinya.
"Mas Yusuf" panggil Zulfa membuat semua diruang tamu itu menoleh dengan wajah kaget.
Zulfa dengan langkah pasti menuju kearah Yusuf, tetapi langkah itu terhenti saat salah satu wanita memangil nama Yusuf dengan sebutan mas.
Mereka saling pandang satu sama lain, sedangkan Fara umi Yusuf menatap kaget setelah keluar dari arah dapur.
"Zulfa" panggil Yusuf lalu mendekat.
"Siapa dia mas?"
"Fa, kamu basah kuyup. Ayo ganti baju dulu"
"Mas siapa dia?" tanya Zulfa kembali dan tidak mendapatkan jawaban.
"Mas siapa dia, jangan bilang jika dia istri kamu mas. Pasti perkataan ayah bohongkan jika kamu nikah lagi?".
"Maafkan aku Fa".
__ADS_1
Zulfa menjauhkan tangannya dari tangan suaminya, buket yang dia bawa untuk ditunjukkan kepada Yusuf jatuh kelantai. Zulfa mundur beberapa langkah dari suaminya kemudian dia tersenyum.
Senyum yang dibuat seolah-olah dia bahagia, dia mengusap air matanya yang kembali jatuh dengan kedua tangannya sedangkan keluarga Yusuf hanya diam melihat begitupula dengan wanita itu.