Surga Yang Dikejar

Surga Yang Dikejar
Sebuah Rasa


__ADS_3

Suara motor yang berlalu lalang membuat tangan ingin menutup telinga karena suara berisik yang ditimbulkan. Asap kendaraan yang keluar dari motor atau mobil membuat ingin pergi dari sini dan mencari tempat yang terdapat banyak pohon.


Hari ini matahari terasa sangat panas begitupula dengan perasaan Zulfa, dia sudah menunggu di gang dekat rumahnya dari jam 8 dan sekarang sudah jam 8 lewat 20. Rasa kesal sudah menyelimuti diri Zulfa, Zulfa menghentakkan kakinya akibat kesal.


"Katanya nggak boleh telat kenapa dia yang telat sih?" gerutunya.


Suara motor berhenti didepan Zulfa membuat gadis itu mendongak untuk melihat siapa pelakunya. Zulfa tersenyum terpaksa di hadapan Dani antara kesal dia datang terlambat dan senang akhirnya Dani datang juga dan dirinya tidak kepanasan lagi menunggu Dani.


"Sory, gue tadi kesiangan".


"Udah kebiasaan kamu ya Dan, aku cape tahu".


"Maaf Fa, sekarang naik gih. Nanti ku traktir es coklat kesukaan kamu".


Zulfa yang mendengar itu tersenyum senang "Serius?, dua ya yang satu coklat vanila yang satu coklat oreo?".


Dani yang melihat ekspresi Zulfa berubah tersenyum senang walaupun dirinya harus mengeluarkan uang tetapi apa salahnya demi wanita yang dia suka "Iya dua es coklat".


Zulfa kemudian naik ke motor Dani, Zulfa berpegang pada pundak Dani supaya dirinya tidak jatuh dari motor super besar ini. Sesampainya di taman Zulfa melihat Hendra dan Desi tersenyum lepas, senyum semangat Zulfa seketika hilang saat dirinya melihat Hendra mengusap rambut Desi dari kejauhan.


Dani menepuk bahu Zulfa "Ayok"


"Eh, iya".


"Lo tahu nggak?, lo kalau sedang melamun, gugup, sembunyiin sesuatu pasti kalimat yang lo ucapkan pertama kali adalah eh.. bener nggak?"


Zulfa kaget kemudian dia menatap Dani, "kok kamu tahu sih".


"Gue udah perhatiin lo sejak Madrasah Aliyah".


"Dasar", Zulfa hanya menjawab dengan kalimat itu. Fikiranya tidak fokus saat ini dia sedang memikirkan apakah Hendra juga menyukai Desi?.


"Assalamu'alaikum" salam Dani kemudian duduk disamping Hendra. Hendra menjawab salam dari Dani lalu menghentikan mengoda Desi akibat ulahnya yang lucu.


"Ada apa kok kalian pada ketawa" tanya Zulfa ingin tahu.


"Enggak ada apa-apa sih cuma bercanda" jawab Desi santai, "eh iya kalian kok lama banget dan lagian kalian datangnya bareng".


"Ohh tadi gue jemput Zulfa dia lama soalnya".


"Eh... kamu yang lama, aku tadi nunggu kamu sampai kakiku pegal".


Desi menatap Dani "Jadi perempuan yang kamu jemput itu Zulfa?, sampai kamu menolak menjemput ku?".

__ADS_1


"Iya, emangnya kenapa. Ada yang salah ya"


Desi menggeleng kemudian membuang muka, Zulfa yang mendengar pengakuan dari Desi membuat hatinya tidak tenang. Dirinya tidak mau menikung teman sendiri.


"Niat kita kesini mau main kan, hari ini kita jalan-jalan aku bakal nyewa sepeda gandeng. Aku sama Zulfa dan Dani sama Desi".


"Fa, ikut aku nyewa sepeda yuk" ajak Hendra. Zulfa tidak menjawab dia hanya mengikuti Hendra dari belakang, dirinya kaget diserang dengan pernyataan tiba-tiba seperti itu membuat jantungnya berdegup kencang.


Dani dan Desi juga mengikuti dari belakang mereka tidak ada yang memulai pembicaraan. Hendra dan Zulfa sudah naik sepeda kemudian menyelusuri taman.


"Kalian kalau diam-diam kaya gitu, nggak bisa ngalahin kita berdua".


Zulfa tertawa "Yang terakhir sampai di ujung taman traktir makan siang".


Hendra dan Zulfa tertawa kemudian melajukan sepedanya menyusuri taman. Dani dan Desi saling menatap kemudian menyewa sepeda yang sama persis dengan Hendra dan Zulfa.


"Jangan sampai kalah sama kedua pecundang itu" ucap Desi.


"Iyalah gue enggak mau traktir Hendra sialan itu!".


Desi tersenyum dibalik tubuh Dani, Dani ternyata tipe cowok yang asik diajak bercanda walaupun terkadang sifat dinginnya keluar. Desi semakin kencang tertawa karena berhasil menyalip kedua sahabatnya itu.


"Ingat lo, yang kalah traktir makan siang"


Hendra dan Zulfa seketika kaget akibat mendengar suara kencang dari sebelahnya. Sepeda yang dikendarai Dani dan Desi maju dengan kencang tanpa memperhatikan sahabatnya yang berada di belakang mereka.


"Buat apa?".


Zulfa menaikan alisnya "Kan kalau kita kalah, kita terpaksa traktir mereka".


"Aku memang sengaja. Dengar ya Fa, aku tadi sengaja manasin mereka tentang tantangan yang kita buat supaya mereka baikan. Kamu tahu ngak, tadi Desi hampir membencimu akibat Dani menjemput kamu?".


"Iya, aku sampai lupa hal itu". Zulfa terdiam sebentar "Kamu udah tahu kalau Desi suka sama Dani?".


"Haha, aku tahu karena Desi curhatnya sama aku dan Desi juga tahu kalau aku juga suka sama dia".


Seketika senyum Zulfa memudar, walaupun dia tidak terlalu jelas mendengar perkataan Hendra tetapi dia cukup dengar jika Hendra menyukai Desi.


"Kamu suka sama Desi?, se..sejak kapan".


"Udah lama kok, Dani juga tahu kalau aku suka sama dia. Cuma Dani aja yang nggak peka kalau Desi suka sama Dani, dasar tuh bocah".


Zulfa tersenyum kecut, ternyata hanya dirinya yang tidak tahu jika Hendra menyukai Desi. Kayuhan yang tadi semangat akhirnya perlahan-lahan hilang. Tenaga yang tadi Zulfa punya dengan sekejap musnah hanya dengan sebuah pengakuan suka.

__ADS_1


Pegangan Zulfa semakin kencang, dia enggan menatap punggung Hendra. Zulfa mengedipkan matanya untuk mencegah supaya air matanya tidak jatuh. Tetapi hal itu tidak sesui dengan harapan Zulfa, Zulfa menangis di belakang Hendra isakan yang penuh dengan rasa sakit.


"Ndra, tolong berhenti disini" pinta Zulfa memohon dan saat itu Hendra berhenti dekat toilet. "Kamu kenapa nangis Fa?".


"Aku tadi kelilipan jadi nangis deh, haha. Kamu duluan aja Ndra nanti aku menyusul".


"Tapi..." sebelum Hendra menyelesaikan kalimatnya Zulfa sudah berlari menuju ke toilet. Isakan Zulfa semakin keras saat dia menutup pintu toilet.


Zulfa terus saja menghapus air matanya yang keluar, terus menghapus lagi dan lagi. Rasa sakit dihatinya membuat air mata itu terus keluar.


"Sa...kit" pekiknya.


"Sakit, kenapa mencintai begitu sakit. Hiks, hiks".


Dia menutup mukanya lalu menyentuh dadanya, merasakan rasa sakit yang amat dalam. Dia tidak bisa keluar sekarang dengan air mata yang membasahi pipinya.


Zulfa tertunduk sambil memegangi lututnya menyalurkan kesedihan yang ia pendam. Pengakuan secara tiba-tiba oleh Hendra membuat dirinya hancur. Perasaan yang dia simpan selama ini hanyalah cinta yang bertepuk sebelah tangan.


"Sa..kit, kumohon ini sangat sa..kit" ucapnya sambil memegang dadanya.


°°°


Zulfa berjalan lunglai, kakinya melangkah mengikuti jalan yang berada di taman. Pandanganya sayu, matanya sembab akibat kebanyakan menangis. Kerudungnya setengah berantakan dan tangannya memegangi tas ranselnya.


Dirinya hancur, orang-orang yang lewat menatap Zulfa penuh iba. Zulfa sudah memberi tahu jika dia pulang duluan jadi ketiga sahabatnya sudah pulang tadi siang. Sore ini taman semakin ramai pengunjung, banyak pria dan wanita yang bergandeng tangan. Duduk di bangku sambil merangkul.


Tidak jarang juga keluarga yang mengajak anaknya untuk bermain taman di sore hari. Zulfa berhenti kemudian duduk di bangku yang sepi melihat matahari terbenam.


"Indah"  kagumnya tanpa sadar diikuti oleh air mata yang jatuh membasahi pipinya. Zulfa kemudian berdiri membalikan badannya, mata yang sayu itu seketika membulat akibat seseorang yang menatap dirinya penuh dengan kasihan.


"Dani..."


Dani hanya diam kemudian memeluk Zulfa, Zulfa berusaha melepaskan pelukan Dani tetapi kekuatannya tidak setara dengan Dani.


"Lo bohong Fa, katanya lo udah pulang nyatanya lo di sini sedang nangis, gue kaya pria brengsek yang ninggalin cewek sendiri".


"Dan, lepasin".


"Lo nangis sebab apa?, biar gue hajar orang yang buat lo kaya gini".


"AKU BILANG LEPASIN !!!" bentak Zulfa dengan suara keras. Dani yang mendengar teriakan Zulfa seketika dia melepaskan pelukannya.


Dani tidak menyangka jika Zulfa bisa bicara sekeras ini, Zulfa yang Dani kenal adalah wanita dengan tutur kata yang lemah lembut dan tidak pernah meninggikan suaranya.

__ADS_1


"Aku lelah Dan, hari ini aku lelah,  aku mau pulang tolong antar aku pulang" pinta Zulfa dengan menangis.


Dani mengangguk kemudian menuntun Zulfa menuju motornya. Dani memberikan helemnya lalu mengendarai motornya menerobos kemacetan Jakarta.


__ADS_2