
Dani mulai meremas rambutnya kasar "Lo nggak bahagia Fa, Zulfa dengar gue" ucap Dani kemudian mengenggam tangan Zulfa.
"Ikut gue Fa, kita kabur dari sini dan hidup di London".
°°°
Mata Zulfa membulat tak percaya, dia berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Dani.
"Aku tahu, aku nggak bahagia dengan pernikahan ini. Tapi aku tidak menyangka kamu berpikir seperti itu. Kamu nggak mikirin perasaan orang tuaku kaya gimana. Kamu nggak mikir jika pernikahan tanpa ridho orang tua itu nggak akan berlangsung dengan bahagia".
"Aku kecewa sama kamu Dan dan aku berterima kasih selama ini telah menjaga aku dan selalu membela diriku, maaf jika aku banyak merepotkan kamu, keputusan ku telah bulat aku akan menikah dengan pria pilihan ayahku".
"Aku pamit Dan, assalamu'alaikum".
Dani menunduk lesu sambil memegang kotak kecil yang berisi cincin, dia menangis meratapi rasa sakit hati ini. Kenyataan yang begitu pahit telah menohok dirinya.
"Fa, gue nggak bakal lepasin lo sampai kapanpun" kata Dani kemudian meninggalkan cafe.
°°°
Jumat, 20 Desember..
Tanggal yang ditetapkan kedua keluarga untuk pernikahan putra dan putrinya. Suara orang yang berlalu lalang untuk menyiapkan acara pernikahan terdengar riuh dari subuh tadi.
Tatapan kosong terpancar dari mata Zulfa, suara orang yang mendandani dirinya dia abaikan. Cantik itulah pujian yang Zulfa dengar namun dia abaikan. Zulfa seharusnya bahagia untuk saat ini tetapi kenyataannya tidak, dia harus menyiapkan tenaga untuk tersenyum untuk banyak orang disana, untuk ayahnya, bundanya, mertua dan para kerabatnya.
"Alhamdulillah akhirnya sudah selesai" ucap perias itu.
Zulfa mengamati pantulannya dicermin, benar kata orang-orang, cantik. Tatapan Zulfa beralih saat pintu kamarnya terbuka dan menampilkan sosok yang dia kenal yaitu bundanya.
"Masyaallah, ini anak bunda cantik sekali" puji Aulia yang menghampiri anak semata wayangnya.
"Zulfa, sekarang turun. Nak Yusuf sudah selesai membacakan akadnya".
Zulfa yang mendengar itu terkejut kemudian menetralkan detak jantungnya, berarti dirinya sekarang sudah sah menjadi istri dari Yusuf.
"Ayo Fa, kita turun sekarang".
Zulfa hanya mengangguk kemudian turun ke bawah yang di gandeng oleh bundanya. Tatapan mata tertuju kearahnya begitupun dengan Yusuf dia tidak henti-hentinya menatap wanita yang baru saja sah menjadi istrinya.
Zulfa duduk disamping Yusuf, Yusuf yang menyadari itu mengalihkan tatapannya kemudian menatap penghulu yang menyodorkan surat nikah untuk di tanda tangani. Setelah selesai tanda tangan, Yusuf meminta izin untuk memakaikan cincin itu ke tangan Zulfa.
Tangan Zulfa bergetar hebat saat suaminya menyentuh tangannya untuk memakaikan cincin pernikahan, lalu tiba saat Zulfa memakaikan cincin itu kepada suaminya. Setelah cincin itu tersemat di jari manis suaminya, Zulfa meraih tangan Yusuf kemudian menciumnya. Yusuf yang menyadari itu kemudian mencium kening Zulfa, hanya 5 detik dan itu berhasil membuat detak jantung Zulfa tidak mau berhenti.
Akad telah dilaksanakan sekarang Yusuf dan Zulfa sedang menyambut para tamu. Dari pagi sampai sore membuat dua pengantin baru itu lelah.
__ADS_1
"Kamu lelah?" tanya Yusuf dengan penuh perhatian.
"Tidak".
"Jangan berbohong, jika kamu lelah kita istirahat. Biar aku yang menyambut para tamu".
Zulfa menggeleng "Jika aku istirahat diatas, terus kamu sendiri disini sama aja kamu nggak punya pasangan tau".
"Jadi kamu sekarang perhatian sama aku" goda Yusuf.
"Yaudah habis ini nggak usah perhatian aja".
"Eh, ngambek nih. Kalau ngambek nanti cantiknya hilang lo".
Itulah tadi perdebatan kecil yang membuat suasana canggung menjadi cair, Yusuf tersenyum kecil karena dia bisa akrab dengan Zulfa dia fikir dia akan sulit akrab dengan istrinya ternyata salah.
Setelah akad selesai, Yusuf dan Zulfa menghela nafas lelah. Mereka lelah menyambut para tamu yang berdatangan.
"Naik ke atas yuk" ajak Yusuf kemudian mendapat anggukan dari Zulfa.
"Mas!" panggil Zulfa pelan yang membuat Yusuf menghentikan langkahnya saat dia berada didepan tangga. Jujur hati Yusuf sekarang sedang berbunga-bunga karena dipanggil Zulfa dengan sebutan Mas.
"Ada apa Fa".
"Kayaknya aku nggak kuat naik tangga, boleh minta di gendong?".
Akhirnya Yusuf pun mengendong Zulfa ala bridal style. Tidak dipungkiri seberapa bahagianya Yusuf saat ini, Zulfa yang digendong suaminya itu berpegang erat pada pundak Yusuf.
"Maaf mas, repotin".
"Kamu ini bicara apa Fa, kamu ini istriku jadi aku enggak merasa di repotin".
Zulfa menunjukkan senyuman, dia bersandar pada dada bidang suaminya. Suara detak jantung membuat Zulfa menahan tawanya yang akan pecah. Pintu kamar yang bercat coklat dengan tulisan nama Zulfa menjadi tujuan Yusuf saat ini.
Yusuf memasuki kamar Zulfa dengan mengucapkan salam dan di jawab oleh gadis itu. Yusuf menaruh Zulfa diranjang dengan hati-hati kemudian dia berjongkok untuk melepaskan sepatu yang di kenakan Zulfa.
"Kakimu merah, aku ambil salep dulu ya" kata Yusuf ingin beranjak dari sana tetapi dicegah oleh istrinya.
"Tidak usah mas, cuma merah enggak bengkak kok".
"Serius nggak apa-apa" tanya Yusuf memastikan dan mendapat anggukan dari Zulfa.
"Yaudah, kamu butuh bantuan enggak untuk lepasin gaunmu?".
"Ihh, apaan sih mas. Dasar mesum!".
__ADS_1
"Siapa yang mesum, kamu kan istriku".
"Udah sana mandi, bau tau" ucap Zulfa mendorong tubuh Yusuf memasuki kamar mandi. Senyuman yang tadi ditunjukkan Zulfa tiba-tiba menghilang, dia berjalan lemas kearah ranjang duduk membelakangi kamar mandi.
"Dasar munafik" guman Zulfa.
"Kamu munafik Fa, dosa membohongi suami, kamu nggak bahagia" guman Zulfa frustasi dia menyeka air matanya, meratapi nasib yang dia alami. Sebenarnya Zulfa takut dengan suaminya, dia terlalu takut menerima fakta bahwa dia menikah dengan orang asing.
Zulfa kemudian menghapus jejak air mata yang tertinggal kemudian merapikan kembali gaunnya, saat pintu kamar mandi terbuka dan menampilkan sosok pria yaitu suami Zulfa sendiri. Zulfa menghampiri untuk membantunya.
"Mas butuh bantuan?".
"Enggak Fa, sekarang kamu mandi gih, bau".
"Iya mas" jawab Zulfa patuh.
°°°
Jam menunjukkan pukul 8 malam, Yusuf dan Zulfa sekarang sedang melaksanakan solat Isyak. Karena ada kegiatan yang tidak bisa ditinggalkan akhirnya mereka melakukan solat Isyak jam 8.
Yusuf membacakan doa dengan begitu khusyuk dan di aamiini oleh Zulfa, setelah doa selesai dipanjatkan Zulfa menyalami Yusuf dan pria itu menarik Zulfa supaya mendekat. Zulfa kaget tetapi rasa itu menjadi tenang saat Yusuf membacakan doa untuknya.
Tangan Yusuf satunya menyentuh ujung kepala Zulfa dan satunya lagi menadah keatas. Bibir Yusuf tidak henti-hentinya melafalkan doa yang dipanjatkan kepada Allah SWT.
Mata Zulfa dengan refleks terpejam dia merasa tenang akan perlakuan suaminya. Sesuatu yang dingin menyentuh keningnya. Yusuf mencium kening Zulfa dan membuat gadis itu membuka matanya.
Ciuman itu turun ke hidung kemudian ke dua mata Zulfa lalu ke dua pipi gembul gadis itu. Yusuf menatap Zulfa sekilas lalu mencium bibir mungil istirnya. Pipi Zulfa merona, dia mengambil nafas sebisa mungkin.
Yusuf tanpa peringatan mengangkat tubuh Zulfa dan dibaringkan ke atas kasur. Zulfa yang kaget dengan sigap memegang bahu Yusuf agar tidak jatuh. Yusuf membaringkan Zulfa dengan pelan takut jika istirnya itu terjadi apa-apa.
Yusuf dengan sabar melepaskan mukenah yang dipakai Zulfa dan memperlihatkan rambut lurus Zulfa yang panjang sampai punggungnya. Yusuf menghirup rambut Zulfa kemudian mencium leher putih istrinya.
"Mas" panggil Zulfa.
Yusuf mengabaikan panggilan Zulfa, sekarang kancing baju Zulfa telah terbuka dan Yusuf tidak berhenti menciumi istrinya itu.
"Mas hentikan" ucap Zulfa sambil mendorong tubuh Yusuf dengan tenaganya tetapi itu sia-sia.
"Mas hentikan, aku belum siap" tangis Zulfa pecah dan membuat Yusuf menghentikan gerakannya. Zulfa bangkit kemudian menyambar selimut untuk menutupi tubuhnya itu.
Zulfa menangis, dia semakin menutupi tubuhnya dengan selimut dan menjauhkannya tubuhnya dari Yusuf. Yusuf yang melihat Zulfa menangis, mengacak kasar rambutnya.
"Maafkan aku Fa, aku terlalu terjebak dalam nafsu sampai lupa denganmu" mohon Yusuf kemudian menyentuh pundak Zulfa yang ditepis oleh Zulfa.
Yusuf yang mengerti itu hanya menghela nafas berat "Aku akan tidur di sofa". Setelah mengatakan itu Yusuf membaringkan tubuhnya di Sofa dan menunggu mimpi menghampiri dirinya.
__ADS_1
Zulfa menghentikan tangisannya, merapikan bajunya lalu turun dari ranjang untuk mengambil selimut. Zulfa menghampiri sofa dengan ragu, dia menyelimuti tubuh suaminya lalu menuju ranjang untuk tidur mengistirahatkan tubuhnya.