
Hembusan angin membuat gorden kamar Zulfa bergerak, tatapan kosong kearah luar jendela telah menjadi kebiasaan Zulfa untuk beberapa hari ini. Tubuh Zulfa semakin kurus akhir-akhir ini akibat dia jarang makan. Aulia bunda Zulfa semakin cemas akibat tingkah putrinya itu.
Perubahan sikap Zulfa ini terjadi karena lamaran Yusuf beberapa hari lalu, hari senin keluarga Yusuf datang ke rumah Faqih untuk melamar putrinya dan jawaban yang diberikan Zulfa apa?, dia menerimanya tetapi dengan berat hati.
Zulfa menutup matanya berat, dia ingin melupakan lamaran kemarin yang membuat hatinya sedih. Suara pintu terbuka membuat Zulfa menatap kearah pintu.
Aulia datang dengan nampan yang di atasnya berisi bubur ayam untuk sarapan putrinya. "Zulfa sayang sarapan dulu nak, nanti kamu sakit lo".
"Taruh saja diatas meja bun" ucap Zulfa tanpa menatap kearah bundanya.
Aulia hanya mengangguk kecewa, dia menatap cemilan yang tadi malam dia bawakan untuk putrinya dengan perasaan sedih. Cemilan itu tidak disentuh oleh Zulfa.
"Zulfa" kata Aulia lembut sambil menghampiri anaknya. "Makan nak, bunda tidak mau kamu sakit".
Zulfa hanya menggeleng. Aulia mengusap kepala Zulfa dengan lembut. "Sebentar lagi acara akad kamu, kamu tidak mau kan saat hari itu kamu sakit".
Tanpa sadar air mata Zulfa mengalir membasahi pipinya yang putih, "Bunda tinggalkan aku sendiri".
Aulia kaget mendengarkan perkataan Zulfa, tetapi dia paham perasaan putrinya dan mengangguk meninggalkan kamar Zulfa. Setelah kepergian bundanya, Zulfa merebahkan tubuhnya, menutup tubuh kecilnya dengan selimut. Zulfa sadar dirinya akhir-akhir ini tambah kurus tetapi dia masa bodoh dengan itu, hatinya tidak terlalu kuat menerima kenyataan hidup.
Saat Zulfa ingin menghampiri mimpinya, suara notif hp berbunyi membuat rasa kantuk Zulfa seketika hilang. Zulfa melihat siapa yang mengirim pesan sepagi ini, dan satu nama yang berada di layar handphone Zulfa membuat senyum gadis itu muncul kembali.
"Dani pulang ke Indonesia" gumamnya tidak percaya.
Zulfa cepat-cepat membalas pesan dari Dani dan besok dia akan bertemu dengan Dani. Zulfa bahagia, hatinya kembali senang entah mengapa itu bisa terjadi. Zulfa dengan senyum mengambil sarapan dan memakannya.
Suara notif hp membuat dia menghentikan makannya, pesan dari Yusuf. Seketika senyum yang ada beberapa menit lalu kembali hilang. Zulfa membaca pesan itu dan kembali memakan makanannya, tanpa membalas pesan dari Yusuf dia terlalu malas untuk melakukan hal itu.
Setelah bubur habis, Zulfa mengembalikan mangkuk itu ke dapur dan membuat Faqih dan Aulia dibuat kaget karena tingkah Zulfa. Sebab setelah lamaran Yusuf, Zulfa sudah tidak lagi keluar kamar, dia hanya berdiam diri dikamar.
Faqih yang melihat itu tersenyum tulus, dia berfikir mungkin putrinya telah membuka hati kepada Yusuf. Sedangkan Aulia dia bersyukur putrinya itu mau memakan masakannya dan memperhatikan kesehatan tubuhnya.
°°°
Dani menatap monas Jakarta dengan rasa bahagia, dia berdiri disana dengan senyum yang mengembang. Para wanita yang berlalu lalang melihat dengan perasaan terkagum-kagum.
"Ganteng" bisik mereka. Dani yang mendengar itu tak menggubris sama sekali dia malah asik menatap anak kecil saling berkejaran. Dani sekarang terlihat seperti orang luar, rambut yang dicat pirang kulitnya yang semakin putih dan bajunya yang terlihat ketat akibat ototnya.
Setelah pindah di London, Dani mengubah gaya hidupnya. Mendapat teman baru dan kehidupan baru, disana banyak wanita yang memuja Dani dan tidak jarang mengajak melakukan hubungan badan. Tetapi Dani menolaknya dia masih teringat dengan ajaran agamanya dan Zulfa, salah satu alasan dia tidak bermain dengan teman wanitanya.
"Dani..!" panggilan suara khas ini membuat Dani menatap kearah sumber suara.Zulfa dengan pipi merah berlari menghampiri Dani, dia capek akibat lari menuju ke monas.
__ADS_1
Zulfa menatap Dani tidak percaya "Kamu Dani?".
Dani tersenyum dan mengangguk, Zulfa yang mendapat anggukan Dani tidak percaya dirinya sungguh kaget. "Kamu berubah?".
"Kenapa lo kaget".
"Iya" jawab Zulfa polos dan membuat Dani gemas. "Kamu sekarang udah kaya orang bule Dan".
"Masa sih?".
"Iya, kamu sekarang tambah tinggi, dan tubuh kamu semakin berisi".
"Berisi?, maksud kamu aku gendut gitu".
"Eh.. bukan, bukan maksud aku kamu gendut, tapi kamu tambah.." Zulfa menghentikan perkataannya akibat usapan yang diberikan Dani.
"Kenapa?" tanya Zulfa kepada Dani.
"Aku kangen sama kamu".
Deg!
Zulfa hanya diam, dia menatap mata Dani. Tidak ada kebohongan dimatanya dia jujur. Zulfa semakin tidak tega jika dia memberitahu kenyataan yang sebenarnya, jujur Zulfa tidak mau menyakiti hati Dani lagi.
Dani mengangguk dan melangkahkan kakinya diikuti dengan Zulfa. Banyak pasang mata yang mengamati mereka berdua antara kagum dan iri. Cewek-cewek yang tadi membicarakan Dani dari belakang sekarang sedang patah hati. Ada juga orang yang percaya diri, jika dirinya lebih cantik daripada gadis di sebelahnya.
Zulfa hanya fokus mendengarkan cerita Dani tentang kehidupan London, dia sebenarnya ingin pergi kesana walaupun satu hari hanya sekedar melihat pemandangan di London saja.
Sesampainya di kafe yang tidak jauh dari monas, Zulfa duduk dengan perasaan takut. Hatinya tidak tenang dia sedari tadi menunggu Dani memesan makanan untuk dirinya.
"Nih, gue pesen es coklat sama kue buat lo" kata Dani sambil menaruh makanan yang tadi dia pesan.
"Makasih Dan".
Dani menatap Zulfa lekat, terlihat dari mata Dani jika dia sangat merindukan Zulfa. Zulfa yang sedari tadi di pandang oleh Dani berdehem agar Dani tidak lagi menatapnya dan hal itu berhasil membuat Dani mengalihkan padangannya dari Zulfa.
Zulfa menghembuskan nafas berat "Dan aku mau cerita sesuatu".
"Cerita apa?".
"Aku enggak tahu, ini kabar baik atau buruk buat kamu".
__ADS_1
"Emangnya apa sih Fa?, lo diganggu sama Desi lagi atau Hendra nyakitin lo?".
"Bukan".
"Terus apa?, lo jangan takut ada gue disini".
Hah, helaan nafas Zulfa membuat Dani semakin ingin tahu apa yang akan dibicarakan oleh Zulfa.
"Dan, aku akan.."
"Akan apa Fa?" tanya Dani tenang.
"Aku akan menikah Dan, tepatnya hari Sabtu besok. Aku harap kamu datang" ucap Zulfa akhirnya.
Dani yang mendengar itu terdiam, gelas yang tadi dia pengang entah sejak kapan sudah berada di atas meja. Raut wajah Dani terlihat kaget dan beberapa detik kemudian dia mengusap wajahnya frustasi.
Hahaha, tawa Dani meledek. "Lo bercanda kan?".
Geleng Zulfa pertanda tidak.
"Bilang ke gue, kalau lo bercanda Fa, ini benar-benar enggak lucu sama sekali".
Zulfa kembali menggelengkan kepala, kali ini Zulfa menunduk karena takut.
Brak!!
Dani meninju meja cafe dengan keras sehingga pengunjung cafe menatap kearah Dani dengan raut penasaran, sedangkan Zulfa dia mulai menangis sambil memegang bajunya yang mulai basah karena tangisannya.
"Maafkan aku Dan" ucap Zulfa pelan.
"Lo tahu nggak Fa, gue berharap kesini supaya dapetin hati lo. Supaya lo luluh sama gue dan lo tahu nggak?".
Dani mengeluarkan sebuah kotak kecil dalam sakunya "Gue datang ke Indonesia mau lamar lo, minta restu orang tua lo dan gue mau bawa lo ke London kita hidup bahagia berdua disana tapi apa yang gue dapat?, Wanita yang gue cintai sebentar lagi mau menikah dengan pria lain".
"Maaf Dan, maaf".
"Maaf aja enggak bakal cukup Fa" ucap Dani dengan suara mulai bergetar.
"Fa gue mau tanya, lo nikah gini atas dasar cinta?".
"Enggak Dan, aku nikah sama pria pilihan ayah karena aku ingin berbakti kepada orang tua aku Dan, jadi mengerti lah"
__ADS_1
Dani mulai meremas rambutnya kasar "Lo nggak bahagia Fa, Zulfa dengar gue" ucap Dani kemudian memengang tangan Zulfa.
"Ikut gue Fa, kita kabur dari sini dan hidup di London".