Surga Yang Dikejar

Surga Yang Dikejar
Manja


__ADS_3

Pagi harinya Zulfa menyiapkan sarapan untuk Yusuf suaminya. Percikan minyak goreng tidak membuat Zulfa takut, dengan lihai dia memotong sayur menjadi bagian-bagian kecil lalu bergantian mengaduk telur yang telah di bumbui. Zulfa sudah seperti chef yang ahli dalam bidang memasak.


Yusuf turun kebawah dengan handuk yang menggalung di lehernya. Dia kemudian menghampiri istrinya yang sedang asik dengan pekerjaannya di dapur, tanpa satu patah kata yang keluar dari mulutnya Yusuf tiba-tiba memeluk Zulfa dari belakang dan membuat sang empu kaget.


"Kamu asik banget masaknya sampai lupa kalau ada suamimu disini" rengek Yusuf cemburu dia merasa di duakan oleh istrinya.


Manja, batin Zulfa kemudian mengelus pipi suaminya lalu kembali memotong sayuran "Maaf ya mas, aku enggak tahu kalau mas Yusuf udah turun".


Yusuf tidak terima alasan dari istrinya dia ingin sekali dimanja oleh Zulfa satu hari ini, gigitan kecil diberikan oleh Yusuf dan membuat Zulfa meringis kesakitan. Zulfa sekarang tidak memakai hijab dan entah hawa apa dia menggulung rambutnya dan hal itu membuat Yusuf ingin menggigit leher putih istrinya.


"Mas hentikan aku mau masak".


"Hemm" jawab Yusuf yang belum mau menghentikan gigitannya.


"Awww" pekik Zulfa, dia kemudian menyikut perut suaminya agar menghentikan kegiatan yang membuat jantungnya berdebar-debar.


"Mas hentikan" pinta Zulfa dan membuat Yusuf mengalah dia menghentikan gigitannya lalu mempererat pelukan dan tak lupa menyandarkan kepalanya di bahu istrinya, jujur  itu adalah kegiatan favorit yang Yusuf sukai setelah menikah.


“Kamu masak apa hari ini?".


"Sup, telur sama tempe goreng".


"Heem, kayaknya enak dari sini baunya udah kecium”.


“Iya dong yang masak siapa dulu, Zulfa" ucapnya dengan bangga. Yusuf hanya diam memperhatikan istrinya yang membalik tempe satu persatu. Dengan tubuhnya yang dipeluk suaminya, Zulfa kesulitan bergerak tetapi dia membiarkannya karena kemarin suaminya itu habis sembuh dari sakitnya, wajar kan kalau suaminya itu bermanja kepada dirinya.


"Mas mandi dulu kemudian makan".


"Mandi bareng".


"Ih gamau, Zulfa lagi masak".


"Kalau gitu aku nunggu kamu selesai masak".

__ADS_1


Zulfa mematikan kompor lalu menghadap suaminya yang masih setia memeluk dirinya. Tangan Zulfa bergerak naik menyentuh pipi Yusuf yang sudah sebagian dipenuhi bulu-bulu halus.


"Mas mandi ya nanti habis mandi kita sarapan bareng. Zulfa udah mandi tadi pagi sekarang giliran mas Yusuf".


“Iya, tapi cium dulu" pinta Yusuf yang membuat mata Zulfa membulat dengan sempurna tetapi beberapa menit kemudian dia menetralkan kembali begitupula dengan dekap jantungnya.


Zulfa mencium pipi suaminya sedangkan Yusuf, dia hanya diam melihat reaksi wajah Zulfa yang mencium dirinya dengan mata tertutup sangat mengemaskan.


"Makasih sayang" ucapnya lalu pergi meninggalkan dapur dan Zulfa dapat seratus persen dapat fokus kegiatan memasaknya.


Sepuluh menit kemudian Zulfa telah selesai menaruh piring di meja makan dan berpapasan dengan Yusuf yang sudah rapi dengan rambut basah yang membuat Zulfa jatuh hati.


Zulfa tersadar saat Yusuf menarik kursi untuk dirinya duduk. Zulfa menyiapkan piring untuk suaminya lalu menaruh lauk yang tadi dia buat. Sarapan pagi ini berjalan dengan sangat hening tidak ada suara yang keluar, mereka asik menikmati makanannya sendiri.


Setelah sarapan selesai, Yusuf membantu Zulfa membereskan sisa sarapan tadi mereka juga mencuci piring bersama. Tawa canda terdengar dari arah dapur. Terlihat mereka sangat menikmati kebersamaan ini dan satu persatu rasa takut yang Zulfa alami perlahan hilang.


Setelah acara cuci piring selesai, mereka berdua duduk di ruang tamu sambil menonton salah satu acara yang di tayangkan di televisi. Perbincangan hangat menemani pagi sepasang suami istri ini, terkadang Yusuf bercerita tentang lelucon yang membuat Zulfa tertawa.


“Iya mas”.


“Aku boleh tanya sesuatu nggak?".


“Tanya aja mas, kenapa harus minta izin dulu. Mas Yusuf kan suami Zulfa tidak perlu meminta izin terlebih dahulu".


“Kalau benar kamu menganggap diriku ini suamimu, aku boleh minta sesuatu nggak?".


Zulfa menaruh keripik kentangnya diatas meja lalu menatap suaminya, dia tahu bahwa pembicaraan ini akan mengarah ke hal yang serius dan membuat Zulfa tidak nyaman "Apa mas?".


"Fa kita sudah nikah dua bulan lebih, aku paham kamu belum siap tetapi apakah aku boleh minta hakku. Aku hanya memastikan jika kamu belum siap juga nggak masalah bagiku, aku mengerti".


"Mas kamu nggak salah kok, aku sebagai istri juga sadar kalau itu memang kewajiban ku. Maafkan aku jika awal pernikahan aku belum bisa menyerahkan yang seharusnya mas Yusuf dapatkan setelah menikah denganku, jujur aku terlalu takut sama kamu mas. Tetapi setelah hari-hari yang kujalani bersama mas Yusuf aku jadi tambah yakin, yakin bahwa mas Yusuf tidak akan meninggalkanku".


Zulfa menghela nafas kemudian menatap suaminya lekat "Jika mas Yusuf meminta hakmu sebagai suami, insyaallah Zulfa kabulkan".

__ADS_1


Raut wajah Yusuf terlihat bahagia, dia tidak menyangka bahwa istrinya itu akan mengabulkan permintaanya.


"Terima kasih" ucapnya lalu mencium kening Zulfa.


"Tapi aku ada satu permintaan".


"Apa itu?".


"Kita jangan punya anak dulu ya, tunggu Zulfa selesai kuliah".


Mata Yusuf membulat kaget "Lo memangnya kenapa Fa?".


"Zulfa ingin menyelesaikan kuliah dulu, cuma kurang satu semester".


"Kamu lulus kapan?".


"Emm, kayaknya kurang tiga bulan lagi".


"Fa" panggi Yusuf dengan sabar.


"Anak itu rezeki yang dititipkan oleh Tuhan kepada kita Fa, jadi jangan tolak rezeki yang diberikan oleh Allah SWT. Jadi apa masalahnya?, kamu malu saat wisuda perutmu buncit?".


"Maksud Zulfa bukan itu mas".


"Terus apa?".


Zulfa terdiam tetapi setelah itu dia menatap wajah suaminya lekat "Zulfa nggak masalah jika hamil saat acara wisuda tetapi mas Yusuf harus datang ya".


"Insyaallah sayang, suamimu ini akan datang".


Mereka berdua tersenyum lalu kembali fokus menonton tv, menikmati waktu berdua ditemani cemilan adalah suatu kegiatan yang manis. Tetapi itu tidak bertahan lama, siangnya  Yusuf harus pergi untuk mengisi acara dakwah jadi Zulfa ditinggal sendirian dirumah.


Setelah solat zuhur, Zulfa berdiam diri dikamar dengan pikiran tentang Yusuf yang meminta haknya. Dia sedari tadi mencari tahu apa yang harus dilakukannya saat itu. Zulfa berteriak frustasi dia kemudian merebahkan tubuhnya lalu menutup mata melupakan pikiran yang membuat dekap jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya. Tanpa sadar alam mimpi telah menghampiri Zulfa dia tertidur pulas siang ini. Tanpa suaminya rumah terasa membosankan bagi Zulfa.

__ADS_1


__ADS_2