
Sudah setengah jam Zulfa menangis dan masih saja belum berhenti. Sebuah tangan yang berada di pundaknya membuat Zulfa mengangkat kepalanya untuk melihat siapa yang merangkulnya. Alangkah terkejutnya saat Zulfa mengetahui jika suaminya itu yang merangkul dirinya.
“Maafkan aku" mohon Zulfa dengan wajah memelas.
Yusuf adalah pria yang tidak tega ketika melihat istrinya menangis, apalagi dengan mata dan hidung yang memerah seperti itu membuat dia merasa bersalah. Tanpa satu atau dua patah kata Yusuf memeluk istrinya, mengelus kepala Zulfa agar dia sedikit tenang.
“Kamu sudah makan?" tanya Yusuf.
“Belum”.
“Kenapa, nanti kalau sakit bagaimana?”.
“Aku belum makan karena kepikiran mas Yusuf".
Yusuf yang mendengar penjelasan Zulfa kemudian mengambil piring yang berada didepannya. “Dimakan ya takut mubazir walaupun sudah dingin”.
“Mas Yusuf masih marah ya sama Zulfa?".
Yusuf menggelengkan kepalanya "Aku akan marah sama kamu kalau kamu nggak habisin makananmu Fa".
Zulfa tersenyum senang, dia dengan kasar mengusap air matanya lalu memakan makanan yang dia ambil setengah jam yang lalu.
“Dingin”, ucap Zulfa sambil mengunyah makanannya.
“Salah siapa yang habis ambil makan terus enggak dimakan saat itu juga, malahan aku dapatin kamu lagi nangis disini".
Zulfa yang mendengar itu memajukan mulutnya cemberut, dia kemudian melanjutkan kembali memakan makanannya tanpa mengeluh lagi. Dari pada mendapat ceramah dari suaminya Zulfa lebih baik diam.
“Fa" panggil Yusuf sambil menyodorkan makanan ke istrinya.
“Iya mas".
"Zulfa tolong jauhi dia, jangan dekati dia”.
"Dia siapa mas?".
"Pria yang aku temui tadi".
"Oh Dani, memangnya kenapa mas?" tanya Zulfa penasaran.
Yusuf meletakan piring itu diatas meja lalu menatap istrinya. "Aku takut, aku takut kehilangan kamu".
“Aku takut saat aku membuatmu sedih, dia mengambil kamu dariku jadi tolong jauhi dia” jujur Yusuf lalu menyandarkan kepalanya di bahu sang istri. "Jangan pergi" kumohon pinta Yusuf pelan.
__ADS_1
Zulfa yang mendengar permohonan Yusuf membuat hatinya kembali luluh. Zulfa mengelus rambut suaminya pelan "Aku tidak akan pergi mas, aku akan menemani mas Yusuf sampai tua, sampai ajal menjemputku dan kita akan dipersatukan di surga kelak”.
“Janji?”.
"Insyallah".
Yusuf tersenyum lalu mencium kening Zulfa, "Fa naik keatas yuk”.
“Kenapa mas?”.
“Temenin aku main game”.
“Emangnya mas Yusuf bisa main game?".
“Kamu remehin kemampuanku?”
“Tidak bukan itu maksud.. aaakkhh!!" teriak Zulfa saat tubuhnya melayang di udara, Yusuf menggendong Zulfa lalu membawanya naik keatas. Zulfa degan refleks menggalungkan tanganya di leher suaminya.
“Kamu berat ternyata".
“Ih, istrimu ini tidak berat ya mas, kamu aja yang kurus dan tidak mempunyai tenaga".
“Suamimu kaya gini dibilang kurus?, temenmu aja tergila-gila sama aku dan ingin nikah sama aku lo Fa”.
“Haa? kapan, siapa yang bilang kaya gitu".
Zulfa memukul dada Yusuf, "Ih pede banget, awas ya kalau selingkuh".
“Aku enggak bakal selingkuh dari kamu sayang, aku kan udah punya istri cantik kaya kamu”.
Zulfa tersenyum dengan bangga, dia memang cantik. Yusuf yang melihat istrinya besar kepala tersenyum jenaka. "Aku enggak bakal selingkuh kok, tapi kalau kamu minta teman bicara nanti kita bisa cari".
“Maksud mas apa, mas mau nambah istri lagi?".
“Kalau kamu izinin sih, hahaha" tawa yusuf pecah.
“Haha, lucu ya lucu. Ketawa sana ketawa aja”. Buk.. buk.. pukul Zulfa marah karena tidak suka dengan perkataan suaminya.
"Enggak Fa aku cuma bercanda”.
Zulfa kembali merangkul suaminya lalu menyandarkan kepalanya di bahu bidang Yusuf "Bercandamu enggak seru mas, aku takut jika kamu benar membagi cintamu".
"Insyaallah enggak sayang, cuma kamu yang aku cintai sejak kita bertemu pertama kali”.
__ADS_1
Zulfa tersenyum, dia kemudian di dudukan Yusuf dikasur sedangkan dirinya mencari game yang akan dia mainkan. Yusuf memberikan stik game kepada Zulfa lalu dia naik ke atas kasur.
“Kamu bisa main kan?”.
"Bisa".
“Syukurlah, bersiaplah untuk kalah dan yang kalah akan mendapatkan hukumannya".
“Siapa takut" jawab Zulfa dengan percaya diri.
Permainan telah dimulai dengan kesepakatan jika yang kalah akan mendapatkan hukuman. Dua puluh menit telah berlagsung dan Yusuf lah keluar sebagai pemenangnya.
"Ih.. mas Yusuf curang" rengek Zulfa tidak terima.
“Siapa yang curang, begitu ya kalau kalah pasti cari alasan dan nuduh-nuduh".
“Ih aku enggak terima, ayo ulangi lagi”.
“Kita akan mengulangi lagi setelah aku memberimu hukuman".
“Ih tapi.." ucap Zulfa tertahan, dia benar-benar takut terhadap hukuman yang telah mereka sepakati sejak awal.
“Tidak ada tapi-tapi sayang, sekarag lepas hijabmu".
Zulfa dengan berat hati melepas hijabnya, hukuman yang dia dapatkan adalah gigitan dan ciuman oleh suaminya sedangkan jika dia menang dirinya akan dibelikan banyak makanan oleh suaminya. Tetapi keberuntungan tidak meimihak kepadanya hari ini. Yusuf tersenyum bahagia tetapi senyuman itu terlihat menakutkan bagi Zulfa.
“Mas pelan-pelan", pinta Zulfa.
"Aku akan pelan-pelan Fa", tanpa persetujuan dari istrinya dia mencium bibir ranum Zulfa kemudian beralih ke dua pipinya setelah itu kedua hidungnya dan tak lupa kening sang istri. Zulfa yang diperlakukan manis oleh Yusuf bersemu merah. Ciuman Yusuf turun ke leher, Zulfa meringis akibat gigitan yang diberikan oleh suaminya.
“Mas" panggil Zulfa.
Sedangkan yang dipanggil masih asik dengan kegiatannya. “Mas hentikan" ucap Zulfa kembali. Yusuf tidak mendengarkan panggilan istrinya malahan dia telah melewati kesepakatan yang ada, Zulfa dengan sekuat tenaga mendorong Yusuf agar menyingkir tetapi kekuatannya tidak sepadan.
Suara azan asar menghentikan kegiatan Yusuf, Yusuf bangkit dengan wajah yang puas. Sedangkan Zulfa berusaha menutup kancing bajunya.
"Mas Yusuf curang, ini tidak sesuai kesepakatan kita”.
Yusuf tersenyum tanpa rasa dosa dia malah bangga dengan karyanya. Dia kemudian mengelus rambut Zulfa sayang, "Ayo solat asar" ajak Yusuf.
"Sayang.." panggil Yusuf yang berhenti di depan pintu kamar mandi "Jangan memperlihatkan wajah cemberut seperti itu lagi nanti cantiknya hilang”.
Zulfa hanya diam dengan wajah cemberut, dia mengancingi satu persatu kacing bajunya. Dia kemudian berlari kearah cermin untuk melihat bekas gigitan suaminya.
__ADS_1
"Mas Yusuf..!!" teriak Zulfa malu karena banyak bekas kecupan di tubuhnya.
Yusuf yang mendengar teriakan istrinya hanya tersenyum kemudian mengambil air wudhu untuk melaksanakan solat asar. Tetapi senyum itu sedikit demi sedikit memudar saat istrinya menolak kecupan yang dia berikan. Dia tahu bahwa istrinya itu belum siap dan dirinya harus bersabar kembali.