
Suasana cafe yang tidak jauh dari bandara membuat Yusuf sedikit tenang. Pasalnya disini tidak terlalu ramai dan cafe ini buka 24 jam. Yusuf menatap kearah Zulfa yang melihat keluar jendela cafe.
Gadis yang berada didepannya ini beberapa hari lagi akan menjadi istrinya setelah dia melamar Zulfa. Diam-diam Yusuf sudah setuju akan menikahi Zulfa dan disambut bahagia oleh dua keluarga.
Zulfa yang sedari tadi merasa ditatap oleh pria didepannya mengalihkan pandangannya dari jendela "Jangan menatapku seperti itu, tolong jaga pandangan anda pak" kata Zulfa kemudian meminum coklatnya.
Yusuf beristighfar kemudian tersenyum "Fa aku boleh menanyakan sesuatu?".
"Apa?" jawabnya judes.
"Jika ada seorang pria yang melamar mu kamu terima?".
Raut wajah Zulfa terlihat tidak suka " Aku tidak tahu, tapi jika dia memang jodohku aku akan dengan ikhlas menerima lamaran darinya".
Yusuf tersenyum sambil menghabiskan minuman coklatnya " Insyallah senin depan aku akan melamar mu, sekarang kita pulang".
Yusuf melangkahkan kakinya menuju kasir untuk membayar pesanannya sedangkan Zulfa dia terdiam membisu karena kaget, tanpa dia sadari pernikahannya telah ada didepan mata.
Suara besar Yusuf membuyarkan lamunan Zulfa, Zulfa hanya mengangguk dan mengikuti Yusuf dari belakang. Sepanjang perjalanan pulang mereka hanya diam membisu, mobil begitu sunyi hanya lagu solawat yang membuat suasana mobil tidak begitu mati.
Mata Zulfa mengarah keluar, melihat motor dan mobil saling melintas menyalip mobil yang dia tumpangi. Zulfa merasa memberikan harapan palsu kepada Dani, hatinya merasa sedih, pikirannya bingung atas semua takdir yang diberikan Allah kepadanya.
°°°
"Assalamu'alaikum" salam Zulfa memasuki rumahnya.
"Wa' alaikum salam" jawab Faqih menuju pintu depan rumah. Zulfa menyalami ayahnya kemudian masuk kedalam kamar.
"Kamu sendiri Fa?" tanya Faqih yang tidak mendapat jawaban dari putrinya itu. Faqih menuju keteras dan mendapati Yusuf duduk di kursi yang ditaruh didepan terasnya.
"Eh ada nak Yusuf, kok nggak masuk nak? Zulfa tidak menyuruh masuk ya?".
__ADS_1
Yusuf hanya tersenyum kemudian mempersilahkan Faqih untuk duduk disebelahnya. Faqih membuang nafas, sejenak berfikir tentang tingkah putrinya.
"Zulfa tidak menyuruh kamu masuk ya?", tanya Faqih yang mendapat anggukan dari Yusuf.
"Anak itu, kelakuan kalau lagi ngambek kaya gitu. Kalau boleh saya tahu, Zulfa kenapa bisa kaya gitu nak?".
Yusuf sempat berfikir "Mungkin karena saya tadi memberitahu kalau saya akan melamar anak bapak".
Faqih masih menatap langit yang mulai pagi dengan sinar matahari yang menyinari halaman rumahnya, tetapi rasa kagetnya tidak bisa dia sembunyikan. "Nak Yusuf, saya tahu cepat atau lambat Zulfa akan mengetahui tentang lamaran ini tetapi saya tidak menyangka akan secepat ini".
"Maafkan saya pak, jika saya dengan lancang memberitahukan tentang lamaran ini. Sebenarnya..." Kata Yusuf terhenti kemudian menggenggam jarinya.
"Sebenarnya apa nak?".
"Sebenarnya saya cemburu pak, tadi pagi saya melihat Zulfa dipeluk oleh seorang pria dan itu membuat saya cemburu. Maafkan saya".
Faqih menepuk bahu Yusuf, dia sadar bagaimana rasanya. "Nak saya titipkan putri saya kepadamu, berjanjilah kamu akan mendidik Zulfa dan tolong jangan sakiti Zulfa".
Zulfa yang mendengar pembicaraan kedua pria yang berada di teras meneteskan air mata, nampan yang berisi dua gelas air minum itu bergetar karena tubuh Zulfa yang ikut bergetar.
Zulfa tidak kuasa menahan air matanya, dia membayangkan akan terpisah oleh ayah dan bundanya. Zulfa sayang kepada kedua orang tuanya dia rela menuruti semua permintaan kedua orang tuanya itu tetapi dia belum siap dengan pernikahan.
°°°
Suara tawa terdengar dari arah ruang keluarga. Faqih yang tertawa akibat gurauan istrinya itu tidak kuasa untuk menahan gelak tawanya, awalnya mereka sedang menonton salah satu acara tv tetapi karena keisengan Aulia nasib Faqih menjadi seperti ini. Tertawa dengan keadaan memeluk Aulia.
Zulfa dari jauh memperhatikan tingkah kedua orang tuanya yang seperti anak muda sedang jatuh cinta, sebuah senyum singkat terlihat dari wajahnya yang lesu. Dia menghampiri kedua orang tuanya dengan langkah lemas.
"Ayah, bunda" panggil Zulfa pelan yang membuat Faqih dan Aulia menghentikan tawanya.
"Iya nak, ada apa sini duduk".
__ADS_1
"Aku ingin bicara", ucap Zulfa serius.
"Kamu mau bicara apa".
Zulfa kemudian duduk, mengatur nafasnya kemudian menetralkan detak jantungnya. Beberapa jam tadi, setelah kepulangan Yusuf, Zulfa merenung sendiri di kamar memikirkan lamaran.
"Ada apa nak?", tanya Faqih yang membuat detak jantung Zulfa semakin berdetak kencang. Zulfa sebenarnya takut mengambil keputusan ini tetapi dia sudah mantapkan hati untuk menerima sebuah perjodohan.
"Ayah, tadi aku mendengar semuanya. Tentang lamaran dengan Yusuf".
Seketika raut wajah Faqih berubah cemas, "Terus keputusan mu apa Fa, kamu menolaknya?".
Zulfa menggelengkan kepalanya "Tidak, Zulfa malah setuju dengan perjodohan ini. Zulfa ingin berbakti kepada ayah sama bunda jadi Zulfa terima perjodohan ini. Zulfa ingin melihat raut wajah orang tua Zulfa bahagia, jika satu-satunya cara menikah dengan Yusuf, Zulfa ikhlas".
Tanpa sadar air mata Zulfa menetes kebawah membasahi pipinya, Aulia yang melihat itu menghampiri anaknya kemudian memeluknya dengan erat. Menyalurkan kasih sayang kepada anaknya ini.
Faqih menatap Zulfa dengan perasaan senang dan sedih, dia tahu anaknya itu merasa tersiksa dengan perjodohan ini tetapi bagaimana lagi, dirinya ingin menyerahkan anak semata wayangnya dengan orang yang dapat membimbing putrinya ke surga.
"Syukurlah kalau gitu, 3 hari lagi keluarga Yusuf akan kesini. Jadi ayah mohon jangan kecewakan mereka".
"Insyaallah ayah".
Faqih meninggalkan ruang tamu tanpa ada sepatah kata pun, dia sudah tidak tega lagi melihat anaknya menangis. Sedangkan Aulia dia masih setia menemani putrinya itu. Zulfa semakin meneteskan air matanya, dia kemudian memeluk bundanya untuk mencari sebuah rasa kuat untuk menjalani kehidupan.
"Bunda, Zulfa takut. Zulfa belum siap".
"Sabar ya nak, bunda tidak bisa berbuat apa-apa".
"Zulfa takut, Zulfa belum siap". Hanya kata-kata itu yang keluar dari mulut Zulfa. Dia menangis sejadi-jadinya malam ini di pundak bundanya.
Setelah merasa lelah, Zulfa ketiduran. Aulia yang menyadari itu memanggil suaminya untuk memindahkan Zulfa ke kamarnya.
__ADS_1