Surga Yang Dikejar

Surga Yang Dikejar
Kabar Gembira


__ADS_3

Rangkulan manja yang dilakukan Zulfa untuk menahan kepergian Yusuf terlihat sangat romantis. Bagaimana tidak, Zulfa memeluk suaminya dari belakang sambil mengikuti Yusuf berjalan menuju kearah pintu.


"Mas, nggak sarapan dulu?"


"Nanti telat, kamu sarapan sendiri aja ya" kata Yusuf sambil melepaskan pelukan Zulfa. Dia kemudian duduk untuk memakai sepatunya.


Zulfa mengangguk lalu menunggu suaminya selesai mengikatkan sepatu hitamnya. Setelah selesai mengikatkan tali sepatu, Yusuf berdiri didepan tubuh Zulfa hanya dengan jarak 1 langkah.


Dia menatap istrinya sebentar, rasa tidak tega untuk meninggalkan Zulfa sendirian dirumah. Gadis cantik dengan umur terbilang masih muda ini rela melepaskan kebahagiaan masa mudanya demi kedua orang tuanya.


"Aku pamit dulu, hati-hati dirumah" ucap Yusuf kemudian pergi.


Zulfa yang mendengar itu menjawab dengan perasaan kecewa "Iya hati-hati mas".


Tetapi sebelum membuka pintu rumahnya, Yusuf kembali menghadap kepada Zulfa dia kemudian memberikan kecupan untuk istrinya.


"Hampir lupa, assalamu'alaikum" pamitnya dan membuat senyum dibibir Zulfa mengembang.


Zulfa mengikuti suaminya sampai keluar rumah, dia ingin melihat kepergian Yusuf. Setelah mobil itu meninggalkan garasi, Zulfa menutup pagar itu tetapi kegiatan Zulfa terhenti saat melihat sosok yang dia kenal.


"Hendra, Desi!" teriaknya sehingga membuat kedua orang itu menatap ke arah sumber suara.


Mereka berdua menghampiri Zulfa yang masih kaget, entah keberanian apa yang dimiliki Zulfa sehingga berani memanggil sahabatnya.


"Zulfa.. ini benar kamu kan" ucap Desi tidak percaya.


Hendra hanya tersenyum manis, Zulfa melihat senyuman Hendra membalas sambil memeluk Desi. Setelah selesai berpelukan dia menyuruh mereka berdua masuk kedalam rumahnya.


"Assalamu'alaikum" salam Hendra memasuki rumah.


"Waalaikumsalam" jawab Zulfa kemudian menyuruh mereka duduk di kursi ruang tamu.


"Kalian mau minum apa?, mau yang dingin atau hangat?"


"Aku dingin"


"Aku hangat" ucap Hendra.


"Baiklah tunggu sebentar ya, aku buatkan.


Zulfa bergegas menuju dapur, membuatkan mereka berdua minum dan cemilan yang berada di kulkasnya. Raut wajah Zulfa terlihat bahagia, dia senang kedatangan dua sahabatnya. Entah tujuan apa mereka kesini itu tidak dipedulikan oleh Zulfa, yang terpenting sekarang sahabatnya itu mau mengunjungi dirinya.


Zulfa sempat berfikir jika persahabatan mereka akan putus tetapi takdir berkata lain. Allah menjawab atas doa-doanya sehingga sahabatnya itu kembali kepadanya.


"I love u" ucap Zulfa kepada Tuhan-Nya yang telah mengabulkan doanya, dia juga berkedip ke langit  dengan senyum yang bahagia.

__ADS_1


Nampan yang diatasnya terdapat dua gelas minuman dan satu piring kue, Zulfa letakan di meja ruang tamu yang atasnya terbuat dari kaca.


"Silahkan diminum"


"Makasih" kata Desi sedangkan Hendra hanya mengangguk.


"Oh ya Fa, kedatangan kita kemari untuk memberikan mu ini" ucap Desi sambil memberikan satu undangan pernikahan.


Zulfa menerima undangan itu dan membacanya "Masyaallah, kalian akan menikah?" katanya tidak percaya. Sedangkan keduanya hanya mengangguk.


"Aku ikut senang untuk kalian berdua"


"Maafkan aku dulu ya Fa, aku terlalu kekanakan" ucap Hendra merasa bersalah.


"Maafkan aku juga ya Fa, aku terlalu terbutakan oleh cinta".


"Iya nggak masalah kok, aku juga minta maaf atas kelakuan ku dulu. Sekarang kita fokus aja sama masa depan dan aku ucapkan selamat buat kalian.. semoga langgeng"


"Aamiin" jawab mereka serempak.


"Apakah Dani juga tahu soal pernikahan kalian?"


"Iya dia tahu, tetapi katanya dia nggak bakal balik lagi ke Indonesia. Mau fokus ke perusahaannya di London"


"Kalian lagi ada masalah ya?" tanya Hendra curiga.


Hah.. Desi menghembuskan nafas panjang "Syukurlah kalau gitu, jangan lupa hadir ya di pesta pernikahan kami".


"Insyaallah" ucapnya dengan nada bahagia.


Mereka bertiga menghabiskan waktu bersama, bercerita tentang bagaimana Hendra dan Desi bisa memutuskan untuk menikah. Pernikahan mereka akan di laksanakan setelah wisuda. Bukan wisuda mereka berdua tetapi hanya Hendra.


Desi kehilangan satu tahun kuliahnya dan malahan dia kembali ke kampung untuk menemui neneknya sekedar mengistirahatkan hati dan pikirannya, selain itu dia juga membangun sebuah usaha kecil dan membuat Zulfa iri.


Mereka kembali kerumah saat sore menjelang, kumpul bersama sahabatnya membuat Zulfa lupa waktu. Setelah menutup pintu gerbang, dia menatap keluar sebentar "Mas Yusuf kok belum pulang ya?" tanyanya entah kepada siapa lalu Zulfa menutup pintu rumahnya.


°°°


Jam dinding menunjukkan pukul sembilan malam dan Yusuf belum juga kembali kerumahnya, beberapa pesan terkirim tetapi tidak dibaca oleh suaminya membuat Zulfa khawatir.


Suara ketukan pintu membuat Zulfa bergegas untuk membukakan pintu dan melihat siapa yang berada diluar sana. Alangkah senangnya ternyata orang yang dia tunggu telah kembali kerumah dengan selamat.


"Mas Yusuf dari mana saja?" tanya Zulfa.


"Maaf ya, aku pulang telat. Sudah makan?" tanya Yusuf kemudian mencium kening istrinya.

__ADS_1


"Alhamdulillah sudah, tadi Zulfa sudah izin lewat chat tapi nggak dibales sama kamu".


"Ah maaf, hp aku mati"


Zulfa mengangguk lalu membantu suaminya membersihkan diri. Menyiapkan pakaian suaminya lalu membantunya mengenakan baju. Zulfa berdiri dengan bertumpu pada kedua lututnya untuk mengusap rambut suaminya yang basah sedangkan Yusuf dia duduk di ranjang menunggu kegiatan Zulfa selesai.


"Hem.. wanginya" puji Zulfa.


Yusuf hanya tersenyum sedangkan Zulfa mengalungkan kedua tangannya dileher sang suami. "Mas Yusuf akhir-akhir ini sedang sibuk ya?".


"Iya Fa.. apakah kamu kesepian?"


"Kalau hari ini enggak, karena sahabatku mengunjungi diriku katanya mereka berdua mau menikah" ucap Zulfa dengan bahagia.


Yusuf menarik tangan Zulfa supaya duduk didepannya lalu dia menaruh kepalanya di pangkuan istrinya "Syukurlah kalian sudah baikan"


"Rambutnya belum disisir"


"Biarkan.. aku lebih suka kaya gini".


Zulfa mengangguk dia lalu menyisir rambut suaminya dengan tangannya. Lalu turun mengelus kening Yusuf kemudian turun ke alisnya. Alis lebat yang menjadi favorit Zulfa setelah menikah.


Kedua mata Yusuf terpejam membuat Zulfa ingin mengusap mata suaminya. Kegiatan itu terus berlanjut sampai ke bibir Yusuf. Zulfa mengusap bibir merah itu dengan tersenyum jahil.


"Jangan menggodaku Fa" ucap Yusuf lalu mengigit jari Zulfa.


Zulfa bersemu merah, untung saja mata Yusuf masih terpejam membuat dia tidak melihat wajah memerahnya. Zulfa menetralkan detak jantungnya lalu berdehem.


"Mas sebentar lagi acara wisuda ku, mas Yusuf datang ya".


Yusuf membuka matanya menatap istrinya lalu mengelus pipi putihnya "Kapan?".


"Emm.. dua minggu lagi"


Deg.. raut wajah Yusuf terlihat kaget yang membuat Zulfa kembali bertanya.


"Mas Yusuf bisa datang kan?" tanyanya penuh harap.


"Insyaallah aku akan datang Fa".


"Janji ya, janji"


"Janji" ucapnya sambil memberikan jari kelingking dan dibalas oleh Zulfa.


Mereka berdua beranjak tidur setelah menyisir rambut Yusuf, sebenarnya Yusuf tidak masalah jika tidur dengan rambut yang belum disisir tetapi Zulfa tidak tahan melihat sesuatu yang belum rapi. Akhirnya Yusuf mengalah dan membiarkan Zulfa menyisir rambut hitamnya dan mereka tidur sambil memeluk satu sama lain.

__ADS_1


°°°


Author : Adegan diatas hanya dapat dilakukan oleh orang-orang profesional :v


__ADS_2